
Vani duduk kembali di kursinya setelah Andre dan Winda keluar, ia sendiri yang merapikan dan membersihkan, ruangan yang ia tempati.
Wanita cantik itu sudah terbiasa, diasingkan selama sepuluh tahun di desa telah mengubah dirinya, ia bisa melakukan semua pekerjaan rumah, padahal dulu saat menjadi seorang putri ia terbiasa di layani. Setelah tinggal di desa, karena keadaan yang memaksa, Vani belajar untuk mengerjakan pekerjaan rumah, bahkan pekerjaan berat.
Kali ini ia tidak perlu memanggil OB untuk membereskan ruangannya, dari rumah ia sudah membawa beberapa pajangan milik ibunya, mendekorasi ruangannya sesuai yang dinginkan, itu jauh lebih baik.
“Mommy, aku kerja di bekas ruanganmu, aku sudah memaksa wanita itu keluar dari sini, aku akan mengubah tempat ini seperti dulu lagi, saat kau menggunakan ruangan ini. Mom aku rindu,” ujar Vani meletakkan foto sang ibu di depan meja.
Saat ia merasa sangat sedih, tiba-tiba putranya menelepon menggunakan video call. “Ma … bagaimana pekerjaan baru mama?”
“Bagus, lihat meja kerja mama bagus kan, kamu istirahat ya, jangan pegang laptop dulu, nanti bertambah pusing, biar cepat sembuh, besok bisa masuk sekolah”
“Ya ma”
“Oppung mana?”
“Ini oppung tidur di sampingku, aku sudah makan, sudah minum obat oppung yang kasih”
“Baiklah, bilang mba kunci pagar ya, bou jangan sampai keluar beli eskrim lagi, bilang Bou di kulkas mama sudah beli eskrim”
“Baik Ma … da, da Mama.” Jonas melambaikan tangan dan menutup telepon, seketika semangat Vani pulih lagi, ia merangkap jadi semua di rumah, jadi menantu, anak, ibu, jadi bapak, semua tugas dan tanggung jawab ia pikul sendiri.
Sudung ingin masuk ke ruangan Vani mendengar Vani bicara ditelepon ia mengurungkan niatnya untuk bertemu putrinya. Semarah apapun hatinya pada Vani, ia juga merindukan
Setelah menenangkan diri selama beberapa menit, barulah mulai bekerja, memulai memeriksa berkas lama yang selama ini di pegang ibu mertuanya.
‘Kasihan sekali daddy, dapat istri bisa nya hanya menghabiskan uang perusahaan’ ucap Vani dalam hati, setelah ia membaca laporan pengeluaran, Vani memeriksa semuanya, walau marah sama pemilik perusahaan, ia tidak rela kalau kesalahan dan kecurangan dalam perusahaan dibiarkan, ia mengerjakan dan memeriksa semua.
Tidak terasa sudah siang.
Saat semua pegawai keluar makan siang,Vani meminta OB untuk membawa makan siang ke ruangan saja, ia tidak mau bertemu Bonar, Andre, baik ibu tirinya.
Di ruangan sebelahnya ada Sudung bapak Vani, lelaki itu berharap Vani datang ke ruangannya untuk menyapa, lama menunggu wanita cantik itu tidak ingin menyapa bapaknya walau ia tahu ruangannya persis di sebelah kantor Vani.
Sampai sore tiba Vani tidak keluar dari ruangannya, ia tidak ingin menemui Sudung.
Lelaki itu berjalan mondar mandir di ruangan, ia ingin menyapa Vani ke ruangannya, tapi ia tidak punya keberanian untuk melakukan.
__ADS_1
“Apa dia tidak merindukan daddynya sedikit pun?” tanya lelaki itu duduk dengan gelisah, “harusnya dia datang ke sini”
Saat berkutat berjam-jam di depan laporan, memeriksa laporan keuangan perusahaan yang dibangun ayahnya belakang ini ternyata selalu merugi, melihat hal itu Vani sedih, ia menatap foto mamanya.
“Mom … tadinya, aku ingin membiarkan Lonax ini hancur, tapi mengingat perjuangan Mommy, aku merasa tidak tega, apa yang harus aku lakukan?” Vani menatap dalam bingkai sang mama.
