Identitas Tersembunyi Sang Menantu

Identitas Tersembunyi Sang Menantu
Bagai Ratu


__ADS_3

Saat bonar mengabari akan datang ke rumah Lina, keluarga itu bersemangat dan memperbolehkan mereka datang, padahal biasanya kalau ada orang yang datang bertamu di hari kerja biasanya mereka  menolak. Kali ini, ada pengecualian untuk Bonar, ia di terima dengan baik bahkan di perlakukan berbeda seperti biasanya.



Saat mobil mereka tiba, mereka di sambut dengan ramah dan baik, sangat berbeda sebelum pesta, saat itu saat Bonar datang ke rumah mama Lina menatap dengan sinis, ia berpikir Bonar datang meminta uang ke bapa uda nya. Namun, kali ini sebuah senyuman sudah terlihat dari semua keluarga itu, terlepas tulus atau tidak, hanya mereka yang tahu.


“Sinilah kalian duduk, mana kakak dan anakmu , kenapa gak di bawa ke sini?”


“Dia kan sekolah Inang,” balas  Vani.


“Oh iya … ha, ha, aku lupa,” ujar wanita  yang  berambut  pirang tersebut.


“Inang uda minta kami datang ada perlu apa?”


“Hanya ingin mengobrol sebenarnya, kebetulan bapa udamu  libur ngantor dan mama Desmon  belum pulang ke Bogor, jadi kami ingin  kalian datang ke sini”


“Ini kan  jam kerja Inang,” ujar Vani.


“Bonar kan Bos di sana bisalah  untuk libur,” ujar Mama  Lina , ia tertawa dengan tawa yang dipaksakan.


“Sebenarnya  inang uda ingin bilang, bawalah adikmu si Desmon ini kerja,” ujar bibinya yang dari Bogor, “Kamu kan bos di sana bisalah kamu masukkan di di mana saja”


“Yang begini yang repot menghadapi keluarga, walau aku bos di sana memangnya aku bisa asal masuk kini orang  … harus ada kemampuan di bidangnya’ ucap Bonar dalam hati.


“Jurusan apa dia Inang?” tanya Vani.


“Dia, Tehnik Sipil”


Saat Bonar dan Bonar tanya kemampuannya ia tidak bisa apa-apa dan belum punya pengalaman kerja sama sekali, padahal sudah dua tahun lulus kuliah, saat Bonar  meminta di satu jabatan  bawah  biar bisa belajar dari awal ia malah menolak.


“Kalau hanya gaji segitu dan jabatan segitu … mending aku main game di rumah,” ujar lelaki itu dengan nada sombong.


Vani dan Bonar malas untuk berdebat dan malas untuk menjelaskan panjang lebar, akan  buang- buang waktu memaksa orang itu kerja karena hidupnya sudah terlalu nyaman selama ini biaya   hidupnya di sokong orang tuanya, dimanjakan dari dari kecil membentuk  karakter yang gampang menyerah dan sikap pemalas.


“Benar kata Abang ini … kamu harus dari bawah, untuk tahap belajar,” ujar Lina.


“Percuma dong  Bang Bonar Bos, kalau aku tetap  jadi pegawai bawahan,” keluhnya lagi. Raut wajahnya angkuh dan sombong, “di perusahaan temanku saja aku sudah ditawarin gaji sepuluh juta sebulan, aku tidak mau,” imbuhnya lagi.



Bonar tidak peduli dengan bualan adik sepupunya, Bonar tidak mau menanggung resiko memperkejakan pegawai yang tidak punya kemampuan, Desmon hanya mengandalkan bacot saja , tetapi ia tidak punya skill apapun,  ia hanya bisa bermain game sepanjang hari.

__ADS_1


“Kalau begitu, Maaf abang tidak bisa memasukkan kamu ke sana, di Lonax itu semua orang -orang yang punya kemampuan”


“Ah, payah,” rutuk lelaki itu lagi.


Vani menahan tangan Bonas saat lelaki itu mulai terpancing emosi, saat adik sepupunya mengatai ia dengan sebutan payah dan belagu.


“Baiklah lupakan saja tentang pekerjaan kalau memang tidak bisa,’ potong Simon, ia tidak mau ada keributan di rumahnya.


“Bukanya tidak mau bapa uda, aku bilang dia memulai dari bawah dulu untuk tahap belajar, kalau misalkan dia mampu dan bisa . baru kami akan memindahkannya."


“Sorry  gue tidak level dengan jabatan dan gaji seperti itu. Miskin!” ucapnya lagi.


Bonar benar- benar di uji, Vani melihat Bonar mulai merasa tidak nyaman saat duduk di sana jadi , ia  berniat pergi  adri rumah itu sebelum kekecewaan  terjadi,  ia ingin pamit.


