
Di Kampung.
Pesta adat di kampung dan pesta di Jakarta sangat berbeda, kalau di Jakarta, saat pesta sudah di serahkan semuanya pada catering atau WO tetapi kalau pesta di kampung lebih berkesan, di kampung kalau yang pesta yang mengerjakan orang kampung yang saling membantu memasak rame- rame dan ada kebersamaan. Ini lah yang di impikan Bonar dan Vani , itulah alasan kenapa sampai jauh- jauh dari Jakarta mengadakan pesta di kampung terpencil. Mereka berdua dan Bu Lisda, rindu suasana di kampung, rindu melihat asap mengepul di udara membawa harum masakan ala pesta.
Saat mereka tiba, Bonar meminta di dirikan tenda lebih awal di halaman rumah mereka dan panggung, jadi, suasana pesta sudah terlihat sebelum pesta tiba. Bonar juga menunaikan nazarnya, ia akan mengadakan membagi- bagi rejeki untuk satu kampungnya.
‘Jangan membenci orang yang menghinamu dan merendahkan mu, karena hinaan merekalah derajat mu di angkat, balaslah dengan cara mengasihi maka berkatmu akan semakin bertambah’
Kata nasihat itulah yang Bonar ingat.
Walau satu kampungnya dulu menghina keluarga mereka. Bonar dan Nur membalasnya dengan kebaikan.
Nama Bu Lisda menjadi perbincangan di kampungnya, karena kedua anaknya berhasil di perantauan dan kembali ke kampung, walau kaya tetap rendah diri dan tidak sombong, itulah yang diajarkan Bu Lisda pada Bonar dan menantunya, mereka diberkati dan jadi berkat untuk orang satu kampungnya.
Besok pesta adat Vani dan Bonar akan berlangsung, suasana di rumah Bonar sudah rame didatangi keluarga yang datang dari kota.
(Bah … boasa dang jolo sae lahiran kian asa di baen pesta na?)
Wah … kenapa tidak tunggu sampai melahirkan saja?” tanya keluarga yang datang.
“Bah, nungga tolu hali on ditund-tunda. Naeng di bahen di Jakarta hian, hape di huta do keluagta ta sude, jala muse parumen, gogo rohana ikkon di huta pesta.”
(Wah ini sebenarnya sudah tiga di tunda tadinya ingin di lakukan di jakarta tapi keluarga kita ada di kampung semua, jadi menantu inginnya di kampung) jawab Bu Lisda menjawab semua pertanyaan tetangga dan tamu yang datang, semua orang kaget saat melihat perut Vani yang besar.
Sebelum Bonar dan keluarganya pulang sudah memberi kabar pada keluarga Bonar yang tinggal di Jakarta kalau pesta mereka, akan di adakan di kampung. Namun saat tiba di kampung namborunya kembali menelepon, ia bilang kalau Bonar dan Bu Lisda tidak pernah mengatakan kalau pesta akan di kampung.
“Tega kau ya mentang-mentang sudah kaya kau sekarang, tidak ada pemberitahuan kalau pesta akan di adakan di kampung pulang kam diam-diam saja,” ucap bibi Bonar di ujung telepon.
Bu Lisda sudah tau kalau wanita itu hanya akan mencari gara-gara.
“Kan waktu kumpul di rumah kami pertemuan keluarga bapak mertuaku datang ke rumah sudah aku bilang Bou,” ucap Bonar.
__ADS_1
“Tidak ada kau bilang, aku tahu tujuanmu biar gak datang kami ke pestamu kan?”
“Di sana juga mama bilang kalau ada yang ingin pulang sama-sama di kabarin, tapi tidak ada yang kabarin, makanya kami pulang duluan, lalu kenapa bou sekarang jadi marah-marah kalau mau datang, datanglah saja Bou,” ujar Bonar.
“Sudah, aku tidak mau, kami semua tidak akan ada yang datang,” ujar wanita itu marah-marah.
“Lalu Namboru maunya seperti apa kian” tanya Bonar, ia bolak balik memaafkan dan bersikap sabar melihat kelakuan keluarganya.
“Harusnya kalau kamu bikin pesta di kampung kasihlah ongkos kami, kamu kan sudah kaya,” ucapnya tanpa malu.
“Keluarga kita kan banyak namboru, kalau aku nanti hanya kasih ongkos pesawat Namboru yang lain pasti iri.”
“Ya ku ongkossi semualah, kan, kamu sudah orang kaya sekarang pelit amat,” ucapnya lagi.
“Tidak usah dipaksakan Namboru, aku tahu kalian semua sibuk,” ucap Bonar.
“Jadi kau mau bilang kau tidak suka kami datang begitu!”
“Namboru sudah dulu ya, bapa uda dan Namboru dari Medan sudah datang aku mau menyambut mereka.”
