
"Membalas kejahatan dengan kejahatan, tidaklah baik, tetapi aku ingin bilang sama kalian semua, aku juga bisa melakukan hal yang membuat kalian terjatuh dan aku ingin kamu merasakannya Andre keparat, karena itu berhenti mengusik hidup anakku," ucap Vani.
Wanita kalau sedang marah, terkadang tidak berpikir panjang, sama halnya dengan Vani, saat kehidupan anaknya dan keluarganya diusik. Wanita cantik itu langsung bertindak nekad, membeli gedung restoran milik keluarga Andre .
Lalu ia memegang gagang telepon meminta Yeslin masuk ke ruangannya.
“Saya ingin membeli rumahnya sekalian.”
“Ibu yakin?” Yeslin menatap serius, ia berpikir kalau Vani wanita yang menakutkan kalau lagi marah.
“Yakin Bu Yeslin … apa kamu tidak pernah dengar, kalau tikus pun bisa berubah seperti seekor singa, jika ada yang mencoba menyakitiki anak- anaknya di depan matanya. Aku seperti itu, ini sudah kesekian kalinya mereka menyakitiku dan Jonas, apa aku harus diam?”
“Tapi Bu, beli gedung itu … tabungan ibu sudah terkuras, lalu bagaimana membeli rumahnya?”
“Jangan khawatir … aku menemukan brankas milik ibuku yang pernah di curi Rosa, aku akan menggunakan itu dan menjual tanah yang pernah dibeli orang tuaku.”
“Apa tidak sebaiknya kit memberitahukan pak Bonar?” Yelislin kembali mengingatkan Vani.
“Aku sudah terbiasa mengambil keputusan besa sendiri, jangan khawatir, nanti akan aku beritahu suami saya kalau dia sudah pulang ke Jakarta,” ujar Vani.
“Baiklah bagaimana carny kita membeli rumah itu?”
“Aku sudah mengaturnya, sebenarnya aku sudah pernah ingin melakukanya , saya menundanya, kali ini, aku akan menghancurkan hidup mereka semua sebagai mana mereka pernah melakukannya padaku.”
Karena kelakuan Andre dan ayahnya, Vani akhirnya melakukan hal yang licik, ia sengaja memaksa Yeslin untuk mendesak mereka agar keluar dari gedung yang ia beli, di saat terdesak seseorang menawarkan bagunan untuk restoran, melihat harganya lebih murah ia setuju, si penyewa meminta sewa bangunan selama sepuluh tahun, Iyos setuju, ia membayar dengan jumlah yang besar.
Saat besoknya mau pindahkan barang-barang ternyata yang punya gedung tidak pernah menyewakan gedung miliknya, mereka tertipu, orang yang menyewakan gedung pada mereka ternyata penyewa gedung juga. Karena terus di desak Yeslin untuk pindah besok harinya mereka mulai berbeda, membawa barang- barang restoran ke gedung yang sudah mereka bayar sewanya. Tiba di sana sudah di sambut wanita yang mengaku pemilik gedung.
“Bagaimana mungkin … kemarin anak ibu yang menawarkan pada kami,” ucap pengacara pegawai Iyos.
__ADS_1
“Maaf Pak, saya belum punya anak dan belum menikah, mungkin bapak tertipu,” ucap wanita .
“Lalu uang kami bagaimana , Bu.”
“Uang bapak kan tidak ada sama saya Pak, lelaki itu bukan suami saya, dia juga calon penyewa di sini, sama saya sudah di beri Dp makanya saya kasih kunci. Harusnya bapak tanya dengan jelas dong, jangan salahkan saya,” ujar pemilik gedung itu ikut marah.
“Ibu kerja sama dengan lelaki itu. Menipu kami, akan saya laporkan ibu ke polisi,” ancam sang pengacara yang ikut datang ke lokasi.
“Laporkan saja saya akan melaporkn balik sampeaan karena masuk ke bagunan saya tanpa izin,” balas wanita itu tidak takut.
“Lalu bagaimana? Kami sudah membawa barang - barang kami ke sini.”
“Ya Bapak bayarlah,” balas wanita itu lagi, lalu ia mengunci gedung itu lagi.