Saat sedang menyandarkan punggung, ketukan pintu terdengar lagi, lagi-lagi Bonar muncul di pintu, kecantikan Vani telah membius Bonar dan Andre, kali ini, kedua lelaki itu seakan-akan bersaing mendapatkan perhatian dari Vani lagi.
“Ada apa Pak Bonar?” tanya Vani menatap sekilas, lalu matanya fokus kembai ke layar laptop.
“Aku ingin mengajakmu pulang bersama”
“Maaf pak Bonar, saya bisa pulang sendiri,” ujar Vani dingin.
‘Aku sudah pernah bilang padamu, jika aku sudah lelah menunggu, aku akan pergi berjalan dan tidak mau menoleh ke belakang lagi’
“Aku ingin melihat mama”
“Aku minta maaf, atas ucapanku malam itu”
“Baiklah lupakan … begini saja Pak Bonar, mari kita berpura-pura tidak saling mengenal, aku atasan bapak di sini, bersikaplah layaknya sebagai bawahan,” ujar Vani.
Bonar tidak bisa berkata-kata lagi, ia sangat menyesal karena merendahkan Vani malam itu, menyebabkan wanita itu marah dan tidak mau bicara dengan nya, andai saja saat itu Bonar menerima dan berbaikan dengannya sudah pasti mereka berdua sama- sama membangun perusahaan.
“Aku hanya ingin meminta maaf Vani ….”
Wanita cantik itu berdiri dari kursi, ia sengaja berdiri di depan Bonar, ia seolah-olah ingin mengatakan kalau bodynya yang dianggap Bonar gendut selama ini salah. Vani berjalan ke arah lemari penyimpanan file-file lama, ekor matanya melirik kelakuan Bonar yang menatap penampilannya tanpa berkedip .
Kali ini Vani memakai metha blezer di padukan dengan rok belahan di depan, saat jongkok belahan rok itu terlihat sangat jelas memperlihatkan kulit kakinya yang putih mulus.
‘Dia sangat cantik, ah, kenapa dulu aku tidak berbaikan dengannya’ ucap Bonar dalam hati.
‘Menggoda suami sendiri tidak ada masalah, aku ingin memberi pelajaran’ Vani membatin.
Benar saja, dengan senyum licik Vani membuat Bonar panas dingin dengan pose yang dibuat seksi menggoda.
__ADS_1
“Apa kamu harus memakai pakaian itu, apa tidak ada pakaian lain?” tanya Bonar
“Suka-suka saya, mau memakai apa Pak Bonar, bapak tidak usah mengurusi”
“Aku sudah minta maaf, apa kamu tidak bisa menerimanya?”
“Jika setiap orang mudah memaafkan kesalahan orang lain, maka penjara tidak akan ada lagi”
“Baiklah, katakan padaku apa yang harus aku lakukan agar kamu tidak marah lagi”
“Tidak ada, tidak perlu melakukan apa- apa untukku, semuanya sudah terlambat, aku sudah menyerah untuk kamu. AKu tidak perduli lagi, aku hanya akan memberikan surat itu padamu, lalu kamu bebas. Saat ini, aku hanya ingin fokus pada kehidupanku dan anakku”
Bonar langsung mati kutu dengan sikap dingin Vani padanya, karena selalu diacuhkan dan diabaikan.
Bonar keluar, sore itu ia berniat mengikuti Vani pulang.
Setelah sore, Andre juga mencegatnya di pintu lift, mantan kekasih Vani itu ingin bicara berdua dengannya di taman belakang kantor. Vani menolak dengan sopan lalu ia bersiap pulang.
“Lu, udah mau pulang?”
“Ya. Ada apa?”
“Bonar menunggu di luar”
“Untuk apa?”
“Dia ingin mengikuti lu”
William memberitahunya kalau Bonar akan mengikuti saat pulang, tidak ingin Bonar tau keberadaan rumahnya, Vani naik busway, Bonar sangat kesal saat melihat Vani naik Busway.
“Apa dia naik itu ke kantor? Ah, bagaimana mengikutinya kalau naik itu, sebenarnya kamu tinggal di mana Vani?” Bonar kesal.
Vani benar-benar membalas perlakuan Bonar selama ini.
Bersambung …
Kakak yang baik jangan lupa like, vote, like ya... kasih☕ buat author biar tambah semangat up tiap hari, terimakasih
__ADS_1