
Bonar dan Winda masih di apartemen, wanita bertubuh seksi itu berpikir kalau lelaki sekelas bapak mertuanya bisa tergoda dengannya, ia berpikir menggoda Bonar hal yang mudah untuk. Namun saat ia melakukan aksinya, Bonar hanya menatapnya dengan tatapan acuh.
Winda sangat kesal saat Bonar melihatnya tanpa minat, ia menarik kursi dan mendekatkan ke depan Bonar.
“Apa kamu menganggapku sepele?”
“Bu Winda, saya tidak pernah merasa seperti itu, kamu yang memintaku datang ke sini, ya sudah saya datang, sekarang kenapa kamu yang marah-marah?”
“Kamu munafik pak Bonar, kamu yang bilang banyak pria yang tergila-gila padaku, lalu kenapa kamu tidak …?”
“Karena saya masih sadar… jika aku melakukan hal bodoh seperti yang kamu inginkan itu, itu sama saja aku melompat ke dalam jurang, istriku akan melemparku ke laut dan membuatku kehilangan segalanya, anak, istri dan karir. Itu alasannya sudah.”
“Ah … kamu munafik, kamu kan badboy.”
“Itu dulu Bu Winda.”
Merasa di tolak, Winda mulai kehilangan kepercayaan diri, pakaian yang tadi sempat ia lepaskan ia pungut dan ia tutupi bagian dadanya dengan kain tersebut.
“Berhenti menatapku seperti itu, itu tatapan merendahkan,” ujar Winda.
“Aku tidak merendahkan siapapun Bu Winda, kalau tidak ada yang ingin kau bicarakan aku pulang saja.”
“Tunggu, apa alasanmu menolak? Aku tidak kalah cantik dengan Vani.”
“Bagiku Vani lebih cantik Winda.”
“Apa karena dia istrimu? Kalau kalian misalkan belum menikah kamu pasti memilihku, kan?”
‘Tidak mungkin aku membuang berlian dan memilih imitasi’ ucap Bonar dalam hati.
Bonar diam, ia menekan alat komunikasi di kupingnya karena kesal.
“Bagaimana kalau kita bersenang-senang aja, aku tidak akan bilang sama Vani, tidak akan rugi kan … aku kesepian, Andre tidak pernah lagi menyentuhku, karena itu aku melakukannya dengan ayah mertua. Apa kamu mau membantuku?”
Ini satu ujian bagi Bonar, di satu sisi ia menginginkan kehangatan karena ia juga sudah lama tidak ganti oli, di sisi lain yang menawarkan kehangatan untuknya adik tirinya.
“Maaf Winda, aku tidak mau merusak kepercayaan Vani, sangat susah untuk menaklukkan hatinya, aku tidak ingin merusaknya,” ujar Bonar.
“Apa kamu tidak suka perempuan?” Winda meledek Bonar, karena marah ia juga mulai melakukan kata-kata penghinaan untuk memancing emosi Bonar.
Bonar marah bukan hanya pada Winda, ia juga marah sama Vani. Tadi Bonar sudah mengajak Vani untuk datang bersamanya untuk menemui Winda, Ternyata Vani menolak, ia memilih menunggu di mobil dengan William, mengawasi pertemuan Bonar dan Winda lewat alat komunikasi yang mereka pasang di pakaian Bonar. Mereka berdua tertawa saat Winda melepaskan pakaiannya dan menggoda Bonar.
“Jika kamu memintaku datang ke sini hanya ingin merayuku seperti itu, itu bung-buang waktuku saja Bu Winda.” Bonar berdiri.
__ADS_1
“Apa kamu tidak ingin tahu apa yang dikatakan Andre? Jika kamu pergi kamu akan menyesal.”
“Tidak usah, terimakasih.”
“Pak Bonar … aku tahu, Vani belum mencintaimu, aku bisa lihat dari tatapan matanya, dia tidak mencintaimu,” ujar Winda.
“Terserah, itu bukan urusanmu,” balas Bonar meninggalkan apartemen Winda.
Vani dan William saling melhat lalu mematikan alat komunikasi agar Bonar tidak mendengar.
“Apa benar kamu belum bisa menerima Bonar?” Tanya William.
“Cinta bisa datang dan pergi William, tergantung bagaimana kamu memperlakukan cinta itu seperti apa,” ujar Winda.
