
Bonar menelepon Vani beberapa kali, meminta ingin bertemu dengan Bu Lisda.
Tidak ingin dituduh memisahkan hubungan anak dan Ibu , akhirnya Vani membawa ibu mertua dan putranya juga Nur ke mall untuk bertemu Bonar, sekalian ingin belanja, dari rumah Vani sudah mengingatkan Rati untuk waspada saat menjaga Nur, sejak mereka pindah ke Jakarta baru kali ini, mengajak Nur ke mall , ia yakin kakak iparnya akan membuat kehebohan. Nur setiap kali ke tempat baru dan atau ke tempat banyak orang, akan melakukan aksi lari-larian dan berteriak -teriak kegirangan.
“Bou, nanti diam ya di sana,” bujuk Rati.
“Aa, ya,” jawab Nur lalu ia menempelkan kedua telapak tangannya di kaca mobil, menemplok seperti cicak, ia mengeluarkan oceh-ocehan yang tidak jelas, saat melihat gedung-gedung tinggi dan mobil yang lalu lalang.
“Bou, nanti kalau bou, lari-larian, nanti Jonas ikat di sana,” ujar Jonas.
“Ya, Onas ou gak lali”
(Ya, Jonas bou gak Lari) jawab Nur.
“Janji ya, kalau lari nanti gak dibeli eskrim stoberi,” gertaknya lagi.
“Iyaaa”
Mata Vani fokus ke depan tetapi ia tersenyum mendengar jawaban Nur, walau ia bilang ‘ya’ tetapi nanti akan melakukannya, karena itu penyakit bawaan.
“Mama dingin gak? biar aku matiin AC nya” tanya Vani melirik Bu Lisda yang duduk di sampingnya.
“Gak, Inang pakai jaketnya aku, tapi, mau bilang apa lagi dia rupanya, minta bertemu”
“Kangen katanya sama mama”
“Selama ini gak pernahnya dia kangen-kangen samaku, pasti ada maunya dia,” ujar Bu Lisda, ia langsung curiga saat Bonar minta bertemu.
“Ma, dia minta datang ke rumah kita, aku gak bolehin kalau dia belum berubah”
“Ya, biarkan saja, bagus itu”
“Mama gak marah kan?”
“Gak lah ngapain mama marah, aku marah, kalau dia membuatmu menangis,” ujar Bu Lisda.
Wanita itu sangat baik dari dulu sama Vani, membela menantunya dari pada anak sendiri, tidak beberapa lama akhirnya tiba di satu Mall di Jakarta timur .
Saat tiba di parkiran, Rati memasang tali pengaman ke tangannya dan di sambungkan ke tangan Nur.
“Sudah dipakaikan Nur?” Vani melirik ke jok belakang.
“Sudah Bu”
“Dengar hanya lima menit doang dia melakukan hal itu, setelah itu dia akan tenang kembali .” Vani menjelaskan sindrom yang di alami Nur, “ nanti awasin saja, jangan sampai merusak barang -barang orang”
“Baik Bu”
Mereka turun dari mobil, baru juga di bilang, Nur sudah berjalan cepat-cepat ke dalam mall, lalu ia bertepuk tangan terus menerus, lanjut jalan sana, jalan sini, lalu mutar-mutar sampai pusing, apa yang di lakukan Nur jadi perhatian pengunjung mall. Vani bersikap tenang membiarkan Nur melakukannya, karena menurut dokter hanya dengan membiarkannya melakukan hal itu, barulah ia akan memperoleh ketenangan, setelah lima menit barulah ia tenang, wajahnya memerah dipenuhi keringat.
“Kasih minum saja Rati, setelah ini dia akan tenang,” ujar Vani.
__ADS_1
“Aduh, aku takut bangat Bu, tadi dia menyenggol pajangan orang sampai pecah,” ujar Rati, wanita itu , jauh lebih capek karena ikut lari saat Nur lari-larian.
“Tidak apa-apa, nanti biar aku ganti,” ujar Vani.
Setelah Nur merasa tenang, Vani mengajak mereka duduk di restoran, untuk menunggu Bonar.
“Bu, apa Bou nanti sudah aman?” tanya Rati.
“Tidak apa-apa, dia sudah tenang”
Vani mengabari Bonar mereka menunggu di restoran, saat lagi menunggu pesanan, Bonar datang.
“Ma, aku datang.” Bonar menyalam tangan dan memeluk mamanya.
Saat melihat Bonar datang Nur kaget, ia kembali berteriak-teriak gembira dan memeluk Bonar, tetapi hal terduga di lakukan Bonar ia mendorong tubuh Nur.
“Sudah duduk saja!” Bentaknya marah.
Melihat perlakuan kasar Bonar sama Nur, Vani menatap marah
‘Kamu belum berubah benar kata Inang , kamu minta bertemu karena ada mau saja’ ucapnya dalam hati.
