IBLIS PUTIH

IBLIS PUTIH
61 Seseorang yang memikat hati


__ADS_3

Pagi yang masih remag-remang. Udara dingin berhembus menusuk kulit.


Dengan hati-hati Arif melangkahkan kaki di jalan setapak yang menurun. Tanpa penerangan dengan jalanan yang sedikit berbatu dan licin, ini cukup berbahaya.


Mata Arif terus memperhatikan langkahnya dalam remang, sebisa mungkin untuk mengantisipasi diri agar tidak terpeleset.


Arif kali ini membawa sebakul pakaian kotor. Ini adalah kegiatana rutinannya setiap pagi, mencuci baju di sungai.


Jarak sungai cukup jauh dari kediaman Kak Haz. Arif perlu menyusuri perumahan penduduk dan masuk ke hutan untuk mencapainya.


Arif meletakkan bakul berisi pakaian kotor di sampingnya. Dengan hati-hati Arif mulai melangkah ke sungai yang tepiannya penuh batu. Sungai yang tidak begitu besar dan berarus tenang.


Suara arus bercampur dengan suara serangga di hutan, sangat cocok untuk mengisi keheningan fajar.


Arif mengambil beberapa helai pakaian kemudian menumpuknya pada sebuah batu. Biasanya ada beberapa wanita yang ikut mencuci baju disini, tapi kali ini hanya Arif seorang yang ada disana.


Salah satu pakaian ia ambil dan mulai merendamnya beberapa kali di sungai berair jernih. Arif beberapa kali menguceknya kemudian menaburkan sabun buatan Kak Haz. Meratakannya kemudian merendam dan menguceknya beberapa kali lagi.


Dulu Arif sangat kesulitan dalam melakukan hal yang bernama mencuci baju. Dari seluruh pekerjaan rumah, pekerjaan inilah yang baginya paling berat.


Arif selalu salah dalam memposisikan tangan kanan dan kiri saat mengucek. Pernah juga pakaiannya cuciannya nyaris terbawa arus sampai hilang karena lupa dimana menaruhnya. Pengalaman yang lucu baginya.


Untung saja nenek banyak mengajari, melalui banyak latihan dan melihat, Arif bisa melakukan pekerjaan ini dengan lebih baik.


Mencuci adalah pekerjaan yang memperlukan banyak tenaga. Setiap kali mengucek baju sambil berjongkok selalu memberatkan lengan dan punggung. Membuat keduanya terasa pegal sebelum pekerjaan ini selesai.


Belum lagi kalau sampai terjadi hal yang tidak diinginkan seperti pakaian yang sudah bersih jatuh di jalan, hanyut di sungai, sampai ketika menjemur malah basah karena hujan.


Pekerjaan yang tidak bisa diremehkan.


Arif menyelesaikan sebakul pakaian itu ketika matahari telah terlihat. Cahaya hangat bersinar menembus ranting dan celah-celah hutan. Ditambah dengan siulan angin, keduanya adalah kombinasi yang menyenangkan.


Arif tersenyum lebar. Menyambut hari yang baru dengan semangat.


Sesampai di rumah, Arif bisa melihat bagaimana Sheiny belajar berjalan. Bapaknya memegangi pergelangan tangannya, kemudian Sheiny mencoba melangkah dengan penuh kehati-hatian.


Arif pergi kebelangan rumah untuk menjemur pakaian. Ada beberapa utas tali yang dikaitkan dari genting rumah ke batang-batang pohon. Tali-tali itulah tempat menjemur pakaian.


Saru persatu pakaian basah mulai berpindah dari bakul rotan ke tali jemuran.


Arif menyeka pelipis yang berkeringat, pekerjaan menjemur selesai. Kini saatnya menyapu rumah.


Arif mengambil sapu yang terletak di dapur lalu mulai menyapu dari teras depan sampai teras belakang rumah.


Tidak perlu waktu lama untuk menyapu, jatahnya juga hanya lantai satu. Lantai dua adalah tugas Kak Haz.


Setelah itu, Arif punya beberapa saat untuk istirahat sebelum melanjutkan kepekerjaan berikutnya yaitu latihan Die Hyang.


