
Winda masih di depan laptop di kantor, setelah Daren mengirim rekaman itu dan mejelaskan semuanya, dengan senang hati ia melakukannya seperti biasa.
Tiba-tiba William datang dengan wajah keheranan, “ Lu sudah melihat berita?” tanya William menunjukkan layar ponselnya pada Vani.
“Ini lagi baca”
“Apa ini beneran? Maksudku Winda lagi wik-wik di hotel sama bapak mertuanya?” William heran.
“Kata Maminya Andre, ya mereka sudah tidak pakai baju”
“Edan bangat … itu wanita nekat bangat sih”
“Andre ingin menceraikannya dan ibu mertuanya mencari wanita untuk menikah dengan Andre, bapak mertuanya ingin dia menantu hanya untuk tunggu selesai pemilihan, maksudnya di manfaatkan sama bapak mertuanya, lalu ia akhirnya tahu kalau ibunya selingkuh dengan bapak mertua. Menuruu aapa yang terjadi?”
Mata William membesar lalu ia menjentikkan jari-jarinya, “ masuk akal Winda sengaja mengekspos semuanya dan ingin mempermalukan keluarga Andre.” William langsung bisa menebak.
“Gue pikir hidup gue lebih menyedihkan dari semua orang , ternyata hidup Winda yang lebih malang, awalnya gue benci bangat sama perempuan itu, tapi melihat dia tidur sama bapak mertuanya gue jadi kasihan ya,” ujar Vani.
“Hidup lon gak menyedihkan Van, ada anak, ibu mertua lu yang baik bangat, Bonar yang-”
“Stop Bonar gak masuk kategori dia masih tahap seleksi,” potong Winda William tertawa ngakak.
Di sisi lain.
Bonar juga sedang menatap layar laptopnya dengan serius, berita yang beredar mengungkit semuanya, sampai kehidupan Sudung suami Rosa.
Banyak yang menyebut Sudung lelaki yang lemah dan tidak bisa mendidik istrinya, menyebabkan istri dan anak sambungnya merusak rumah tangga orang lain.
Seolah-olah tidak terima bapa mertua di jelek-jelekin Bonar membalas dan memaki-maki orang yang menyudutkan Sudung, Bonar juga di serang netizen dan dia membalasnya perang sosmed pun terjadi Bonar sampai menggunakan akun samaran demi berargumentasi dengan netizen, saat lagi serius membalas serangan netizen, tiba-tiba sebuah panggilan telepon masuk.
Winda Call.
“Kenapa dia menelepon?” Bonar tidak mengangkat, lalu ia memanggil lagi.
“Halo”
“Halo Bang Bonar, aku ingin bertemu”
“Untuk apa, katakan saja lewat telepon”
“Kenapa Lu takut gua ajak tidur juga, kayak si Iyos itu”
Bonar diam alasan pertama, ia tidak mau ada masalah dalam hubungan rumah tangganya, apa lagi saat itu hubungannya dengan Vani sedang tidak baik.
__ADS_1
“Saya tidak bisa Bu Winda, bentar lagi saya akan memimpin rapat hari ini Daren dan Pak Sudung lagi ijin tidak masuk jadi saya yang melakukan semuanya sendi”
“Wah, kamu sekarang jadi orang sibuk ya, mentang-mentang sudah jadi direktur. Aku punya kabar penting tentang tanggapan Andre”
Bonar diam, ia ingin sekali mendengar apa yan di katakan Andre dengan begitu hatinya bisa tenang.
“Katakan saja apa yang terjadi Bu Winda, saya akan mendengarkannya”
“Kalau kamu tidak mu datang ya sudah aku tidak akan memberitahukannya”
“Baiklah kirim saja alamatnya, saya akan datang nanti,” ujar Bonar.
Winda tertawa licik, tujuannya kali ini ingin menjebak Bonar, ia ingin menghukum semua pria yang tidak ia sukai, ia tidak suka Bonar karena dari dulu Bonar yang selalu melindung Vani.
“Aku ingin lihat, seberapa setia kamu sama Vani … aku yakin tidak ada dunia ini lelaki yang benar-benar setia,” ujar Winda.
Kini Bonar dalam daftar lelaki akan di uji kesetiaannya, ia kembali memasang kamera dan perekam di sudut ruangan tersebut ia hanya perlu menunggu Bonar untuk masuk ke dalam rayuan mautnya.
