Identitas Tersembunyi Sang Menantu

Identitas Tersembunyi Sang Menantu
Keluarga Mata Duittan


__ADS_3

Tidak ingin disalahkan dan dipojok terus menerus, akhirnya Bonar  meminta bapa udanya  untuk mengurus acara yang akan diadakan  keluarga Bonar,  minggu yang lalu keluarga Bonar sudah datang ke rumah Vani membawa mamanya untuk memperkenalkan pada keluarga Vani, secara adat.


Rencananya hari Minggu, gantian keluarga dari Vani yang akan datang ke rumah  keluarga Bonar, tadinya Bonar akan mengadakan semuanya di rumahnya,  karena Bu Lisda tinggal di rumah mereka,  ia tinggal mengundang  keluarga terdekat. Namun, karena keluarga bapa udanya  selalu berkoar-koar menyebutkan Bonar dan Bu Lisda tidak menghormati keluarga dari almarhum bapak Bonar,  akhirnya ia dan  mamanya  meminta bapa udanya,  bapa Lina yang mengurus  acara tersebut,  mereka ingin tahu apa omongannya  itu benar, mereka ingin tahu apa mama Lina bisa sejalan dengan istrinya.


“Aku tahu mereka sudah pasti bertengkar di rumah,” ucap Bu Lisda.


“Ya itu sudah pasti,” sahut Bonar, ia tahu karakter mama Lina seperti apa, wanita yang perhitungan soal uang,  ia tidak mau rugi dan tidak mau mengeluarkan uang untuk keluarga, apa lagi dari keluarga sang suami.


Mama Lina berkerja sebagai rentenir, jadi, apapun yang mengenai uang ia selalu perhitungan .


“Kenapa bertengkar?” tanya Vani.


“Karena bapa uda setuju dengan permintaanku.” Bonar tertawa kecil


“Loh, apa masalahnya kan keluarga,” ucap Vani.


“Dia hanya banyak omong saja Dek, tapi nyatanya dia tidak pernah menganggap kita keluarga,  kalau tidak ada uang tidak ada namanya keluarga. Aku sangat iri melihat keluarga Lae jonathan, mereka selalu saling support dan saling membantu,” ucap Bonar, ia memuji keluarga Jonathan.


Keluarga  Jonathan sepupu Vani, memang keluarga panutan, karena saling membantu.


“Semua keluarga itu  tidak ada yang sempurna Pah, keluarga Bang Jothan dulu mengalami  masa-masa sulit juga, Jonathan dulu pemakai narkoba, bahkan sempat jadi gembel jalanan dan mamak tua itu sampai stroke nyaris depresi, tapi  mereka sekarang jadi keluarga yang penuh dengan berkat, karena sering menolong,” ucap Vani.


“Memang semakin kita sering menolong orang yang membutuhkan, berkat atau pahala akan semakin banyak kita terima, bahkan dua kali lipat dari yang kita berikan ke orang,” ucap Bu Lisda, wanita itu selalu mengajari anak dan cucunya untuk selalu  menolong orang yang membutuhkan.


Bonar sangat iri dengan keluarga sepupu Vani yang bernama Jonathan,,


“Papah tidak tahu kalau rumah tangga Jonathan dan Netta juga tidak luput dari  terjangan badai di masa lalu,  Jonathan dulu dipaksa  menikah dengan sepupunya yang baru tamat sekolah, Jonathan dulu juga sempat terpuruk dan hancur karena kesalahannya sendiri, dia setuju menikah dengan sepupunya yang penting ia tidak dicoret dari  pewaris harta orang tuanya, setelah menikah,  ternyata, ia masih menjalin hubungan dengan dengan kekasihnya.”

__ADS_1


“Lalu ….?” Bonar menatap penasaran.


“Netta mengetahui, lalu  meninggalkan Jonathan, dia dapat beasiswa di Jerman dan  Bang Jonathan hampir gila juga,  jadi, maksudku Pah, setiap orang itu punya masalah masing-masing, hanya tergantung bagaimana kita menghadapinya, jujur, untuk masalah tentang mommy aku sempat tidak bisa mengatasi perasaanku, untung ada Papah sama mam mertua,” ucap Vani.


( Yang penasaran  dengan cerita Jonathan dan Netta, bisa baca karyaku yang lain, Pariban Jadi Rokkap … ya)


Karena Bonar selalu memuji dan iri  terhadap keluarga Jonathan


Vani  menceritakan semuanya tentang masa lalu Jonathan .


“Jadi dr. Netta pribadinya ya?” tanya Bonar penasaran.


“Ya, dia asli dari Samosir, mama sudah tau,  sudah pernah cerita,” ucap Vani.


Wajah Bonar sangat serius mendengarkan cerita Vani, ia tidak pernah tau kalau Jonathan pernah mengalami hari yang sulit.


Di rumah mama Lina.


