IBLIS PUTIH

IBLIS PUTIH
59 Kembali ke kehidupan normal ?


__ADS_3

Awalnya Arif sangat khawatir perihal Bunga Purnama. Tujuan utamanya ikut ekpedisi ini adalah untuk mendapat Bunga Purnama yang merupakan bahan bahan obat mujarab. Sayangnya, Arif tidak membawa apapun dari Padang Bunga Purnama tersebut.


Bunga-bunga yang sudah ia petik hilang karena kedatangan Qocakau.


Beruntung Wira berhasil memetik empat tangkai Bunga Purnama dan membawakannya kepada Dokter Jago.


Namun, sebagaimana siklus bunga tersebut.


Dokter memang sempat mengolahnya menjadi obat, tapi berbeda dengan Wira. Bunga itu telah layu tanpa satu pun kelopak ketika sampai di tangan bapaknya. Entah apa yang dikatakan bapaknya waktu itu.


Meski demikian Wira tetap senang karena bisa memenuhi apa yang ingin ia lakukan meskipun itu gagal.


Dalam kediaman Haz, kali ini takdir berputar.


Jendela besar di sisi ruang terbuka, menghantarkan hawa segar kepada ruang tersebut. Angin berhembus perlahan kearah tiga sosok yang duduk saling berhadapan.


Diatas sebuah meja bundar dari kayu mereka nampak berdiskusi menyenangkan.


Sudah empat hari berlalu sejak kepulangan Arif dari Kota Arkkana. Obat yang dinginkan Kak Haz berhasil di buat dan telah diminumkan kepada nenek dan Sheiny. Semoga saja keadaan keduanya semakin baik.


“Jadi guru akan lebih lama tinggal disini.” Ucap Haz menghadap Dokter Jago dengan tatapan teduh. Hari-hari setelah kepulangan keduanya membuat Haz lebih murah senyum.


“Iya. Aku tidak punya agenda lain. Lagi pula ini kampung halamanku, rumah ini disini.” Dokter Jago lalu mengangkat secangkir teh alami dari kelopak bunga pekarangan rumah.


Teh itu punya bau seperti teh melati, tapi dalam hal rasa ada sedikit keunikan ketika lidah mengecap.


“Selain itu, apa kalian punya agenda sore ini?” Tanya Dokter Jago seraya menurunkan secangkir teh hangantnya.


“Maaf guru, saya harus menjaga ibu dan putri saya.” Balas Haz dengan nada lemah. Dia tahu maksud gurunya yang ingin berkeliling desa.


“Kalau begitu aku ajak Arif saja. Mau kau temani aku berkeliling desa, mencari udara segara?”


Arif menoleh kepada Dokter Jago. Tentunya saja dia mau.


Arif mengangguk. Dalam hati Arif juga berniat untuk berkeliling desa. Empat hari setelah kepulangannya dia habiskan untuk mengurus nenek dan Sheiny, belum sempat dirinya untuk berkeliling desa.


Omong-omong soal Sheiny dan nenek, ada sebuah kabar buruk dari keduanya. Hal ini terkait penyakit keduanya, sesuatu yang sejak dahulu menjadi rahasi keluarga Haz.


Leluhur Haz adalah orang-orang yang arif-bijaksana. Bisa dikatakan mereka adalah pahlawan banyak suku dan ras yang tersebar di berbagai penjuru bumi.


Dulu dunia terguncang hebat oleh perpecahan besar-besar. Peperangan terjadi dimana-mana, pertumpahan darah adalah hal biasa. Semua orang mencoba berebut kekuatan tertinggi, berusaha menjadi yang paling kuat dengan alasan tidak jelas.


Bahkan, orang-orang yang awalnya menganggap diri mereka pahlawan tertelan oleh situasi tersebut dan melahirkan sosok kegelapan dari ego mereka sendiri.


Kekacaun berkepanjangan tersebut memaksa keluarga Haz melakukan kontrak yang sangat tidak adil. Demi mengembalikan kestabilan dan perdaiaman, mereka bersedia untuk menerima seluruh keburukan dunia yang di timpakan kepada anak-cucunya.


Enam Petapa Agung pun mengabulkannya, perdamaian perlahan terajut kembali dengan bayaran sangat mahal. Sebagian besar dari wanita-wanita leluhur Kak Haz mengalami keguguran. Para pria mengalami penyakit kulit yang membuat tampang mereka seperti monster.

__ADS_1


Kehidupan mereka yang semula tenang dan damai berubah oleh kutukan hasil dari kesepakatan yang mereka buat dengan para dewa.


Tidak ada orang yang mengenang jasa mereka, bahkan orang-orang mengusir mereka karena bertubuh jelek dan bisa menebarkan penyakit serta petaka.


Ironis sekali.


Dan, kutukan tersebut terus diwariskan hingga kini. Sheiny mendapat kutukan tersebut sejak kelahirannya. Dia terlahir dengan tubuh sangat lemah.


Sementara Kak Haz menerima kutukan di punggungnya. Di punggungnya nampak luka terbakar yang sudah membusuk. Luka itu semakin membesar dan meluas, rasa sakit yang di tumbulkan pun seperti ditusuk ribuan jarum.


Beruntung Dokter Jago berhasil membuat obat yang meredam rasa sakit dan bertumbuhan luka tersebut.


Yang terakhir adalah nenek. Belum di ketahui kutukan apa yang nenek derita, tapi menutu penuturan Haz selaki putranya, nenek hanya bisa memiliki satu keturunan.


