Identitas Tersembunyi Sang Menantu

Identitas Tersembunyi Sang Menantu
Mendapat Vitamin C Dari Istri


__ADS_3

Setelah pulang dari rumah orang tua Vani,  wanita berparas cantik itu, meminta Bonar menghentikan Bonar meminggirkan mobil.


“Berhenti di sini”


“Ada apa?” Bonar mengangkat kedua alisnya, ia melirik Jonas,  anak itu sudah tertidur.


“Abang rapikan dulu pakaianmu.”


“Untuk apa?”


“Inang pasti  melihat kamu nanti, aku tidak mau dia melihatmu berantakan seperti ini.”


Vani mengeluarkan  bag makeup dari tas lalu memilih poundation dan bedak.


“Untuk apa itu ?” Tanya Bonar masih memperlihatkan ekspresi bingung.


“Aku menyamarkan luka memar di kening mu sama di pipi.”


Vani mengarahkan wajahnya mengolesi bedak di wajah Bonar, Vani tidak sadar kalau Bonar langsung terdiam dan tubuhnya menegang saat Vani menyentuh wajah Bonar, bahkan Bonar sampai menahan napas karena tegang.


“Nanti, kalau mama, menyadari bilang saja bibirnya terbentur pintu,” ujar Vani menyentuh bibir Bonar yang terluka, Bonar hanya diam bagai patung, menatap wajah Vani yang tepat di depan mata, bahkan Bonar bisa merasakan hembusan hangat dar hidung istrinya. Jantungnya berdetak bagai gendang.


“kok abang diam?” Vani memundurkan kepalanya dan menatap wajah Bonar yang tiba-tiba seperti patung.


“Kamu membuatku tegang”



Vani


“Tegang kenapa, memangnya aku ngapain, masa hanya disentuh seperti ini langsung tegang,” ujar Vani, melanjutkan mengoleskan bedak  ke luka Bonar, tanpa terduga Bonar memajukan tubuhnya dan mendaratkan bibirnya tepat di bibir Vani, wanita cantik itu,  awalnya menolak, ia memundurkan tubuhnya dari depan Bonar, dengan senyuman nakal Bonar seolah - Olah tidak ingin kehilangan kesempatan.  Menahan kepala Vani dengan tangan dan menikmati  bibir berwarna merah itu dengan lembut.


“Apa yang kamu lakukan?” Vani mendorong dada Bonar.


“Apa yang salah, itu salah satu cara untuk mengobati  rasa sakit di bibirku,” tutur Bonar pura- pura menggigit  bibir bawah yang terluka tadi.


“Bagaimana mungkin dengan melakukan hal itu bisa sembuh, alasan saja, awas”


“Vani diamlah, tutup matamu dan nikmati sebentar,” ujar Bonar kembali melanjutkan aksi nakalnya mengecup bibir istrinya semakin dalam.


“Bang … sudah. Nanti ada orang lewat


“Apa salahnya, aku kan mencium istriku,” ujar Bonar membela diri.


Uhum!


Mendengar batuk peringatan itu, mereka berdua langsung  melepaskan diri, Jonas sudah melipat tangan dan menonton kelakuan  orang tuanya.


"Astaga Bang, aku sudah bilang." Vani mengerakkan giginya.


“Bapa sama mama lagi ngapain?” tanya Jonas memutar bola matanya.


“A-a itu anu, mama mengobati luka Papah pakai ini, iya kan Bang”

__ADS_1


Bug …!


“Auuuh”


Vani menyikut pinggang Bonar dengar keras, “ ya itu benar,” ujar Bonar menahan tawa.


Mereka berdua seperti pencuri yang tertangkap basah, Vani tiba-tiba merasa kepanasan, ia mengibas-ibaskan   telapak tangannya ke wajah dan leher.


“Abang sih … mencari kesempatan dalam kesempitan,” rutuk Vani dengan bibir manyun, ia merasa malu karena di lihat sama putranya. Bukan hal yang salah sebenarnya, karena Bonar  suaminya, hanya saja, ini pertama kalinya untuk mereka melakukan itu, setelah hampir sepuluh tahun menikah.


“Itu bukan ambil  kesempatan dalam kesempitan Dek,  itu kesannya aku kayak orang nakal donk.  Aku hanya mengambil kesempatan yang ada,” ujar Bonar, tiba-tiba wajahnya berseri-seri , saat mendapatkan satu kissing hot dari istrinya.


“Kita pulang saja Ma, aku ngantuk, nanti saja kalian teruskan di rumah,” ujar Jonas.


"Yes ... ya Bang, Bapa jalan." Bapa mengedipkan mata pada Vani.


Vani tiba-tiba terbatuk saat mendengar Bonar mengatakan hal itu,, Bonar  menjalankan mobilnya kembali, tentunya dengan hati yang berbunga-bunga karena ia sudah dapat vitamin C dari Vani.


Saat tiba di rumah, Jonas masih tertidur.


