Identitas Tersembunyi Sang Menantu

Identitas Tersembunyi Sang Menantu
Balasan Untuk Keluarga Suami


__ADS_3

Apa yang dikatakan Bonar benar, bahkan sepupu Bonar masuk dalam berita, mereka sok tahu dan menyebutkan kalau Nur sakit  saat sekolah dan keterangan semua keluarganya sangat berbeda-beda. Bagaimana tidak berbeda? Karena mereka tidak pernah mengenal Nur jangankan mengenal … bertanya kabar tentang wanita itu saja mereka tidak pernah. Mengaku keluarga tetapi saat ditanya berapa umur Nur namborunya Bonar menjawab salah jangankan tahu umur, bagaimana wajahnya Nur mereka juga tidak pernah lihat sebelumnya. Mereka melihatnya saat ia sudah tampil di televisi.


Kini, keluarga yang tidak mereka anggap itu sudah  sukses,


 keluarga  mereka tidak perduli pada Nur. Vani pernah meminta izin sama keluarga,  ingin membawa Nur, tetapi mereka menolak dengan alasan tidak mau ada keributan dan malu sama tetangga.


Tetapi saat wanita itu terkenal dan di undang ke berbagai show dan podcast  artis,  mendadak mereka semua mengaku dekat dengan keluarga Bonar dan mengaku tahu bagaimana Nur bisa sampai seperti itu.


Tidak berapa kemudian, bapa udanya meminta Bonar datang membawa Nur, tentu saja Bonar menolak, mereka berpikir kalau Bonar sama seperti yang dulu-dulu yang selalu menurutti apapun yang mereka katakan. Mereka tidak tahu, ada wanita pintar di belakang Bonar yang siap membela sang suami.Bonar menolak datang, malah liburan ke Bali, keluarganya marah-marah dan memfitnah Bu Lisda dan Vani,  menyebut ke dua wanita hebat itu menjauhkan Nur dari mereka.



“Aku  senang Mama tidak punya ponsel dan tidak tahu tentang   media sosial,” ujar Vani.


“Kenapa?” Bonar menatap wajah sang istri.


“Dia akan tertawa terbahak- bahak melihat semua  keluargamu yang mengaku sangat dekat sama keluarga kita,” tutur Vani.


“Kamu benar, Ma”


Bonar dan Vani keluar dari kolam renang  dan duduk menikmati serapan, saat lagi duduk Rati menelepon.


“Rati menelepon, kenapa ya?” Vani mengusap tangan dan mengusap layar ponsel.


“Kenapa Ti?”


“Bu, ada tamu, katanya keluarga dari bapak, aku sudah bilang tidak ada orang di rumah, tapi ada ibu - ibunya marah- marah dan meneriakiku.”


“Gak usah buka, bilang  orangnya lagi liburan ke Bali, bilang  tunggu sampai orangnya datang.”

__ADS_1


“Baik Bu,” jawab  Rati.


“Kalau sopan datang tidak apa-apa, ngapain teriak- teriak di depan gerbang, memangnya kami punya hutang sama mereka,” ujar Vani kesal.


Rati dan Bony tidak membuka pintu karena mereka tidak di rumah, karena sedang di Bali,  namboru(bibi) dan mama Lina datang ke rumah dengan alasan ingin melihat Nur, tetapi mereka tidak mengabari terlebih dahulu,  Rati, tidak mau membuka pagar saat bibi Bonar berteriak memanggil Nur dan Bonar.


“Percaya gak Pah, kalau mereka akan menyebabkan pemberitaan buruk lagi nanti sama Nur,” ujar vani.


“Memang tujuan mereka seperti itu,  cari panggung dari media, ingin pansos, biarkan saja biar petugas komplek yang mengurus mereka,” ujar Bonar.


Tidak perduli dikatai sombong , Bonar menelepon bagian keamanan di perumahan itu, ia meminta tolong untuk mengusir namborunya yang teriak-teriak di depan pagar rumah Bonar, ia semakin bertingkah karena di sana ada beberapa media yang menyorot.


Bonar menelepon petugas kemanan.


“Tolong ya Pak, kebetulan kami tidak di rumah,” ujar Bonar.


“Baik pak.”


