IBLIS PUTIH

IBLIS PUTIH
72 Zeg Sang Iblis Putih


__ADS_3

Hari-harinya terasa hampa.


Makan dan minum tidak terasa lezat, istirahat terasa tidak nyaman. Keseharian yang membosankan dan tanpa arah.


Orang-orang terdekatnya meninggal dengan begitu cepat. Meninggalkan Arif sendirian dalam kebimbangan dan pusaran putus asa. Sebagaimana lima belas tahun lalu, ketika ibunya pergi untuk selama-lamanya.


“Yang kuat ya Arif.”


“Kita doakan semoga keluargamu baik-baik saja disana.”


“Kalau butuh sesuatu, Kak Arif tinggal panggil kami.”


Satu persatu penduduk berdatangan ke rumahnya. Tujuan mereka semua sama, mendoakan yang telah pergi dan memberikan dorongan kepada yang masih hidup.


Penduduk berkabung, memberi bunga dan doa di atas pusaran Sheiny, sementara Arif tidak henti-hentinya meneteskan air mata meski teriakan kesedihan tidak terdengar lagi. Sudah di bujuk beberapa kali untuk pulang, tapi Arif tidak mau meninggalkan tempatnya.


Makam yang berada di halaman belakang rumah itu sepi setelah semuanya berpulang. Hanya tinggal Arif sendiri bersama bung-bunga disekitarnya.


Nenek, Kak Haz, Sheiny, dan Bibi Nilam. Kesemuanya terbaring di sana, di dalam lapisan tanah yang penuh cacing dan belatung.


Gerimis turun tidak berselang lama. Semakin deras dan menjadi hujan dalam waktu singkat. Angin kencang bertiup, menggoyangkan tangkai pohon dan bunga-bunga. Rambut putih Arif dan seluruh pakaiannya basah kuyup, tapi dia tidak bergerak sesentipun.


“Maaf Sheiny.” Dua kata itu keluar dengan sangat lirih.


Dibayangkannya perempuan yang selalu ceria itu. Masa-masa awal yang begitu indah ketika keduanya masih kesulitan dalam bertukar kata, malu ada dimana-mana.


Ingatannya pergi ketika Arif bersedia menggendong Sheiny. Pengalaman yang selalu membuatnya tersenyum-senyum. Ketika belajar memasak dengannya, ketika mencuci bersama, ketika meracik obat bersama-sama.


Pengalaman yang indah.


Kini hanya tinggal kenangan dalam memori. Setiap kali mengingat kejadian itu, hatinya layaknya gelas yang jatuh dari tempat tinggi.


Pecah, rusak, tidak bisa diperbaiki lagi.


Menyadari seluruh tindakannya tidak berarti, Arif mulai beranjak pergi. Masuk ke dalam rumah dengan perasaan yang tercampur aduk. Perasaan yang tidak bisa di gambarkan.


@@@


Di sore yang tenang, Arif kedatangan kawan lama. Seseorang yang tidak mau menyebutkan nama dan identitasnya. Dia yang dulu pernah memberikan cermin. Lelaki tinggi itu kini duduk bersampingan dengan Arif di teras belakang rumah.


Si lelaki tinggi mencoba berbasa-basi, berusaha menghibur. Arif hanya menjawab secukupnya. Dia nampak lesu dan kurang semangat, Arif tidak sedikitpun menatapnya. Tidak seperti ketika keduanya terakhir bertemu, Arif penuh semangat untuk menghafalkan catatan lama milik bapaknya.


“Maaf aku selalu tiba di saat terburuk.” Ungkap lelaki berambut perak. Garis wajahnya menunjuk kesedihan yang serupa dengan Arif. Dia tahu betul apa makna dari kehilangan.


“Yang kuat Arif. Kau pasti bisa melewati badai ini.” Lelaki berambut perak itu menyemangati. Dia beberapa kali menepuk pundak Arif, memberinya semangat.

__ADS_1


Teras depan rumah terasa sunyi hanya ada dua lelaki itu bersama kesiur angin. Tidak terdengar kicauan burung hutan ataupun suara serangga, sesuatu yang tidak biasa bagi Arif.


Arif masih menundukkan kepala.


“Hei kau tidak bisa terus bersedih bukan. Banyak hal membahagiakan di luar sana.” Dia terus menyemangati Arif, berharap lawan bicaranya ini bisa kembali menyalakan hati yang meredup.


Mendadak Arif menghantamkan kepalan tangannya ke tanah sampai jemarinya berdarah. Lelaki berambut perak itu kaget karena aksi Arif yang tiba-tiba tersebut, hampir saja dia meloncat karena saking kagetnya.


“Terimakasih banyak. Kau benar, aku terlalu banyak bersedih. Aku terlalu larut di dalamnya.” Nampak keceriaan yang mulai singgah di wajah Arif. Arif berdiri semangat seraya mengelap kesedihan dengan semangat.


Walau jejak-jeka kesedihan masih nampak, Arif sebisa mungkin untuk menepisnya. Dia kepalkan tangan kemudian angkat tinggi-tinggi ke langit.


“Orang yang telah mati tidak bisa kembali, yang terpenting adalah mengambil pelajaran dari segala pengalaman yang terjadi.” Gumam Arif.


Sedetik kemudian secara aneh wajahnya terlihat sedikit mendung. Ada sesuatu yang menganggunya, begitu pikir si lelaki berambut perak. Arif kembali duduk di sampingnya.


“Jadi ini maksudmu dengan kemungkinan terburuk.”