“Apa kamu tinggal di hotel?”
“Tidak pak Bonar itu bukan hotel, aku tinggal di apartemen”
“Ok saya akan datang nanti ke sana”
“ Baiklah aku akan lakukan seperti itu”
“Baiklah aku menunggu kamu di sini”
*
Karena penasaran Bonar datang ke apartemen, ia sengaja membawa satu keranjang buah dan Snack bii
Setelah ia menemukan alamat yang dimaksud, ia naik ke atas menekan angka lima di lift, tidak lama kemudian, tiba di depan apartemen, Winda membukakan pintu setelah mendengar suara bel.
“Selamat datang pak Bonar, di apartemen baruku. Bagus tidak?”
“Bagus Bu”
“Jangan panggil aku ibu dong … kita kan tidak lagi di kantor, di kantor pun saat ini kamu yang jadi atasanku. Jadi sekarang panggilan aku Winda saja, aku adik dari istrimu”
“Ok baiklah, Bonar duduk di sala satu kursi rotan”
“Eh kamu bawa apa?” Winda mulai melakukan aksinya, ia melepaskan pakaiannya di depan Bonar hanya menyisakan pengaman dada.
__ADS_1
‘Gila ... ini orang, dia merayuku’ ucap Bonar dalam hati.
“Katakan saja apa ingin kamu perlihatkan padaku,” ujar Bonar
“Tenang Bonar, nanti aku akan jelaskan semuanya, tapi bagaimana kalau kita bersenag-senang dulu. Aku tidak akan mengatakan pada Vani”
“Winda, aku tidak punya banyak waktu, aku masih harus bertemu klien nanti sore, katakan apa ingin berikan padaku”
“Ini …” Winda menarik satu kursi lalu duduk di depan Bonar, tiba-tiba matanya menatap Bonar dengan begitu dalam.
‘Ternyata Bonar lumayan juga … dia ganteng ternyata’cap Winda dalam hati, tiba-tiba ia terpesona dengan suami Vani.
“Ayolah jangan main-main, aku tidak banyak waktu, kalau kamu hanya ingin mengeraiku dan menjebakku itu tidak akan bisa,” ujar Bonar.
Winda lansung duduk di pangkuan Bonar memeluknya dengan erat’ “ sebenarnya aku sudah lama suka sama bang Bonar, dari kulih dulu, saat Vani menolakmu saat itu, aku kasihan padamu karna aku pikir nasip kita sama”
Mendengar kata-kata menyentuh dari Winda untuk beberapa saat Bonar terdiam, tetapi saat Winda menyambar bibirnya secara akresif, Bonar menolaknya mendorong tubuh Winda dengan halus.
“Winda, aku tahu kamu sakit hati dan marah pada suami. Tetapi tidak semua lelaki itu sama,” ujar Bonar dengan lembut.
“Apa kamu menolakku karena takut ketahuan sama Vani?”
“Tidak”
“Lalu apa yang membuatmu menolak?”?
“Karena aku menghargai pernikahan kami da menjaga perasaan Vani”
“Bohong aku yakin kamu hanya ingin hartanya, tidak perduli dengan perasaan Vani apalagi dia sudah punya anak,” ujar Winda lagi. Ia semakin amraha saat Bonar menolak rayuannya, padahal ia rencana akan mengirimnya ke Vani.
“Winda , sudahlah kalau kamu merasa kecewa kamu bisa liburan untuk menenangkan pikiranmu”
“Aku tidak butuh liburan, aku senang jika orang -orangg yang aku benci selama ini hancur salah satunya kamu dan istrimu. Bagaimana kalau seperti ini ….” Ia mencium pipi Bonar lalu mengarahkan kamera, “dengan begini istrimu akan curiga padamu”
“Sini gambar begini lebih bagus, dari pada kamu memaksa, biar aku ambil fotonya.” Bonar mengarahkan kamera ponselnya ke arah mereka.
“Ya sudah kirim ke Vani, aku rasa di juga senang,” ujar Bonar.
“Kenapa?” Winda menatap Bonar dengan marah.
Karena Vani yang menginjinkanku ke sini, walau kamu bilang jangan bilang siapa-siapa . Namun aku tetap mengabari Vani.
Bersambung
__ADS_1