Bou bonar  memanggil. “Nur … ini Bou Nang! Waktu kecil saat di kampung dulu, bou yang sering menggendong kamu!” teriaknya tanpa malu, “ bukalah dulu pintunya, ini sudah ketiga kalinya kami datang ke sini selalu diabaikan, bou kangen sama kamu,’ ujarnya lagi.


Rati merekam dan mengirim ke Vani dan Bonar, mereka berdua tertawa ngakak.


“Ehe … akka sipalesem maho sude.”


(Eee … pura- pura lah kalian semua) ketus Bonar sangat geram.


Setelah  mendengar berita kalau  lukisan autentik  milik Nur terjual sampai lima ratus juta satu lukisan,  kuping  keluarga Bonar langsung    heboh,  mereka semua bergantian menelepon Bonar dan datang ke rumah bergantian, tentu saja Bonar sangat kesal, ia akhirnya  membawa keluarganya liburan ke Bali dan menghabiskan waktu di sana, hanya Bony dan Rati yang ada di rumah.


“Mereka baru mendengar harga satu lukisan saja sudah  heboh, belum mendengar jumlah  hasil penjualan keseluruhannya bisa syok mereka,” ujar Vani.

__ADS_1


“Aku tidak akan  bermurah hati dengan mereka Ma,  kalau sikap tamak dan aji mumpung itu masih melekat di otak mereka ,” ujar Bonar,



“Kali ini … aku setuju sama Papah, biarkan mereka gigit jari, tos dulu,’ ujar Vani.


Bonar membalas Tos istrinya lalu mereka berdua tertawa  bersama, “ biarkan  saja  mereka sampai ngiler,” balas Bonar.


Kali ini, mereka tinggal di Villa milik Jonathan sepupunya, tadinya Villa itu ingin di jual. Tapi semua keluarga menolak,  jadi Jonathan tidak menjualnya ia hanya menyewakannya. Nur, Jonas, bu Lisda lagi berenang di kolam renang di Villa  itu, sementara Bonar dan Vani menikmati serapan pagi, sembari melihat rekaman yang dikirim Rati. Namboru Bonar dan para wartawan di minta pergi sama petugas kemanan, karena dianggap menganggu, keamanan komplek.


“Ya  keluarga pak Bonar sedang tidak di rumah, rumah itu hanya dijaga asisten rumah tangganya , jadi silahkan tempat ini,’ ujar securiti.


“Ehe … alai dao - dao iba ro tuson, akka te mai.”


(Ee .. sudah jauh- jauh aku datang ke sini, dasar kotoran lah mereka itu) ujar namboru dan inang uda Bonar, mereka bersungut- sungut, lalu meninggalkan rumah itu dengan sia-sia.


Karena maraknya  berita miring tentang  keluarganya di tambah, ulah keluarganya yang menyudutkannya,  Bonar terpaksa menunda acara  pesta adat mereka, padahal persiapannya sudah delapan puluh persen.


“Pah … bagaimana kalau pesta di Jakarta kita batalkan saja, kita adakan di kampung saja, aku tidak  melihat keluargamu yang di Jakarta ini.”


“Kamu yakin Ma, aku dan  mama juga sempat berpikir seperti itu,” ucap  Bonar bersemangat.


“Lebih baik kita, bagi-bagi rezeki di kampung dari pada sama mereka, sekalian kita pulang kampung dan membangun rumah kita yang dikampung agar lebih bagus,” ujar Vani.


Tiba-tiba Bonar  bangun dari kursinya dan memeluk Vani dengan erat, “pemikiranmu sangat cerdas Ma, kamu  benar … lebih baik kita berbagi rezeki di kampung dan memperbaiki jalan  di sana, lebih bermanfaat,” ujar Bonar.


Melihat kelakuan keluarganya yang menjelek-jelekkan Vani dan mamanya Bonar membatalkan pesta adat mewah yang akan diakan di Jakarta, ia ingin melakukannya di kampung, dengan begitu dia yakin,  inang uda dan namborunya yang gila itu tidak akan mau mengeluarkan uang untuk ongkos pulang ke pestanya dan ia tidak akan mau memberi mereka ongkos, bagi Jonas lebih baik mereka tidak datang, toh juga di kampung halamannya banyak keluarga jauh yang akan membantu mengurus pestanya nanti.


Itulah balasan  manis yang di lakukan Bonar untuk ke keluarganya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2