Sementara itu, Kak Haz akan pergi ke kota untuk menjual obat-obatan dan Sheiny di kamar untuk mengayam dan membaca buku-buku milik bapaknya. Itu adalah hobi barunya.


Keringat mengalir di leher. Tubuh yang terasa panah dan letih. Ini adalah sensasi ketika berlatih Die Hyang.


Di halaman depan, Arif melakukan tarian tersebut. Daun-daun berguguran ditiup angin menyegarkan, daun-daun itu seakan ikut menari bersama Arif. Sheiny memperhatikannya tanpa Arif ketahui.

__ADS_1


Arif melakukan gerakan memukul lurus ke depan. Kemudian mengangkat salah satu kaki dan melompat ke seraya memutar tubuh di udara. Mendarat di tanah dengan posisi tubuh rendah, dilanjutkan dengan berdiri dan masuk pada tarian berikutnya.


Arif mengangkat tangan kanannya, lurus ke langit, kemudian perlahan menurunkannya sambil merendahkan badan. Diteruskan dengan gerakan tiba-tiba yaitu pukulan horizontal ke arah kanan dalam posisi kuda-kuda rendah.


Tangan kirinya lalu memosisikan dalam posisi membuat tameng. Di detik selanjutnya, kaki kanannya terangkat ke arah kiri, mengirimkan tendangan vertikal dengan kecepan tinggi.


Dari pada menyebutnya tarian, Die Hyang lebih terlihat seperti gerakan bela diri. Arif tidak tahu alasannya, Kak Haz pun tidak juga.


Namun, yang terpenting adalah melesatrikannya.


Arif berusaha maksimal untuk menguasainya. Menghafal tempo pada setiap gerakannya tanpa ada yang boleh tertinggal. Mengulang-ulang dengan mencoba untuk memaknai setiap gerakan. Itu hal sulit dan menantang.


Nafasnya sudah berat, tubuh semakin lelah, dan Arif tetao meneruskannya.


Dia ingat betul apa yang dikatakan Dewi Mimpi padanya. “Dalam seribu tahun, Dewa Takdir menggariskan, hanya akan ada tiga Sang Penerus Die Hyang.”


Arif ingin masuk kedalam tiga orang tersebut. Entah keuntungan apa yang nantinya di dapat, bagi Arif pribadi hal itu adalah bentuk kebanggan tersendiri.


“Maka dari itu aku harus berusaha keras.” Arif membesarkan hatinya saat beristirahat di teras rumah.


Lelah hari ini adalah untuk kesuksesan suatu hari nanti.


Saat akan bangkit Arif menemukan secarik kertas yang ditindih kerikil. Apakah Kak Haz ingin menyapaikan suatu pesan?


Ternyata ada dua. Arif membuka satu persatu.


“Hari ini aku akan pulang telat. Tolong jaga Sheiny. Makan siang sudah kusediakan.” Itu pesan dari Kak Haz. Pendek sekali.


Arif membuka surat berikutnya. Isinya juga hanya beberapa baris kalimat.


“Sheiny memperhatikanmu. Semangat ya.”


Seketika wajah Arif bersemu merah. Kedua pipinya terasa menghangat. Pertama kalinya seorang perempuan menyuratinya dan itu adalah perempuan yang Arif menaruh hati padanya.


Arif memegangi dadanya, ada deguban keras disana. Tubuhnya tertunduk. Beberapa saat ia serasa kehilangan kekuatan di tangan dan kaki.


Aduh, cobaan ini begitu berat.


@@@


“Lakukan seperti ini Arif.” Kak Haz terlihat sedang mencontohkan cara menghancurkan daun-daun herbal yang benar.


Tidak terlalu kuat juga tidak terlalu perlahan.


Disebelahnya, Arif mencoba menirukan apa yang dilakukan Kak Haz.


Arif mengambil sebuah alu, meletakan beberapa lembar daun herbal, lalu mulai menguleknya dengan hati-hati.


Malam yang terang, bulan sabit nampak dengan awan-awan yang bergerak harmonis.