Mungkin terdengar tidak biasa saja jika dibanding kutukan yang diterima Haz atau pun Sheiny, tapi sejatinya kita tidak pernah tahu betapa besar kesdihan yang selalu nenek pendem akan hal itu di balik senyumnya.


Arif tahu semua itu belum lama ini. Kenyataan yang begitu perih dan menyedihkan. Ternyata tidak hanya dirinya yang terlepas dari keadilan dunia.


“Nanti sore ya. Kita akan menyapa penduduk.” Ucap dokter gembira.


@@@


“Eh ada dokter, mau mampir dulu?” Tanya seorang wanita paruh baya yang sebagian rambutnya sudah memutih. Dia menyunggung senyum kepada Dokter Jago.


Dihadapan sebuah rumah tua dengan halaman luas percakapan itu terjadi.


“Dokter lama sekali tidak terlihat, dokter kemana saja?”


“Oh iya mampir dulu ke rumah nenek. Nenek ada makanan ringan manis untuk dokter dan Arif cobalah pasti dokter suka.” Balas nenek tersebut antusias sambil menyerahkan sekantung roti yang dia bawa dari rumah.


Arif dan Dokter Jago mencobanya. “Hmmm... manis. Ini manis nek.” Arif yang pertama berkomentar.


“Menurutku pas. Ini lezat.” Giliran dokter yang berkomentar sambil mengangkat jempol.


“Terimakasih. Mampir dulu ke rumah nenk yuk. Pasti cucu nenek sedang di datangan dokter.” Ajak beliau.


“Maaf, rencana kami mau berkeliling desa. Sudah lama saya tidak melihat kampung halaman sendiri.”


“Oh begitu.” Jawab nenek itu tetap mempertahankan tersenyum.


“Kalau begitu kapan-kapan ya.”


Arif dan dokter lalu melajutkan berkeliling desa.


Dari terakhir kali yang dokter ingat, desa ini mengalami banyak perubahan. Ada banyak bangunan baru, ada juga kebun-kebun baru. Para remaja yang dulu lebih muda darinya sudah berkeluarga. Dokter menyapa para kenalan lama dengan girang.


Mereka bernostalgia bersama-sama.

__ADS_1


“Dokter dulu meninggalkan desa saat umur berapa?” Tanya Arif di tengah perjalanan.


“Waktu itu aku masih sangat muda. Aku merantau dan belajar di akademi ternama. Pengalaman yang sangat menyenangkan.”


“Apakah namanya Akademi Pandawa?”


Dokter menoleh dengan sedikit terkejut. “Darimana kau tahu?”


Arif tersenyum lebar tebakannya benar. “Karena sahabatku juga berada disana.”


“Wah pasti dia sangat jenius. Sulit sekali masuk kesana. Akademi juga menerapkan kedisiplinan yang ketat. Yah sepanjang disana, aku sangat kelelahan.” Ucap dokter. Dokter nampak sangat senang menceritakannya.


“Apa kau tahu Arif siapa itu Pandawa?” Dokter balik bertanya.


Arif hanya menggeleng. Tidak tahu.


“Itu adalah sebutan bagi Kesatria Utama. Meraka adalah tokoh lima serangkai yang pernah mengguncangkan dunia.” Seru dokter bersemangat.


“Kesatria Utama?”


“Ya kapan-kapan kujelaskan. Ceritanya cukup panjang.”


Keduanya lalu berjalan terus mengitari desa. Melewati jalan-jalan yang biasa dilewati penduduk sampai melalui tepian sungai yang tidak banyak orang ketahui.


Dokter nampak menikmati semua ini.


Hari semakin sore. Cahaya mentari yang terhalang awan putih terurai indah di langit. Sang surya semakin dekat dengan peraduannya, menandakan waktunya untuk berpulang. Anak-anak segera berhenti bermain, para orang tua pun menghentikan pekerjaan.


“Dokter bagaimana?” Tanya Arif sebelum berpisah.


“Bagaimana? Pertanyaamu aneh sekali Arif. Aku pulang ke rumahku. Walau aku pun tidak tahu bagaiman kondisinya. Malam ini aku tidak bermalam di rumah Haz. Sampaikan salamku padanya ya.” Kata dokter lalu balik kanan dan berpisah dengan Arif.


Arif melambaikan tangan dan mulai melangkah ke arah berbeda. Arif pun cukup menikmati semua ini. Pengalaman menyenangkan.


Dikenal banyak orang, di terima apapun kondisi, dan saling bertukar senyum, meski semua itu hanyalah kepalsuan.


Jika saja bukan karena racikan dari Kak Haz, pasti tidak aka ada orang di Desa Rakatta yang mengenal Arif. lebih buruk lagi, pengalaman beberapa tahun yang lalu bisa terulang kembali.


Arif menggelengkan kepala kuat-kuat, mengusir ingatan buruk tersebut.


“Tidak apa-apa Arif. Selama penduduk menerimamu itu sudah baik.” Arif menguatkan hatinya seraya mengepal tangan.


Langkah Arif terhenti tidak lama kemudian. Dia menatap depan ke pemakaman penduduk, tepatnya pada seorang lelaki yang baru saja keluar dari sana.


Dia kenakan pakaian tebal dari kulit hewan. Tubuhnya tinggi besar dan berotot. Arif bisa melihat banyaknya luka di sekujur lengan dan kaki, bekas-bekas luka yang memperlihatkan betapa tangguh dirinya di alam liar.


Sorot keduanya bertemu. Wajahnya nampak asing di mata Arif, dengan cukuran nyaris botak dan kumis hitam tipis di bawah hidung.

__ADS_1


Lelaki itu mendekat.


“Arif?”


__ADS_2