Identitas Tersembunyi Sang Menantu

Identitas Tersembunyi Sang Menantu
Terluka


__ADS_3

Vani  duduk  di cafe bersama William menikmati nasi goreng, setelah mereka melakukan banyak pekerjaan  hari itu, saat orang lain  berlibur bersama keluarga, Vani justru bekerja dari tempat satu  ke tempat yang lain.


Tidak ingin orang  berpikir yang lain-lain padanya, Vani meminta William membawa kekasihnya bersama mereka.


“Van,  lu khawatir kalau misalkan Andre bertindak lebih jauh lagi?’


“Tidak sih … tapi, adalah sedikit, mendengar cerita lu dan mendengar cerita, ada sedikit rasa khawatir.”


“Kenapa Kakak tidak kembali berbaikan sama bang Bonar,” ujar Intan kekasih William.


“Entahlah Tan, mungkin terlalu lama   menunggu, hatiku  masih berat …”


“Aku ngerti Kak, setidaknya lakukan demi anak kakak, tidak mudah memberi hati pada lelaki yang seperti itu,” ujar Intan.


“Ya Van, hanya dengan itulah, lu bisa melawan Andre,” ujar William.


Mendengar banyak  nasihat kanan -kiri, otak Vani jadi semakin panas, hatinya masih sakit dengan apa yang di lakukan Bonar di masa lalu, bahkan ia masih sering berpikir kalau Bonar  belum sepenuhnya  mencintainya, dan ia juga tidak terlalu berharap, tetapi ia tidak mau kalau kehidupan putra semata wayangnya terusik.


“Besok  saja kita lanjut lagi, otakku sakit,” ujar Vani memasukkan laptopnya .


“Kami  masih di sini, lu pulang duluan saja”


Vani melirik arloji kecil yang melingkar di pergelangan tangannya, “ oke, gue duluan sudah jam sembilan”


Vani selalu mengabari  ibu mertuanya setiap kali ia pulang malam, jadi Bu Lisda  tidak mencari cari nya,  ibu mertuanya juga sebaliknya selalu minta Rati menelepon Vani kalau  ia pulang malam.


Baru juga ia ingin pulang Bonar sudah menelepon.


“Ya Bang”


“Kamu di mana?” tanya Bonar di ujung telepon.


“Ini mau pulang, sudah ya, aku mau nyetir”


Vani menyetir pulang ke rumah, apes ia alami malam itu, saat keluar dari cafe William , ban mobilnya bocor, saat ingin menelepon William , ponsel miliknya kehabisan daya. Tepaksa ia ganti sendiri, untung pecah bannya di tempat yang ramai, ada yang nolongin kalau saja di tempat gelap, ia takut ada orang jahat.


Vani bermandikan keringat, tubuhnya rasanya sangat capek, lelah pikiran lelah  tubuh membuatnya ingin tepar. Sampai di rumah ia berjalan.


“Ma nanti_”


“Besok saja ya Bang, mama capek bangat,”potong Vani menghentikan Jonas.


“Apa mama terluka ko tangannya di pegang”


“Ban  mobil mama pecah, mama ganti sendiri, tapi keseleo”


Melihat Vani seperti itu, Bonar tidak  berani  bertanya .


‘Baiklah mungkin besok saja’

__ADS_1


Melihat Vani kecapean seperti itu,  bu Lisda meminta Rati menyeduh teh lemon hangat untuk Vani.


“Apa mama tidak makan  lagi Jo?”


“Biasanya  kalau pulang selarut ini, mama sudah makan di luar”


“Apa mama pulang selarut ini, tiap malam?”


“Ya, aku kasihan sama mama , dia kerja keras  selama ini,” ujar Jonas, ia merebahkan tubuhnya di ranjang setelah selesai belajar.


 Saat semua penghuni rumah sudah tidur, Bonar tidak, ia tidak bisa tidur, pikirannya tidak tenang, apa yang dikatakan mamanya ternyata kenyataan, siang tadi saat Jonas dan Bonar naik motor keliling komplek, Bonar melihat dua orang mengambil gambar rumah Vani.


‘Aku yakin ini ulah Andre, apa yang di inginkan keparat itu, dia mungkin ayah biologisnya, tapi aku dan Vani tidak akan membiarkan dia mendekati Jonas’ Bonar menatap wajah Jonas yang sedang terlelap tidur, melihat bagaimana Bu Lisda dan Nur sangat menyayangi Jonas. Ia sangat menyesal mengabaikan mereka dulu.