Keluarga yang datang keluarga dari kakek kakak beradik, mendengar keluarga jauh datang sementara mereka keluarga dekat tidak ada yang datang bibinya adik bapak Bonar makin marah.
“Apa kamu mengudang mereka?”
“Ya tentu Namboru, mereka juga keluarga kita kan, maka itu aku bilang tadi , kalau bapa uda dan namboru dan keluarga yang dari Jakarta tidak bisa datang, tidak apa - apa aku maklum semua sibuk, jangan khawatir banyak keluarga kita yang dari kampung yang akan menghadiri,” ucap Bonar.
Ia tersenyum kecil, saat namborunya tidak bisa bicara lagi, “ ya sudah aku tutup dulu teleponnya nanti aku telepon lagi,” ucap namborunya dengan nada suara kesal.
“Baik namboru,” ucap Bonar ia bersikap tenang saat keluarganya yang dari Jakarta sepakat tidak ada yang datang karena Bonar mengadakan pesta di kampung. Ia meletakkan ponselnya di atas meja.
“Justru aku senang kalian tidak usah datang,” gumam Bonar pelan.
“Kenapa Pah?” Vani duduk di sisi ranjang.
__ADS_1
“Aku tidak mengerti jalan pikiran mereka … kemarin namboru itu sudah minta uang untuk kebaya seragam mereka, aku sudah memberikan, masa aku juga disuruh membayar ongkos mereka juga,"ucap Bonar.
“Jangan, jangan dituruti!” tiba-tiba bu Lisda datang dari pintu.
“Tidak dituruti … Mama bawa apa.” Bonar dan Vani menoleh ke wanita yang memegang bantalan duduk.
“Ini mama sudah pesan sama Rati saat di Jakarta, buat kamu duduk besok biar gak sakit saat duduk untuk acara besok. Ingat ya Nang … besok jangan sampai kecapean pokoknya kamu duduk saja , kalau ada keluarga yang ajak joget manattor, pokoknya di tahan dulu, dia sudah pasti capek saat perjalanan kemarin,” ucap Bu Lisda mengusap perut Vani.
“Baik Ma,” jawab Vani tersenyum bahagia, karena ibu mertuanya menyayanginya seperti putrinya sendiri, kalian dua harus kuat,”tuturnya lagi ia membawa minyak angin mengusapnya ke badan Vani. Kampung sama di Jakarta beda di sini anginnya hawanya lebih dingin kamu harus pakai minyak angin, biar hangat pakai jaket ini juga," ucapnya lagi. Vani tidak membantah, ia hanya diam saat sang ibu mertua mengoles minyak ke tubuh dan perut yang buncit.
“Vani kan sudah pernah hamil Ma, kayaknya khawatir bangat, kecuali kalau ini kehamilan pertamanya,” ucap Bonar tersenyum kecil.
melihat perhatian besar mamanya pada Vani.
“Kamu gak tau sih Mang, istrimu saat hamil Jonas, badannya pernah bentol- bentol karena cuaca dingin, saat itu mama tidak punya uang untuk beli obat, jadi mama hanya bisa merebus daun-daun untuk obatnya, tapi, bukannya sembuh malah bertambah parah, saat itu aku sangat panik,” ucapnya Bu Lisda ia menangis sesenggukan mengingat kejadian di masa lalu.
“Ma jangan menangis, aku jadi ikut sedih,” ucap Vani ia memeluk ibu mertuanya dengan erat, “ma … apa kamu tau, kalau mama itu malaikat yang diturunkan Tuhan, lalu menjelma jadi ibu mertuaku,” ucap Vani Bu Lisda tersenyum lagi.
Setiap Kali Vani menyebut ibu mertuanya malaikat yang menjelma, wanita itu akan tertawa dan membantah, ia berkata kalau malaikat itu punya sayap.
“Malaikat apaan sih Nang …,” ucap wanita itu mengusap sudut matanya.
“Mama menangis, lalu tertawa lagi,” ucap Nur dengan bahasa gagunya. Wanita itu bagai ekor Bu Lisda kemana Bu Lisda melangkah ia akan ikut.
“Opung cegeng belakangan ini,” timpal Jonas ia juga datang ke kamar mamanya.
“Ya … opung cegeng. Aduh bapak Mesnur lihatlah cucumu ini … dia sudah dewasa, dia anak Bonar, anak yang dulu sering kamu pukuli, tapi sekarang dia sudah sukses, semua tetangga memujinya dan sekarang tidak ada lagi yang merendahkan keluarga kita Bapak Mesnur …!’” tangis Bu Lisda pecah ia menangis memanggil almarhum suaminya.
Bersambung.
jangan lupa Vote like, komen dan kasih hadiah ya kakak terimakasih
__ADS_1