
Setelah semua masalah yang mereka hadapi ada secercah harapan kebahagian di keluarga Vani, saat berada di London bersama Daren, Sudung sudah lebih sehat.
Ia semakin bersemangat saat Vani datang berkunjung, Vani datang tanpa mengabari bapaknya hanya memberitahukan Daren. Lelaki itu sangat senang. Vani memeluk Sudung dengan erat, ia meminta maaf karena selama ini tidak tahu kalau bapanya menderita sendirian, ia tidak tahu kalau Sudung meminta seseorang selalu mengawasinya diam- diam saat di kampung.
“Kenapa datang tidak mengabari daddy?”
“Aku ingin datang biar kejutan, untuk daddy.” Vani masih memeluk lelaki itu dari belakang.
“Tidak kejutan jadinya, kalau tidak ikut Jonas,” ujar Sudung, ia rindu pada cucu pertamanya.
Benar kata orang, jika orang tua kita sudah punya cucu, ia akan lebih sayang dan rindu pada cucunya dari pada anaknya.
“Itulah kelebihan seorang cucu Kak, anak tidak terlalu dirindukan lagi, sudah digantikan sama cucu kesayangan,” sahut Daren, sembari tertawa kecil.
“Aku hanya ingin kita bertiga punya waktu bersama, waktu yang seharusnya kita lakukan saat mommy meninggal,” ujar Vani dengan mata berkaca-kaca.
“Daddy minta maaf, saat itu …..” Lelaki itu menjeda kalimatnya, “aku juga jauh lebih sedih dari kalian kembali mengingat hari yang menyakitkan itu , semua itu sebenarnya sangat sulit baginya, kehilangan istri tercinta secara tiba-tiba, lalu dikhianati sahabat dan dipaksa menikah dengan dengan karyawan, saat itu Sudung tidak bisa berpikir, dalam hati hanya ingin melindungi anak-anaknya tidak memikirkan hal yang lain, ia tidak memperdulikan tuduhan orang lain yang menyebut dirinya senang dengan kematian istrinya agar bisa menikah dengan Rosa. Semua berita buruk itu ia pendam sendiri yang terpenting anaknya selamat, ia tahu kalau putrinya wanita yang kuat, maka itu ia mewariskan semua harta dan perusahaan atas nama Vani, lalu mengucilkannya di kampung, sementara Daren ia sekolahkan di luar negeri.
“Daddy melakukan itu, aku melakukan itu untuk menjaga kalian berdua, saat itu, aku sangat rapuh setelah kepergian mommy, aku merasa sendirian, semua keluarga menuduh daddy penyebab meninggalnya mommy, menjauhkan kalian dari semua bedebah itu, hal yang terbaik dan itu berhasil. Kalian berdua hidup dengan orang yang mandiri dan hebat, daddy bangga sama kalian berdua, terutama sama putriku,” ucap Sudung mengecup punggung tangan Vani. Sudung sangat berubah belakangan ini, dulu wajahnya selalu terlihat serius nyaris tidak pernah senyum. Namun, belakangan ini, setiap kali bertemu Bonar, baik melalui telepon Sudung sudah mau tertawa.
“Maaf Dad, kalau saat itu aku melakukan kesalahan, harusnya aku mendukung, bukannya menyusahkan.”
“Kalau kakak tidak melakukan kesalahan, tidak ada anakmu yang genius itu dong,” ucap Daren tertawa ngakak.
“Benar juga,” sahut Sudung.
Mereka bertiga sama-sama tertawa, “berarti apa yang kita alami adalah takdir.” Sudung menatap kedua anaknya, Vani memeluk lelaki itu lagi.
“Sudah dong sedih-sedihnya waktunya kita bangkit, bagaimana kalau kita liburan mumpung kakak masih di sini,” ucap Daren.
“Ya, aku setuju, habis ini kita akan pulang ke Indonesia, kita akan mengadakan pesta adat yang resmi, tapi tetap di kampung.”
“Baiklah,” ucap Sudung.
“Daddy setuju?” Vani tersenyum bahagia.
“Ya mari kita pulang, aku juga ingin bertemu dengan ibu mertuamu secara resmi,” ucap Sudung.
Walau waktu tidak bisa diputar, tetapi masa depan bisa diperbaiki agar jangan jadi penyesalan di kemudian hari, setelah mereka bertiga saling terbuka dan curhat, hari itu Vani menghabiskan waktu bersama selama beberapa hari di London , mendatangi tempat yang pernah mereka datangi bersama sang mama, walau tidak bisa bersama lagi tetapi mereka mengenang ibu mereka.
