
Sehari sebelum pulang ke kampung.
Saat hamil wanita akan hidup sebagai ratu untuk suami dan keluarganya, itu benar adanya. Untuk sebagian wanita jika ia menikah dengan pasangan yang tepat. Hal itulah yang dialami Vani, ia sangat dimanja dan di sayang semua keluarganya. Bonar, Jonas begitu perhatian padanya, baik Pak Sudung dan Daren sangat perhatian dengan Vani, jika ia datang ke rumah atau kedua lelaki itu datang berkunjung ke rumah mereka. Vani seakan-akan punya empat bodyguard yang bergantian mengawasinya
perhatian semua lelaki itu, membuat Vani sampai pusing karena setiap gerakan nya diawasi empat pria.
Sebelum mereka pulang ke kampung Vani mengunjungi rumah orang tuanya.
“Kakak jangan duduk di situ nanti jatuh,” ucap Daren saat Vani duduk si sandaran sofa.
“Baiklah Pak Bos,” jawab Vani memutar bola matanya dengan jegah, dari tadi hidupnya tidak tenang karena semua lelaki itu melarangnya melakukan banyak hal misalkan:
‘Jangan makan pedas nanti anaknya kepedasan
Lalu; jangan berdiri lama-lama nanti anaknya capek.
“Kakak jangan berdiri lama-lama kasihan ponakkanku capek.” ujar Daren lagi.
“Daren, kakak itu sudah pernah hamil, jadi, sudah berpengalaman , stop banyak aturan,” ucap Vani.
“Itu sudah sepuluh tahun lebih kakak pasti sudah lupa, jadi …. sebagai adik lelaki yang baik aku harus tetap mengawasimu,” ucap Daren.
“Kamu kapan punya pacar?”
“Sudah ada kok kak tenang, setelah kakak selesai pesta baru aku,” katanya lagi.
Antara Vani dan Daren memiliki sikap yang bertolak belakang, Vani tipe orang yang teliti dalam mengambil tindakan, Daren justru kebalikannya. Ia orang yang mudah mengambil keputusan dan relatif asal, karena melihat sikap Daren yang masih labil, makanya Sudung melepaskan tanggung jawab sebagai wakil direktur.
“Kamu kapan dewasanya sih?” tanya Vani sewot melihat tingkah sang adik. Di saat perdebatan kecil dengan adik laki-lakinya Bonar hanya tersenyum melihat keduanya berdebat kecil.
Tidak berapa lama bapa Vani datang membawa potongan buah dalam piring.
“Sembari duduk santai ini makan buah,” ucap lelaki itu saat Vani memainkan ponsel miliknya Sudung datang membawa piring berisi potongan buah segar
‘Ah daddy lagi.”
“Baik Daddy baru juga nakan masih kenyang.”
“Buah ni tidak membuatmu bertambah kenyang, tapi menyehatkan,” lalu menyodorkan sendok garpu ke tangan Vani, wanita cantik itu idak bisa menolak, ia memakannya.
“Daddy punya teman yang punya jet pribadi saat dia tahu ingin pulang, dia menawarkan jet pribadinya.”
“Gak usah Ded, kami akan pulang naik penerbangan umum saja, sudah biasa ,ada bapak Jonas nanti yang menjagaku,” ujar Vani.
__ADS_1
“Bukan daddy yang minta, tapi dia yang menawarkan ,” ucap Sudung.
‘Aku tahu daddy pasti yang minta, tidak ada yang gratis di dunia ini Daddy, entah apa yang daddy berikan padanya, sampai dia mau menawarkan jet pribadinya untuk mengantar kami pulang’ uap Vani dalam hati.
“Tidak usah Dad, batalkan saja,” ucap Vani.
“Jangan, ini untuk ito juga ibu mertuamu, dia sudah tua kamu juga perlu nyaman.”
“Kami pulang besok ,aku tidak mau repot Daddy belum lagi mengurus surat izin terbang ke sana”
“Daddy sudah mengurus semuanya, kalian tinggal terbang”
“Tapi Dad-”
“Baik Pak,” potong Bonar , “jangan menolak niat baik bapak, bapak hanya ingin terbaik untuk kamu dan anakmu,” bisik Bonar.
“Baiklah Dad, kalau itu yang Daddy inginkan,” pungkas Vani ia akhirnya setuju,
Walau bagaimana Vani menolak, Sudung memaksanya pulang dengan jet pribadi milik temannya .