“Ya, salah satunya. Beginilah eksistensi Keadilan Tuhan. Bagaiamana menurutmu.”


“Sangat tidak adil.”


“Itu jawaban mengejutkan, Arif.”


“Namun ibu bapakku selalu mengajarkan untuk tetap bersabar, apapun keputusan Tuhan karena sesungguhnya Tuhan Maha Penyayang.”


Suasana lenggang beberapa saat. Si lelaki berambut perak cukup terkejut dengan jawaban Arif. Keyakinan yang kuat, begitu dia menggambarkan sosok Arif yang sekarang.


“Jadi kau tidak memaknai kejadian ini sebagai musibah?” Tanya lelak berambut perak.


“Tidak, bukan begitu. Bagiku ini musibah, tapi aku lebih suka menyebutnya ujian dari Tuhan.”


“Ujian?”


“Ya, ujian untuk menyeleseksi siapa dari hamba-Nya yang benar-benar kuat.” Diujung kalimatnya Arif tersenyum. Hatinya merasa lebih baik setelah mengucapkan semua itu.


Tubuh Arif bereaksi aneh, ototnya mendadak menegang. Arif reflek menghindari dari lelaki tinggi itu. “Apa yang kau lakukan?” Ucap Arif setengah berteriak.


Lelaki tinggi itu menarik tangannya yang nyaris saja menghantam Arif. “Kau menyedihkan Arif.”


“Apa maksudmu.” Situasi ini sangat membingungkan. Kecemasan mulai mewarnai mimik Arif. Arif mulai paham satu hal, laki-laki ini berbahaya.


“Sekedar ujian, sama seperti yang kau katakan sebelumnya.” Arif memilih diam tidak menanggapi, sementara orang itu mulai melangkah mendekat padanya.


Dia membuka genggaman tangan kanan. Awan gelap muncul disana, berputar, dan memadat, kemudian menjadi benda yang berbeda. Entah apa itu yang pasti itu mengerikan. Arif tidak bisa melepaskan pandangannya dari sana.

__ADS_1


Lelaki tinggi itu mendadak menghilang dalam sekejap. Arif segera mengalihkan pandangan kesekitar, mencari keberadaanya. Benda apapun itu, pasti ada hubungan dengan kedatangannya. Tubuhnya dalam posisi kuda-kuda, bersiap. Bola mata Arif bergerak cepat kesegala arah dengan gelisah.


Arif merasa dadanya di pukul sangat keras hingga tulang-tulang rusuknya patah. Keringat mengucur, darah mengalir, dan tubuhnya jatuh terhina di bawah kaki.


Arif menahan sakit luar biasa di dada. Setiap kali bernafas dadanya terasa akan meletus, paru-paru dan jantungnya sudah rusak. Arif meringis, ini teramat sakit, sakit sekali. Air matanya sampai keluar.


“Sudah cukup Arif, kau harus keluar dari ketertindasanmu terhadap takdir. Sejak awal bertemu aku bisa merasakan Energi Gelap yang sangat pekat dalam dirimu, Arif.”


Arif merayap di atas tanah dengan menahan sakitnya. Dia lantas mencengkram kaki lelaki itu, Arif ingin memberikan... “Perlawan terakhir? Jangan begitu Arif. Tahanlah sedikit lagi.” Jawabnya seraya memandang remeh kepada Arif.


Pandangan Arif memburam, kepala berkunang-kunang. Rasa sakit semakin menjadi, dia berteriak sangat keras. Setiap sel dalam dirinya terasa terbakar menjadi abu. Perlahan-lahan kegelapan menyelimuti nurani, menghapus memori, dan segenap kenangannya sebagai manusia.


Semuanya gelap, dingin, dan sakit. Arif terkapar tak sadarkan.


Melewati proses mengerikan itu, Arif perlahan membuka mata. Mengerjap-ngerjap seakan baru saja bangun dari tidur ribuan tahun.


Ini terasa aneh.


Tubuh manusia yang tidak mampu menahan limpahan Energi Gelap membusuk dan tergantikan tubuh baru. Dia perhatikan beberapa lama. Kulit menjadi sedikit kasar dan berwarna abu-abu. Tanda lahir menyebar ke seluruh tubuh.


“A-apa i-ini. Si-siapa. Si-siapa aku?” Ucapnya gagapnya.


Si lelaki berambut perak mendekat dan membantunya berdiri.


“Na-nama-ku?” Lelaki berambut perak menatapnya beberapa saat, sebuah tatapan mata yang penuh pengharapan.


“Mulai hari ini dunia akan mengenalmu Zeg Sang Iblis Putih. Besok-besok kau akan mereformasi dunia dan menunjukkan keadilan sejati kepada Tuhan.”


-----------------------------------Tamat-------------------------------------


Kepada semua pembaca.


Terimakasih telah mengikuti cerita saya sampai sejauh ini. Penulis menyadari banyak kekurangan dalam tulisan ini dan mungkin saja ada beberapa hal yang menyinggung pembaca sekalin.


Jadi penulis selalu membuka kritik dan saran serta mohon maaf sebesar-besarnya.


Sekali lagi terimakasih telah mengikuti karya saya yang tidak seberapa ini.


Mungkin sebagian pembaca bertanya-tanya soal ending Iblis Putih yang terlalu menggantung.


Sebenarnya kisah Arif masih berlanjut sebagai Zeg. Isyallah penulis akan membuat ceritanya. Jadi mohon bersabar ya.


😁😁😁


Berlanjut ke Iblis Putih : Keadilan Palsu

__ADS_1


__ADS_2