Identitas Tersembunyi Sang Menantu

Identitas Tersembunyi Sang Menantu
Pesta Adat


__ADS_3

Setelah pesta malam  selesai,  besok harinya acara akan lebih ramai lagi, Bonar mengundang penyanyi artis Batak yang di kenal masyarakat di kampung itu, mendengar ada artis daerah yang diundang untuk  tampil dalam pesta mereka. Banyak orang yang datang dari kampung sebelah sekedar untuk melihat artis idola mereka.


 Pesta adat akan berlangsung hari itu, Vani tampil cantik dalam balutan kebaya berbentuk lonceng,  model kebaya yang Vani kenakan mampu menutupi kehamilannya, ia tidak terlihat  sedang hamil, Butik langganan Vani di Jakarta sudah memodifikasi kebaya rancangannya untuk Vani pakai dalam pesta ada mereka, saat ia keluar dari kamar rias Bonar dan Jonas melongo.


“Kenapa bisa?” tanya Bonar meraba perut sang istri memastikan gundukan itu masih ada.


“Masih ada Pah,” bisik Vani terkekeh.


“Mama tidak pakai korset kan, untuk menutupinya, kasihan Ma,” ucap Bonar panik.


“Ih … gak lah, sini.” Vani menariknya ke dalam kamar memperlihatkan  model pakaian yang dikenakan.


“Ah, aku sudah sempat khawatir, lagian kenapa harus di umpettin sih Ma ... biarkan saja terlihat,” ujar Bonar.


“Pah, itu tidak di umpettin aku hanya menyamarkan sedikit biar gak gak mencolok.


“Tapi anakku aman kan?”


“Aman,"jawab Vani menggulum senyum


Bonar dan Jonas memakai setelan jas yang senada, anak bapak itu tampak gagah dan ganteng dalam balutan jas berwarna abu-abu, Bu Lisda dan Nur memakai kebaya berwarna hijau daun pisang, saat Nur didandani  dan diberi obat penenang, ia  sangat tenang dan duduk diam bersama Rati,  sekilas terlihat seperti orang normal, banyak orang yang minya berfoto dengan Nur selama di kampung,  karena Nur dan Bonar hampir tiap jam tampil di televisi sebagai bintang iklan salah satu produk  sabun cuci, jadi, banyak orang yang mengenal mereka berdua.


Ciri khas pesta di kampung Bonar  tamu undangan duduk atas terpal yang di bentangkan di tengah halaman. Tapi karena Vani lagi hamil untuk mereka berdua duduk di sofa.


Saat acara berlangsung.


Bonar tidak pernah menduga kalau banyak wartawan yang meliput pesta mereka.

__ADS_1


“Dari mana wartawan tau kalau kita pesta di sini Pah?” tanya Vani saat menyadari banyak tamu tak diundang datang ke acara mereka, para pemburu  berita  berjejer rapi di samping halaman.


“Entah akupun bingung dari mana mereka tau,” balas Bonar.


Ia tidak ingat malam itu Irpan sudah membuat gempar dunia per facebook kan karena aksinya yang mabuk saat siaran langsung.


Pak Sudung datang satu kapal besar, keluarga Vani kompak  untuk hadir.


“Daddy datang jam berapa?” tanya Vani ia berdiri memeluk Pak Sudung.


“Kamu duduk saja, jangan banyak berdiri ya” ucap lelaki itu membantu Vani duduk kembali di kursinya, Perhatian yang ditunjukkan pak Sudung pada putrinya mengundang perhatian semua orang dan wartawan.


“Masa ada tamu harus duduk Dad,” balas Vani.


“Pokoknya duduk saja, jangan habis acara kamu malah sakit nanti, kasihan dia. Bapak Jonas, jaga mama Jonas jangan banyak berdiri,” ucap Pak Sudung.


“Ya Pak,” jawab Bonar tersenyum malu, karena ia kena omel sama bapak mertua, padahal ia sudah seperti magnet nempel terus sama istrinya, setiap kali Vani berdiri Bonar akan ikut berdiri  memegangi tangannya, tadi diomelin Bu Lisda karena Bonar  lupa pegang tangan Vani saat ingin berdiri, kini diomelin bapak mertuanya juga.


