Identitas Tersembunyi Sang Menantu

Identitas Tersembunyi Sang Menantu
Ada hikmah Di Balik Musibah


__ADS_3

Apa yang dialami  Vani dan William tidak sia-sia, setelah Vani mengekspos tempat penggerebekan itu,  beritanya menjadi Viral karena  yang ikut di sana   bukan hanya istri pejabat,  bahkan ada beberapa aktor muda yang ikut menjajakan tubuh mereka untuk tante-tante kesepian demi bayaran yang fantastis.


Ternyata dampaknya ikut juga sama Winda,  di kantor wanita  bertubuh indah itu,  jadi gunjingan orang-orang kantor,  sebenarnya bukan hanya dia. Sudung sebagai suami Rosa ikut jadi  buruan para Wartawan, tetapi lelaki berkaca mata itu,  tampak santai di ruangannya, lebih dari itu sudah pernah ia alami. Jadi jika ada masalah yang seperti itu,  ia sudah tangguh menahannya, ia lelaki yang introvet.


Winda sampai harus pulang ke rumah hari itu, karena malu  jadi bahan gibahin semua orang kantor, karena ibunya.


“Aku sih malah kasihan sama Pak Sudung , dapat istri yang kayak begituan .. jijik  melihatnya,” suara itu  terdengar jelas di telinga Winda, saat  lagi i berjalan ke lobby kantor.


Pulang ke rumah,  tujuannya agar ia  bisa mendapat ketenangan, tetapi tiba di rumah  ibu mertuanya, bukan ketenangan yang ia terima,  melainkan hinaan  dari sang ibu mertua.


“Tu … lihat ibumu, wanita kotor dan hina, tidak tau malu, bagaimana mungkin dia mencari brondong saat dia punya suami, bahkan punya kekasih gelap,” ujar Maminya Andre.


Ternyata wanita itu sudah  tau hubungannya perselingkuhan suaminya dengan besannya, maka itu dia selalu meminta Andre untuk meninggalkan Winda.


“Mamiku bukan seperti itu Bu,” jawab Winda.


“Harusnya,  kamu dan ibumu,  menjauh dari keluargaku, karena kalian ber dua itu parasit yang mematikan,” ucap  Mami  Andre, ia tidak suka dengan Winda,  ia ingin wanita itu menghilang dari kehidupan anaknya agar Andre bisa bersama Vani itu yang ia pikirkan .


“Kenapa ibu selalu  tidak suka denganku?”


“Karena kamu dan ibumu sama-sama perusak  hubungan orang lain,” ujar wanita itu dengan kesal.


“Aku tidak akan mau berpisah dengan Andre, aku  akan  pastikan itu”


“Tidak apa-apa, aku akan nikahkan Andre dengan wanita yang bisa memberinya anak. Kamu dan ibumu, tidak masalah jadi parasit selamanya”


Mendengar kata-kata hinaan dari ibu mertua,  Winda sangat benci dengan ibu mertua.


‘Suatu saat aku akan membalas mu wanita tua’ Winda menatap dengan tajam.


Hidup Winda bagai di neraka,  ayah mertuanya ingin ia tetap di rumah itu demi sebuah ambisi, karena ia ingin mencalonkan diri sebagai kepala daerah, tidak ingin orang menilainya  keluarga yang kurang harmonis, makanya mempertahankan Winda sebagai menantu.


Sementara Ibu mertuanya sangat membenci dirinya, baik Andre juga tidak pernah lagi mencintainya, lengkap sudah penderitaannya


                     *


Setelah mengguncang kehidupan Rosa dengan skandalnya,  Vani akhirnya pulang ke rumah, luka lebam di wajahnya ia tutupi dengan bedak, baru juga ia memarkirkan mobil ..


“Vani kamu dari mana saja?” Tanya Bonar yang berdiri di samping mobilnya.

__ADS_1


“Aku ada pekerjaan Bang,” jawab Vani dengan suara kecil


“Kita harus bicara sebentar.” Bonar menarik ke bangku taman.


Vani menurut saat Bonar menariknya untuk bicara , dua hari lamanya Vani tidak pulang ke rumah,  ia memberi kabar lewat telepon yang di cafe William.


“Ada apa Bang?”


“Apa benar kamu disekap? Lalu bagaimana kamu bisa keluar?”


“Ada polisi yang membantu Bang”


“Van … malam itu aku  menemui Beny, dia bilang saat mereka  melakukan penggeledahan kamu tidak ada”


“Saat semua orang panik,  saat itu mengambil kesempatan untuk kabur, aku ingin  ke kamar bang, aku lelah.” Vani berdiri.


