
Saat malam tiba, Vani sudah selesai mandi ia turun ke bawah, ia mencari suaminya di ruang tamu tidak ada, ia mengintip ke kamar Bu Lisda, ternyata Bonar sedang menangis di kaki Bu Lisda, ia menangis dan terus meminta maaf. Sepertinya ia sudah sadar dengan perbuatannya di masa lalu.Vani ikut terharu atas pengakuan Bonar.
“ Maafon au da ma, Mauliate da omak di sude hasabarin mi, mangaju pangaloho saleleng on”
(Maafkan kesalahanku ya Ma, terimakasih untuk semua kesabaranmu melihatku kelakuanku selama ini) ujar Bonar memeluk mamanya mereka berdua sama-sama menangis.
“Olo amang … mandok mauliate maho tu Tuhan ala denggan ni basa do , boi ho mandapot boru ni raja, naburju, alani haholongi ma mama Jonas, unang baen lungun rohana, holong kian do rohaku tu mama Jonas, songon boruku do huanggap ibana..Molo dibaenku hacit rohana sogodo rohaku mamerengko.
“Ya Nak … mengucap syukurlah kamu sama Tuhan, karena rencana NYA lah, kamu bisa dapat wanita yang baik, karena itu, kasihanilah dia jangan bikin sedih hatinya, sayang bangat aku sama mama Jonas, dia sudah seperti putriku sendiri,, kalau kami bikin dia terluka aku marah padamu” ucap Bu Lisda, ia mengusap-usap kepala putranya penuh sayang, air mata itu menganak sungai, menyusuri p
“Olo Oma.”
(Ya Ma,” sahut Bonar lagi.
Vani pura-pura tidak melihat apa yang terjadi, ia pergi diam-diam dari depan pintu kamar ibu mertuanya, ia masuk ke kamar Jonas, Jonas sedang merakit ulang robot yang mereka baru beli.
Vani sudah biasa melihat kebiasaan putra geniusnya, robot yang di beli Bonar tadi harganya jutaan. Namun setelah di tangan Jonas bentuknya berubah ia membongkar dan mencari tahu kenapa benda itu bisa difungsikan seperti itu.
“Dibongkar lagi?” tanya Vani, saat ia duduk di samping Jonas, bocah lelaki itu terlihat sangat serius mengotak atik setiap bagian dalam benda tersebut.
“Ya Ma … aku ingin melihat komponen yang mereka dan aku ingin fungsikan dia jadi robot yang bisa aku kendalikan,” ujar Jonas, di kamar Jonas penuh dengan barang yang di rakit sendiri, jadi di rumah mereka tidak pernah di panggil tukang servis Jonas yang memperbaiki semuanya, mesin cuci, televisi, laptop sebuah ia yang memperbaiki.
Bonar juga sangat mendukung keahlian Jonas, bahkan ia membangun satu tempat untuk ia meluangkan keahliannya dan kreativitasnya.
“Lalu kamu jadikan dia jadi babu apa lagi, kemarin kamu sudah merakit robot yang bisa kamu suruh menutup pintu, lalu robot mainan yang satunya kamu ubah jadi robot menyikat kamar mandi sekarang dia jadi apa?” tanya Vani
“Aku ingin dia jadi robot pengawal oppung, selama dua empat jam, untuk mengingatkan minum obat, mengingatkan banyak minum intinya dia akan jadi nani untuk oppung,” ujar Jonas lagi.
__ADS_1
Tidak lama kemudian Bonar juga datang, “loh belum tidur, Bang?” tanya Bonar, ia menatap robot - robotan yang ia beli tadi sudah berubah wujud, ia melihat Vani.
“Ini robot untuk pelayan oppung nya katanya,” ucap Vani mengedikkan pundaknya.
Mereka berdua diam melihat Jonas menganti remote kontrol robot itu jadi sensor suara, ia mengaktifkannya dari laptop di pangkuannya, sesekali bocah genius itu membetulkan letak kaca matanya yang terkadang melorot.
“Apa minum mata kamu tambah lagi?” Tanya Bonar saat Jonas bolak balik mengusap kaca mata miliknya.
