
Terjun bebas ke dalam sebuh jurang adalah pilihan terburuk dalam hidup.
Seluruh tubuh seperti terbungkus pusaran angin kuat, sulit untuk di gerakkan.
Cahaya yang sangat menyilaukan sangat mengganggu pandangan, belum lagi kehadiran Grinsekta yang ingin mencicip daging mereka bertiga. Kondisi ini benar-benar kritis.
“AAAAAAAAAAAA!!” Teriak ketiganya. Kencang sekali.
Mulut dengan dua taring raksasa yang terbuka lebar. Matanya yang kebal terhadap cahaya terang mengunci posisi mangsanya. Dengan kepakan sayap yang sangat sekali, Grinsekta berwujud capung memangkas jarak antara mereka. Semakin dekat dan semakin dekat.
Arif menyadarinya, maut yang begitu dekat. Namun, dalam kondisi ini Arif, Wira dan Yuvan tidak bisa berbuat apapun. Tangan maupun kaki tidak bisa digunakan untuk melawan musuh. Sementara teknik berpedang Wira tidak dipersiapkan untuk menghadapi kondisi seperti ini.
Arif merasa pipi kirinya basah, ada air berbau busuk yang mengenai wajahnya. Seketika debaran di dada semakin kencang, meriding yang tak tertahankan menggigit ubun-ubun Arif. Ini pasti liur Grinsekta tersebut.
Arif berusaha menggerakan tangan dan kaki, membuat perlawanan. Namun, penglihatan yang dibutakan membuat seluruh serangannya hanya menerima udara kosong. Kondisi ini terlalu menguntungkan musuh. Arif meringis, ketakutan sempurna mencengkram jiwa.
Tidak ada cara untuk menghindari maut.
Namun, tidak bagi orang-orang yang percaya kematian hanya diketahui Tuhan.
Jemari mengikat pedang dengan jiwanya, menyatukan dalam kobaran semangat, dan memadukannya dengan harapan fajar.
Mata Faga terbuka lebar, membidik arah targetnya. Nafas ditarik kuat-kuat dalam konsetrasi maksimal. Urat-urat di wajah dan lengan muncul.
Sang Grinsekta menghentikan gerakannya, membeku. Instingnya menangkap sesuatu yang mengancam nyawa. Baru saja kepalanya menoleh untuk memeriksa, semuanya terjadi begitu cepat.
Kemampuan Semesta Cahaya. Diaktifkan.
“Bilah kedua. Garis cahaya pemotong kegelapan.”
Bilah pedang membelah udara, melesat lurus dan meninggalkan jejak cahaya berkilauan. Tebasan yang spektakuler, melampaui imajinasi dan fantasi manapun.
Tebasan itu sempurna memotong daya hidup sang Grinsekta. Nyawanya melayang dengan begitu mudahnya. Di detik terakhir hidupnya dia bisa melihat Faga masih dalam posisi menebas, bilah pedang Faga bercahaya keemasan.
“Kalian bertiga merapatlah!” Ucap Faga sambil menutup mata rapat-rapat. Barusan saja bola matanya terasa terbakar.
Arif, Wira, da Yuvan yang mendengar seruan itu langsung berseru satu sama lain. Mendengarkan lewat telinga untuk mengatahui posisi sahabatnya. Keempatnya merapat, saling terhubung dengan genggaman tangan yang erat.
Kecuali Faga, kapten masih menggenggam pedangnya.
“Selanjutnya bagaimana ketua!” Teriak Yuvan dengan panik.
Faga mulai berkonsentrai kembali, nafas ditarik lebih panjang. Pikiran di kosongkan sekosong-kosongnya.
“Bilah keenam. Perisai lingkar cahaya purnama.”
Cahaya di bilah pedang Faga memancar keluar dan mulai memudar kemudian berputar-putar disekitar mereka berempat. Setelah sempurna membentuk bola, pasir cahaya itu merangkai satu sama lain, menutup celah dan akhirnya memadat.
__ADS_1
Keempatnya selamat dalam bola cahaya yang mengambang.
“Fiuh....Tadi nyaris sekali.” Yuvan berkata pelan kemudian menyandarkan punggungnnya pada sisi dalam bola cahaya tersebut.
Ketika matanya menatap bawah, merinding kembali merambati. Tidak hanya Yuva, Arif, dan Wira yang tidak biasa melihat ketinggian merasa sedikit mual. Keadaan kali ini berbeda dari kejadian di Hutan Mimpi.
