Identitas Tersembunyi Sang Menantu

Identitas Tersembunyi Sang Menantu
Minta Adik


__ADS_3

Berkat bantuan beberapa pengacara yang di bawa Jonathan akhirnya Vani  mengusir Rosa dari  keluarga mereka tanpa mendapatkan apa - apa bahkan uang yng ia minta dalam tuntutannya tidak dikasih sama Vani.


Wania cantik itu akhirnya menang berkat  dukungan semua keluarga dari pihak marga Situmorang.


Hari  itu Vani dan Bonar, Jonas datang ke arisan keluarga dari pihak marga Vani, sebagai  boru ( anak) ia  jadi pelayan karena dalam adat Batak jika ada acara di pihak  marga Vani,  maka ia akan pelayan. Ia sibuk menyiapkan kopi dan cemilan untuk semua keluarga, Bonar  melihat Vani bolak balik  bahkan  ikut mencuci piring di belakang.


Kalau di rumah  Vani tidak pernah memegang  bagian pekerjaan rumah sudah ada Rati dan Boni  yang mengurus semuanya, tetapi dalam arisan kali ini,  karena ia pihak anak dari marganya ia akan jadi pelayan. Itulah uniknya adat Batak tidak perduli apa jabatanmu dan sekaya apapun dirimu,  jika kamu dalam marga sebagai anak, keponakan maka kamu akan  jadi pelayan.


Beda lagi ceritanya kalau acara  di pihak Sinaga marga dari suami, maka Vani akan sebagai nyonya di sana hanya duduk da akan dilayani, maka itulah tradisi adat Batak. Hal itu sangat  berlaku di keluarga  sepupunya Jonathan Situmorang, semua anak dan menantu di rumah Jonathan sangat patuh dan tau tentang tata krama dalam adat.


“Nanti kalau bapa kamu sudah pulang ke Indonesia, kamu harus paksa dia ikut arisan lagi,” ujar papi Jonathan menatap Vani.


“Ya bapa tua,” jawab Vani.


Lalu ia pergi lagi ke dapur untuk menyiapkan kopi untuk keluarga yang baru datang.


“Van, anak lu akrap bangat sama Bonar,” ujar Eva sepupunya.


“Ya Kak, dia lebih dekat sama bang Bonar dari pada aku sekarang,” balas Vani.


“Bonar sepertinya tulus bangat mencintai Jonas,” timpal Anita yang saat itu ikut duduk di dapur.


“Sudah Van, jangan marah lagi … Bonar sudah berubah, kalian sudah bisa tambah anak lagi,” ujar Eva.


Mendengar nasihat kakak sepupunya Vani hanya tersenyum, ia melirik Bonar yang mengusap wajah Jonas dengan tissu, Jonas keringatan, anak lelaki itu duduk bersandar di badan Bonar sembari  memainkan game di ponsel milik Bonar.


“Ya Kak aku juga sudah memikirkannya, oppung Jonas juga sudah beberapa kali menyingung ke sana”


“Lalu Bonar … apa dia tidak menuntut?” Tanya Arnita dan Eva  menatap Vani dengan  wajah penasaran.


“Dulu, iya … tapi sekarang dia lebih sabar  dia tidak mau macam-macam lagi,” ujar Vani.


“Kalau dia sudah berubah baik, jangan ditekan lagi,” ujar Eva menasihati.


“Sudah, kalian bikin pesta adat saja di Jakarta ini, biar semua keluarga tau,  kalau kamu sudah menikah,” imbuh Arnita.


“Ya, daddy juga pernah mengatakan seperti itu, tapi saat itu aku posisinya masih marah pada mereka berdua, tetapi, sekarang aku sudah memikirkannya kembali, mungkin kami akan melakukannya kak, tunggu semua masalah selesai,” tutur Vani.


“Gitu dong … kita yang mendengarnya ikut bahagi. Sudah saatnya kamu bahagia sekarang wanita itu sudah pergi dari  hidup bapa uda.” Arnita tersenyum.

__ADS_1


Acara arisan sudah selesai dan  mereka pulang, saat perjalanan Bekasi -Jakarta, Vani diam, ia memikirkan semua nasihat keluarga padanya, melihat sikap Bonar yang sudah berubah, Vani memikirkan  kembali tentang hubungan mereka.


Vani memikirkan akan mengadakan pesta adat untuk mereka, agar semua keluarga bisa ikut datang.


“Diam saja Dek,  kamu capek?” tanya Bonar mengalihkan wajahnya ke arah Vani.


