Identitas Tersembunyi Sang Menantu

Identitas Tersembunyi Sang Menantu
Rahasia Besar Dalam Brankas


__ADS_3

Hanya hitungan hari, ternyata hidup seseorang bisa berubah,  Vani wanita yang cerdas, karena itulah ia bisa menjatuhkan Iyos dan keluarganya. Vani tahu kalau restoran yang  baru di buka Iyos tidak akan berjalan, tidak akan ada orang datang ke sana karena tempat itu banyak premanisme  karena itulah  ia dan william menutup cafe milik mereka.


Disisi lain Bonar masih di Batam, harusnya beberapa hari yang lalu ia akan kembali ke Jakarta,  karena banyak  pekerjaan ia menunda pulang. Vani berpikir kalau Bonar  lama waktu pulang ke Jakarta karena marah dengan apa yang di dilakukannya, malam itu Vani menelepon suaminya,  ia ingin menjelaskan pada Bonar  tentang apa yang sudah ia kerjakan.


“Apa papah belum pulang?” tanya Vani, ia melakukan panggilan melalui vidio call.


Awalnya Bonar masih merasa kesal, setelah tahu kalau Vani tidak jujur padanya, saat melihat wajah lelah  dari wanita cantik itu, ia berubah pikiran.


“Apa kamu sakit, wajahmu sangat pucat?” Tanya Bonar balik bertanya.


“Aku sangat capek, kurang tidur karena ulah  mereka semua, ada wartawan di kantor,” ucap vani berusaha menyembunyikan kesedihannya pada sang suami.


“Apa mereka inginkan lagi, kan aku sudah menjelaskan tentang Nur pada salah stasiun televisi,” ucap Bonar.


“Mereka bertanya  kenapa aku membeli bangunan itu.”


Mendengar hal itu wajah Bonar langsung berubah datar, ia hanya diam.


“Apa Papah marah?”


“Kamu melakukannya tanpa memberikanku Vani, sebagai suami wajar aku marah.”


“Gini saja, nanti kalau Papah sudah pulang aku akan menjelaskan semuanya,” ucap vani berusaha tersenyum.


‘Apa lagi yang kamu sembunyikan dariku Vani, aku tahu pasti ada sesuatu yang membuatmu sangat sedih’ ucap Bonar dalam hati.


“Baiklah, tapi apa kamu baik - baik saja?”


“Hanya kurang istirahat saja Pah, nanti setelah papah pulang mungkin aku akan lebih tenang.”


“Tadinya aku masih marah, tapi melihat wajahmu  saat ini,  aku jadi tidak bisa marah menurutmu, aku lemah gak?” tanya Bonar merebahkan tubuhnya di ranjang hotel.


“Tidak … itu karena aku  terlalu cantik, jadi kamu tidak bisa marah,” ujar Vani bercanda, ia juga merebahkan tubuhnya di kasur.


“Ya itu benar, kecantikan mu membuatku tidak berdaya,” balas Bonar akhirnya ikut tertawa.


Malam itu, mereka berdua  terlihat seperti pasangan kekasih yang sedang LDR an, saling bercanda, menebak teka-teki sampai saling curhat,  hingga akhirnya Bonar menyerah.


__ADS_1


“Ma,  kita tidur ya, besok aku akan rapat,” ujar Bonar, ia melirik jam di pergelangan tangannya, dan pura -pura tidur, jarum jam sudah bertengger di angka jam  sebelas belas malam, tidak terasa  ia hampir  tiga jam  bertelepon dengan sang istri.


“Baiklah , da, da. Umma.” Vani menempelkan bibirnya ke layar ponsel, Bonar membalas kelakuan istrinya, hubungan mereka bisa berbaikan  hanya lewat telepon. Bonar tidak  marah lagi saat Vani menjelaskan  banyak hal padanya.


Bonar menutup telepon, tadinya matanya sudah sangat mengantuk,  ia bangun lagi dan berdiri di jendela hotel. Ia memikirkan tentang wajah sedih yang ditunjukkan Vani.


Masalah bisa terselesaikan  kalau ada  komunikasi yang baik antara dua pihak, dulu Vani sangat keras,  dia selalu membuat pembatas yang tinggi  dalam dirinya, tidak   memperbolehkan orang lain masuk  ke dalamnya, termasuk Bonar tetapi kali ini ia sudah mulai terbuka, walau tidak semuanya.


“Dulu, kalau saja aku tidak malu dengan keadaan kakak Nur dan keadaan Vani, mungkin hubungan kami akan baik- baik saja dari dulu, kali ini, Vani sudah memberiku kesempatan kedua, aku tidak boleh marah, aku akan memilih mempercayai istriku,” ucap Bonar.


Malam itu juga ia membooking tiket pesawat pulang ke Jakarta,  Bonar semakin dewasa menyikapi  setiap masalah, kalau dulu sebelum   bersama dengan Vani ia akan berbuat apapun yang ia  mau, tetapi kali ini, ia selalu berpikir panjang dan bertanya sama Vani apa yang harus ia lakukan.


               *


Vani duduk di ruangan kerja Bonar   ie terlihat sanga serius  menatap  laptop di depannya, sampai-sampai tidak menyadari  ada orang yang masuk ke ruangan  tersebut.


