Identitas Tersembunyi Sang Menantu

Identitas Tersembunyi Sang Menantu
Datang Ke Rumah Orang Tua


__ADS_3

Saat berkumpul di dalam rumah bapa uda Bonar, Vani  mengajak keluarga  dari  uda Bonar berdebat soal adat, mereka semua berpikir kalau Vani akan menurut apapun yang mereka katakan.


Nyatanya, Vani bahkan sempat saling bersitegang dengan mama Lina,  karena perbedaan pendapat. Mama Lina bilang ia sudah sangat berpengalaman soal adat, sementara Vani walau tidak berpengalaman ia sudah mendiskusikan itu dengan keluarga sepupunya dan berdiskusi dengan tokoh adat, karena Vani merasa benar, ia mempertahankan pendapat.


“Saya pikir kakak tidak bisa datang, karena kalian semua kerja,” ujar Mama Lina, ia membela diri saat ia merasa terpojok.


“Maaf ya Inang, seharusnya Inang kabarin dulu,  bisa atau tidaknya barulah , inang bisa menyimpulkan,  jujur, saya merasa kalau Inang dan  suami saya seperti  tidak dianggap  keluarga”


“Bukan seperti itu, kami menghormati”


“ Bapa mertuaku, walau sudah tidak ada. Namun, inang masih ada Bang Bonar juga ada,  biarpun ibu mertuaku miskin. Libatkanlah kami dalam acara keluarga,” ujar Vani, “biar bagaimanapun inang masih tetap Paniaran Sinaga, kecuali kalau inang ini sudah  menikah lagi, bisa  dilupakan, Tapi, inang tidak melakukan itu,  dia bertahan untuk membesarkan  kedua anaknya”


Vani mengungkapkan semua  perasaan  sakit yang selama ini di pendam ibu Lisda, Bonar hanya diam, ia menuruti nasihat Vani untuk menjaga diri,   jangan sampai emosi, jia ada yang marah padanya,


“Baiklah, kalau kami salah,” uap Bapak Lina, akhirnya Bonar mendengar kata maaf dari  bapa udanya atas keberanian Vani.


“Baiklah Amang sudah  mendengar keluh kesah kami, berarti saat pesta nanti untuk duduk d panggung inang salah satunya kan?”


“Gak, sudah ada mam_


“Baiklah Inang, kakak duduk di depan bersama kami,”potong bapak Lina, ia memotong ucapan istrinya, bapa uda Bonar tidak ingin malu di depan semua keluarga, jadi, ia menurut.


“Harusnya Bonarlah yang bicara, kenapa jadi istri,” ujar inang uda Bonar.


“Suami baik istri sama saja inang, karena istri itu wakil dari suami, ketika suami  tidak bisa bicara mengenai adat, saya yang mewakili, karena saya bisa ,” ujar Vani.


Ketika orang yang cerdas yang bicara  apa yang dikatakan terdengar masuk akal, keluarga Bonar bungkam saat Vani mengkritik mereka semua, karena  selama ini tidak pernah melibatkan Ibu mertuanya saat ada acara Sinaga.


Bahkan Vani berani menegur adik lelaki yang pernah memaki dan membentak Bonar saat ia datang dulu.


“Kau Bicarlah, jangan diam saja!”


“Maaf, mungkin  kamu merasa jabatan mu sudah tinggi, tetapi tolong hormati Bang Bonar, umur dia jauh lebih banyak dari kamu. Mungkin suatu saat nanti, dia akan menyewa mu untuk mengawalnya rapat direktur di luar kota,” ujar Vani, “jangan terlalu sombong, biasanya orang yang sombong itu yang akan hancur duluan”


Kalah debat dengan Vani, mereka semua  tidak banyak bicara, Vani menempati janjinya kalau ia bisa menegur keluarga bapa udanya, setelah duduk beberapa lama dengan keluarga, Vani dapat telepon dari William.


“Maaf inang kami pamit duluan,   nanti saat pesta kami akan datang lagi, kalau ada yang ingin dipersiapkan telepon saja aku,” ujar Vani meninggalkan rumah.


Melihat tatapan tajam keluarga inang udanya Bonar menahan tawa, saat di mobil ia tertawa puas.


“Ada apa sih Bang, kok tertawa terus”


“Aku pus bangat melihat wajah mereka semua, apa lagi si Jony, dia mati kutu saat kamu omelin, astaga Van, kamu itu sudah seperti inang-inang toke cabe “


Vani dan Bu Lisda ikut tertawa, “Abang sama Inang tidak melarangku,  ya sudah aku gas aja terus omelin mereka semua,” ujar Vani.