Bu Lisda juga kecewa dengan sikap kasar Bonar sama Nur.
“Apa kamu harus kasar,” ujar Vani marah.
“Lagian, kenapa dia dibawa, aku malu di liatin banyak orang,” ucap Bonar.
“Ito, masiol au”
“Eda, beli eskrim sama mba Rati sama Jonas dulu ya, biarkan aku sama mama bicara sama itomu,” bujuk Vani barulah Nur tenang,
Vani duduk bersandar di kursi tangannya melipat di dada, menatap Bonar dengan tajam.
“Baiklah sekarang katakan di sini sudah ada mama dan aku, abang mau ngomong apa?”
“Jangan marah begitulah”
“Bang, Eda Nur melakukan itu karena dia kangen, rindu sama kamu, apa salahnya kamu merangkulnya sebentar biar dia tenang,” cerca Vani dengan marah.
“Aku datang ke sini, bukan untuk membahas dia”
“Astaga Bang, aku tidak bisa berkata-kata lagi samamu. Bicaralah sama mama . Aku mau melihat mereka,” ujar Vani ingin berdiri. Bonar menahan tangan Vani, “jangan pergi duduk saja di sini.”
“Baiklah, katakan apa yang kamu mau?”
“Aku ingin kita tinggal bersama”
“Tidak usah, Hiduplah kamu sendiri sebagaimana kamu hidup selama ini,”potong Bu Lisda.
‘Mampus kamu … apa salahnya menerima kakakmu, kamu belum tau kalau Nur itu orang hebat’ Vani membatin
__ADS_1
“Mama, kok ngomong begitu?”
“Hidup kami tenang dan damai selama ini, tanpa kamu,” balas Bu Lisda.
Inilah puncak kemarahan Bu Lisda, selama ini ia tidak pernah bicara semarah itu pada Bonar, melihat penolakan dan perlakukan kasar Bonar membuatnya marah.
“Apa karena Nur”
“Ya, kalau kamu tidak bisa menerima Nur sebagai keluarga jangan harap kamu bisa tinggal dengan kami,” ujar Bu Lisda.
“Ma, aku menerimanya sebagai kakak, tapi jangan peluk-peluk kayak tadi, memalukan,” balas Bonar
Jonas, Nur datang kembali , wanita malang itu sudah duduk tenang, mata Bonar menatap Jonas, anak lelaki berwajah tampan.
“Hai Jo,” sapa Bonar.
“ Ya Pak”
Bonar bersemangat saat anak tampan itu memanggilnya Bapa, sementara Vani dan Bu Lisda bersikap acuh melihat Bonar, harusnya situasinya bisa lebih baik, jika tadinya Bonar bisa menerima Nur, tetapi sayangnya Bonar masih menolak Nur.
“Apa kamu suka main basket?” Tanya Bonar, obrolan mereka berdua masih berlanjut sembari menikmati makan siang.
“Suka Pa”
“Bagaimana kalau besok Bapa ajak kamu main basket?”
Anak lelaki itu menatap Vani, “ Ma, apa boleh aku besok pergi sama bapa?”
“Kamu sekolah Jo”
“Aku sekolah Pa.”
Bonar mengobral banyak pada Jonas, ia tidak tau kalau lelaki yang di panggil Bapa itu lelaki yang paling dibenci mamanya. Sementara Bonar sangat bersemangat karena Jonas menerimanya dengan baik. Jonas tidak pernah membenci Bonar, karena Vani dan Bu Lisda tidak pernah membicarakan ke jelekan Bonar, ia tidak mau meracuni pikirannya anaknya dengan kebencian.
“Apa Jonas mau kalau bapak pindah ke rumah kalian?” tanya Bonar.
“Boleh Pa, apa kerjaan papa sudah selesai? kata mama selama ini, papa sibuk”
“Sudah, kerjaan Bapa sudah selesai, Bagaimana Van?” ujar Bonar.
Bu Lisda dan Vani pura-pura tidak dengar permintaan Bonar yang minta tinggal dengan mereka, jika disuruh memilih Bu Lisda lebih memilih Vani dari pada anaknya.
“Oppung sudah selesai, mari kita pulang”
“OH, mama juga sudah, Vani berdiri”
“Tunggu kok kalian begitu” Bonar merasa jengkel.
“Ubah dulu sikapmu, baru kita bicara lagi,” ujar Bu Lisda.
“Ya, aku dan mama menolak,” ujar Vani merangkul tangan Ibu mertuanya dan meninggalkan Bonar, mereka berdua sepakat menolak Bonar.
__ADS_1
Ia tidak mau kehilangan kesempatan , Bonar mengikuti mobil Vani.
Bersambung