Faga masih berdiri. Matanya menatap dinding-dinding jurang. Dari alam sini, dinding-dinding jurang dapat terlihat lebih jelas. Cahaya dari jurang terkurangi oleh bola cahaya sebelum masuk ke mata.
Dua menit berlalu dan Faga masih menatap dinding-dinding itu. Dia menggerakan bola cahaya ini, menepi pada sebuah lubang besar di dinding jurang.
Setelah semuanya turun dengan badan gemetaran suara gelembung pecah terdengar sebagai akhir dari teknik milik Faga.
Gua itu cukup gelap, hanya bibir gua yang cukup terang karena mendapat cahaya dari luar. Selebihnya adalah kegelapan total. Tidak ada yang membawa pencahayaan artinya mata harus beradaptasi menghadapi kegelapan itu.
Namun, bukan itulah masalah terbesaranya. Masalah terbesarnya adalah bagaimana mental tiga pemuda ini menghadapi kegelapan ini. Tidak ada yang tahu apa yang ada di balik kegelapan itu. Kalimat itu sangat menganggu benak Yuvan.
“Ayo jalan, kita perlu menemukan sumber daya disini.” Ucap Faga melangkah paling depan. Yuvan belum terbiasa dengan semua ini. Arif dan Wira pun juga, kejadian barusan membuat setiap langkah terasa berat untuk dilakukan.
“Ayo bergerak kawan-kawan. Anggap saja kita sedang berkarya wisata. Ini menyenangkan dan mendebarkan.” Faga berbalik, menunjukkan karismanya yang terata terang.
“Jangan takut soal apa yang terjadi nantinya. Kita seharusnya bersyukur karena dapat turun dengan selamat. Bukannya Bunga Purnama tumbuh di dasar jurang ini. Petualangan ini pasti semakin seru.” Kalimat Faga selalu keras dan bersemangat.
Lihatlah bola matanya yang besar, tidak sedikitpun tersirat ketakutan disana. Setelah semua yang terjadi, Faga tetap optimis mendapatkan Bunga Purnama dan terus memotivasi rekan-rekannya.
“Jangan risau, cepat atau lambat anggota lain pasti akan menyusul kita. Yang terpenting sekarang kita mencari perbekalan terlebih dahulu.” Faga berbalik lagi.
Punggung yang tertutup jubah merah itu sangat gagah. “Faga memang selalu tampil keren.” Gumam Arif diselingi senyum kecil.
Apa yang menunggu ujung kegelapan ini?
@@@
“Aku ingin bertanya Faga.” Arif memecah kesunyian di dalam kegelapan tersebut.
Keempatnya duduk melingkari pedang Faga yang mata pedangnya menancap di tanah. Dengan Kemampuan Semesta Cahaya, bilah pedang Faga mampu memunculkan. Cahaya tidak cukup terang, ini cukup.
“Silahkan.”
Wira dan Yuvan nampak bercaka-cakap juga. Sejak masuk ke dalam ekspedisi ini, Wira menjadi dekat dengan Yuvan. Keduanya mungkin bunya kegemaran yang sama. Yuvan bisa membuat Wira yang sedikit bicara menjadi cukup banyak bicara.
“Kemarin senior Tein mengatakan soal Si Penganggam Matahari. Sebenarnya siapa mereka?” Arif bertanya.
Faga yang menyilangkan kedua lengan di depan dada menundukkan kepala. Mungkin dia sedang memikirkan sesuatu. Arif jadi semakin yakin Si Penggenggam Matahari adalah musuh terburuk dalam penjelajahan ini.
Senior Tein yang sehebat itu pun tidak sanggup untuk menghadapinya.
Faga mendongak, menatap Arif dengan tatapan yang sedikit berbeda. “Si Penggenggam Matahari adalah anak-anak Rakaala si Dewa Petaka. Si Penggenggam Matahari adalah julukan yang mereka miliki karena mitos mengatakan, nenek moyang mereka hampir melahap matahari_” Arif mendengarkan dengan perasaan takjub bercampur ngeri.
__ADS_1
“Ciri paling mencolok dari Si Penggenggam Matahari adalah memiliki kulit abu-abu pucat. Bola mata seperti mata buaya, dan tubuh layaknya manusia. Tapi secara keseluruhan bentuk fisik mereka berbeda-beda. Tidak salah jika menyebut mereka monster.” Faga memberikan jeda yang membuat Arif semakin penasaran kelajutannya.