Tapi apapun yang dikatakan Winda ia menolak, ia memilih keluar dari dalam apartemen, ia tidak mau menuruti permintaan Winda meminta menemaninya minum-minum.
saat di mobil Vani dan William tertawa ngakak.
“Kenapa tidak menurutinya, lumayan gratis,” ujar William.
“Gak lah, dia memang wanita gila,” ujar Bonar.
Ternyata saat di telepon Winda meminta ingin bertemu. Ternyata Bonar mengamati Vani dan mengajak mereka menemaninya sekaligus mengawasi , takut Winda menelepon seseorang dan menjebaknya, jadi, Bonar datang ke tempat itu bersama William dan Vani. Apa yang dipikirkan sebelumnya benar, winda ingin mengerjainya.
“Tidak, dia tidak memberikan apa-apa.”
“Dia mau bertemu denganku hanya ingin mengerjai ku.”
Mereka pulang, Bonar menyetir mobil, tetapi wajahnya masih terlihat marah karena Winda mengerjainya.
Mereka pulang, William pulang ke cafe miliknya, sementara Bonar dan Vani pulang ke rumah.
“Kenapa jadi diam?” Tanya Vani, kini laki-laki itu yang diam.
“Aku kan minta kamu ikut ke dalam, kamu gak mau ikut.”
“Winda kan inginnya kamu Bang.”
“Kalau kamu ikut ke atas dia tidak akan bertingkah.
Anggap saja dia menguji dirimu,”ujar Vani.
Sebelum bertemu Winda, Bonar mengajak Vani untuk ikut bersamanya karena ia sudah punya feeling kalau Winda akan menggodanya sama seperti ayah mertuanya.
__ADS_1
Melihat Bonar kesal, kemarahan dalam hati Vani yang sebelumnya masih kesal akhirnya berkurang.
Saat mobil tiba di rumah mereka ia masih diam, “aku datang ke sana demi Jonas, aku tidak mau Andre melakukannya sampai ke pengadilan.”
“Aku tahu Bang,” ujar Vani dengan suaran lembut, ia tahu lelaki itu sedang di ujung kemarahan.
“Gak … kamu tidak tahu Vani, kamu tidak tahu … kamu pasti berpikir aku gila makanya bertemu dengannya.”
“Ayo duduk di sini … aku akan bikinin abang kopi,” bujuk Vani. Ia menarik tangan Bonar untuk duduk di kursi taman depan, menyogok dengan segelas kopi.
Lelaki itu tidak menolak, ia dan duduk di kursi, melihat Bonar masih marah Vani menyajikan segelas kopi dan mereka duduk bersama.
“Aku percaya padamu makanya ku menolak ikut, aku percaya kamu bisa mengatasinya, sudah lupakan hal itu. Daddy mengundang kita datang ke rumah, apa kita datang?” tanya Vani.
Ia menghela napas, lalu menjawab, " baiklah ayo kita ke sana.”
Vani mengajak Jonas untuk bertemu Sudung dan Daren, Sudung sudah tahu kalau Bonar punya kakak perempuan yang kurang waras, makanya tidak bisa mengajaknya bertemu.
Setelah selesai makan barulah lelaki itu membuka pembicaraan yang serius.
“Aku berharap kalian berdua mengadakan pesta pernikahan adat biar sah.”
“Ha?” Vani dan Bonar benar-benar kaget mendengar.
‘Ada apa dengannya … apa dia sakit parah makannya dia minta kami pesta’ Vani membatin.
“Anak kalian sudah besar, apa kalian tidak mau ia melihat kalian berdua akur?”
“Kami tidak apa-apa.”
“Pesta kalian saat itu hanya pemberkatan, belum ada resepsinya belum ada pesta adat.”
“Nantilah Daddy, aku belum memikirkan ke sana, ada banyak hal yang ingin aku persiapkan, pesta bisa kapan-kapan,” ujar Vani menolak.
“Segala biaya biar daddy yang membiayai, yang terpenting kalian berdua siap. Bagaimana Bonar?”
“Aku setuju-setuju saja sih pak, semua tergantung Vani.”
“Bagaimana Vani … daddy juga ingin melihat kalian menikah.”
“Nanti saja Dad, kalau sudah pulang dari Singapura.”
Vani menolak permintaan Sudung karena ia ingin permasalahan antara ia dan Andre cepat selesai.
__ADS_1
Bersambung....