
Apa yang di lakukan Vani akhirnya mengubah sikap Bonar, ia menunjukkan perhatiannya pada keluarga dan tidak pernah pergi lagi ke bar mencari wanita untuk bersenang-senang.
Kini mereka berdua sudah saling berkomunikasi di kamar walau masih tidur terpisah.
“Apa besok kita tidak usah datang?” tanya Bonar, ia merebahkan tubuhnya di atas sofa di kamar Vani, mereka baru pulang dari rumah bapak Lina.
“ Kita harus pergi Bang, itu pesta keluarga Sinaga, sebagai keluarga kita harus datang. Tadi aku tidak salah kan minta inang sama abang duduk di depan, abang itu sebagai ganti bapak mertua.”
“Aku malas berdebat sama mereka tadi Dek.”
“Tunjukkan kalau Abang bukan Bonar yang dulu, waktu dulu kamu memang gembel dan terima apapun mereka bilang,
tetapi sekarang kamu sudah orang sukses, dalam adat Batak, keluarga dari pihak laki-laki duduk di depan dan abang harus di sana sama inang, kalian saja berdua sama inang aku tidak usah,”ujar Vani.
Besok pesta pernikahan anak bapa uda Bonar( paman) sebagai marga Sinaga, ia akan datang, Bonar berat hati untuk hadir di sana, saat mereka datang mama Lina dan keluarga yang lain tidak menganggap mereka. Namun, Vani ingin menunjukkan pada mereka ibu mertuanya bukan wanita bisa mereka sepelekan lagi.
“Besok kan Sabtu, Jonas biarkan saja ikut ya.” Bonar melirik Vani.
“Abang yakin tidak apa-apa? Nanti di tanya orang tentang ini dan itu, abang tersinggung dan marah-marah,” ujar Vani mengingatkan Bonar.
“Tidak lagi, itu dulu sebelum tobat,” timpal Bonar.
“Sekarang memang sudah tobat?”
“Sudah, ini buktinya, aku sudah bisa terima walau aku harus tidur di sini dan hari harus kuat menahan godaan.”
“Godaan apa? Memangnya aku goda kamu,”ujar Vani.
“Melihatmu keluar dari kamar mandi dengan rambut basah, melihat kamu berganti pakaian, memangnya ku tidak tersiksa,” ucap Bonar bicara jujur.
“Oh … sabar itu masih tahap seleksi, mampu gak?” Vani menoleh ke arah Bonar yang sudah rebahan di sofa.
“Harus,” jawab Bonar lalu ia menarik selimut, lalu tidur.
Vani duduk menyadarkan tubuhnya di sandaran ranjang, ia sedang memeriksa berkas-berkas dari kantor, melihat Bonar tidur di sofa sebenarnya ia merasa kasihan, tetapi ia ingin melihat sejauh mana Bonar bisa bertahan untuk keluarganya.
Melihat Bonar meringkuk kedinginan Vani menyelimuti dengan selimut yang lebih tebal.
‘Kamu harus kuat Bang, karena kamu itu kepala rumah tangga’ ucap Vani dalam hati.
Vani mempersiapkan pakaian untuk mereka pakai besok ke pesta, setelah semua beres barulah Vani tidur.
*
Saat pagi tiba.
Hari ini keluarga Vani akan menghadiri pesta pernikahan sepupu dari Bonar.
Bonar sudah rapi dengan setelan jas berwarna hitam dan Bu Lisda sudah cantik dengan kebaya, sementara Jonas kemeja batik di padukan dengan celana jeans, Vani juga cantik dengan balutan kebaya yang sama dengan ibu mertuanya.
__ADS_1
“Abang pakai dasinya biar rapi.” Vani memakaikan dasi ke leher Bonar.
Melihat Bonar berubah, Vani juga lambat laun berubah, ia akhirnya menunjukkan perhatiannya pada suaminya.
“Apa aku juga pakai dasi Ma, biar ganteng kayak bapak,” ucap Jonas
“Tanpa dasi anak bapak juga sudah ganteng.” Bonar merapikan rambut Jonas.
Setelah rapi barulah mereka berangkat menuju gedung pernikahan.
Seperti yang sudah dirundingkan sebelumnya, Bonar akan duduk di panggung bersama keluarga pengantin.
Tatapan mata inang udanya tampak sinis melihat Bu Lisda dan Bonar, wanita itu tidak tahu kalau kehidupan Bonar bukan seperti yang dulu lagi. Bonar yang sekarang sudah jadi seorang direktur di perusahaan bapak mertuanya, tetapi pandangan mereka kahirnya berubah setelah acara pesta ada berlangsung dan tamu sudah memenuhi ruangan aula.
Ternyata tamu undangan yang datang ada beberapa pejabat dan pengusaha.