“Gak usah di bangunin Dek, biar aku gendong ke kamarnya, kasihan dia pasti sangat ngantuk”


“Baiklah”


Karena sudah  malam, Vani tidak membangunkan Rati,  untungnya ia membawa satu kunci pagar, saat pintu  pagar didorong, ibu mertuanya masih bangun,  dia menunggu mereka, lalu membuka pintu depan.


“Mama kok belum tidur?”


“Bagaimana aku tidur Nang, kalau kalian belum pulang. Kenapa Bonar? Apa dia sakit?’ wajahnya langsung panik.


“Oh, ya sudahlah antarlah dia ke kamarnya. Kamu juga tidur di sini saja, tidur kau sama anakmu si Jonas itu,” pinta Bu Lisda.


“Tapi Ma, biarkan saja Bang Bonar pulang, dulu. Nanti kita bicarakan, untuk tinggal di sini"


“Eh, sudah malam, perasaan mama dari tadi gak enak, ada orang bolak -balik  naik motor melihat ke rumah kita”


“Benarkah.” Wajah Vani langsung panik.


Padahal itu alasan Bu Lisda, padahal biar Bonar bisa bersama istrinya.


“Maka itu biarkan suami, tidur di kamar Jonas”


“Ya, Bapa tidur sama aku saja  malam ini, oppung tidur dikamarnya di bawah sama bou,” ujar Jonas.


“Baiklah.” Bonar tersenyum bahagia karena dapat lampu hijau dari Jonas.


‘Eh  … kenapa jadi seperti ini, kami harus bikin kesepakatan dulu' ucap Vani dalam hati, ia melirik sinis pada suaminya.


Sementara Bonar mengedipkan mata nakal ke arah, Vani.


“Dasar , dasar playboy,” celetuk Vani.


Setelah menidurkan Jonas, Bonar keluar dari kamar, ia melihat semua seisi rumah istrinya, ini pertama kalinya ia diperbolehkan masuk ke dalam rumah, itupun karena ia punya strategi  dengan alasan menggendong Jonas ke dalam rumah. Setelah berganti pakaian Vani keluar ia ingin ke dapur untuk minum.

__ADS_1


“Kenapa abang belum tidur?" Suara Vani setengah berbisik, kerena semua orang sudah tidur.


“Aku haus”


“Ya udah ayo.” Vani mengajak suaminya kedapur.


“Wah, rumah kalian bagus rupanya, mewah bangat”


“Abang mau minum kopi atau teh manis?’


‘Kalau aku minta kopi, ada alasan untuk meminta menemani mengobrol’


“Kopi saja, hari ini belum ngopi, rasanya ada yang kurang kalau tidak ngopi”


Vani menyeduh segelas kopi, untuk Bonar dan ia duduk di depan suaminya, "Apa Abang yakin, Andre tidak akan mengganggumu, aku takut mendengar ancamannya tadi”


“Jangan khawatir, aku bisa mengatasinya,” ujar Bonar, tetapi matanya menatap istrinya dengan tatapan dalam.


“Apa lihat-lihat, gak usah mikir yang aneh-aneh yang tadi itu hanya kecelakaan”


“Kecelakaan bagaimana maksudnya.” Bonar malah mendekat dan duduk di kursi di samping Vani.


“Apa kamu takut atau malu?” Bonar menantang.


“Takut apaan? Aku hanya malas”


“Itu buktinya pipimu merah,” tuduh Bonar.


“Buka-”


Belum juga dijawab Bonar membungkam bibir Vani dengan bibirnya, Vani  mencoba menolak dengan mendorong dada bidang Bonar, tetapi lelaki itu menahan tubuh Vani, dengan memegang kedua tangan.


“Diamlah dan nikmati sebentar,” bujuk  Bonar menyentuh pipih mulus Vani dengan pungung tangannya.


“Kamu, nanti bagaimana kalau ibu bangun”


“Tidak apa-apa justru dia akan senang, dia akan lebih senang kalau Jonas dapat adik baru lagi”


“Kamu, jangan terlalu menghayal terlalu jauh , belum tentu aku mau”



Bonar.


“Aku akan memaksa.” Bonar semakin memperdalam pangutan bibirnya dan kedua tangan itu menahan  tangan Vani lebih kuat , mereka berdua terlihat seperti dua sejoli yang baru jadian., malu-malu tapi mau.


“Apa hanya sekedar, cium pun kamu menolak? Aku suamimu loh Van, aku tidak akan minta macam-macam hanya kiss malam ini”


Tidak ingin  Bonar  mencap dirinya sok suci atau sok jual-jual mahal lagi, Vani akhirnya tidak menolak lagi, mereka berdua kiss hot di dapur, saat lagi  menikmati dan bagai terbang ke langit ketujuh.


Tiba-tiba suara pintu kabar terbuka, Vani mendorong tubuh Bonar dengan panik, lalu Vani merapikan  kancing piyama miliknya yang sudah sempat terbuka dua kancing.


Bersambung

__ADS_1


Jangan lupa dukungannya iya kakak


Kasih vote like komen dan kasih kopi bila berkenan, agar viwers naik terus dan author tambah semangat untuk update tiap hari. Terimakasih


__ADS_2