
Di rumah Bonar sudah banyak keluarga yang berdatangan, saat itu mereka berlima masih ada di kamar, belakangan ini Bu Lisda semakin mudah menangis, ia menangis bukan karena lemah, ia menangis karena bahagia, ia merasa satu persatu doanya terjawab, mungkin di mata manusia sesuatu hal ada yang tidak mungkin. Tetapi, tidak ada yang mustahil di hadapan Tuhan.
Hal itulah yang diyakini Bu Lisda, jika banyak orang berspekulasi kalau Bonar dan menantunya tidak akan bersatu, tetapi dalam setiap untaian doa Bu Lisda, selalu terselip harapan untuk anak dan menantunya, agar bisa bersatu, kini, doa dan harapan yang diminta Bu Lisda di kasih, melebihi yang ia minta. Putrinya yang keterbelakangan mental menjadi pelukis terkenal yang mengharumkan nama orang tua.
Beberapa hari yang lalu sebelum mereka pulang kampung, ada kabar gembira untuk mereka. Nur masuk dalam majalah Asia News, di sana Nur ditulis sebagai salah satu wanita asia yang inspiratif atas didirikannya Yayasan Rumah Nur yang saat ini penghuni rumah Nur sudah mencapai ratusan orang dan makin banyak orang yang menjadi donatur untuk rumah Nur.
Ia dikenal sebagai wanita yang memberi berkat bagi orang lain. Putrinya bisa jadi berkat bagi orang lain dan bisa membantu orang lain, itu satu keajaiban bagi Bu Lisda.
Maka saat mereka pulang kampung, Nur menjadi idola baru di kampungnya, jika dulu anak-anak dan orang tua sering melemparinya dengan batu, maka kali ini mereka menerima bantuan sembako dari Nur.
‘Nur wanita yang berhati baik, bahkan putih seperti kapas, ia tidak pernah menaruh dendam pada orang yang pernah menyakitinya, tetangga rumah Bonar ada satu keluarga setiap kali melihat Nur lewat dulu mereka selalu menjahatinya, tetapi saat mereka membagi-bagi sembako. Orang pertama yang di bagikan Nur adalah keluarga Rido.
“Ea ! asih Io, io.”
“Eda, kasih Rido, Rido,” ucap Nur dengan bahasa gagu pagi itu, ia menenteng beras dan mengantarkannya ke rumah Rido, keluarga itu tidak berani datang karena sadar mereka salah dan selalu memusuhi keluarga Bonar dari dulu. Tapi bagi Nur tidak seperti itu, mereka tetap saudara baginya, ia tidak merasa dendam.
Saat Nur mengantar sembako ke rumah Rido, Vani menahan air mata agar tidak menangis, bukan hanya Vani, Jonas hanya diam mematung melihat sikap baik bibinya.
__ADS_1
“Kenapa Ma?” tanya Bonar yang berdiri di samping Vani.
“Tidak apa-apa mataku hanya kemasukan binatang kecil,” ucap Vani mengusap air matanya diam-diam...
Belum hilang ingatan Vani beberapa tahun lalu, sebelum ia memboyong ipar dan ibu mertunya ke Jakarta. Dulu, keluarga itu melempar kepala Nur dengan batu hanya karena Nur memugut mangga mereka yang jatuh di halaman rumah Bonar, tidak cukup memukul kepala Nur sampai berdarah, mereka menuduh wanita malang itu mencuri, tapi Vani dan Jonas membela Nur , membawa permasalahannya sampai ke kepala Desa, pada akhirnya keluarga itu meminta maaf. Tinggal di rumah ibu mertuanya yang miskin dan selalu di rendahkan para tetangga memaksa Vani menjadi kepala di dalam rumah mereka, ia berubah jadi orang yang tegas, beruntung Vani pintar , dengan kepintarannya dan keberaniannya ia mampu melawan orang yang menzolimi keluarganya.
‘Aku berharap kalian menyesali perbuatan kalian di masa lalu’ ucap Vani dalam hati, ia diam-diam mengusap air matanya. Setelah selesai membagi bagikan sembako dan bagi-bagi rezeki . Vani tidak tahan lagi membendung perasaannya, ada kalanya ia ingin menangis keras dan ingin berteriak di tepi Danau Toba untuk melepaskan rasa sakit dari masa lalu.
