
Karena kejadian yang menggemparkan itu, Vani tidak bisa tidur, keamanan komplek perumahan mendatangi rumah Vani karena mendengar laporan warga yang mendengar teriakan ‘maling’
Bonar kebetulan masih duduk di luar, mendengar keamanan komplek datang Vani turun dari kamar, tadinya ia ingin marah karena rumahnya di satroni maling, tetapi ia berpikir lagi ;
‘Mungkin benar kata mama, mereka sudah mengawasi dari kemarin, tidak usah marah'
“Saya, minta maaf Bu, karena rumah ibu sampai di satroni maling, padahal baru saja tadi kami berkeliling komplek, kami juga tidak ada kedatangan tamu untuk berkunjung malam ini. Kalau ada tamu yang tidak kami kenal , akan di minta ktp sebagai jaminan, tapi malam ini, tidak ada orang asing yang masuk”
“Baik Pak, kami mengerti mungkin mereka orang sini, tapi tolong diawasi ya Pak, kata ibu saya kemarin ada orang naik motor mengawasi rumah kami”
“Baik Bu, akan kami perketat lagi penjagaan di komplek”
Penjaga keamanan pergi, Vani memeriksa gembok gerbang , ia bahkan menggunakan dua gembok, wajahnya terlihat sangat cemas.
“Bang, apa menurutmu mereka datang lagi?”
“Jangan panik, kalau kamu panik semua orang di rumah ini akan ikut-ikutan panik”
“Lalu apa yang akan aku lakukan, melihatmu terluka seperti itu aku sangat takut. Bagaimana kalau tadi mereka melukai sampai parah?”
“Kau khawatir padaku?”
“Tentu saja bodoh,”ucap Vani menutup wajahnya
“Eeh suaminya dikatain bodoh,” ujar Bonar tertawa kecil.
“Kamu dengar jantung belum stabil, lihat.” Vani menarik tangan Bonar meletakkannya di dada memperlihatkan pada lelaki itu betapa takutnya dia.
“Tidak apa-apa Van, aku akan menjaga kalian, aku tidak akan pernah pergi lagi”
Tiba-tiba mata Vani di penuhi bendungan yang siap tumpah, kata-kata yang dari dulu ingin ia dengar dari Bonar, akhirnya terucap juga.
Sedetik kemudian bendungan air dalam matanya, mengalir deras menyusuri pipi mulus itu, ia menahan diri agar tidak terisak-isak di depan Bonar, ia selalu berpikir kalau dirinya kuat dan akan selalu kuat.
“Kamu serius?”
“Ya aku serius”
“Terimakasih,”ujar Vani.
Padahal Bonar berharap ia memeluk wanita cantik itu untuk menenangkannya, tetapi rasa bersalah karena perlakuan buruknya di masa lalu, jadi ia akan bertindak hati-hati tidak ingin karena terlalu gegabah Vani malah membenci dan menjauhinya.
“Ya sudah, kamu tidur saja aku yang akan berjaga di sini”
__ADS_1
“Bagaimana dengan luka di tanganmu, apa kita … tunggu eda Adelio”
Vani mengusap layar ponselnya dan menelepon dr. Netta istri dari abang sepupu.
“Kamu menelepon siapa? Tidak usah ini sudah malam”
“Tidak apa-apa. Halo Eda, maaf menganggu tidur Eda”
“Kenapa Da, apa inang sakit?” tanya dr Netta dengan panik, menelepon orang tengah malam pasti ada sesuatu yang terjadi.
“Bukan mama, tapi Bang Bonar tangannya terluka, sama maling tadi. Apa aku boleh ke sana untuk menjahit luka tangannya da”
“Ya ampun maling! Ya sudah bawa saja Da”
“Baik Da.” Vani menutup telepon.
“Gak usah Dek ini luka kecil. Lagian siapa yang kamu telepon malam-malam”
“Itu parah Bang, lukanya menganga, nanti juga kamu kenal. Vani masuk ke rumah untuk mengambil kunci motor dan kunci pagar. Membonceng Bonar ke rumah Jonathan abang sepupu Vani. Saat tiba pasangan suami istri itu sudah berdiri di depan pagar rumah mereka. Pasangan Jonathan dan dr, Netta jadi idola banyak orang karena sikap sederhana dan sikap suka menolong.
Jonathan dan dr. Nettania
“Lae Jonathan!?” Bonar kaget, ia menatap Vani dan Jonathan bergantian.
