Identitas Tersembunyi Sang Menantu

Identitas Tersembunyi Sang Menantu
Dinner Romantis


__ADS_3

Setelah bertemu Winda dan Andre Bonar pulang ke rumah, ia berharap apa yang dikatakan Winda benar, Andre menghentikan  keinginannya untuk melakukan tes DNA untuk Jonas, mobil Bonar tiba di rumah di sambut Nur dengan teriakan dan tepung tangan dengan gembira, ia seperti anak kecil yang menyambut ayahnya pulang, awalnya Bonar marah setiap kali Nur  bertingkah seperti itu. Namun,  melihat Vani yang justru senang saat di sambut Nur, Bonar  jadi malu sendiri, ia tidak marah lagi jika kakaknya yang idiot itu bersikap seperti itu.


“Boa bawa apa, bawa apa …?”


(Bonar bawa apa … bawa apa ….?) ujar wanita  itu dengan  lompat-lompat  karena gembira, sayangnya, Bonar  tidak bawa apa-apa, jadi dia diam dan masuk ke rumah dengan wajah kecewa. Bu Lisda menatap wajah putrinya dengan sedih, ia juga akan sedih setiap kali Nur kecewa.


“Mama belum pulang Jo?” tanya Bonar saat Jonas  duduk di teras.


“Belum Pak … itu mobil mama!” Vani juga pulang.


Nur kembali melompat kegirangan. “Eda pulang! Eda pulang!” saat mobil Vani berhenti dia sudah berdiri di samping pintu setir, dia seperti preman yang suka malak orang. Saat Vani buka pintu mobil.


“Eda bawa apa?”


Vani  berbeda dengan  Bonar, ia akan tersenyum  melihat kakak iparnya seperti itu, Bonar, Bu Lisda, Jonas, Rati mereka berdiri menatap  Vani, Ia membuka pintu belakang.



“Ini buat Eda!” Nur  melompat girang seperti anak kecil, lalu ia membuka bag yang diberikan Vani, di dalamnya ada eskrim dalam wadah besar dan  kuas baru dan aneka gambar pemandangan dalam satu album.


“OH …!” Ekspresi wajahnya sagat kaget, matanya melotot.


“Eda senang?”


“Ya senang”


“Kalau begitu jangan keluar lagi ya dari pagar, kalau  ingin keluar ajak mba Rati,”tutur Vani dengan lembut.


Nur hanya mengangguk patuh, matanya sudah teralihkan ke album pemandangan alam yan di berikan Vani untuknya. Perhatian yang diberikan Vani untuk kakak iparnya  bagai tamparan keras untuk Bonar, ia tidak tahu apa-apa tentang kakaknya sejak dulu, karena  ia selalu membenci Nur.


“Buat aku sama opung mana, masa hanya bou.” Jonas protes karena hanya bibinya yang dibeli.


“Itu gambar Bang, nanti kiat beli buat kamu yang kamu perlukan”


“Baiklah,” jawab Jonas tidak protes,  di rumah mereka, justru Nur yang seperti anak kecil  dan Jonas yang dewasa.


“Apa pengerjaannya  belum selesai,kok kamu lama pulang”


“Pengerjaannya tidak sesuai dengan konsep yang kami berikan , jadi, kami suruh dibongkar, makanya lama,"ujar Vani


“Apa butuh bantuan?”


“Tidak perlu,” jawab Vani, ia ingiin mendengar cerita Bonar hari ini, Vani tahu kalau Bonar menemui Andre bahkan menemui Winda.


‘Aku ingin lihat apa kamu akan jujur apa tidak hari ini’

__ADS_1


“Dek … ayo kita makan di luar”


“Kita berdua?”


“Ajak mama sama kakak Nur  tidak apa-apa, aku sudah reservasi satu meja untuk kita”


“Kamu yakin tidak malu mengajak kami, Bang”


“Gak  lagi.” Wajah Bonar tegang, ia takut kalau Vani menolak ajakannya.


“Baiklah, aku mandi dulu sekalian ajak mama.” Vani masuk ke rumah.


Bonar menghela napas legah saat Vani mau diajak makan di luar, biasanya wanita cantik itu selalu banyak urusan, teryata Bu Lisda menolak ikut dan Bonar juga tidak mau.


“Mama  sama Bapak aja, aku lagi banyak tugas,” ujar Jonas main mata sama Bu Lisda.


“Ya, oppung juga sakit kepala,” ucap Bu Lisda memegang kepala.