“Tidak sih pak, hanya gagangnya yang terlalu longgar,” keluh Jonas,
“Sini berikan ke bapak biar dikencangkan.” Bonar memutar baut kaca mata Jonas barulah ia nyaman memakainya.
“Jangan terlalu banyak di layar laptop Jo, kamu tidak mau kan matamu tambah minus lagi,” ujar Vani.
“Baik mah, besok saja aku teruskan aku sudah mengantuk," ucapnya lagi.
“Baik pak makasi." Anak tampan itu masuk ke dalam kamar mandi.
“Lihat kan Bang … tangannya gatal lagi, dia bongkar juga padahal kamu tadi belinya jutaan,” ujar Vani merepet, “Abang jangan terlalu menuruti semua kemauannya”
“Ilmu itu mahal loh Dek, biarkan saja, toh juga diubah lebih berfungsi, jadi, pelayan oppungnya,” ujar Bonar tertawa, mereka berdua merapikan peralatan anak genius itu.
Setelah ia tidur barulah mereka berdua keluar dari sana, kalau misalkan Vani atau Bonar tidak datang ke kamar untuk melihat jonas, ia pasti mengerjakannya sampai tuntas baru tidur.
“Mana hadiahnya?” tanya Bonar saat mereka di dalam kabar.
“Sini, biar aku berikan,” tutur Vani tersenyum manis.
__ADS_1
Bonar duduk di sisi ranjang ia merentangkan tangannya, ia penasaran dengan hadiah yang dijanjikan Vani siang tadi, tiba-tiba wajah Vani jadi merah merona dan ia gugup, Bonar masih merentangkan tangannya ia menaikan kedua alis matanya saat melihat wajah vani yang tiba-tiba merah bagai tomat.
“Mana?” telapak tangan Bonar masih menjulur di depan Vani.
“Bang ….” Vani menggantung kalimat lalu ia menutup mata dan menghela napas panjang, melihat sikap gugup sang istri Bonar mengulum senyum, “aku sudah siap”ucap Vani dengan sikap malu -malu.
Ia seperti pengantin wanita yang ingin melakukan malam pengantin, walau Bonar sudah mengerti apa yang vani maksud, ia pura- pura santai padahal dala hati ia sangat gemas melihat pipi Vani yang merona.
“Siapa apa?” tanya Bona pura-pura tidak peka.
“Aku sudah melakukan tugasku sebagai istri … aku murahan ya.” Vani malu dengan perkataannya sendiri, lalu ia menutup wajahnya dengan bantal.
Bonar meremas kepalanya tangannya menahan rasa bahagia, sebenarnya ia ingin melompat kegirangan , karena Vani akhirnya mau menerimanya sepenuhnya, bukan hanya dengan kata-kat tetapi dengan tindakan nyata.
“Tidak siapa bilang murahan, aku kan suami Dek,” ujar Bonar menarik bantal yang menutupi wajah Vani, baru kali ini Bonar melihat sisi yang berbeda dari Vani, biasanya ia selalu tegas dalam segala hal seolah -olah tidak mengenal rasa takut, ternyata hal yang sangat berbeda ia tunjukkan malam itu.
“Tapi aku malu Bang,” ujar Vani masih menutup mata, ia menahan tawa, wajahnya terasa terbakar.
“Ayolah buka matamu, lihat wajahku,”bujuk Bonar dengan sabar.
Vani membuka , Bonar sudah duduk tepat di hadapannya, wajah mereka berdua hanya berjarak satu jengkal, ia bisa merasakan hembusan hangat dari hidung suaminya, ia bahkan baru menyadari kalau Bonar memiliki alis yang amat tebal, Vani tersenyum manis lagi, walau rasanya tampak kaku karena ia merasakan kegugupan yang luar biasa.
“Itu artinya … hadiah yang kamu janjikan tadi siang itu, malam pengantin kita?”
Vani membalas dengan anggukan ia mengigit bibir bawahnya dengan kuat menahan gejolak dalam dadanya.
Bersambung.
__ADS_1