Saat pulang mengunakan jet pribadi milik teman Pak Sudung , Vani dan rombongan pulang di berikan fasilitas yang sangat nyaman, bahkan Pak Sudung meminta sofa khusu untuk putrinya.
Vani tertawa bahagia saat ia duduk di dalam pesawat.
‘Terimakasih Dad atas perhatian yang kau berikan ini’ ucap Vani dalam hati.
“Apa Papah yang meminta mereka?”
“Tidak,teman yang punya kapal justru belum jalan,” ucap Bonar.
“Apa daddy juga yang membayar mereka?”
“Bisa jadi,” ucap Bonar.
Tiba di rumah Bonar Vani kaget, rumah mereka sudah berubah sangat bagus.
“Ini rumah siapa?” tanya Bu Lisda, bukan hanya Vani yang terkejut dengan bentuk rumah mereka.
“Ini rumah kita, surprise!” ucap Jonas, “ aku sama bapak yang mendesain bentuknya jadi sebagus ini,” ujar Jonas.
“Kapan kalian melakukannya, kok aku sama oppung gak diberi tahu,” protes Vani.
“Kalau diberitahu itu duluan itu namanya pengumuman Ma, bukan surprise,” ucap Jonas tertawa.
__ADS_1
“Ayo nanti saja ngobrolnya di dalam rumah, kasihan anakku sudah kedinginan,” ucap Bonar memapah tangan Vani, ia jadi suami siaga sejak kehamilan Vani, saat sejak keluar dari rumah mereka tadi pagi Bonar tidak pernah melepaskan tangan Vani, ia selalu mengandeng tangan wanita hamil itu sepanjang perjalanan, bahkan tas tangan Vani ia tenteng juga.
“Papah tidak malu?’ tanya Vani sat Bonar menenteng tas miliknya tadi
“Ngapain malu, memangnya aku mencuri.”
“Biasanya laki- laki kalau di minta bawain tas istri di katain lebay.”
“Kalau lelaki sayang istri dan mengerti keadaan istrinya saat hamil tidak akan melakukan itu,” ucap Bonar, lalu mengalungkan tas milik Vani di pundaknya.
Vani awalnya menertawakan suaminya, karena Bonar tidak pernah seperi itu sebelumnya, setelah Vani hamil ia baru banyak berubah bahkan tidak memotong rambutnya padahal sudah panjang. Bonar masih percaya mitos yang mengatakan. ‘Suami tidak boleh potong rambut saat istri sedang hamil, nanti anaknya tidak punya tangan’ ucap salah seorang keluarga Vani saat mereka arisan saat itu.
Bonar langsung takut, ia tidak mau potong rambut, ia juga tidak membunuh binatang maupun binatang kecil, bahkan saat di kamar mandi ada kecoak kalau biasanya lelaki itu meleyapkannya tetapi sejak Vani hamil ia hanya mengusir kecoa, awalnya Vani protes, tatapi Bonar hanya membalas dengan senyuman pepsodent.
*
Sore itu setelah mereka tiba di kampung,, mereka di sambut banyak tetangga yang dulunya membenci dan memfitnah keluarga Bonar, kini mereka menyanjung keluarga Bonar.
Rumah mereka di kampung sudah direnovasi. Bonar beberapa bulan yang lalu, Ia dan Jonas anaknya yang mengerjakan gambar bangunannya. Saat mereka tiba rumah itu sudah berubah menjadi rumah yang paling mewah di kampung Bonar, Vani sudah merenovasinya dari rumah panggung yang busuk, mengubahnya jadi bangunan permanen. Tapi saat ada rencana akan pesta di kampung, Bonar meminta sepupu Vani untuk merenovasinya kembali. Hanya satu Bulan anak buah Jonathan sudah selesai mengerjakannya , kini rumah itu bertingkat dan memliki beberapa kamar untuk tamu.
Bersambung
KAKAK JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA.
Bantu share ya Kakak.
Fb Pribadi: bnbbBetaria sona Nainggolan
FB Menulis; Nata
Ig. Sonat.ha
LIKE, VOTE DAN KASIH HADIAH
Baca juga karyaku yang lain
-Aresya(TAMAT)
-Manusia Titisan Dewa(TERBARU)
-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (Tamat)
__ADS_1
-Menjadi tawanan bos Mafia (TAMAT)
Bintang kecil untuk Faila (tamat)