Identitas Tersembunyi Sang Menantu

Identitas Tersembunyi Sang Menantu
Vani Mengalami Gangguan Kecemasan


__ADS_3

Satu malam Vani tidak bisa sedikitpun memejamkan mata, ia menjadi orang yang sangat parno, saat ada suara jatuh atau suara motor bising ia akan kaget juga.


Saat pagi tiba, ia bangun dengan kepala terasa sangat berat karena kurang tidur.


Masuk ke kamar mandi, baru juga ia melepaskan pakaian bersiap untuk mandi, suara barang jatuh dari dapur membuat melakukan hal bodoh , Vani bertindak spontan, melilitkan handuk di dada dan berlari turun membawa penyikat kloset sebagai alat pemukul.


Vani berlari ke dapur.


“Mana , mana maling?”


Toeeeng …. krik … krik …


Semua orang lagi duduk di meja makan, menoleh ke arah Vani yang datang pakai handuk, menenteng sikat kamar mandi, Nur tertawa cekikikan melihat Vani .


"Ea mau gak pakai aju"


(Eda malu gak pakai baju, "ujar Nur tertawa.


“Mama mau ngapain …?” Mulut Jonas menganga dengan mata menatap bingung kelakuan sang mama.


“Tadi mama dengar suara jatuh, mama pikir ada maling lagi”


" Maaf Bu kucing naik ke atas lemari, jauhin barang,"jawab Rati.


“Ini sudah pagi Ma, tidak ada maling jam segini”


Bonar tertawa melihat  sang istri menenteng sikap kloset, matanya menyelidiki, tubuh Vani menatap kaki putih mulus dan berakhir di dada “sana lanjutkan lagi mandinya,  baru serapan,” ujar Bu Lisda.


“Ya Ma”


Vani kembali ke kamarnya dan  meyelesaikan mandi pagi, turun ke bawah, sementara Jonas sudah rapi siap berangkat ke sekolah.


“Biar Mama yang antar ke sekolah”


“Kan, ada mobil jemputan Ma”


“Tidak, mulai saat ini mama yang akan antar sama jemput kamu”


Jonas hanya diam, ia mencoba menyelidiki hal yang aneh dari mamanya, karena biasanya Jonas dijemput dan diantar pakai mobil sekolah.


“Mama sakit? Wajah mama pucat”


“Mama hanya kurang tidur saja, ayo”


Melihat Vani yang ketakutan seperti itu, Bonar   menghampiri Vani.



“Tenanglah Van, jangan bikin dia jadi bingung seperti itu”


“Aku tidak tenang, aku melihatnya selamat sampai di sekolah, tapi bagaiman kalau orang jahat itu membawanya dari sekolah. Astaga.” Ia  menutup wajah pakai tangan.


“Ayo kita antar dia ke sekolah, "ucap Bonar


“Kamu ikut, tapi kamu kan ada rapat pagi ini di kantor?”


“Ya, melihatmu bertingkah aneh mulai tapi pagi, kami semua jadi khawatir denganmu”

__ADS_1


“Jujur, aku takut”


“Maka itu, ayo kita antar bersama dan kita titip sama penjaga sekolah dan guru wali kelas Jonas”


“Baiklah.” Vani meraih dompet dan berjalan menuju mobil.


“Tapi kamu belum serapan Nang.” Bu Lisa mengingatkan.


“Nanti saja Ma,  pulang antar Jo, ke sekolah”


Bonar menyetir mobil menuju sekolah Jonas, baru juga seperempat jalan Vani sudah tertidur pulas,  apa yang terjadi sampai ke bawa mimpi.


‘Aku yang melahirkan dan menjaganya dari kecil, anakku mau  diambil, aku tidak akan rela, tidak akan aku biarkan!’ teriak Vani dalam mimpinya, ia terbangun dengan napas ngos-ngosan


“Jonas mana … kemana dia,” ucapnya seperti orang linglung.


“Aku di sini Ma, mama kenapa?”


“Ya, ampun kamu ada di situ, mama mimpi buruk saja, tidak apa-apa,” ujar Vani, ia malu dengan sikap yang aneh.


Tiba di sekolah Vani mengantar Jonas sampai ke kelas, padahal orang tua  tidak diperbolehkan mengantar anak melewati gerbang, karena Bonar menejelaskan barulah guru di sana mengijinkan Vani masuk.


“Ma, sudah. Mama pulang saja, aku malu lihatin mereka semua,” ujar Jonas melihat teman-temannya.


Melihat wajah Jonas yang ingin menangis, Vani menarik napas dari hidung lalu mengeluarkan dari mulut barulah ia tenang.