Pencahayaan di lantai dua itu adalah lentera baru. Kak Haz membelinya dua hari yang lalu, bentuknya unik juga pencahayaannya lebih terang. Disebelah lentera itu terdapat banyak kantung-kantung kecil berisi bermacam racikan yang Kak Haz buat.


Arif dan Kak Haz berada di meja yang paling luas. Keduanya sibuk menggerus daun-daun kering dengan alu. Di atas meja itu nampak tumpukan daun yang serupa, cukup banyak. Di tengahnya berkumpul alat-alat yang Kak Haz biasa gunakan untuk meracik obat.

__ADS_1


Arif mengambil beberapa helai untuk di hancurkan lagi.


Kak Haz lalu mengambil empat gelas kaca dan memasukan air hangat ke dalamnya. Daun-daun yang baru saja dia dan Arif hancurkan dimasukan kedalam keempat gelas tersebut dengan mulut gelas yang kemudian di tutup kain.


“Kita tunggu semalam, air hasil rendaman nantinya dicampur dengan beberapa bahan lagi dan jadilah obat salep.”Kak Haz menjelaskan.


Arif mengangguk mengerti.


“Pembelajaran malam ini selesai. Terimakasih, ini sangat membantuku.” Ungkap Kak Haz. Arif tersenyum menanggapi. “Terimakasih kembali.”


“Ini adalah langkah awalku menjadi ahli obat.” Batin Arif.


Arif menuruni tangga dan bersiap masuk ke dalam kamar. Hari ini cukup, waktunya tidur.


Nyatanya, malam itu Arif tidak bisa tidur. Matanya terus terbuka dengan benak yang tidak henti-hentinya memikirkan pesan yang Sheiny berikan.


Ditambah lagi, kini umur Arif telah matang untuk melanjutkan hubungannya dengan Sheiny ke tingkat yang lebih serius. “Aku harus mempersiapkan kata-kataku kepada calon mertua.” Batin Airf.


“He.....apa yang kupikirkan.” Teriak Arif dalam hati sambil menepuk wajahnya keras-keras.


Lupakan-lupakan, jangan pikirkan itu dulu. Memikirkannya akan membuatmu gila Arif. Lupakan-lupakan.


Arif segera membuang selimutnya dan beralih melakukan push up dan sit up masing-masing tiga puluh kali untuk mengalihkan perhatiannya.


Arif kehabisan nafas karena terlalu terburu-buru. Ditambah lagi pikiran itu tidak bisa ia usir dari benaknya.


“Ya ampun, parah sekali.” Batinnya.


“Untuk kali ini aku harus menuruti kata hatiku.” Arif pergi ke sudut kamar untuk mengambil sesuaatu. Di atas meja itu terdapat tumpukan barang-barang yang ia gunakan selama berrumah disini.


Arif ambil benda berbentuk oval di atas salah satu buku.


Itu adalah cermin pemberian lelaki berambut perak. Sampai saat ini dia tetap tidak mau memberitahukan namanya. Arif memaklumi, mungkin ada itu privasinya.


Arif menarik nafas panjang, menyusun dan menyiapkan kata-kata yang nantinya di sampaikan pada calon mertua. Atmosfer gerogi sangat pekat disana.


Disaat lisannya akan bicara, mendadak Arif membeku.


Matanya fokus pada sosok yang ada di dalam cermin.


Dirinya sendiri.


Sosok buruk rupa karena lebih dari separuh wajahnya di dipenuhi luka bakar. Itu adalah tanda lahir yang secara aneh membesar mengikuti perkembangan Atif.


Mulut Arif masih terdiam, membisu. Ia lalu mengangkat tangan kanan.


Tanda lahir itu juga menyebar disana, kini malah hangat menyisakan sedikit bagian untuk kulit yang benar-benar normal. Arif lalu sedikit membuka kaosnya perlahan, memperhatikan tanda lahir yang kini sudah membesar hingga menyentuh pusar.


Ini mengerikan.


Sejak kapan menjadi sebesar ini?


“Sheiny pasti malu memiliki pendamping hidup sepertiku.”

__ADS_1


__ADS_2