“Kamu keren Van, serius … aku pikir kamu tidak seberani itu tadi. Aku puas bangat”

__ADS_1


Setelah suasana tenang dan mereka sudah selesai tertawa, Bonar menghidupkan mesin mobilnya kembali, saat  mobil  melaju, suasana tiba-tiba jadi hening.


“ Terimakasih Van,” ujar Bonar.


“Untuk apa?”


“Karena kamu mengembalikan harga diriku di depan mereka”


“Mereka akan lebih menghargai kamu, kalau kamu sudah akur sama istrimu, kurang apa lagi, istrimu cantik, anakmu ganteng, kalian bisa jadi keluarga yang bahagia,” ujar Bu Linda.


“Ya Ma, aku tau.  AKu lagi berusaha,” balas Bonar.


“Usahamu  kurang serius, tidak bekerja keras. Lemah,” ujar Bu Lisda.


Vani, tersenyum saat  Ibu mertuanya  menyebut Bonar lemah.


Saat lagi bersama seperti ini, tiba-tiba ia mengingat Andre yang datang ke  sekolah Jonas, Vani diam.


‘Tidak, kamu tidak punya apapun untuk anakku, Bonarlah bapaknya’ ucap Vani dalam hati ia melirik Bonar.


“Ada apa? Apa ada yang salah?”


“Bang ayo kita datang ke rumah daddy”


“Kamu yakin?” Tanya Bonar bersemangat .


“Mama gak usah ikut dulu , kalau semuanya sudah  baik baru kita ajak mama,” ujar Bonar.


“Ya, itu benar Inang, kalian dululah yang datang ke sana”


Demi  menyingkirkan Andre dan keluarganya dari kehidupan   Jonas, akhirnya mau memenuhi undangan Sudung, ia ingin mengatakan pada Andre kalau ia sudah menikah.


Saat tiba di rumah, Jonas ternyata sangat senang  melihat Bonar datang,  mengajak Bonar main basket bersama, Tivani hanya diam, ingin marah, tetapi ia sadar untuk saat ini ia butuh sosok suami agar Andre tidak menganggu kehidupannya.


“Kamu pasti masih marah dengannya, mama tau itu. Tapi lihat Jonas, dia sangat senang karena  dia bertemu bapaknya,” ujar Bu Lisda.


“Aku masih kesal sama Bang Bonar Ma, seolah-olah tidak terjadi apa-apa”


“Mama tau, ayo ganti pakaianmu, mama  tangkap ayam peliharaan yang di belakang, biar kita potong, mumpung suami datang ke sini,”ujar Bu Lisda, tidak ingin merusak kebahagian anak dan ibu mertuanya Vani setuju.


                     *


Vani, Jonas , Bonar akhir datang ke rumah Sudung, dari rumah sampai tiba Vani hanya diam tidak banyak bicara.


“Apa  kamu tidak apa-apa?”


“Sebenarnya , aku sangat malas, datang ke rumah itu lagi”

__ADS_1


“Van, sampa kapanpun itu tetap rumah kamu”


“Melihat wanita penyihir itu ada di sana , aku malas untuk datang”


“Ayolah, aku tadi sudah bilang sama Pak Sudung kalau kita akan datang,  beliau senang”


“Ini rumah kecil mama? Besar sekali mewah lagi”


“Mama gak pernah cerita Jo, kalau mama itu anak orang kaya?”


“Gak, mama gak cerita”


Vani menekan bel , tidak lama kemudian, seorang asisten  rumah membuka gerbang.


“Selamat datang, mari masuk,” ujar Sudung.


“Sana Bang, peluk oppungnya,” ujar Bonar.


Anak lelaki itu menurut dan melakukan apa yang dikatakan Bonar, Sudung terlihat sangat bahagia saat memeluk cucu pertamanya. Winda dan ibunya sangat kaget melihat Vani datang membawa anak.


“Salam  sama oppung boru,” ujar Bonar lagi, Jonas menyalim tangan Rosa dan Winda.


Bersambung


KAKAK  JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA.


Bantu share ya Kakak.


Fb Pribadi: Betaria sona Nainggolan


FB Menulis; Nata


Ig. Sonat.ha


LIKE,  VOTE DAN KASIH  HADIAH


Baca juga  karyaku yang lain


-Aresya(TAMAT)


-Manusia Titisan Dewa(TERBARU)


-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)


-Menikah dengan Brondong (Tamat)


-Menjadi tawanan bos  Mafia (TAMAT)

__ADS_1


Bintang kecil untuk Faila (tamat)


__ADS_2