
Ibu Haz adalah mantan anggota organisasi yang menamakan dirinya Pasukan Pelindung Matahari. Sebuah organisasi non pemerintah yang tersebar di semua penjuru.
Sebagaimana namanya, organisasi ini memiliki misi utama menjaga perdamaian di seluruh negeri.
Dalam organisasi tersebut Ibu Haz menjadi tim penyelamat yang tugasnya terjun langsung ke lapangan untuk menyelamatkan orang-orang. Tugas itu membuat Ibu Haz berkeliling ke banyak negeri dan mengenal bermacam rupa manusia terutama anak-anak.
Ibu Haz sering turun ke medan perang untuk menyelamatkan anak-anak yang telah kehilangan rumah dan keluarga mereka. Bersama anggota tim yang lain, Ibu Haz merawat anak-anak itu dengan cinta yang penuh. Itu kenangan delapan tahun yang lalu, Ibu Haz ingin sekali kembali ke masa-masa itu. Namun masa tua menghalangi. Kini yang beliau lakukan demi mengenang itu semua adalah merawat cucunya baik-baik.
Sementara Haz, putranya sudah sejak dulu ingin bertemu manusia rambut putih. Impian itu tumbuh dari pendidikan yang Dokter Jago berikan. Selama bersama beliau, Haz melakukan banyak sekali observasi mengenai manusia rambut putih. Membuka catatan sejarah, menelusuri reruntuhan kuno, memasuki kuil-kuil sakral. Pengembaraan yang hebat.
Kedatangan Arif dalam kehidupan Haz dan ibunya adalah kabar yang sangat menggembirakan. Doa yang sudah dipanjatkan Haz sejak bertahun-tahun lalu dijawab Tuhan. Haz, lelaki yang memiliki tatapan sedingin es itu tidak bisa membohongi dirinya bahwa sedang ada api berkobar dalam dadanya.
@@@
Pagi hari pertama di kediaman Haz. Kelelahan yang mengekangnya beberapa hari yang lalu membuat Arif ingin lebih banyak bermalas-malasan mulai dari bangun tidur. Jika bukan karena Haz pasti Arif baru bangun ketika matahari sudah naik. Lelaki bermata tajam itu memberikan kejutan yang tidak tanggung-tanggung.
Haz menyiramkan segayung air ke wajahnya karena sulitnya Arif bangun. Tentunya Arif sangat kaget, wajah sampai dadanya basah kuyup juga kasur lipat di bawahnya. Di Hadapannya, Haz berdiri dengan tatapan tatapan tidak suka. Arif pun demikian, ia merasa ini sedikit berlebihan.
“Keringkan dengan ini setelah itu temui aku di belakang rumah.” Haz memberikan handuk putih kepada Arif.
Arif mengelap wajahnya yang basah juga perasaan kesal yang tiba-tiba muncul. Perasaan seperti itu dapat menghambat hubungannya dengan Haz sebagai kakak adik.
Arif berencana menjemur kasur lipatnya terlebih dahulu, tapi tidak jadi. Ketika melihat pemandangan di luar, ternyata masih gelap. Matahari belum terbit.
Tidak ada gunanya menjemur di waktu ini. Arif hanya meletakan kasur lipat itu di pojok ruangan dan segera menuju halaman belakang rumah.
Di luar udara berhembus dingin, Arif jarang-jarang bangun sepagi ini. Tubuhnya menggigil ketika angin berhembus kencang. Apalagi pakaian yang ia kenakan ini berbahan tipis, dinginnya menusuk-nusuk.
__ADS_1
“Pakailah.” Seru Haz sambil memberikan sebuah jaket dari serat-serat alam. Jaket itu menyelimuti Arif dari leher sampai paha. Rasanya seperti meletakan tubuh dalam tumpukan jerami, sedikit gatal. Meski tidak bisa menolak semua hawa dingin, jaket ini lumayan. Arif lantas memperhatikan Haz dengan bingung. Dia hanya mengenakan kaos, tidak kedinginan?
Mungkin sudah biasa pikir Arif.
“Bagaimana kondisi tubuhmu, apa masih ada yang sakit atau pegal?” Arif menggeleng. Sebenarnya masih sedikit dan itu tidak akan mengganggu. “Ikuti aku.” Haz kemudian berbalik dan mulai melangkah setengah berlari.
Haz di depan sambil membawa sebuah lampu minyak. Kualitas penerangannya sangat buruk, tapi masih berguna untuk menunjukkan jalan dikondisi seperti ini. Arif mengikutinya di belakang semnetara matanya tidak bisa fokus ke depan. Nyaris saja hal itu mambuatnya jatuh tersandung. “Perhatikan langkahmu.” Haz mengingatkan. Hutan ini sangat gelap sebelum matahari terbit.
Ada dua pertanyaan yang kemudian mengisi benak Arif. Akan kemana dan akan melakukan apa? Arif bingung dengan semua ini. Memang benar Haz memberinya syarat untuk bangun pagi, tapi dia tidak menyangka akan sepagi ini. Ketika Arif menanyakannya, Haz malah menjawab, “Kau akan tahu, bersabarlah.”
Sepanjang perjalanan suasana hening memenuhi diantara keduanya. Suara-suara hutan yang sedang tidur terdengar samar-samar dari kejauhan. Hewan dan serangga yang masih beraktivitas pun beberapa tertangkap oleh Arif.
“Mereka adalah ahlinya di malam hari Arif.” Ucap Haz membuka pembicaraan. Dia menghentikan langkah, Arif mengikuti. Baru saja terlihat beberapa kelelawar melintar tepat di atas Arif.
