Identitas Tersembunyi Sang Menantu

Identitas Tersembunyi Sang Menantu
Ternyata Menantuku seorang Miliader


__ADS_3

Keluarga Hanya Ingin Numpang Nama


Setelah semua masalah yang terjadi yang sudah mereka lewati, hubungan antara  Vani dan bapa sudah membaik, tidak ada lagi dendam di hati Vani, walau  hatinya sedikit belum tenang karena Rosa dan Andre masih menghilang entah kemana. Hanya Iyos yang masuk ke hotel prodeo, masa kejayaan lelaki jahat itu sudah berakhir.


‘Sudah jatuh tertimpa tangga pula’ ungkapan itu sangat cocok dengan Iyos, saat ia terpuruk  jatuh  miskin dan mendekam  di penjara ternyata,  pengacara istrinya  memaksanya untuk berpisah.


Ia tidak punya siapa- siapa lagi,  istri yang dulu sangat mencintai dan berjuang bersamanya akhirnya dengan yakin meninggalkannya, bahkan anak yang ia bela mati-matian di penjara juga meninggalkannya, terpuruk, putus asa, itulah yang dialami  Iyos saat punya banyak harta dan uang semua orang berlomba ingin dekat padanya, di saat ia terpuruk, tidak ada satupun keluarga yang datang menjenguknya dan begitulah cara dunia ini bekerja, ada uang kamu teman tidak ada uang  kamu bukan siapa- siapa.


Beberapa hari kemudian.


Selama ini Bu Lisda tidak tahu kalau menantunya seorang wanita sukses yang punya perusahaan dan keluarganya orang kaya, ia hanya tahu kalau Vani membuka toko pakaian di mall.


Setelah diceritakan semuanya pada Bu Lisda, akhirnya wanita tahu  siapa sebenarnya Vani,  akhirnya ia tahu kalau  menantu kesayangannya bukanlah yatim piatu dan bukan orang miskin,  identitas sang menantunya akhirnya terungkap, kalau perusahaan yang dipimpin putranya sebenarnya,  milik keluarga menantunya.


Saat diajak ke rumah bapa Vani awalnya Bu Lisda tidak tahu kalau rumah itu, rumah keluarga Vani, setelah di ceritakan barulah tahu kalau sang menantu ternyata dari keluarga berada.


“Jadi mama mau ingin apa katakan saja sama parumaenmu ini,” ucap Vani tersenyum


(Parumaen> menantu perempuan)


“Jadi selama ini Bapak ternyata masih hidup, kenapa kamu bilang samaku kalau bapa sama mama sudah meninggal?’ tanya Bu Lisda.


“Karena saat itu aku sangat membenci  Bapak, karena aku punya mama tiri, tapi sekarang  kebenaran terungkap, mama tiriku terlibat dalam kematian mama.”


Bu Lisda memeluk Vani, memberinya kekuatan dan banyak nasihat untuk belajar ikhlas dan memaafkan agar hidup lebih tenang, Bu Lisda akhirnya paham, kenapa dulu menantunya tidak bisa kerja apa- apa saat di kampung,  tidak tahu caranya melakukan pekerjaan rumah.


“Sekarang aku mengerti, kenapa dulu kamu tidak bisa melakukan pekerjaan  di rumah saat baru-baru datang, bukannya kamu tidak mau  … itu,  karena kamu tidak pernah kerja.”


“Ya Ma, aku tidak bisa apa-apa karena terbiasa di layani sama mbak di rumah, untungnya mama tidak  mau marah padaku, kalau mama marah, aku pasti sudah kabur dari sana,” uap Vani mengenang masa lalu dengan ibu mertua kesayangannya.


Bonar, Vani, Bu Lisda, Jonas, Nur  duduk di atas rumput di depan rumah mereka,  menatap pantai Kapuk yang sejuk di sore hari,  suasana damai itu mengingatkan mereka akan Danau Toba yang sejuk.


“Pah, apa kamu tahu kalau mama ini, tidak pernah marah padaku saat di kampung pahal aku sangat menyebalkan dulu, kerjaannya hanya duduk tidur- tiduran dan makan.” Vani tertawa.

__ADS_1


“Itu karena kamu sedang hamil, mama tidak ingin terjadi hal buruk  padamu dan cucuku,,” ucap Bu Lisda mengusap kepala Jonas dengan penuh sayang.


“Kenapa saat itu mama tidak mau marah padaku, padahal sikapku saat itu sangat menyebalkan, kalau ibu yang lain kalau menantunya seperti itu,  pasti sudah diusir, tapi Mama selalu sabar melihatku, padahal aku tidak  mau mengerjakan apa-apa di rumah. Ceritakan dulu samaku Ma, nanti,  kalau aku sudah ada menantu,  aku juga akan baik seperti mama,” ucap Vani memeluk pundak ibu mertuanya.


“Kamu mengandung cucuku, masa aku marah- marah, aku tau bagaimana capeknya kalau lagi hamil,” ucap Bu Lisda.


