
Lelaki itu mendekat kepada Arif. Langkahnya gagah dengan dada membusung.
Arif masih mengorek memorinya, mecari ingatan mengenai lelaki di hadapannya ini.
Dia memiliki luka sayat pendek di pipi, matanya sipit dan bersorot tajam, yang paling mencolok adalah pakaiannya, sangat tidak biasa. Pakaian itu seperti pakaian yang biasa di pakai orang-orang yang tinggal di wilayah tundra.
Lelaki itu sempurna di depan Arif. Arif membandingkan tingginya, tinggi Arif hanya sebatas pundaknya, lelaki ini tinggi sekali. Dari dekat dia terlihat cukup mengerikan. Anak-anak yang masih polos pasti ketakutan terhadapnya.
“Ini aku, Hamka.” Ucapnya pendek seraya menatap bola mata Arif.
Arif menutup mulut saking terkejutnya. Hamka, sahabatnya yang enam tahun lalu memutuskan pergi mengembara demi melihat bermacam rupa dunia.
Kali ini dia memutuskan pulang untuk menjenguk makam sahabatnya yang baru saja berpulang ke sisi Ilahi.
“Hamka, Bagaimana kau bisa berubah sejauh ini?” Arif belum bisa melepaskan keterkejutannya. Hamka dulunya memiliki postur yang sama dengan dirinya. Tidak beda jauh, tapi kini fisiknya benar-benar sangat berbeda. Tinggi besar.
“Ceritanya sangat panjang. Lebih baik kita cari dulu tempat yang lebih nyaman untuk bercerita.” Saran Hamka. Kedunya berjalan cukup jauh hingga sampai di tempat biasanya mereka berkumpul.
Tepian lapangan.
Kondisinya telah sepi dan mulai gelap. Hari semakin gelap dan Hamka nampak tidak terganggu akan hal tersebut. Dia duduk bersilah di hadapan Arif seraya membuka bekal yang dia bawa kesini.
“Silahkan di coba, rasanya cukup unik.” Tawar Hamka.
Hamka membuka makanan yang terbungkus daun hijau lebar. Isinya adalah nasi yang dibentuk membola dengan isian yang belum Arif ketahui.
Arif mencicipi. Rasanya sedikit hambar, tidak beda jauh dari nasi, tapi ada sensasi unik saat menyentuh lidah. Sedikit campuran daging dan bumbu yang entah mengapa membuat mulut terasa hangat saat memakannya.
Setelah itu, Hamka bercerita mengenai petualangannya selam enam tahun ini. Dia bergabung pada sebuah rombongan pecinta alam, orang-orang yang memiliki kegemaran untuk menapaki berbagai ranah tak dikenal.
Para backpacker tulen.
Hamka belajar banyak hal disana. Berburu, melatih tubuh, membaur dengan alam, memahami kompas bintang, belajar bertahan hidup, dan banyak lainnya. Itu terdengar sangar logis setelah melihat tubuhnya yang berkembang sebesar perjalanan yang telah ia tempuh.
Delapan bulan terakhir Hamka bersama rombongannya melintasi daerah dingin yang segalanya hanya dipenuhi badai salju. Nyaris tidak ada tanaman tumbuh kecuali sedikit rerumputan dan lumut. Arif mendengarkan kisahnya dengan antusias, itu luar biasa.
Matahari telah jatuh keperaduan, lapangan dan semua yang disekitarnya menggelap. Namun, itu tidak menghentikan keinginan Arif untuk mendengarkan cerita Hamka.
Hamka merogoh saku, mengambil dua buah batu seukuran setengah telapak tangan. Kedua batu itu memiliki ukiran unik di permukaanya. Fokus Arif sekarang tertuju pada kedua batu tersebut.
Hamka menggesekkan kedua ujung batu sampai mengeluarkan percikan kecil. Beberapa saat kemudian ukiran batu yang berbentuk simbol tertentu mulai bercahaya diikuti dengan batu tersebut yang juga bercahaya layaknya lampu kaca.
“Wah. Hebat.” Seru Arif terkejut.
“Aku tidak tahu batu apa ini. Kami menemukannya di tepian sungai yang membeku.” Hamka menjelaskan asal muasal batu tersebut.
Hamka lalu meletakkan kedua batu tersebut di anatara dirinya dan Arif, memberikan penerangan cahaya remang untuk radius tiga meter kesekitar .
Angin malam berhembus perlahan sementara Hamka tersu melanjutkan kisah hebat dalam misi pencarian tanah-tanah yang belum dikenal atau dia sendiri lebih senang menyebutnya perjalanan mencapai tepian dunia.
__ADS_1
“Hamka, lalu dimana teman-teman seperjalananmu?” Arif bertanya seraya mengambil lagi kudapan yang diberikan Hamka.