Saat dalam rumah Bonar masih menunjukkan ekspresi bingung, “ kok gak pernah cerita kalau Jonathan tinggal di sini?’
‘Ya elaa … abang baru juga satu hari baru tinggal di rumah, boro-boro cerita hal ini’ cerita tentang diriku juga belum’ ucap Vani alam hati.
“Kenapa kamu harus bingung sih lae, Vani adik sepupuku Pak Sudung bapa udaku”
“Ya, tapi Vani tidak pernah cerita kalau rumah Lae di sini”
“Kami juga baru pindah ke sini. Lalu bagaimana maling bisa masuk ke rumah kalian sudah lapor keamanan, gak boleh seperti ini harus ada pertanggung jawaban ni dari pengaman komplek. Masa komplek mewah seperti ini bisa dimasukin maling,” ujar Jonathan geram.
“Sebenarnya … Kami tidak tahu itu maling apa penjahat bang,” ujar Vani.
Tiba-tiba suasana langsung hening dr, Netta juga terdiam, ia menatap wajah Vani dengan tataan serius.
“Maksudmu, ada seseorang sengaja mencelakai Bonar”
“Itulah yang aku pikirkan Bang, mencelakai Bonar atau mencelakai aku atau mungkin ingin menculik Jonas”
“Lah … maksudnya bagaimana?” Jonathan ikut bingung.
__ADS_1
“Begini Lae, selama ini aku dan Vani belum ada yang tahu kalau kami menikah, kemarin malam Pak Sudung , bapak mertua mengundang kami makan ke sana dan kami datang. Namun -”
“Penyihir itu kaget saat tau kalau Bonar yang jadi suami,” potong Vani.
“Itu artinya Rossa yang menyuruh mereka semua?” tanya Jonathan
“Belum tentu Bang, karena … .” Vani menggantung kalimatnya, Jonathan semakin penasaran.
“Apa”
“Andre ingin mengambil Jonas”
“APA!?”
Kedua pasangan suami itu, kaget, “ memangnya dia punya hak, apa dia tidak malu melakukannya. Tenang aku akan membantu, kenapa kamu tidak pernah bilang sama aku. Keluarga kita banyak pengacara hebat,”ujar Jonathan geram.
“Aneh, apa dia tidak punya rasa malu, walau dia ayah biologisnya , tetapi dia tidak berhak apa-apa,” ujar dr. Netta.
“Jadi, itu yang dikatakan wali kelasnya yang kemarin padaku?”
“Ya, Bang. Andre dan ibunya datang ke sekolah”
Bonar kaget, karena ia tidak tahu sama sekali tentang hal tersebut.
Vani akhirnya menceritakan semuanya pada Jonathan, abang sepupunya berjanji akan menolong.
“Masalah sebesar ini … kenapa tidak cerita sama keluarga sih Van, ini sudah termasuk kasus berat loh. Jangan terlalu tertutup dan dipendam sendiri. Aku kan ada sini , kamu bisa cerita adan minta pendapat,” ujar Jonathan.
“Aku tidak enak Bang ngerepotin kalian, aku sudah banyak menyusahkan abang “
“Ah tidak ngerepotin, itu sudah kewajiban kita sebagai manusia saling menolong, apa lagi, kita keluarga,” ujar dr. Netta.
“Lalu bagaimana keadaan Namboru, mertuamu sudah sehat?”
“Sudah bang, tidak batuk lagi”
Bonar tidak banyak bicara, justru mendengar Jonathan perhatian sama keluarganya sementara ia mengabaikan mereka, Bonar merasa malu melihat Jonathan dan istrinya, ia hanya diam, setelah cerita banyak hal pada Jonathan Vani dan Bonar pulang kembali ke rumah.
“Kok, jadi diam?”
“Aku merasa tidak berguna sebagai suamimu, karena aku tidak tau apapun yang terjadi padamu. Bisakah mulai hari ini, libatkan aku dalam setiap masalah yang kamu hadapi?”
“Baiklah, aku akan mencobanya,” ujar Vani, tetapi terlihat hanya setengah hati, ia bukan tipe orang yang mau bergantung pada orang lain, apa lagi orang yang belum ia kenal sepenuhnya.
Bonar kalau ingin mendapatkan hati Vani seutuhnya ia akan kerja keras.
__ADS_1
Bersambung
Jangan lupa vote, like, komen, kasih hadiah jika berkenan ya. Agar viwers naik ya Kakak 😊 Terimakasih