Vani berjalan menuju kamarnya dan ia menangi di sana, ternyata Bu Lisda tahu apa yang dirasakan Vani, ia mengikutinya ke kamar , memeluk pundak Vani yang menangis sesenggukan
“Aku cegeng bangat ya Ma … aku sudah berusaha melupakan semuanya, tapi terkadang hati ini masih terasa sakit,” ujar Vani.
“Aku tahu Nang, kita bukan malaikat yang mudah melupakan dan memaafkan perbuatan jahat seseorang, tapi, tapi kita harus belajar ikhlas,” ucap Bu Lisda, ia mengusap air matanya saat Bonar, Nur, datang ke kamar.
“Opung cengeng belakangan ini,” timpal Jonas ia juga datang ke kamar mamanya.
__ADS_1
“Ya … opung cengeng. Aduh bapak Mesnur lihatlah cucumu ini … dia sudah dewasa, dia anak Bonar, anak yang dulu sering kamu pukuli, tapi sekarang dia sudah sukses, semua tetangga memujinya dan menyanjung sekarang tidak ada lagi yang merendahkan keluarga kita Bapak Mesnur …!’” tangis Bu Lisda pecah ia menangis memanggil almarhum suaminya.
Mendengar nama bapaknya dipanggil Bonar ikut menangis terlintas wajah bapa untuk pertama kalinya, Bonar sangat membenci bapa kandungnya karena ia sering dipukuli , dipukuli karena Bonar tidak bisa menerima kehadiran Nur di keluarga mereka, sementara bapak Bonar sangat menyayangi Nur walaupun idiot, hal itulah membuat Bonar merasa iri dan marah. Melihat Bonar yang ikut menangis Vani memberi usulan.
“Bagaimana kalau kita ziarah ke kuburan bapak Ma, kita berdoa di sana agar acara besok dapat berjalan baik.”
“Boleh, mama mau, ayo kita lakukan,” ucap Bu Lisda.
Kampung Bonar di sala satu Desa di pinggir Danau toba tepatnya di Desa Sabulan, di sekitar rumah Bonar banyak bongkahan batu-batu besar akibat letusan gunung danau Toba, maka desa Sabulan itu satu Desa yang sangat sejuk di keliling pohon pinus di tepi danau toba. Saat mereka Ziarah Bonar dan Jonas mengawal Vani agar tidak tersandung batu. Mereka berlima Ziarah untuk pertama kalinya di sana.
“Bapa … rodo au mamboan pahoppum dohot parumaenmu na burju, burju hian bapa sarupa dohot oma, tamingkon au da bapa asa sehat hami dohot pahoppu mon, sallpuhon ma suda akka kesalahanku na ujui I, tenang maho nungga denggan be au dohot kakak Nur, hujaga pe ibana sampe hami matua”
(Bapa … aku datang membawa cucu dan menantu mu, menantu baik Pak, sangat baik sama seperti mama, doakan kami ya bapa biar sehat sama cucumu, lupakan semua kesalahanku yang dulu, tenanglah bapa, aku sudah berbaikan sama kak Nur, aku berjanji akan menjaganya sampai kami tua) ucap Bonar.
Mendengar ucapan Bonar di makam bapanya Bu Lisda sangat terharu, ia memeluk putranya dengan tangisan bahagia ia juga memeluk Nur.
Untuk pertama kalinya bagi Bonar datang ke kuburan bapanya setelah ia meninggal, karena dulu ia membencinya bapaknya sampai kematianya bapanya pun Bonar masih membenci. Tapi saat ini tidak lagi, ia meminta maaf karena selama ini, ia membenci bapanya . Setelah meluapkan semuanya di kuburan itu, Bonar merasa lega kemarahan selama ini pada bapanya akhirnya bisa lepas. Ia dengan tenang bisa mengadakan pesta besok.
__ADS_1
Bersambung
jangan lupa like vote dan kasih hadiah ya kakak