“Mereka tidak ingin menunjukkan diri.” Jawab Hamka singkat sambil tangannya mengambil lagi jajanan yang tinggal dua buah.
Arif bisa memahami. Mungkin saja mereka tidak ingin tampil mencolok. Hamka melanjutkan ceritanya dan Arif memenuhi mulutnya dengan nasi yang entab bagaimana caranya bisa terasa hangat ketika dikunyah.
“Soal Kapten, aku ingin tahu bagaimana detailnya.” Hamka akhirnya menanyakannya. Wajahnya sedikit tertunduk seakan memberitahu bahwa dirinya pun sedang memendam sedih.
Arif pun demikian, tubuhnya sedikit melemas karena permintaan Hamka. Beberapa hari yang ini dia mencoba sebisa mungkin untuk tidak mengusik perihal Kapten karena itu bisa membuka luka dalam hati.
Arif menarik nafas pendek. Mau tidak mau dia tetap harus cerita.
“Kapten gugur dalam perjuangannya. Dia melindungiku dan Wira dan Si Penggenggam Matahari saat kami memasuki kedalaman Arkkana. Kapten bertarung dengan gagah, karenanya seratus delapan puluh penduduk kedalaman Arkkana selamat_” Arif meneruskan cerita yang sangat emosional tersebut.
Hamka mendengarkan sambil mengangguk beberapa kali, meski adalah beberapa istilah yang tidak dia ketahui, Faga mengerti betul seberapa berat perjungan seorang Faga Dwi melalui kisah yang Arif tuturkan. Dengan mendengar kisah pilu tersebut, Hamka semakin pahma bahwa dia tidak akan bisa melampaui kapten.
Dibandingkan seluruh perjuangannya dalam mencari tanah yang belum dikenal, Hamka tidak ada apa-apanya. Itu membuat Hamka meremas jemari karena dua hal.
Satu karena dirinya sangat iri terhadap pretasi Faga, dua karena sosok yang selalu tersenyum itu tidak akan pernah kembali.
“Mungkin harus kita sudahi pertemuan ini.” Hamka beranjak dari tempat duduknya Arif mengikuti.
“Maaf aku terlalu terburu-buru. Aku masih ada perjalanan bersama rombonganku. Terimakasih untuk semuanya. Semoga di lain waktu kita bisa bertemu kembali.” Hamka menambahkan seraya tersenyum hangat.
“Ambilah ini Arif. Simpanlah, suatu hari jika kita bertemu tunjukanlah padaku. Aku pasti akan langsung mengenalmu.” Hamka memberikan salah satu batu itu kepada Arif.
“Terimakasih Hamka. Lain kali giliranku yang memberimu hadiah.” Ucap Arif kepada Hamka yang sudah berjalan menjauh. Hamka mengangkat tangan, melambaikannya kepada Arif.
Arif memperhatikan batu itu beberapa lam. Dia permukaanya ada sebuh goresan berpola unik. Tiga buah garis yang dihubungkan menjadi satu ke salah satu sisi batu.
Batu ini keren.
Arif lalu berlari ke rumah. Dia baru sadar sudah terlalu lama mengobrol bersama Hamka.
@@@
Dua tahun terlewati sejak saat itu.
Selama itu Arif terus belajar memahami dirinya sendiri dan lingkungan. Arif pun selalu melatih tarian Die Hyang. Perlahan-lahan namun pasti, Arif bisa melihat buah dari latihannya menarikkan Die Hyang.
Die Hyang bukanlah sekedar tarian biasa. Die Hyang mampu mempengaruhi psikis Arif dengan cara yang tidak biasa. Arif kadang menjadi emosional sekali saat menarik Die Hyang terutama untuk tarian dua puluh ke atas.
Kadang dia sangat bersemangat, bahkan pernah Arif menari sambil menangis. Tidak ada yang tahu apa yang terjadi pada Arif. Haz sendiri yang nyaris menyempurnakan tarian Die Hyangnya pun tidak mengerti maksud dari reaksi Arif tersebut.
Dia hanya tersenyum saja, mungkin itu adalah ungkapan bangganya karena Arif mampu memenuhi harapannya untuk menjadi Sang Penerus Die Hyang.
Seorang mampu disebut Sang Penerus Die Hyang saat ia mampu menarikan tarian pertama sampai tarian ke empat puluh satu tanpa henti. Untuk Kak Haz sendiri, dia belum mampu melakukannya.
Selain itu Arif memutuskan untuk belajar meramu obat dari Kak Haz. Arif merasa perlu melakukannya karena dengan begitu dia bisa meringankan pekerjaan Kak Haz. Tentunya Kak Haz dengan senang mengajarinya.