Menyinggung masa lalu Bonar hanya diam, ia sadar  kalau ia  salah di masa lalu selalu malu setiap kali Vani dan mamanya membahas hal tersebut,  tidak berani  bicara ia hanya jadi pendengar yang baik, sesekali ia tersenyum saat Vani cerita hal-hal yang lucu.


“Keluarga kita sudah melewati banyak masalah, mama berharap tidak ada masalah lagi,” ucap Bu lisda.


“Ya aku berharap tidak ada lagi masalah,  kebahagian datang jangan masalah mulu yang datang capek juga,” ucap Vani.


Saat lagi duduk  bersantai dengan keluarganya ponsel Bonar berdering, saat ia melihat nama penelepon, wajahnya langsung muram.


“Hmm … baru juga dibilang jangan ada malasah, ini sudah  datang.” keluh Bonar  dengan wajah dingin.


“Siapa Pah?” Vani   menatap dengan serius.


“Angkat saja,” pintah Vani.


“Tidak usah diambil hati apapun yang dia katakan nanti Nak,” ujar Bu Lisda memberi nasihat.


Bonar mengangguk, menekan tanda panggil berwarna hijau tersebut, sebelum menjawab ia menaik napas panjang  dan menghembuskan dengan  pelan, lalu  ia menjawab dengan tenang.


“Halo, Uda.”


“Oh, ternyata kau angkatnya kali ini, biasa kau tidak mau menerima telepon kami.”


‘Kalau hanya untuk mencari masalah untuk apa diangkat’ ucap Bonar dalam hati.


“Kenapa Bapa uda?” Bapak satu anak itu,  berusaha untuk sabar dan tetap bersikap sopan.


“Kamu sudah melewati batas ya, aku masih hidup sebagai bapa udamu, tetapi kamu membeli orang lain  untuk jadi bapak kamu.”

__ADS_1


“Itu lebih baik bapa uda daripada  banyak masalah, kalau  ing uda dan Bou menganggap aku dan Nur keluarga, mereka tidak akan membuka aib keluarganya di media,  mereka tidak akan menjelekkan anak mereka sendiri. Kerena pemberitaan itu Jonas harus pindah sekolah,  menurut bapa uda aku salah, tidak?”


“Salah. Harusnya kamu datang ke rumah dan bicara sama kami, Nur bukan hanya keluargamu dia juga keluarga kami.”


“Maaf bapa uda, aku tidak bisa datang ke rumah dan tidak ada yang ingin aku katakan sama kalian.”


“Jadi maksudmu, kamu lebih baik memanggil orang lain datang ke acaramu dari pada keluargamu sendiri?” tanya lelaki yang berprofesi  sebagai pengacara itu dengan suara meninggi.


“Kalau itu yang membuat rumah tanggaku aman, aku akan melakukannya bapa uda.”


“Kamu sudah sombong sekarang ya, tidak perduli lagi sama keluarga,” ucap Simon di ujung telepon.


Bonar merasa sangat kesal mendengar ucapan bapa udanya tadinya dia ingin menghiraukan, tetapi ia tidak mau disalahkan.


“Baiklah begini saja bapa uda … kemarin  dari pihak Sinaga sudah datang ke rumah  Situmorang ke rumah Vani, kini giliran mereka yang datang ke rumah kita, kalau bapa uda memang benar-benar bapa udaku hari minggu kita adakan pertemuan keluarga di rumah bapa uda  bagaimana?”


“Ya pertemuan apa dulu?”


“Sekarang giliran Sinaga yang menjamu pihak Situmorang keluarga Vani, sebagai pengganti bapak sebagai bapakku di Jakarta ini, bapa udalah yang mengurusnya lakukan di rumah bapa udah.”


“Baiklah, mari kita lakukan di sini,” ucap lelaki itu dengan suara pelan, ia terjebak dalam jebakannya sendiri.


“Ya sudah uruslah semua ya bapa uda, acaranya hari minggu, keluarga mereka keluarga besar Pak Jonathan dan keluarganya juga datang dan Bu Farida, klien bapa uda itu, dia namboru Vani dia juga datang lakukan dengan baik ya bapa uda,” ucap Bonar menahan tawa, lalu ia menutup teleponnya.


“Pah … kenapa libatkan mereka lagi?’ tanya Vani.


“Tenang saja Dek, dia akan menolak, karena tidak mau, inang uda itu tidak akan mau melakukan hal seperti kalau tidak ada uang, kita diam saja dulu, paling mereka bertengkar karena bapa uda mau.”


“Istrinya itu pasti sudah merepet itu panjang lebar, bagus kau bilang begitu Nak, dia tadinya hanya ingin mencari alasan untuk menyalakan mu … malah dia terjebak dengan omongannya sendiri.” ucap Bu Lisda


Bersambung.


Bantu like vote, biar author semangat update tiap kakak . Kalau berkenan kasih 💐 dan ☕ juga boleh 😄

__ADS_1


__ADS_2