‘Di kampung inilah putriku aku ungsikan selama sepuluh tahun’ bisik Pak Sudung dalam hatinya, melihat desa Sabulan yang sejuk dan  tenang , ia ingin ikut tinggal. Desa sabulan tidak ada mobil makanya suasananya tenang untuk datang ke sana hanya menggunakan kapal untuk menyebrang danau Toba.


“Oppung jangan pulang dulu, aku ingin menunjukkan sekolahku waktu SD sini sama oppung,” ucap Jonas.


“Besok oppung sama tulang Adelio ke sini lagi ya.”


“Si cantik Adelia juga ikut …,” ledek Daren.


Wajah Jonas langsung memerah, “apa sih tulang aku tidak nanya itu,” ucapnya  tapi matanya menatap anak kecil berambut panjang, ia adalah si kembar Adelia dan Adelio anak kembar anak Jonathan dan Netta. Dalam adat Batak Adelia dan  Jonas marpariban (sepupuh yang bisa menikah dalam adat Batak)

__ADS_1


“Gak usah malu, Tulang mengerti apa yang ada dalam hatimu,” bisik Daren meledek keponakannya.


Wajah tampan Jonas langsung merah bak udang rebus, mengalihkan wajahnya dari rombongan  keluarga Jonathan. Rombongan keluarga Vani datang dari Jakarta, mereka kompak, tidak seperti keluarga Bonar yang menolak datang karena Bonar tidak memberi mereka ongkos pesawat.


Di sisi lain, tepatnya di Jakarta.


Sorta dan Mama Lina semakin kepanasan saat salah satu stasiun televisi yang meliput pesta adat menyiarkan pesta meriah itu, kampung Bonar masuk televisi.


Saat dalam pesta tidak ada  satupun bapa uda maupun namboru Bonar , semua satu kampung membicarakan Simon  dan keluarganya, saat semua orang bisa datang satupun yang mewakili tidak ada.


Salah satu keluarga jauh Bonar menelepon Simon.


“Apa ongkos dari jakarta -ke Toba sangat mahal bapak Lina? Satupun dari kalian tidak ada yang datang,” ucap lelaki itu dengan marah.


“Maaf bapa uda, aku kurang sehat,” ucap Simon berbohong.


“Tidak bisa kamu pulang, setidaknya Juhar kalau tidak adikmu , Jefry. Kalian tiga mampu untuk pulang, kau pengacaranya sama Juhar, adikmu guru kan? Ito, itomu juga masa gak ada yang datang.” Laki-laki itu itu memarahi mereka semua.


“Maaf bapa uda, tadinya pestanya ingin di Jakarta mendadak di kampung.”


“Gak usah kau mencari kebenaran aku sudah tahu semua kebenarannya, menangisnlah abangmu  bapak Mesnur di kuburan sana, melihat anaknya pesta tapi satupun adik-adiknya tidak ada yang perduli, tega kalilah kalian,” ucap Lelaki itu dengan geram lalu ia menutup teleponnya.


“Sudah opung yang penting acara hari ini berjalan dengan baik tidak kekurangan apapun itu semua karena bantuan semua tetangga,” ucap Bonar.


Setelah Simon dimarah-marahi kelurga dari kampung ia pulang dengan marah, lalu berdebat dan bertengkar lagi dengan istrinya, ia tidak tahan terus -menerus seperti itu hari itu juga ia keluar dari rumah membawa pakaian.


Di kampung acara Bonar berjalan dengan lancar semua orang bergembira  dan bahagia sementara keluarganya di Jakarta bertengkar satu sama lain saling menyalahkan dan saling menuduh, semakin mereka menulis pembelaan diri di media sosial semakin mereka di hujat. Jadi semua perbuatan jahat dan perbuatan dengki akan ada balasannya  entah dari. Bonar tidak membalas semua perbuatan namboru, inang uda dan sepupunya, tetapi mereka mendapat balasannya justru dari orang lain .

__ADS_1


Setelah selesai pesta Bonar dan bapak mertuanya memberi bantuan , akan membangun fasilitas umum untuk desa tersebut sebagai ucapan terimakasih karena mereka membantu acara pesta dengan baik, sebelum pulang ke Jakarta keluarga Vani dan keluarga Bonar jalan-jalan bersama keliling danau Toba.


Bersambung


__ADS_2