“Maaf aku tidak ada saat kamu membutuhkan sosok bapak saat di kampung, aku tahu … kamu pasti mengalami masa yang sulit saat kalian  tinggal di kampung, karena aku sudah terlebih dulu mengalaminya,” ucap Bonar


Mengusap kepala Jonas.


Karena Bonar tidak bisa tidur, ia keluar dan duduk di taman di halaman depan,  setelah membakar tiga batang rokok, ia ingin  berdiri, tetapi tiba-tiba mendengar seseorang ingin membuka  gembok  gerbang,


“Keparat, siapapun kamu aku akan menghabisi mu,”ujar Bonar dengan langkah hati-hati, ia mengambil balok  dekat pot saat seseorang  memasukkan tangannya ke dalam pagar dan mulai  ingin merusak gembok..


Bonar memukul tangannya menggunakan satu tangan dan satu tangan lagi mencoba menahan dan menarik tangan penjahat, dengan kuat, ternyata temannya satu lagi melukai tangan Bonar.


“Auhhh!’


Kedua penjahat itu melarikan diri, Vani, Rati, Bu Lisda berlari ke  gerbang, melihat Bonar yang meringis kesakitan memegang tangan yang sudah berlumuran cairan warna merah.


“Apa yang terjadi?” Tanya Rati mendekat, tiba-tiba matanya terbelalak melihat tangan Bonar yang terluka.


“Bu! BU, Bapak terluka!” teriaknya panik. Vani berlari dengan panik,


“A-apa yang terjadi. Darah? Rati ambil kain!” Vani membungkus tangan Bonar dengan kain.


Wajahnya panik melihat Bonar terluka,” kita ke rumah sakit, ambilkan kunci mobi!”


“Vani,  Vani tenanglah”


“Bagaimana mau tenang kalau kamu terluka”


“Takutnya kalau kita keluar, mereka ada di sana, karena aku memukul tangan salah satu dari mereka , mungin sampai patah  kali”


“Siapa yang melakukanya?” Bu Lisda ikut keluar.


“Ma, masuklah, aku hanya terluka kecil,” ujar Bonar, ia semakin menutupi tangannya dengan kain tersebut, tidak ingin mamanya  shock  karena melihat cairan merah itu


“Apa yang terjadi memang?’


“Tadi ada perampok”

__ADS_1


“Ya ampun perampok.” Ia menutup  mulutnya karena  ikut panik.


Karena Bonar  menolak di bawa  ke rumah sakit, Vani akhirnya mengobati di rumah.


“Bagaimana bapak tau ada perampok, apa mereka sudah sempat masuk?” Rati jadi  takut tidur di kamarnya


“Aku tidak bisa tidur, aku duduk merokok di depan, tiba-tiba , ada suara  kasak-kusuk kayak orang  mau buka gerbang, saat  dia memasukkan tangannya  ke dalam gerbang mau merusak kunci, aku memukul tangannya pakai balok dan satu tanganku  mencoba menahan, salah satu dari mereka melukai tanganku,”ujar Bonar.


“Untung bapak masih bangun kalau saja, kita tidak  yang melihat entah apa jadinya,” ujar  Rati bergelidik.


“Sudah ibu ama mba, tidur saja. Biar Vani yang mengobati ini”


“Baiklah, kedua wanita itu masuk ke kamar mereka masing-masing”


Wajah Vani masih terlihat panik, bagaimana tidak, penjahat mengincar rumahnya.


“Besok kita lapor polisi jangan takut” ucap Bonar menenangkan Vani.


“Apa yang mereka inginkan, siapa yang menyuruh melakukan itu, apa wanita penyihir itu ?”


“Aku tidak tahu Vani, besok kita akan pergi lapor polisi.


Bersambung


KAKAK  JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA.


Bantu share ya Kakak.


Fb Pribadi: bnbbBetaria sona Nainggolan


FB Menulis; Nata


Ig. Sonat.ha


LIKE,  VOTE DAN KASIH  HADIAH


Baca juga  karyaku yang lain


-Aresya(TAMAT)


-Manusia Titisan Dewa(TERBARU)


-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)


-Menikah dengan Brondong (Tamat)


-Menjadi tawanan bos  Mafia (TAMAT)


Bintang kecil untuk Faila (tamat)

__ADS_1


__ADS_2