“Kamu  masih marah padaku?”


“Tidak lagi bang, hanya  capek”


Bonar  belum mau menyerah, walau ia tau kalau Vani masih marah padanya,  karena masalah hari itu, ia  berusaha mencari perhatian.


“Siapa yang ingin di urut?”


“Aku”


“Apa abang  sakit, maksudku  karena kecelakaan hari itu?”


“Bukan, aku memperbaiki ruangan  kak Nur dan aku terjatuh”


Wajah Vani langsung berubah lembut, saat mendengar Bonar mau berbaikan dengan kakaknya, ia tadinya sudah sempat berdiri,  lalu ia duduk lagi. Karena selama Bonar datang ke rumah itu, ia tidak mau menyapa ataupun perduli sama Nur, padahal Vani sudah bilang kalau Nur bukan seperti yang dulu lagi, sekarang Nur sudah seorang seniman yang bisa menghasilkan  karya yang bagus.


Tetapi selama di sana Bonar tidak pernah mau menyapa Nur, padahal Nur selalu ingin mengajak adiknya untuk bicara, walau dengan bahasa yang gagu tetapi Bonar tidak pernah menghiraukan.


“Apa kamu sudah  mau menerima Eda?”


“Kan, kamu yang bilang Dek, untuk bisa menerima keadaanya, dari pada kamu marah lagi samaku”


“Jadi, kalau aku marah, kamu akan berubah baik?”

__ADS_1


“Ya, aku tidak ingin kamu marah-marah lagi, sebenarnya … kalau kamu marah hal yang biasa dari dulu, hanya Jonas …” Bonar menggantung kalimatnya


“Kenapa dengan dia.” Vani menatap dengan serius.


“Sejak kamu marah dan menghiraukan ku … dia juga ikut melakukannya,” ujar Bonar dengan suara bergetar.


‘Apa orang ini jatuh cinta sama anak itu?’ tanya Vani


“Aku tidak pernah mengatakan apa-apa Bang, seburuk apapun kamu dari dulu, aku dan mama tidak pernah  bilang sama Jonas”


“Aku tahu Dek, tapi perasaan anak itu peka terhadap ibunya, kalau seorang  sedih anak juga ikut sedih, dia melihatmu  kemarin bersedih karena aku tidak membelamu, aku lebih memihak  Pak Sudung dan Jon melihat semua itu.  Sejak saat itu sikapnya sangat dingin padaku”


“Apa kamu menangis …?” goda Vani saat Bonar mengusap wajahnya, “ kamu  kayak orang yang sedang pedekate sama pasangan tiba-tiba digosting, itu yang aku lihat saat ini,” ujar Vani tertawa kecil.


“Kalau kamu yang marah padaku sudah hal biasa, tapi jangan  ikut  Jonas membenciku, aku patah hati,” ujar Bonar, Vani tertawa.


Bu Lisda melihat mereka dari jendela lantai dua, wanita tua itu menghela  napas lega saat melihat Bonar dan Vani sama-sama tertawa.


“Aku berharap kalian bersatu selamanya,” ucap wanita itu sembari menyibakkan gorden  jendela kamar Jonas.


Bonar menatap wajah Vani, lalu ia menatap kaget saat menyadari luka lebam di pipi mulus itu.


“Kamu terluka Dek?” Ia menyentuh pipi Vani.


“Aaa … sakit,” rintih Vani saat luka memar di pipinya di tekan sama Bonar.


“Ini harus diobati Vani, ini birunya parah bangat, tunggu di sini.” Bonar berlari ke dalam rumah dan membawa kotak obat, mengolesi  luka memar di wajah Vani, “ memangnya kalian di apain aja sih?”


“Aku di pukul di bagian wajah dan  perut, dijambak, lalu dilempar ke dinding, kami bertiga sama penderitaannya,” ujar Vani bercerita apa adanya, tapi saat ia menoleh .


Bonar terlihat sangat emosi mendengar  pemukulan yang dialami Vani, ia beberapa kali menelan ludah dengan susah payah dan matanya berkaca-kaca, sepertinya ia menahan perasaan.


“Abang tidak apa-apa?”


Tiba-tiba ia memeluk Vani dengan begitu erat, “ maafkan aku Dek, aku janji mulai hari ini aku akan berada di sampingmu,  besok aku akan mengundurkan diri dari kantor aku akan memilih berada di pihakmu’ ucap Bonar dengan tulus.


Ucapan Bonar sangat menyentuh perasaan Vani, disaat ia ingin butuh bahu untuk tempat menangis, akhirnya  ia mendapatkannya dari Bonar suaminya.


Bersambung …

__ADS_1


__ADS_2