
Vani berjalan menuju parkiran, ia ingin pulang ke rumah, karena hari ini Vani sudah janji akan datang ke sekolah Jonas, saat berjalan, ia bertemu dangan Pak Sudung dan Bonar, Rosa. Melihat wanita itu bersama bapaknya ia merasa perutnya mendadak mules.
‘Kenapa bertemu wanita ini di sini’
Vani, berjalan melewati Pak Sudung, Rosa , Bonar baginya mereka bukanlah keluarga melainkan rekan kerja.
“Apa kamu tidak akan menyapa daddy Vani?” tanya lelaki itu menatap putrinya.
Vani membalikkan badan dan menundukkan kepala dan menyapa Sudung.
“Selamat pagi Pak”
Lalu ia masuk ke dalam mobilnya dan meninggalkan kantor, saat di tengah jalan Bonar menelepon lagi.
“Ada apa?”
“Aku ingin mengatakan hal yang sangat penting, kita bicara di cafe sebrang kantor”
“Baiklah”
Vani mengarahkan mobil berwarna putih itu ke arah restoran cepat saji di samping cafe, ia mengeluarkan ponselnya dan menelepon Bonar.
“Aku di restoran samping cafe”
“Baiklah, aku datang ke sana”
Vani pesan kentang goreng dan minuman dingin untuk menemaninya duduk, tidak berapa lama Bonar juga datang wajahnya tidak bersahabat.
Ia duduk dan menatap Vani dengan sinis.
“Ada apa?”
“Apa kamu harus mengatakan itu dalam rapat?”
“Ya, karena aku tidak ingin mendapatkan karyawan yang tidak kompeten dalam perusahaan”
“Elisabet Stevani, Lonax sudah berdiri puluhan tahun, tumpang berdiri, tumpang berdiri , jadi sudah mengalami banyak goncangan bisnis. Lalu hal yang apa harus di bahas dalam rapat besar?”
“Ya”
“Vani, kamu baru terjun bekerja, jadi belum paham sistem dan aturannya seperti apa, bukan hal itu lagi yang dibahas saat di ruang rapat,” ujar Bonar, sepertinya lelaki itu ikut terkena dampaknya saat Vani membongkar kelakuan semua pegawainya.
‘Aku bukan baru bekerja di bidang ini, aku juga punya perusahaan kali’
“Apa yang aku lakukan itu menurutmu salah?”
“Tentu salah Vani, itu harusnya tentang pengeluaran perbelanjaan di rapat bulanan para karyawan, rapat itu ada tiga macam Vani, rapat sesama team kerja, rapat laporan tiap bulan dan yang tadi rapat besar”
__ADS_1
“Jadi menurutmu apa aku salah membuka kartu kelakuan para pegawai Lonax?”
“Tentu saja, karena itu internal perusahaan”
“Tapi, aku bukan pegawai kontrak di perusahaan itu, aku salah satu pemegang saham, aku hanya orang tidak tahu malu itu sadar diri dan itu kesempatanku memperbaiki para karyawan yang suka korupsi, walau caraku sangat receh karena membahas tentang sapu dalam rapat besar, tapi setidaknya mereka dapat teguran” ujar Vani.
“Kamu bukan ingin memperbaiki, tapi ingin membalas dendam pada kami semua, kamu datang sebagai penghancur Vani, bukan ingin memperbaiki, tolong jangan lakukan itu, Pak Sudung sudah berusaha bertahan sampai saat ini, jangan mencoba menumbangkannya,”ujar Bonar.
“Kalau kamu hanya mengatakan itu terimakasih, akan aku ingat nanti terimakasih, Vani ingin berdiri. Tetap Bonar memegang tangannya dan menahan.
“Tolong beri aku kesempatan lagi,” ujar Bonar memegang telapak tangan Vani.
“Bang Bonar , saat itu aku sudah bilang, jika aku sudah lelah menunggu aku akan pergi dan tidak mau berpaling”
“Tapi Vani, saat itu kamu yang bilang kalau pernikahan di adat kita tidak mudah mengatakan pisah dan aku sadar itu,” ujar Bonar mulai memelas.
“Maaf Pak, aku ingin mendapatkan laki-laki yang jauh lebih baik dari bapak, baik untuk anakku Jonas”
“Dia juga anakku Vani, walau dia bukan darah dagingku tetapi marga Sinaga, itu artinya aku berhak seratus persen”
“Terserah,” ujar Vani bersikap acuh, ia menyeruput minuman dingin pesanannya, sementara Bonar tidak di pesan, saat Vani minum Bonar menarik jus tersebut dan meminumnya.
