Identitas Tersembunyi Sang Menantu

Identitas Tersembunyi Sang Menantu
Tidur Satu Kamar


__ADS_3

Mendengar ajakan ke kamar Bonar sangat bersemangat, di dalam kamar mandi ia bersenandung ria sesekali menggoyangkan  tubuhnya ke kiri dan ke kanan.


“Apa dia sudah berubah pikiran sekarang,” gumam Bonar pelan, kedua ujung bibirnya  saling bertarikan mengukirkan senyuman yang samar.


Keluar dari kamar mandi, ia melirik ke arah ranjang Jonas sudah terlelap tidur,  dengan gerakan yang hati-hati Bonar membuka lemari pakaian dan mengeluarkan kaos street berwarna abu-abu dan celana  pendek.


Setelah  berpakaian lengkap  ia membuka pintu dengan hati-hati lalu ia mengetuk kamar Vani.


Saat Bonar dipersilakan masuk ia  ia meneliti kamar Vani dengan berdecak kagum. "Wow"


Kamar Vani tampak lebih luas dari kamar Jonas dan kamar ibu mertuanya, di lengkapi meja kerja dan lemari penyimpanan file-file kamar bernuansa putih, tidak  memiliki banyak perabot hanya ada sofa panjang, lemari pakaian, ranjang dan sofa.


“Sini duduk Bang, mari kita bicara.”


“Kamar kamu sangat berbeda.”


“Berbeda dari apa?”Vani menatap Sekilas ke arah sang suami.


“Kalau biasanya kan kamar perempuan  itu  banyak pernak perniknya, ada meja hias banyak gantungan di dinding dan berwarna pink.”


‘Kamar perempuan saja dia hapal bagaimana bentuknya, ketahuan sekali dia sering masuk ke kamar perempuan’ ucap dalam hati, makin ilfil dengan sikap Bonar.


“Selera orang, kan, beda-beda Bang, aku lebih suka luas dan plong seperti ini dan bisa melihat pemandangan luar dari kaca.” Vani menarik gorden kamar,  memperlihatkan  suasana malam dengan kilauan lampu di jalanan ibu kota. Vani sengaja menggunakan kaca sebagai dinding sebelah kamar.


“Ya, selera kamu unik,” ujar Bonar, ia kembali di buat kagum dengan  isi kamar Vani, menggambarkan wanita yang tegas dan tidak banyak neko-neko.


“Gini bang.” Ia kembali menutup gorden kamar, “untuk kebaikan semua orang mari kita tidur di kamar ini.”


“Ok, aku siap.” Bonar menunjukkan ekspresi bahagia, ia menatap ranjang yang ber ukuran king size tersebut.


“Tapi kita akan tidur terpisah,” ujar Vani.


Wajah Bonar langsung berubah,”maksudnya…?”


“Abang akan tidur di ranjang yang berbeda denganku.”



“Apa kamu ingin mempermainkan ku? Kenapa kamu memintaku tidur di sini kalau tetap akan tidur pisah, mending aku tidur sama Jonas di ranjang yang sama bisa saling berpelukan.”


“Masalahnya inang ingin kita tidur satu kamar.”

__ADS_1


“Gak usah dengerin mama. Kamu egois, kalau kamu tidak suka denganku jangan memintaku ke sini.”


“Aku tidak egois Bang, aku hanya tidak ingin Inang, Jonas berpikir kalau kita  bertengkar. Ini demi mereka.”


“Lalu, kamu tidak memikirkan perasaanku?”


“Aku tidak menyakitimu Bang Bonar … aku hanya memintamu tidur satu kamar denganku, tapi aku belum siap untuk  tidur satu ranjang, hanya itu, aku hanya butuh waktu, bukan berarti aku menolak."


“Kamu mau bilang jijik denganku?”


Vani  menarik napas dalam -dalam, ia lelah untuk berdebat.


‘Andai aku punya tongkat sihir aku akan mengubah semua orang yang menyebalkan jadi anak yang patuh’ ucap Vani dalam hati.


“Aku tidak bilang seperti itu Bang, aku hanya belum siap menerima orang baru satu selimut denganku, aku harus membiasakan diri.”


“Baiklah, kalau kamu merasa tidak pantas tidur satu ranjang aku akan melakukannya. Baiklah aku tidur  di mana?” Bonar  menunjukkan wajah kesal.


“Abang tidur di sofa dulu, besok kita akan belanja ranjang lagi.”


“Tidak usah beli di ranjang bu Vani, aku sudah terbiasa.“


“Kalau abang  merasa  keberatan , tidak usah di lakukan tidak apa. Tapi pikirkan soal  perasaan inang, jangan kecewakan dia di hari tuanya.”