“Si Penggenggam Matahari memiliki insting alami menyerang manusia. Mereka cenderung brutal dan tidak bisa diajak bicara. Kau bisa menganggap sama dengan binatang buas. Namun, dalam beberapa kasus langka, Si Penggenggam Matahari memiliki kecerdasan yang membuatnya sangat mirip dengan manusia. Aku bahkan bisa mengatakan, bukan tidak mungkin untuk mereka yang memiliki kecerdasan untuk membangun peradaban. Di perpustakaan organisasi, hal seperti itu tercatat di banyak buku tua.” Faga menyelesaikan penjelasannya, membetulkan posisi duduk lalu kembali menatap Arif.
“Bagaimana?”
Arif memilih diam. Sebagian dirinya mulai gemetaran karena kenyataan bahwa musuh mereka tidak hanya satu, melainkan dua. Grinsekta dan Si Penggenggam Matahari.
“Jangan risau soal keselamatan Arif. Tenang saja. Aku akan menjami keamanan kalian bertiga sampai ke permukaan.” Ucap Faga cukup keras. Wira dan Yuvan pun menoleh pada Faga, ketua mereka.
Selalu saja, Faga menunjukkan tampilan keren tanpa sedikitpun menujukkan kelemahannya. Sudah dari dulu sifatnya begitu.
Arif bisa tersenyum kecil. Hatinya lebih lega.
“Mari lanjutkan perjalanan.” Faga berdiri dan menarik pedangnya yang menancap di tanah.
Matanya bergantian memandangn tiga pemuda yang empat tahun lebih muda darinya.
“Firasatku mengatakan sebentar lagi kita akan keluar dari kegelapan ini. Ayo bersemangatlah.” Faga tersenyum lebar seraya menatap jauh kearah kegelapan.
“Ya, ada apa Yuvan?” Faga berkata pada Yuvan yang mengangkat tangan.
“Mengapa ketua sangat yakin dengan keberhasilan kita. Bukannya kita tidak pernah tahu apa-apa yang di balik kegelapan ini.” Kalimat Yuvan terdengar sangat bergetar.
“Kau terlalu banyak memegang peta Yuvan. Sesekali menjelajahlah jauh. Kalian nantinya pasti bisa menikmati ini. Lalu pertanyaan mengapa aku sangat yakin, karena itulah alasanku disini. Keyakinan, itulah yang membuat kita terus berjuang, sesuatu yang menunjukkan arah kepada kita. Singkirkan ketakutan kalian. Seperti kataku sebelumnya, aku akan jamin keamanan kalian sampai di permukaan.” Faga berbalik dan mulai melangkah.
Ketiga juniornya mengikuti, kali ini dengan kayakinan yang lebih kuat.
Jalanan gelap itu, tanah-tanah yang licin mudah membuat kaki terpeleset, suara-suara penghuni kegelapan yang terusik akan kehadian empat tamu tak di undang. Kumpulan besar kelelawar beberapa kali terbang kearah keempat, mengusir tamu tak di undang.
Ketika kaki ini telah terasa lelah, letih dan berat mengikat badan, pandangan Arif menerima cahaya terang. Cukup lama dalam kegelapan, membuat matanya sedikit sakit saat menerima semburat cahaya cerah.
Keempatnya berlari menuju cahaya, menuju ujung kegelapan.
Keempatnya keluar dari gua dan mendapati sesuatu yang mengejutkan kemudian.
“Perlukah kita menyapa, halo?” Bisik Yuvan pada Wira.
Arif terpaku di tempat beberapa lama.
Pemandangan di depannya sungguh luar biasa aneh. Seharusnya ini ada di dalam bumi tapi memiliki langit yang cerah. Bermacam tanaman tumbuh dan yang paling mengejutkan adalah penduduk disana.
Tidak berapa lama, seorang perempuan paruh baya yang mengenakan pakaian berartribut tidak biasa mendekat. Mungkin dialah yang paling di tuakan disini.
Pakaiannya berwarna ungu dengan hiasa bermotif aneh. Dia kenakan gelang dan kalung pula. Wanita paruf baya ini mendekat dengan membawa aura aneh.
Dia berdiri tepat di depan Faga. Arif menelan ludah, mereka-reka apa yang terjadi selanjutnya.
__ADS_1
Arif, Wira, dan Yuvan memperhatikan baik-baik, begitu juga dengan penduduk.
“Selamat datang, penduduk permukaan.”