Padahal barang-barang restoran sudah diangkut dalam mobil besar totalnya ada dua mobil itu belum semuanya, mobil itu berhenti di depan gedung. Menyadari mereka tertipu mereka sangat takut., bawahannya melapor pada Iyos.
Sadar dirinya tertipu, Iyos menggila ia memecat pengacaranya dan bawahan yang menangani uang sewa bangunan tersebut.
“Bagaimana Pi barang -barang sudah di sana,” ujar Andre, keuangan mereka sudah menepis uang denda melepaskan Andre dari penjara sangat besar, kini mereka kena tipu dengan jumlah yang sangat besar juga.
“Telepon orang yang kemarin yang ingin membeli rumah kita.”
“Tapi Pi bagaimana kalau dia juga penipu”
“Biarkan saya yang bicara lngsung.”
Setelah sambungan teleponnya tersambung.
“Apa penawaran untuk rumah saya masih berlaku?” tanya Iyos.
“Sebentar ya Pak, saya tanya suami saya dulu kebetulan dia juga sedang bertemu dengan penjual tanah,” ujar wanita di ujung telepon. Tidak beraa lama teleponya beralih ke pria
__ADS_1
“Oh … sayang sekali Pak, barusan saya juga mendapat penawaran yang menarik, kalau bapak mau saya bisanya bayar.” Lelaki itu menawarkan harga jauh dibawah pasaran, padahal sebelumnya ia sudah menawar rumah Iyos bayar dua kali lipat, saat keadaan mendesak lelaki itu justru menawar dibawah harga pasaran, kedengarannya memang kejam.
“Anda gila! Waktu itu bapak menawar dua kali lipat, bagaimana kok jadi setengah harga,” ujar Iyos melonggo.
“Karena saya sudah dapat rumah yang tepat Pak Iyos, kalau bapak tidak mau tidak apa-apa, saya mau ambil ini saja,” ucap lelakinya lagi.
Tadinya ingin membeli rumah Andre, tetapi di tolak karena tidak niat untuk menjual saat itu.
“Tunggu … bapak tidak boleh seperti ini, setidaknya bapak membeli dengan harga normal,” ujar Iyos memelas.
“Kalau ada yang murah, kenapa membeli yang mahal, kalau bapak jadi saya kalau dananya untuk kebutuhan mendesak, saya akan ambil,” ucap lelaki itu di ujung telepon.
Saat keadaan mendesak, otak tidak akan bisa berpikir luas, ia akan mengambil putusan apa yang di lihat depan matanya.
“Baiklah, saya akan jual, kita akan bertemu.” ujar Iyos dengan suara lemah.
Mematikan sambungan telepon, Andre masih menatap papinya dengan sangat khawatir. “ Papi menjual murah?”
“Kita tidak punya pilihan, Andre.”
“Tapi papi belum bicara sama mami,” ujar Andre. Lelaki itu sangat khawatir saat ini orang tuanya dalam proses perceraian.
“Nanti papi akan bilang setelah dia pulang, saat ini waktunya sangat mendesak,” ujar Iyos, saat itu juga laki-laki yang akan membeli rumah tersebut datang ke kantornya dan menyerahkan uangnya secara tunai.
“Maaf saya tidak suka menunda-nunda pekerjaan, saya ingin prosesnya cepat makanya saya bawa tunai, ia meletakkan uang jumlah besar dalam koper, sengaja ia lakukan seperti itu agar Iyos tidak ada alasan menolak penjualan rumah miliknya, membawa uang secara langsung kehadapan penjual salah satu strategi, ketika melihat warna merah yang menyilaukan, otaknya hanya akan terfokus ke saraf mata dan tidak ada ruang memikirkan yang lain.
“Baiklah, saya setuju,” ujar Iyos matanya masih melirik deretan uang berwarna merah itu.
Akhirnya Iyos dan Andre masuk ke jebakannya Vani. Tidak membutuhkan waktu yang lama untuk Vani, untuk menjantuhkan Andre dan keluarganya, orang yang membeli rumah Andre suruhan Vani , bahkan orang yang menipu sewa bangunan itu orang suruhan Vani juga.
Bersambung
__ADS_1
Bantu, like,vote, like ya kak, kasih kopi dan bunga juga kalau berkenan, biar author semangat update tiap hari terimakasih