“Gak capek, si.”


“Lalu.”


“Bang …!”


“Hmm ….”


“Ayo kita lakukan pesta adat untuk kita.”


 Dreeet …!


“Aduh …. Bapak! Kepalaku kepentok,” seru Jonas yang duduk di belakang,  kepala anak lelaki itu  terdorong ke depan.


“Aduh maaf Bang, bapak hanya terkejut.”


“Kamu serius!?” lelaki itu menatap  Vani dengan mata melotot.


“Ya.”


Bonar langsung memeluk Vani dengan erat,  matanya tampak berkaca-kac saat  mendengar kalau Vani akhir  mau diadakan pesta adat untuk mereka, padahal saat Sudung mengutarakan hal itu beberapa waktu yang lalu Vani terlihat sangat marah dan menentang hal itu. Tetapi perlahan hatinya mulai melunak, setelah melihat sikap Bonar yang berunah lebih baik dan perhatian sama anak, ibu mertuanya, bahkan sudah mau perduli juga sama Nur.


“Bapak sama mama kenapa?” Tanya Jonas, ia bigung saat mama dan bapa saling berpelukan.


“Kita akan pesta Bang,” balas Bonar mengacak -acak rambut Jonas.


“Pesta apa, siapa yang mau menikah?”


“Mama sama Bapak mau menikah,” balas Bonar tertawa bahagia.


“Kan, mama sama bapak  sudah menikah, kok menikah lagi … aku lihat foto pernikahan mama sama bapak disimpan oppung di dalam lemari.”


“Waktu itu mama sama Bapak itu hanya diberkati, belum ada pesta adat. Nah, sekarang akan kita laksanakan,” ujar Vani tersenyum kecil.

__ADS_1


“Oh, jadi, nanti mama sama bapak  menikah lagi?”


“Menikah tidak lagi Nak, hanya resepsi dan pesta adat saja.”


“Apa aku bisa duduk di depan juga nanti?”  Jonas semakin bersemangat.


“Bisa dong, ini pesta kita bertiga, jadi nanti kamu sama bapak pakai jas yang senada dan kamu  juga duduk di samiping  kami,”ujar Bonar, bocah laki-laki itu lansung bersemangat .


“Ayo Bang kita pulang badanku sudah lepek dari  tadi,” ujar Vani.


Bonar menjalankan mobil itu kembali, wajahnya  masih memancarkan kebahagian, wajah Bonar bahagia. Karena dalam kelurganya ia anak laki-laki satu-satunya  pembawa marga dalam keluarga , diadakan pesta adat  yang mewah hal yang sangat wajar, karier juga sudah mapan,  dapat istri yang cantik dan putranya tampan.


“Mama pasti senang bangat  mendengar ini, Dek,” ujar Bonar.


“Aku ingin melakukan ini karena  inang juga.” Vani melirik Bonar.


“Tidak apa-apa, apapun alasannya yang penting kamu mau, Dek.”


“Mama sama Bapak, kenapa panggil Bang … sama Dek, sih,” cletuk Jonas, “ kan,  kalian sudah menikah. Bukan pacaran lagi … panggil mama sama papa lah,” ujarnya mengajari ke dua orang tuanya.


“Haa, haa.” Bonar tertawa ngakak.


“Lidah Mama sudah terbiasa.”


“Tapi Ma, aku mau punya adek dong, kayak Adelio bentar lagi punya dedek bayi lagi, nantulang itu,  kan lagi hamil.”


Bonar menahan tawa, mendengar permintaan putranya sementara Vani gugup.


“Ya, nanti kalau mama tidak sibuk lagi, kita bikin dedek.” Vani melirik Bonar.


“Oh, benarkah … tapi  mama kan selalu sibuk terus, kapan tidak sibuk, ya, kan Pa?” Jonas menyentuh pundak bapa nya .


“Ya, mama super sibuk Bang, nantilah kalau mama sudah siap, kita tidak boleh paksa mama,” ujar Bonar.


“Tapi, aku ingin bangat punya adik, apa lagi kalau adik perempuan,” ujar Jonas.


Vani langsung diam,  hatinya sangat tersentuh mendengar permintaan Jonas, baru kali ini anak itu meminta hal itu dari Vani, selama ini ia tidak pernah meminta apapun dari mama dan bapa nya, ia anak yang pengertian. Namun, kali ini permintaan Jonas membuat Vani menata kembali hatinya untuk melahirkan adik untuk Jonas.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2