“Baiklah, Mama pulang ya Nak. Belajarlah yang giat”


“Baik ma”


Vani turun , berjalan menuju mobil, lelaki bertubuh tinggi itu hanya  berdiri diam menatap Vani yang berjalan ke arahnya.


“Aku tidak sakit,” bantah Vani dengan wajah datar


“Kamu ketakutan berlebihan Elisabet”


“Itu wajar Bang, selama ini hidup kami baik-baik saja, tapi saat datang ke rumah daddy dan setelah tahu kalau kita sudah menikah semuanya jadi berubah”


“Kamu menyesal?”


“Ya, aku menyesal. Harusnya kami tetap bersembunyi dan tidak ada yang tau”


“Vani, kamu tidak bisa selamanya bersembunyi, suatu saat juga pasti akan ketahuan. Begini saja, aku sudah ijin tidak masuk kantor hari ini, kita ke kantor polisi, kita buat laporan biar polisi yang  bekerja”


“Baiklah”


Bonar menyetir meninggalkan gedung sekolah, tetapi ia mengarahkan mobilnya ke  sebuah cafe.


“Kok kita ke sini?”


“Untuk bekerja keras dan berpikir keras, butuh serapan, biar dapat hasil yang maksimal”


‘Tumben otak orang ini berpikir normal, biasnya aku bilang A dia bilang B, kenapa tidak dari dulu aja sih kamu waras Bang’ucap Vani dalam hati.


“Kok diam ayo! Kamu harus serapan”


“Baiklah”

__ADS_1


Vani setuju, beberapa hari belakangan ini mereka berdua tampak akur, tidak ada perdebatan dan perbedaan pendapat seperti biasanya, Vani berpikir kalau suaminya tersebut lebih bersikap dewasa dan mau mengalah.


“Mau makan apa?”


“Apa saja,” jawab Vani, matanya sibuk ke layar ponsel, ia mengabari Jonathan kalau mereka akan membuat laporan ke polisi.


“Aku pesan gado-gado saja ya?”


“Baik”


Pesanan gado-gado datang dengan porsi jumbo,  karena porsinya besar jadi mereka berdua makan  satu piring,


“Aku sudah kabarin ito Jonathan, kalau kita mau buat laporan ke polisi”


“Ya, bagus, lae ito banyak kenalan polisi, kalau gak salah laenya juga ada polisi”


Saat lagi makan , terjadi hal yang tidak mengenakkan, mantan kekasih Bonar datang  bersama teman-temannya.


“OH …!  Jadi Abang sudah dapat wanita baru lagi?”


Wajah Bonar langsung merah bagai udang rebus, ia malu melihat Vani.


“Nara, kamu di sini”


“Ya, abang kaget ya, malu kepergok sama aku, kamu malu sama pacar barumu”


Vani bersikap santai dia menyantap gado-gado itu dengan tenang , tadinya ia ingin membiarkan Bonar menyelesaikannya. Namun, saat ia menoleh ke arah lain, ia melihat Andre.



‘Oh, aku mengerti, ini pasti ulah Andre”


Vani berdiri ia menggenggam telapak tangan Bonar, maaf ya mba, kalau suami saya suka mempermainkan perempuan , dia memang nakal suka mainin perasaan wanita,” ujar Vani memukul bagian belakang Bonar. Mata Bonar melotot kaget.


“A-apa? Suami?”


“Ya dia suami saya”


“Kakak sudah tau kalau dia main perempuan?”


“Ya, dia suka cerita”


“Lalu kakak gak marah?”


“Biarkan sajalah, ntar kalau sudah bosan main-main dia pasti pulang sendiri, sudah ya kami pulang  dulu” Vani  berjalan sembari memeluk lengan suaminya dengan erat.


Nara dan ketiga temannya langsung melonggo.


“Anjiir … baru kali ini gue dengar wanita ngomong begitu,” ujar teman Nara, wanita  berrambut panjang itu langsung kena mental, bukan hanya wanita itu yang melonggo, Andre yang duduk  di pojok cafe ikut ikut terkejut melihat perlakuan Vani.



Tiba di mobil Vani tertawa  ngakak, ia memegang perut, sementara Bonar diam, ia merasa sangat malu.


‘Baru juga hubungan kami mulai sedikit berjalan mulus, ada saja ganguan’ucap Bonar kesal.


Bersambung

__ADS_1


Jangan lupa tekan tanda ❤️, like, komen kasih hadiah juga ya kakak, biar authornya semakin semangat untuk update tiap hari.


Terimakasih


__ADS_2