                           *


Pagi itu Bonar menunjukkan wajah yang berbeda, ia lebih banyak diam.


“Bang …  habiskan serapannya, biar bapak yang antar kamu sekolah,” ujar Bonar  di sela serapan mereka.


“Hore … ! Bapak yang antar.” Jonas selalu  bersemangat setiap kali Bonar yang mengantar ke sekolah.


“Kabarin Pak Banu biar gak usah jemput kamu ke sini,” pinta Vani lagi.


“Baik Ma.” Jonas mengambil ponsel mamanya dan mengabari supir bus sekolah, tidak usah menjemput  Jonas lagi.


Bonar  menyudahi serapannya dan ia berdiri,” ayo Bang .” Ia melirik Jonas, bocah yang duduk bangku SD itu meneguk susu dalam gelas itu sampai tandas.


Vani menyadari sikap yang berbeda dari Bonar sejak ia bangun tidur pagi itu, ia merasa  kesal kesal saat Vani meminta tidur di sofa. Vani tidak ingin ibu mertuanya menyadari pertengkaran mereka, lalu ia mengajak Bonar bicara duluan.


“Aku boleh ikut gak Bang?”

__ADS_1


Tadinya Bonar ingin menolak karena ia masih marah, tapi melihat Jonas menatapnya ia menyahut.


“Boleh … tapi hari ini  aku ada janji sama orang.”


“Tidak apa-apa turunkan aku nanti di dekat halte.”


Bonar tidak protes dan ia juga tidak bertanya kenapa Vani tidak mengendarai mobil sendiri, saat mengantar Jonas ke sekolah Bonar lebih memilih  lebih bicara dengan   bocah berwajah tampan ke timbang sang istri.


Vani tahu kalau Bonar masih  marah dan  ia tidak ambil pusing, baginya yang terpenting ibu mertuanya melihat  mereka baik-baik aja, setelah Jonas turun mereka berdua  berangkat ke kantor.


“Kamu tidak perlu berpura-pura baik di depan mama Vani, jujur saja,"ujar Bonar memulai pembicaraan.


“Waktu tidak bisa diputar Bang Bonar, aku tidak  ingin inang  sedih di masa tuanya, aku ingin membahagiakannya, aku hanya bisa melakukan itu.”


“Lalu apa kamu bahagia dengan keadaan kita?”


“Maksudnya …?”


“Dengan kamu menghukum ku, kamu bahagia?”


“Apa menurut abang apa yang aku lakukan itu satu hukuman?”


“Ya,” jawab Bonar tanpa  merasa bersalah.


“Bang, apa yang aku lakukan ini tidak ada apa-apanya dengan apa yang kamu lakukan selama sepuluh tahun. Kamu meninggalkanku di kampung dengan keadaan hamil, tanpa uang sepeserpun … padahal daddy menitipkan  uang untuk biaya kami hidup. Abang tidak pernah tahu bagaimana kami hidup selama di kampung. Wajar Bang … kalau aku masih butuh waktu untuk memulihkan hatiku, harusnya abang tidak banyak menuntut padaku. Harusnya abang bersyukur aku terima kembali sebagai suami.”


“Kamu menyesal?” tanya Bonar.


“Dengar ya …  Bonar Parluhutan Sinaga! Jika kamu macam-macam aku  tidak akan segan-segan menendang mu dari kehidupan kami. Aku mau berbaikan dengan kamu, itu  demi inang dan Jonas, tapi kalau kamu  masih  membuat inang sedih  aku tidak akan memaafkan!” ujar Vani dengan tegas.


'Boru Batak mau di pancing marah, keluar harimauku baru kau tahu’ seru Vani dalam hati.


“Kok kamu jadi marah begitu sih!” desis Bonar ikut terbawa emosi.



“Ini bukan hanya sekedar kemarahan Bang Bonar, tapi, peringatan, kalau kamu ingin tetap  rumah tangga kita tetap utuh,  harusnya kamu berjuang untuk membuktikan  padaku kalau kamu  bisa jadi suami yang baik, bukan  menuntut tubuhku untuk kamu tiduri. Jika kamu tidak tahan kamu boleh pilih, pergi  menemui mantanmu lagi atau bertahan denganku.”


Lelaki seperti Bonar perlu dikasih sikap tegas.


Bonar langsung kena mental, kemarahan Vani akhirnya meluap juga, selama ini ia sudah bersabar  dan bersikap lembut layaknya seorang istri, tetapi melihat sikap Bonar yang tidak mau mengerti, wanita cantik itu langsung memberi peringatan keras.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2