
“Kami baik-baik saja … orang tua itu terkadang saling diam, itu hal yang biasa,” ujar Vani, ia menjelaskan secara sederhana pada Jonas, tetapi anak genius itu bahkan memiliki pola pikir layaknya orang dewasa.
“Kalau bapak sama mama itu baik-baik saja, harusnya kalian tinggal satu kamar,” ujar Jonas.
‘Astaga ini anak pemikirannya luas bangat sih’ ujar Bonar, tetapi ia tidak membantah atupun membantu Vani, ia mendukung Jonas.
“Mama … nanti akan tidur sama bapak, kalau mama tidak ngorok lagi saat tidur, aku takut bapak jadi takut nanti.” Vani membuat alasan lagi.
“Tidak apa apa, bapak juga ngorok kalau tidur, kita ini keluarga tukang ngorok.”
“Tapi suara ngorok kamu lebih keras Jon dari papa,” ujar Bonar, kini mereka berdua kompak menyerang Vani.
“Nantilah kita bicarakan, sana kamu berangkat sekolah,” pinta Vani.
Anak lelaki itu turun setelah menyalim tangan Bonar dan Vani, kini tinggal mereka berdua dalam mobil, mendengar omongan putranya Vani jadi sakit kepala, ia paling tidak bisa menolak permintaan Jonas
Dalam mobil mereka kembali diam, bagi Bonar apa yang ia minta pada Vani hanya masalah kecil dan itu hak Bonar, tapi bagi wanita cerdas seperti Vani hubungan seperti itu haruslah didasari dengan cinta, bukan semata karena kewajiban.
Saat Vani diam Bonar juga diam, mereka sama-sama menahan diri untuk tidak membahas lebih dalam lagi. Karena dari dulu itu mereka selalu salah paham karena itu.
“Aku di sini saja, aku bertemu William,” ujar Vani.
“Baiklah. Oh ya Van … mungkin aku pulang malam.“
“Baiklah.” Bonar berkendara menuju kantor sementara Vani masuk ke cafe William duduk di salah satu meja.
“Kok lu ke sini bukannya langsung ke kantor, ni gue mau jalan ke kantor.”
“Bikinin gue kopi hitam tanpa gula.”
“Astaga,,, Lu kesambet apaan, tumben-tumbennya pesan kopi hitam tanpa gula.”
“Bikinlah gak usah protes kepala gue uda mau meledak.”
“Ok, ok,” William menurut, ia memanggil karyawan untuk bikin kopi untuk Vani.
“Ya Pak.”
“Tolong bikinin kopi hitam tanpa gula … eh gulanya kasih sedikit.”
Lelaki yang bekerja sebagai barista itu, meninggalkan meja .
“Ada apa, ada masalah dengan suami lu lagi?”
“Ya.”
__ADS_1
“Kenapa lagi? Dia mengajak bikin anak lagi?”
“Dan apesnya anak gue mendukung Bonar.”
“Ya ampun Van, kenapa sih kalian tidak melakukannya saja, enak-enak masa gak mau, sudah halal lagi, kecuali kalian masih pacaran atau sudah pisah, wajar dia minta itu dari kamu … daripada dia minta sama wanita lain." William membela Bonar.
“Itu lebih baik Will,” jawab Vani santai.
“Loh … kok lebih baik?”
“Gini … kalau kamu mendekati seorang wanita atau menikahi pasanganmu hanya untuk itu, lebih baik kamu pakai wanita bayaran, tidak perlu memikirkan masa depan anak dan memikirkan rumah tangga.”
“Kenapa sih lu susah untuk melakukan itu, kamu trauma di tinggalkan?”
“Trauma mungkin tidak, hanya belum yakin saja, kalau ingin rumah tangga kita berjalan baik, buktikan dong bukan hanya sekedar kata-kata tapi buktikan dengan kesetiaan. Begini, ada satu hal yang tidak aku suka daru bang Bonar … kalau kita misalkan jalan ke mall atau kemana berdua tiba-tiba ada cewek cantik lewat dia langsung ngelirik dan langsung ngeliatin begitu, mungkin kedengarannya sepele atau kekanak- kanakan sifat gue … tapi hal seperti itu bisa buat gue ilfeel gitu. Padahal gue lebih cantik dari wanita itu, hanya dia berpakaian terbuka aja. Dengan dia melihat wanita seperti itu, jadi gue berpikir ulang lagi."