Tapi mama Lina menahannya, “jangan pulang dulu kita mengobrol dulu, lupakanlah tentang pekerjaan. Bagaimana kabar kakak dan  anakmu?”


‘Apa yang  ingin coba dikorek inang uda ini’ Bonar membatin ia menarik napas panjang.


“Mereka baik inang uda”


“Tapi ajaklah dulu datang ke sini, teleponlah dulu biar datang mereka,”cicitnya lagi.


Baru juga di omongin Jonas menelepon Bonar menggunakan ponsel supir, ia tidak menelepon ke ponsel mamanya tapi ke ponsel  bapa.


“Pak, aku masih ada les tambahan, Pak Bony mau antar oppung ke dokter. Bapak yang jemput nanti ya”


“Baiklah, nanti bapak sama mama yang jemput, biar pak Bono pulang antar oppung ke dokter”


“Yes … yes, bapak yang jemput.” Jonas  melompat kegirangan  di ujung telepon.


“Ya sudah kasih ke pak Bony,” pinta Bonar pada putranya , lalu menyodorkan pada Bony.


“Ya Pak,’ sahut lelaki muda itu dengan sopan.


“Bon, kamu antar ibu kontrol ke dokter ya, kamu pulang saja, nanti Jonas, biar bapak sama ibu yang jemput.”


“Baik Pak.”


Lalu Bonar menutup telepon, mereka semua hanya diam mendengar Bonar  bicara akrap dengan putranya, mimik wajah Bu Lina kembali berubah, sebenarnya ia  ingin mengungkit gosip yang beredar dari satu kampung Bonar, menyebutkan kalau Jonas  bukan putranya dan  dalam gosip itu menyebutkan kalau ia meninggalkan Jonas sejak kecil, walau itu satu  kebenaran, tetapi Bonar sudah memperbaiki sikapnya. Saat ini ia sudah jadi bapa


“Memang kakak lagi sakit?” tanya Simon.

__ADS_1


“Paling hanya biasa, terkadang orang tua itu pura- pura bilang sakit untuk mendapatkan perhatian anak- anaknya,” celetuk  Mama Lina ia melirik  ibunya yang saat itu datang ke rumah mereka.


‘Jahat pikiranmu mama tidak seperti itu, justru dia menutupi penyakitnya biar  kami tidak khawatir’ ucap Vani dalam hati, ia ikut kesal juga melihat sikap  mama Lina.


Kring! kring …!


Rati call.


Vani buru- buru mengangkat telepon, “ya mbak, ada apa?”


“Bu,  nanti Oppung kontrol jam berapa?”


“Nanti jam  satu janji sama dokter,  kamu beres -beres saja. Jangan lupa kasih oppung sama bou Nur makan dulu ya,” ucap Vani.


“Ya Bu, apa saja yang dibawa?”


“Bawa  kartu periksa, kartunya Ibu  simpan di kamar oppung lihat di samping tempat tidur.Bilang sama dokternya untuk di kurangin dosis obat oppung ya, bilang oppungny ga bisa tidur habis minum obat,   saya sudah minta perawat untuk mengecek kesehatan oppung di rumah nanti ingatkan dokter lagi,’ ujar Vani lagi.


.


“Tanya Oppunya maksudnya Bu?” tanya Rati di ujung telepon.


“Bukan tanya oppung, dia mah gak akan bilang apa -apa, sakit saja kadang dibilang sehat, saya  lebih tau dia sakit apa tidak. Tanya dokternya saja nanti. Oppung Mana?”


“Di kebun”


“Bilang sama oppung jangan kebanyakan di kebunya suruh  masuk ke rumah, sakit nanti punggungnya lagi”


“Bilang nanti di jual  kebun sayurnya itu kalau dia terus di sana,” ujar Bonar tertawa.


“Nih,  bilang oppungnya kebun sayurnya mau di jual bapak kalau dia lupa waktu. Oh … kalau oppung panen sayur itu saja masak untuk sayur  di rumah di rebus saja. Oppung kemarin sedih karena sayurnya sampai layu di kulkas,” ujar  Vani.


“Maaf Bu kemarin saya lupa”


“Ya gak papa. Oh nanti pulangnya ambil  pakaian oppung di butik langganan ibu ya, sama  pakaian bou juga itu pasti sudah selesai”


“Baik Bu”


Mereka semua langsung diam, melihat perhatian Vani yang luar biasa untuk ibu mertuanya, menyewa perawat khusus untuk ibu mertuanya, bahkan pakaian pesta,  diberikan yang terbaik untuk sang ibu mertua dari butik brand terkenal, langganan  Vani.  Wanita yang selama ini mereka rendahkan bahkan tidak pernah dianggap  sebagai keluarga, tetapi kini ia dijadikan seperti ratu oleh menantunya sendiri.


Bersambung

__ADS_1


Bantu like vote dan kasi kopi juga ya agar semangat update tiap hari, terimakasih


__ADS_2