Vani melirik Rati,  asisten rumah tangga itu sudah seperti keluarga, kemana mereka pergi ia pasti selalu ikut, bahkan makan pun  pasti bersama, Bu Lisda marah kalau ia makan misah.


“Aku juga Bu … lagi banyak setrikaan”


“Ya Ella Ti, masa setrika malam-malam … kalau Jonas sama  mama gak bisa, kamu sama, bang Bonar sudah pesan meja untuk kita”


“Aduh, aku gak bisa  Bu”


“Ya, ya benar”


Melihat sikap ke tiga orang itu,  Vani langsung tahu kalau  mereka bekerja sama ingin Bonar dan Vani makan malam berdua.


‘Oh …  kalian sudah merencanakannya, saat ia melihat ke  luar Bonar sudah menunggu.


“Ok, baiklah kalau kalian tidak mu pergi , biarkan kami saja sama Bang Bonar”


“Ya baiklah." mereka bertiga menjawab serentak.


Bu Lisda dan  Jonas ingin hubungan Vani dan Jonas Baik, lebih baik lagi dan layaknya suami istri.


“Aku ingin bapak itu tidur di kamar mama Pung, bukan di kamarku lagi,” ujar Bonar.


“Ya, aku juga ingin mereka aku mang, makanya oppung  melarang kalian ikut sama mereka, agar keduanya punya waktu  bicara berdua,” ujar Bu Lisda.


Karena mereka menolak ikut Vani akhirnya keluar sendiri, menemui Bonar ke mobil.


“Loh … mana mereka?”

__ADS_1


“Tidak mau … mereka minta kita saja yang pergi”


‘Oh …, bagus sekali, akhirnya bisa berduan dengan Vani," ucap Bonar dalam hati ia tersenyum hagia , karena mereka punya waktu untuk makan malam romantis dengan Vani.



Vani masuk ke dalam mobil,  tetapi tatapan Bonar begitu melekat padanya, penampilan Vani  malam itu hany mengenakan dress  yang sederhana, tetapi terlihat anggun dan cantik.


“Apa ada yang salah dengan penampilanku?”


“TIdak kamu sangat cantik,” puji Bonar, lalu menyalahkan mesin mobil, menuju restoran.


“Gak tatapan seolah-olah aku ingin dimakan”


Bonar tertawa, “memangnya roti dimakan”


Tiba di restoran , Bonar berjalan menuju meja resepsionis lalu seorang pramusaji  berseragam  rapi mengantar Vani ke sebuah meja no empat,  meja yang sudah dihiasi dengan sebuah lilin dan dua tangkai  mawar merah dalam vas.


‘Ada yang aneh … kalau misalkan Bonar  sudah pesan untuk keluarga tidak mungkin modelnya seperti ini, ini mah untuk makan dua orang saja. Vani akhirnya mengerti mereka semua sudah kerja sama ‘


Untuk makan pembuka,  Bonar  menyajikan  Cocktail appetizer bahan yang terbuat dari seafood, Vani tersenyum saat Bonar menjamunya dinner ala-ala barat.


“Silahkan,” ucap Bonar, menu Cocktail Apptizer itu di sajikan dalam wadah kecil.


“Kok jadi romantis begini,” ujar Vani, ia tahu Bonar seorang badboy sebelum bersamanya, mungkin, dinner  romantis seperti ini, sudah hal biasa untuk Bonar, tetapi Vani tetap menghargai usaha  Bonar untuk memperbaiki hubungan mereka.


“Ya sepesial untuk kamu,” bisik  Bonar mengulum senyum .


“Baiklah, lalu, mana makanan utamanya?”


Tidak lama kemudian disajikan Steak Salad dan dua gelas wine, sebagai makanan pembuka dan dessert puding buah.


Setelah makan makanan pembuka, makanan utama, makanan penutup selesai.



Bonar sudah duduk gelisah, ia  bolak -balik menggeser panggulnya, melihat wajah gugup yang di tunjukkan Bonar  Vani yakin kalau pria itu ingin mengucapkan  sesuatu.


“Vani … aku ingi mengatakan sesuatu”


“Ya, apa?”


“Mari kita memulai hidup baru dari awal lagi,” lalu Bonar membuka kotak kecil memperlihatkan sebuah cincin.  Bonar ingin Vani menerimanya sebagai suami.


Bersambung

__ADS_1


Jangan lupa vote, like, komen kasih 💐 dan kopi juga ya, agar viewer tetap naik.


__ADS_2