Mata keluarga bapa udanya menatap Bonar dengan bingung saat seorang pengusaha dan beberapa pejabat orang-orang penting. Simon bapa uda Bonar ternyata mengenal Bonar juga.
“Hei … Pak Bonar, siapa yang pesta?” sapa seorang klien bapa Lina.
“Adik sepupu saya, Pak.”
“Jadi, Pak Simon masih saudara ?” Lelaki itu menatap Bapa Lina dan istrinya.
“Ya Pak.”
Tidak lama kemudian saat acara adat sedang berlangsung, lelaki itu datang bersama seorang anak muda. “Pak Bonar ini anak saya, dia baru saja ingin membuka perusahaan baru , saya harap kita bisa menjalin komunikasi dan kerjasama nanti.”
“Boleh saya minta kartu nama Pak Bonar?”
Bonar lalu buru-buru membuka dompet mengeluarkan satu lembar kartu nama.
“ini Pak.”
“Terimakasih Pak Bonar, saya berharap bisa mengundang istri dan bapak ke rumah saya.”
“Baik Pak,” jawab Bonar.
Lelaki itu menghampiri Simon dan istrinya, “ Pak Simon kenapa gak pernah cerita kalau Pak Bonar keponakan Bapak, padahal saya sudah lama ingin mengajak Lonax untuk bekerja sama.”
Kedua suami istri itu saling menatap bertanda heran.
“Memang keponakan saya kenapa?”
“Dia kan direktur baru di Lonax, nantilah kita cerita, saya akan datang ke rumah bapak selepas pesta,” ujar lelaki bertubuh gemuk itu dengan sopan.
Saat tamu menyelami pengantin ke panggung banyak pejabat dan orang-orang penting yang justru menghampiri Bonar.
“Memangnya pekerjaan si Bonar apa sih Pah? kayaknya orang pada kenal dia,” bisik mama Lina pada suaminya.
__ADS_1
“Entahlah, aku tidak pernah tanya”jawab Simon.
“Elleh … paling juga dekat sama direkturnya,” ujar istrinya dengan tatapan sinis.
Saat sedang duduk di panggung Jonas datang, ini pertama kalinya keluarga dari bapa udanya melihat Jonas putranya Bonar.
“Abang sudah makan?” Tanya Bonar mengusap kepala Jonas penuh sayang.
“Sudah … masih lama gak Pak kita pulang?” Ia duduk dipangkuan Bonar.
“Masih, sampai sore, kenapa?”
“Aku malu … banyak yang minta foto.“
“Foto karena apa, karena kamu tampan?” ledek Bonar ia berpikir kalau Jonas hanya bercanda.
Ternyata banyak melihat acara talkshow yang berlangsung beberapa hari lalu , di mana Jonas bisa mengalahkan para seniornya dan ia mendapat julukan anak genius.
“Bang … ini anak abang itu ya?” Tiba-tiba Lina datang ke depan .
“Ya.”
“Ya ampun …. kamu lucu bangat, ternyata kita keluarga, aku menonton siaran langsung waktu itu, kamu hebat bangat Dek, kamu marga Sinaga kan? aku adik bapakmu aku boru Sinaga,” ujar Lina sepupu Bonar.
“Halo Bou,” sapa Jonas dengan sopan.
“Boleh kita foto?”
Jonas merangkul leher Bonar dengan sikap malu- malu layaknya anak kecil pada umumnya.
“Sana Bang, boumu mau foto itu, karena kamu genius, bukan karena tampan,” ujar bonar.
“Aku gak mau,” gumam Jonas ia memeluk leher Bonar dengan erat.
“Gak mau dia Lin, nanti lah pas pulang, dia gak mau kalau dipaksa.”
“Kok abang gak pernah cerita kalau anak abang sudah segede ini. Pa, ma anak kecil marga Sinaga genius yang kita tonton kemarin ternyata anak abang Bonar!” seru Lina sama orang tuanya yang duduk di samping pengantin.
“Kan waktu itu kan aku diundang ke depan juga Lin,” ujar Bonar.
“Ya … pas waktu itu mati lampu jadi kami nonton sampai habis.”
Mereka semua heboh, “ Anak kecil yang di TV itu?” Simon bapak Lina menoleh ke Jonas, anak kecil itu malu, ia duduk d pangkuan Bonar dan menenggelamkan wajahnya di dada Bonar.
Melihat sikap sayang Bonar pada Jonas dan perhatian Bu Lisda pada cucunya menepis semua gosip kalau Jonas bukan dara daging Bonar, mereka berdua menjadi perhatian besar di sana, karena beberapa hari yang lalu sempat pembicaraan warga net karena ke kegeniusannya dan sempat menjadi berita viral.
__ADS_1
Vani yang duduk di bangku tamu undangan dari pihak kelurga mempelai Pria tidak luput dari perhatian karena kecantikannya dan pembawaannya yang ramah.
Bersambung