“Namanya kelelawar, mereka bergerak secara unik yaitu menggunakan suara.” Mata Arif langsung membulat besar, penasaran. Baru saja dia mendapat hal baru. Bergerak dengan suara? Nampaknya keren.
Arif tidak tahu kemana kakinya hendak dibawa. Arif hanya mengandalkan semua kepercayaannya kepada Haz. Arif percaya padanya, dengan alasan itu dia mampu berjalan sejauh ini seraya menepis keraguan yang muncul dari bayangan masa lalunya.
Setiap melakukan aktivitas bersama orang lain, selalu saja membuatnya teringat dengan penduduk yang membenci dan membuangnya. Pengalaman itu mencabik jiwa begitu dalam dan meninggalkan bekas yang Arif ragu bisa menghilangkannya. Hanya Hanah, ibunya dan Dokter Jago yang tidak membuat Arif berpikir demikian.
Perjalanan ini benar-benar panjang, rutenya pun menyebalkan dan semakin sukar. Di samping kanan dan kiri hanya ada deret pepohonan yang terlihat samar-samar. Keduanya sudah berjalan satu jam lebih. Arif berkali-kali mengusap keringat di leher. Meski udara dingin, kelelahan ini tetap membuat keringat mengalir.
“Sedikit lagi Arif.” Haz menyemangati dengan suaranya yang dingin. Arif kembali mengusap wajahnya yang penuh keringat. Rute kali ini menanjak dengan tanah liat yang licin dan mudah rontok. Perlu kehati-hatian tinggi agar tidak terpleset jatuh.
“Berikan tanganmu.” Dari atas, Haz mengulurkan tangan kanan kepada Arif. Arif mengenggamnya kuat-kuat dengan kedua tangan. Kaki Arif kemudian berpijak pada rute yang kemiringannya lebih dari empat puluh lima derajat. Setibanya di atas, Arif menahan tubuhnya yang akan ambruk.
Nafasnya patah-patah, tangan-kaki terasa berdenyut. Setelah menyeka peluh, Arif menatap ke depan.
__ADS_1
Cahaya fajar semakin menyebar. Kehangatan memenuhi langit dan bumi. Kegelapan malam perlahan-lahan tergantikan dengan sinar yang meluas. Dari atas sini, dipenghujung perjalanan yang melelahkan. Terlihat dengan jelas bagaimana sang surya bangun. Pemandangan yang agung.
Mulut Arif terkunci, tidak bisa bekomentar. Dia tidak pernah menyangka pemandangan ketika matahari terbit bisa seindah ini. Lihatlah di kaki langit Timur. Cahaya kemerahan yang kuat mulai berdatangan layaknya kesatria berkuda yang gagah.
“Apa Guru pernah bercerita tentang Enam Petapa Agung atau Dewa Alam?” Tanya Haz. Arif menoleh padanya. Memorinya langsung menangkap kejadian yang hampir mirip dengan ini. Waktu itu, ketika Dokter Jago membawanya melihat raksasa batu dan Dewa Naga Bukit.
Arif mengangguk sebagai konfirmasi. “Kalau begitu, apa Guru juga menceritakan tentang Dewa Langit?” Arif berpikir sebentar, mengingat-ingat. “Tidak.” Jawabnya. Arif merasakan sesuatu dalam dadanya yang bergejolak. Pembahasan seperti ini selalu membuat hatinya bersemangat.
“Dewa Langit adalah matahari. Sebagaimana Enam Dewa Alam lain, Dewa Langit mendapat tugas dari Tuhan untuk menjaga keseimbangan semesta.” Haz bercerita dan Arif mendekat padanya seakan tidak mau ketinggalan satu huruf pun.
“Dewa Langit memiliki julukan Surya Yang Dermawan. Julukan itu diberikan sesuai dengan tugasnya yaitu membagikan keberkahan. Cahayanya membangunkan bumi dan membuat kita semua dapat beraktivitas. Guru juga selalu mengatakan, berjemur di bawah sinar matahari pagi itu menyehatkan.” Arif menyimak baik-baik perkataan Haz.
Setelah Haz menjelaskannya panjang lebar perihal Dewa Langit, Arif berbalik kearah Timur. Matanya sedang sibuk mengagumi ciptaan Tuhan Yang Maha Sempurna.
Matahari semakin naik, cahayanya menerangi segala sesuatu. Menembus celah-celah awan, membangunkan hutan beserta penduduknya, mengusir kegelapan malam, dan melahirkan semangat baru berkobar.
Kalian sebaiknya juga melihatnya. Tentunya di tempat terbuka atau di tempat yang tinggi agar lebih jelas. Ini pemandangan yang benar-benar indah.
“Arif kemarilah.” Panggil Haz. Arif berlari mendekat. Keduanya berdiri di tengah puncak itu, tempat yang paling banyak menerim sinar matahari. Arif melepas jaketnya, kondisi sudah tidak sedingin sebelumnya.
“Apa yang akan kita lakukan disini Kak Haz.”Dua detik pandangan Haz hanya tertuju ke Arif. Baru saja anak itu memanggilnya, “Kak”. Itu pertama kali Arif melakukannya. Suasana hati Haz jadi sedikit berbunga-bunga.
“Kita akan berolahraga untuk menguatkan dan menyehatkan badan.” Jawab Haz.
Arif menangkap kesan berbeda dari kalimat Haz. Nada suaranya tidak dingin seperti sebelumnya.
Nampaknya Haz akan menunjukkan sisi semangatnya kepada Arif.
__ADS_1