__ADS_1
Perihal Sheiny, perempuan tumbuh lebih ceria. Obat yang dua tahun lalu Dokter Jago berikan berefek banyak pada tubuhnya. Tubuhnya memang masih lemah, tapi kini Sheiny mampu berjalan berkeliling rumah meski dengan di tuntun.
Sheiny terlihat sangat gembira saat itu. Melihat ekspresi itu, Arif jadi teringat dirinya dulu saat begitu gembira melihat dunia luar.
Dan, dari semua kabar gembira yang datang selalu ada kabar yang menyedihkan. Empat bulan yang lalu, nenek menghembuskan nafas terakhir.
Penyebab meninggalnya nenek tidak diketahui, besar kemungkinan itu dikarenakan riwayat penyakitnya, tetapi Dokter Jago kurang setuju dengan perihal tersebut. Obat-obatan terbaiknya pun sudah di berikan kepada nenek dan tidak menimbulkan perkembangan apapun.
Dokter Jago menduga ini adalah bagian dari kutukan yang di turunkan kepada keluarga Kak Haz. Mendengar itu membuat Arif bersedih, bagaimana tidak hal itu pasti membuat Kak Haz dan Sheiny sangat terpukul.
Kesedihan keduanya adalah kesedihannya juga.
Karena keegoisan leluhur demi menyelamatkan banyak orang, seluruh anak-cucunya harus melalui jalanan berduri dalam pengarungan hidup. Arif sempat marah dengan mereka, tapi dia pun tidak bisa menyebut itu adalah tindak kejahatan.
Mengorbankan diri sendiri demi orang lain. Apakah hal seperti itu bisa dibenarkan?
Cukup untuk semua kesedihan ini. Kehidupan haruslah tetao berlajut apapun yang terjadi. “Asalkan sudah hidup, itu adalah anugerah yang luar biasa besar.”
Arif menemukan kalimat itu dari buku catatan tua yang milik bapak yang masih tersimpan rapi.
“Anugerah yang besar ya.” Arif nampak memikirkan kalimat itu di depan jendela kamarnya. Seluruh pekerjaan hari ini sudah ia selesaikan, sekarang adalah jam istirahat.
Arif menatap pemandangan pepohonan di luar dari jendela. Udara yang segar berhembus, membelai wajah Arif yang masih berkeringat. Mata Arif lalu melihat langit, dia kini memikirkan tentang sahabat-sahabatnya.
Wira sekarang telah menjadi anggota resmi Pasukan Pelindung Matahari. Bersama Bara dia melakukan bermacam misi berbahaya terkait Si Penggenggam Matahari. Wira rutin mengirim surat melalui merpati penyambung kabar, peliharaan Pasukan Pelindung Matahari yang bertugas menyampaikan kabar-kabar.
Sementara Pala dan Fasih sudah berkeluarga sekarang. Kabar terbarung bahkan Pala sedang merayakan kelahirkan putra kelimanya. Keluarganya pasti sangat ramai.
Sementara Fasih belum lama berkeluarga. Meski sudah memiliki keluarga dia masih melanjutkan studinya. Dia memang yang paling semangat mengani hal tersebut.
Fasih juga ruti mengirimi surat melalui kurir khusus. Keduanya pun sering bertukar pesan dan kabar mengenai keadaan masing-masing. Itu sangat menyenangkan.
Dan kini surat yang lainnya datang. Arif bisa melihat kurir tersebut dari jendela. Dia segera keluar dan menemuinya.
“Surat dari Amar Fasih. Seperti biasa tuan selalu rajin mengirimi Arif surat.” Lelaki yang mengenakan tas kulit besar itu menyerahkan sepucuk surat kepada Arif.
“Terimakasih.” Arif menerimanya dengan gembira.
Kurir tersebut membalas senyum Arif dan segera berbalik. Dia masih punya banyak pekerjaan.
Arif segera membukanya di pekarangan rumah. Arif mulai membacanya.
Isinya adalah perihal keluarga Fasih yang super sibuk. Istrinya baru saja melahirkan putra pertamanya, tapi karena kesibukan studi membuat Fasih terlambat dalam memberinnya nama. Fasih lalu bercerita kesibukannya sebagai seorang pelajar dan suami, kehidupan yang luar biasa sibuk.
Arif terlihat tersenyum-senyum kecil membaca kisah hidup Fasih. Dia perlahan-lahan punya gambaran masa-masa dimana jika nantinya telah punya pendamping hidup. Wajah Arif merona ketika di kepala muncul wajah Sheiny.
Diakhir surat tertulis dua kata dengan huruf kapital dan ditulis tebal. Arif tertawa lebar saat membacanya sekaligus menerima pukulan telak.
“KAPAN NIKAH?”
__ADS_1