“Suiiit …!” suara suit seseorang yang sedang berdiri di depan pintu.


Vani baru menoleh, ternyata Bonar  sudah duduk di sofa.


“Pah … kok udah datang, katanya masih ada rapat,” ujar vani wajahnya  berseri saat melihat Bonar datang, ia menghampiri Bonar dan mengalungkan tangannya di leher  sang suami.



Kedua alis Bonar  menyengit,  melihat sikap manja Vani ,  biasanya ia tidak pernah seperti itu, ia bukan tipe wanita yang suka bermanja-manja.


“Ada apa? Apa kamu salah minum obat?” tanya Bonar menggulum senyum, dalam hati ia merasa sangat senang dapat sambutan hangat dari istri cantiknya.


“Apa manja sama suami sendiri tidak boleh,” cap Vani masih memeluk Bonar.


“Boleh, hanya saja ini kejutan untukku, biasanya aku yang selalu bermanjaan sama kamu,” tutur Bonar.


“Kali ini gantian aku yang manja sama Papah,” cicit Vani.


“Baiklah aku  berharap kamu  serius dengan ucapanmu, jangan cuma hanya ucapan saja.” Bonar mendaratkan bibinya di kening  Vani, ia menatap dalam wajah istrinya ia menyadari mata Vani membengkak seperti habis menangis dan kantong matanya terlihat sangat jelas, meliht pemandangan itu, ia meras wanita itu menyembunyikan hal yang lain.


“Ada apa. Kenapa mata cantik ini jadi membengkak seperti ini,” ucap Bonar masih  memegang wajah Vani.


Tiba-tiba air mata tumpah Vani tumpat, “ada apa?” tanya Bonar dengan wajah serius, dugaannya benar, kalau Vani menyembunyikan sesuatu.

__ADS_1


“Aku cegeng, bukan?”


“Tidak kamu tidak cegeng.” Bonar tidak memaksa ia memeluk istrinya dengan erat memberi wanita itu waktu untuk menuangkan perasaannya, “aku tidak pernah menangis sebelumnya, setelah aku  bersamamu aku jadi cegeng belakangan ini, aku membenci diriku yang cegeng,” lirih Vani lagi.


“Tidak apa-apa sayangku, kamu cegeng pada suamimu sendiri, itu bagus aku akan selalu untukmu,” ucap Bonar.


“Kematian mommy hari itu, ternyata ada hubungannya dengan Rosa dan Iyos, haruskah aku membunuh mereka?” tanya Vani.


Dug …


Jantung Bonar berdebar kuat, ia sampai merinding mendengar itu.


“Apa? Dari mana kamu mengetahuinya. Mata Bonar melotot panik, apa yang mereka takutkan  dengan pak Sudung jadi kenyataan.


“Tunggu … abang juga mengetahuinya?”


Vani menatap wajah Bonar dengan  mata melotot.


“Tidak, aku dan bapak selam ini juga mencurigai hal itu dan kami mencari bukti keterlibatan mereka berdua, tapi hasilnya nihil.”


“Jadi kalian juga sudah curiga?” Tanya Vani.


“Ya, tapi dari mana kamu mengetahuinya?” tanya Bonar.


“Papah ingat  … Winda pernah mencuri brankas Rosa, dia menyembunyikannya di rumah  di bawah lantai di kamarnya, sebelum kami datang ke Singapura waktu itu, aku menemukan brankas  di dalamnya tersimpan surat-surat  perusaan dan sertifikat rumah, aku menemukannya karena itulah berhasil menyingkirkan Rosa dari kehidupan daddy. Namun, belakangan dia  menghilang … aku pikir masalahnya sampai di sana ternyata …..” Vani menggantung kalimatnya, airmatanya kembali  menganak sungai


Wajah Bonar sangat tegang mendengar cerita Vani, bahkan ia tidak tahu kalau Vani bertarung nyawa untuk menyelamatkan Lonax.


“Lalu?’


“Aku  hanya mengambil berkas perusaan dan  belum sempat mengambil yang lainnya. Beberapa hari yang lalu meretas ponsel Rosa karena penasaran …  Aku mendengar pesan suara, ia bicara dengan Winda ada sesuatu di brankas  yang sangat penting yang bisa menghancurkan hidup mereka semua , menyangkut kematian Mommy. Lalu aku kembali ke rumah lama membuka brankas itu kembali, ternyata ada rekaman rumah sakit  Iyos dan Rosa ada disaat mommy sekarat. Aku melihat rekaman rumah sakit. Apa yang telah  mereka lakukan sama  mommy?” Vani menangis, sesenggukan Bonar hanya bisa memeluk.



“Jangan khawatir Ma, kita akan memenjarakan iblis betina itu,  kita sudah buktinya aku membantumu,” ucap Bonar.


Pantasan Rosa sangat takut dan marah besar sama Winda, saat ia tau kalau Winda mencuri brankasnya, setelah ia tahu Vani menemukannya wanita itu  menghilang dari Jakarta,  ternyata  di dalamnya ada  rahasia  besar yang ia simpan,  saat Bonar dan Sudung tidak bisa menemukannya, ternyata Vani bisa mendapatkannya.


Bonar masih memeluk Vani, ia berjanji akan memasukkan Rosa dan Iyos jika benar mereka terlibat dalam kematian  ibunya Vani.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2