“Gue ngerti maksud lu Van, tapi semua laki-laki yang normal seperti itu. Melihat bukan berarti suka atau pengen hanya itu tindakan respek saja,” ujar Will.
Vani belum bisa dengan mudah menerima Bonar, itu hal yang wajar, ia punya masa lalu yang pahit . Hamil dan ditinggalkan kekasih, jadi hal yang lumrah jika dia masih ingin melihat sejauh mana Bonar tulus padanya. Tetapi ada banyak hal yang membuat Vani ragu dengan sikap Bonar, ia berpikir suaminya tersebut lelaki yang tidak setia sama seperti Andre.
“Van cobalah dulu,” ujar William.
“Gila lu hidup gue bukan coba-coba, kalau misalkan gue tidur sama Bonar gue hamil, lalu dia ninggalin gue lagi. Apa gak ngenes hidup gue.”
”Terus lu mau bagaimana?”
“Gila Lu, siapa yang mau … lelaki mana mau tidak aktivitas ranjang dalam pernikahan?”
“Bukan tidak ada, tapi jangan paksa gue gitu loh … nanti jika gue lihat dia baik jadi suami setia, gue pasti akan kasih sendiri, tapi jangan dikit-dikit ayo tidur di hotel, kesannya gue kayak murahan,” ujar Vani.
“Gue ngerti perasaan lu, trauma masa lalu pasti adalah, lu takut kayak begitu lagi kan …”
“Gini Will … dia sudah melakukan kesalahan besar di masa lalu, dia meninggalkan kami di kampung, gue memaafkan dia, menerima dia, ingin memberi kesempatan untuk memperbaiki kesalahan,"ujar Vani.
Apa yang dilakukan Bonar malam itu, ternyata membuat Vani masih kesal, menganggap lelaki itu hanya menginginkan tubuhnya. Tetapi Mendengar putranya meminta mereka tidur di kamar yang sama Vani jadi pusing.
*
Di sisi lain Bonar kurang fokus dalam bekerja, ia banyak melamun.
‘Apa aku cari rumah baru lain saja?’
Saat sedang melamun Daren datang.
“Apa terjadi sesuatu kayak suasana hatinya tidak baik.”
__ADS_1
“Tidak ada, ada apa Lae?”
“Jangan panggil aku Lae, aku atasan mu ,” ujar Daren menahan tawa.
‘ngeselin bangat ni anak kecil’ Bonar mendumal dalam hati.
“Ya Pak Daren ada apa?”
“Bagaimana caranya untuk menenangkan hati kakakku? maksudku kamu kan suaminya, pasti tahu gimana biar dia mau memaafkan aku dan gak marah lagi.”
“Kalau aku tahu, aku sudah lakukan dari kemarin Pak Daren.”
Tiba-tiba Daren tertawa ia menyadari kalau Bonar juga sedang berjuang untuk memperbaiki hubungan dengan Vani.
“Apa Pak Bonar juga lagi marahan sama Kak Vani?”
“Ya, dia marah besar padaku, nanti kalau aku tahu caranya kan aku kabarin,” ujar Bonar, ia mejit keningnya yang terasa berdenyut.
“Baiklah, nanti pulang kantor boleh aku bertemu keponakanku lagi?”
"Boleh nanti kita pulang bersama.” Daren tersenyum senang
Hubungan keduanya semakin baik, Daren dan Sudung perlahan-lahan sudah mulai menerima Bonar sebagai menantu dan bapa untuk cucunya Jonas.
Ting ...
Saat Daren keluar, sebuah notip pesan masuk.
“Winda ..?”
[Aku akan ke kantor polisi, menemui Andre] isi pesan Winda
[Kamu akan melakukan apa?]
[Akan aku pastikan dia tidak menuntut hak asuh anakmu]
{Baiklah terimakasih] balas Bonar senang karena akhirnya wanita itu, mau membantu.
[Tapi , nanti kalau sudah selesai dengan pekerjaanku, aku ingin kamu mengenalkan sepupumu yang di Paris]
[Baiklah] balas Bonar.
Winda menepati janjinya, ia pergi menemui Andre, ia akan memberi Andre kejutan.
Bersambung
__ADS_1
Bantu like,vote kasih 💐 dan ☕ author juga ya, biar tambah semangat ✍️ Terimakasih