Kadang orang hanya melihat hasil saja, tidak banyak yang bertanya bagaimana proses pencapaian itu bisa terjadi, mereka berpikir Bonar  bisa menduduki jabatan direktur, dapat dengan mudah, mereka tidak pernah tau bagaimana lelaki tampan itu bisa sampai ke tahap itu.


Bonar kuliah dengan uang dari Pak Sudung, saat Sudung memberi  untuk Vani untuk biaya selama di kampung,  Bonar mengambilnya dan ia pakai untuk mendaftar kuliah, dari sinilah titik kehidupannya di mulai, seandainya ia tidak nekat memakai uang pemberian ayah mertuanya, ia yakin dia tetap bekerja sebagai supir selamanya.


Setelah ia kuliah Pak Sudung baru memberinya pekerjaan yang lain, sebagai  petugas keamanan di kantor  merangkap jadi asisten pribadi  Pak Sudung.


Sudung memperkerjakan menantunya sebagai asisten, bukan tanpa alasan, ia ingin mengawasi dan mendidik menantunya dengan mengikuti jejaknya, karena ia yakin kalau Bonar suatu saat yang akan mendampingi Vani untuk mengurus perusaan. Rencana Pak Sudung berhasil, Bonar   bertumbuh jadi orang kuat dan pintar, ia bisa memimpin perusahaan dengan baik  melebihi Sudung, apa yang diajarkan Sudung dulu padanya ia terapkan dengan baik. Tidak semua didikan yang keras itu untuk melemahkan ,tetapi justru menempanya jadi orang yang kuat  itulah Bonar.


Mama Lina bertengkar dengan suaminya lagi.

__ADS_1


“Dia  kan sudah kaya pak, kenapa gak kamu minta uangnya duluan,” ujar mama Lina memulai pertengkaran, awal  mula pertengkaran mereka selalu berawal karena uang .


“Ma, tidak semua hal kamu ukur dengan uang, ayolah … jangan kamu permalukan dulu wajah suamimu ini,” ucap Simon memelas, sebagai seorang lelaki ia akan malu kalau sampai ia menolak mengadakan acara di rumah mereka.


“Pa, sekarang itu semuanya serba mahal, apa-apa naik, kita dipaksa untuk bertahan hidup dengan situasi sulit ini, jadi kita harus mengirit agar kita bisa tetap hidup,” ucapnya lagi, terkadang ia bilang A besoknya lagi ia bilang B .


“Kan,  Mama yang bilang kita harus terlibat dalam acara Bonar karena kita masih bapa udahnya.”


“Tapi bukan berarti sama kita dilimpahkan semuanya kan, harusnya bapak  tadi minta uangnya dulu, baru kita kerjakan,” ucap Mama Lina.


Wanita tua yang duduk di sofa hanya bisa menggeleng, melihat sifat pelit putrinya.


“Ma, kamu itu sama saja mempermalukan aku,  kalau aku  suruh minta uangnya duluan, nanti kakak itu  akan tertawa melihat kita, tolonglah jangan seperti itu,” ucap Simon memohon.


“Dengar ya Pak, beli beras satu karung sudah sekian, beli daging sudah sekian.” Wanita itu menulis pengeluaran dalam kertas dan merinci jumlahnya lalu menyodorkan sama suaminya, “lihat segini uang yang akan aku keluarkan, aku tidak bisa melakukan itu.”


“Ma …!Bonar pasti akan membayarnya tidak mungkin dia akan membiarkan kita membayar semuanya, ayo kita lakukan di sini saja ya …, kenapa kalau keluarga dari aku mama selalu begitu, padahal kalau keluarga dari mama aku tidak pernah perhitungan, nanti pakai uang aku saja” ucap Simon lagi, ia rela memohon-mohon pada istrinya yang penting acaranya di adakan di rumahnya tetapi wanita itu kekeh minta uang dulu sama Bonar.


“Tidak boleh, nanti kalau dia tidak bayar bagaimana? Minta dulu uangnya,” ucapnya lagi.


Tidak ingin  merendahkan harga dirinya sebagai lelaki,  Simon menolak minta uang duluan sama Bonar, lelaki itu marah dan kesal melihat sikap istrinya yang mata duitan.


“Baiklah, jangan pernah kamu lagi berkoar-koar tentang kelakuan Bonar yang tidak menganggap kita sebagai keluarga, memang kita tidak layak jadi keluarga untuk mereka. Benar kata Bonar, kita TIDAK layak jadi orang tua untuk dia, hanya  mengeluarkan uang sepeserpun kamu tidak mau. Mulai sekarang jangan pernah kamu lagi menyinggung  tentang keluargaku,” ujar Simon geram, ia keluar dari rumah dan menemui Bonar secara pribadi.


Bersambung ..


bantu like vote dan kasi komen ya, biar view tetap naik.terimakasih

__ADS_1


__ADS_2