__ADS_1
Saat sedang makan, restoran Vani terkejut saat William mengirim foto Iyos yang ditangkap polisi.
[Bojomu keren, Non] isi pesan William.
“Apa yang terjadi?” Vani membuka ponselnya dan mendapatkan berita tentang Iyos yang di borgol polisi dengan penampilan berantakan mirip gembel jalanan.
“Dad … apa kamu sudah mengetahuinya?” tanya Vani melirik Sudung yang tertawa miring.
“Suaminmu, tidak ingin kamu mengotori tanganmu, dia membalaskan dendammu dengan caranya,” ucap Sudung.
“Apa Bonar yang melakukannya? Kok dia gak bilang padaku.”
“Dia tidak ingin kamu banyak pikiran, dia bilang padaku kalau kamu terus menangis saat itu, jadi ia merencanakan semuanya.”
“Aku hanya sedih, aku ingin memasukkannya ke penjara, tapi kasus kematian mommy sudah kedaluarsa, jadi aku kesal, tapi bagaimana Bonar melakukan itu?”
“Jangan heran … suamimu orang yang sangat pintar,s sepuluh tahun ikut dengan daddy, aku tahu kemampuannya,” ucap Sudung ia memuji menantunya, ia lebih banyak tahu tentang Bonar dari pada Vani istrinya sendiri.
“Apa lae itu juga pintar Dad?” Daren ikut duduk di samping mereka.
“Dia pintar dan pekerja keras.” Sudung menceritakan kebersamaan mereka selama sepuluh tahun dengan Bonar.
Pembahasan mereka tentang Bonar, Sudung menyanjung menantunya di depan Vani
Akhirnya lelaki jahat itu menemukan hukuman atas segala perbuatannya, sudah bangkrut, ditinggalkan semua orang, disaat ia tidak punya apa-apa lagi ia tangkap polisi karena laporan Bonar, akhirnya Iyos di penjara.
Vani sangat bangga melihat pekerjaan suaminya, lalu ia menelepon Bonar. Melihat ada panggilan video call dari istrinya Bonar merapikan rambut dan pakainya tidak lupa ia pelan untuk menormalkan suaranya. Bonar yang ingin tampak cool di depan istrinya.
“Halo Ma!”
“Apa Papah yang melakukannya?” tanya Vani.
“Melakukan apa?”
“Memasukkan lelaki jahat itu ke penjara.”
“Aku kangen sama Mama.” Bonar bukannya menjawab, ia malah mengeluh sudah rindu sama istrinya padahal Vani berangkat ke luar negeri bar juga hitungan hari.
“Aku juga, Papa Lagi ngapain?”
“Lagi di kantor, bentar lagi mau pulang jemput Jonas.”
__ADS_1
“Loh kenapa dijemput?”
“Katanya giginya sakit ingin periksa ke dokter siang ini, sekalian bawa ibu kontrol.”
“Oh baiklah, Bang …?”
“Ya,” jawab Bonar.
“Terimakasih Ya.”
Bonar menggaruk-garuk ujung hidungnya itu ciri khasnya kalau ia merasa malu, “untuk apa?” tanya Bonar.
“Untuk semuanya.”
Bonar mengulum senyum malu-malu saat Vani memuji dan menyanjung sebagai suami dan ayah tebaik untuk anaknya.
“Aku ingin kamu ingin Mama pulang, tidak ada kamu di rumah, semuanya terasa sepi,” ucap Bonar.
“Besok, aku dan Daddy pulang ke Indonesia, dia minta ingin bertemu inang secara adat,” ujar Vani.
“Itu artinya aku akan panggil marga Sinaga?” tanya Bonar.
“Harusnya keluarga terdekat , tapi melihat kelakuan keluargamu seperti itu, dady bilang tidak usah cukup hanya kita-kita saja”
Baiklah Ma, kabarin kalau kalian pastinya pulang.” Bonar bersemangat.
**
Sudung dan Daren kembali ke Indonesia, setelah beberapa lama tinggal di London, ternyata Bonar dan Vani memberi kejutan untuk mereka berdua, Sudung dibawa kembali ke rumah mereka yang lama.
Bonar juga meminta asisten, supir,pekerja taman itu kembali bekerja di rumah Sudung.
“Selamat datang kembali rumah kita, rumah kita yang punya kenangan.
“Bukankah kata daddy rumah ini sudah di jual?” tanya Daren .
“Aku dan Bonar sudah mengurus semuanya, ini akan rumah kita kembali.”
Keluarga mereka kembali berkumpul di rumah
Bersambung
__ADS_1
Bantu like vote dan komentar kasih kopi dan bunga ya jika berkenan
.