“Itu bekas mulutku , nanti kamu muntah karena bekas,” ujar Vani .
“Tidak apa-apa ini bekas istriku, aku akan bilang sama di Andre kalau kamu istriku agar dia berhenti mengajakmu untuk bicara”
“Tidak apa-apa, selama ini kamu ragu karena aku menjaga kamu, sekarang kamu sudah muncul ke permukaan, aku juga jadi lebih berani,” ujar Bonar mengangkat satu alisnya.
“Bukannya setelah kamu lihat aku cantik kamu jadi terpikat?”
“Ya itu juga sih satu alasannya,” ujar Bonar sembari neyengir kuda merasa tidak bersalah, Vani semakin kesal melihat sikap Bonar yang terlihat seperti orang yang masih labil.
Saat mobil Sudung melintas di depan restoran cepat saji tersebut mobil terjebak macet dan melihat Bonar yang tertawa lebar menggombal Vani.
Tiba-tiba Jonas menelepon menggunakan vidio call.
“Halo Bang”
“Ma … aku sudah di rumah, tadi tulang Adelio bawa aku pulang sekalian. Mama lama sih, mama lagi di mana?”
Vani tanpa sadar mengarahkan kameranya ke segala arah dan mengenai wajah Bonar dengan jelas.
“Apa mama sama Papa?”
Mendengar Jonas menyebut papa mata Bonar menatap Vani dengan mata berkaca-kaca.
“Pung lihat ada papa”
__ADS_1
“Bang! Bang jangan panggil oppung, nanti oppungnya sedih, nanti kita akan bicara di rumah oke”
“Ya Ma”
Vani menutup teleponnya, suasana tiba-tiba jadi hening.
“Maaf dia taunya kamu papanya, tidak ada yang lain, aku tidak pernah menceritakan kalau orang lain papanya, baik Inang juga selalu menceritakan hal-hal yang baik tentang kamu padanya,” ujar Vani.
“Maaf, maafkan sikapku selama ini”
Saat mereka sedang duduk dengan diam, ternyata Sudung duduk di dekat meja mereka, lalu Vani menoleh tidak sengaja lelaki itu duduk di meja belakang.
“Daddy ….?”
“Pak ….” Bonar berdiri.
“Apa aku boleh bergabung di sini?” Tanya lelaki paruh baya itu menghampiri meja mereka.
“Boleh Pak, silahkan.” Bonar dengan gugup menarik satu kursi untuk bapak mertuanya, sementara Vani kembali memasang wajah jutek saat melihat lelaki yang biasa dipanggil daddy itu.
“Apa selama sepuluh tahun, kamu tidak pernah merindukan daddymu?”
Vani diam, ia menahan matanya agar tidak menangis, telepon dari Jonas kembali menyelamatkannya.
“Bang, jangan mengguna video call ya”
“ Tapi oppung mau lihat papa”
“Bilang sama oppung nanti kita ketemuan”
“Ma, aku pesan KPC, bou mau eskrim, apa kita jadi ziarah ke makam oppung boru?" Vani janji hari itu akan mengajaknya Jonas mengunjungi makam mama Vani.
“Baiklah, nanti mama beli, bilang oppung jangan lupa minum obat batuk ya, ingat bilang sama mbak pagar ditutup Bou jangan sampai keluar. Ya nanti kita akan ziarah ke makam oppung boru,” ujar Vani. Kedua lelaki itu hanya bisa mendengar apa yang dikatakan Vani. Perhatian Vani pada ibu mertua dan iparnya seakan-akan menampar wajah Bonar.
Vani mematikan teleponnya dan kembali duduk dengan diam.
“Aku ingin kalian berdua datang ke rumah dan bawa cucuku dan ibu mertuamu,” ujar Sudung lalu berdiri.
“Tapi untuk apa? Apa daddy pedu-”
Bonar menutup mulut Vani dengan telapak tangannya, “jangan berteriak. Ada banyak orang di sini,” bisik Bonar.
“Baiklah, saya pulang dulu,” ujar Sudung meninggalkan restoran.
Ia pergi ke kamar mandi dan ia menangis di sana, mendengar suara Jonas menyebut oppung boru hatinya sangat sakit, ingin rasanya ia memeluk Vani dan meminta maaf.
Apakah Vani menerima undangan daddynya membawa suami anak dan mertuanya ke rumah keluarganya?
__ADS_1
Bersambung.