Identitas Tersembunyi Sang Menantu

Identitas Tersembunyi Sang Menantu
Pindah Rumah


__ADS_3

Masih di Bali.


 Vani dan keluarganya masih menikmati liburan di sana membuang semua beban pikiran, menikmati keindahan pantai Bali dan tempat wisata .


“Harusnya rumah kita seperti ini Ma, di pinggir pantai, pasti bou dapat inspirasi banyak,” ujar Jonas.


“Iaaa auuut, au sua.”


(Ya laut, aku suka,” ujar Nur merentangkan tangannya dan menikmati angin pantai.


“Nanti kita akan beli satu Villa di sini mau gak Ma.” Bonar melirik Vani.


“Gak usa beli Pah, kalau kita liburan ke sini, tinggal bilang sama ito Jonathan,” ujar Vani terkekeh.


“Benar juga, kalu ada yang gratis kenapa harus beli,” timbal Bonar ikut tertawa.


Saat lagi duduk bersantai, Bonar mengungkapkan tentang pembatalan pesta  mereka sama Bu Lisda, awalnya wanita itu kaget, karena  mereka sudah merencakan dengan matang -matang, hanya tinggal sebar udangan yang belum.


“Bukannya kalian bilang sudah DP gedung?” tanya Bu Lisda menatap  mereka berdua dengan tatapan serius serius.


“Sudah, tidak apa - apa, biarkan saja, Aku sudah meminta sekretarisku  untuk mengurus semuanya,” ujar Bonar.


“Bapak Jonas, sayang uang kalian Mang, mama sudah  merasakan bagaimana susahnya mencari uang.”


“Ini bukan masalah membuang uang Mak, setelah kami pikirkan pesta di kampung akan lebih berkesan, nanti tulang-”


“Maksudnya pestanya di kampung kita?” potong wanita itu bersemangat.


“I-iya,” jawab Bonar  kaget dengan reaksi Bu Lisda, tadinya mereka pikir Bu Lisda  tidak sejutu, ternyata ia   yang paling  bersemangat.


“Mama senang?” tanya Vani tertawa.


“Senanglah Nang, mama bisa tunjukin pada orang sekampung  kalau anak -anak dan menantu saya sudah berhasil, jadi mereka yang suka omongin kamu dulu pasti jadi malu,” ucap wanita tertawa ceria.


“Astaga Ma, kenapa tidak memberi usul waktu itu sama kami, kalau  mama ingin kita pesta di kampung,” ujar Vani sedih ia memeluk ibu mertuanya.


“Kalian bersatu saja, mama sudah senang Nak, tidak ingin minta muluk-muluk.”


“Itu artinya kita pulang ke kekampung Pak?” Tanya Jonas, ia  bersemangat saat mendengar kata pulang kampung.

__ADS_1


“Ya kita akan pesta di kampung Bapak akan urus dulu semuanya baru kita Pulkam,” tuturnya lagi.


Setelah berlibur selama seminggu di Bali mereka kembali ke Jakarta.


Karena maraknya pemberitaan buruk yang menyerang  keluarga Bonar, tidak ada lagi ketenangan bahkan tidak ada lagi  kebebesan untuk keluarga mereka, kalau biasanya Jonas setiap  sering pergi ke rumah Adelio. Namun , beberapa hari yang lalu, setelah muncul berita baru lagi tentang dirinya ia tidak mau keluar dari rumah, berita kali ini  benar- benar menguji  kehidupan  mereka. Ketenaran dan keharmonisan rumah tangga Vani dan Bonar, sepertinya membuat Andre dan keluarganya kepanasan, setelah sempat reda  tentang berita itu, kini,  tanpa merasa malu kelurga Andre  membuat pengakuan kalau Jonas anak mereka, aib  keluarga kembali dibongkar.


Sebuah berita menyebutkan kalau  Jonas bukan anak kandung Bonar, itu ujian yang paling berat untuk Vani dan Bonar, padahal mereka berdua saudah berusaha agar  hal itu  tidak terjadi.


“Bagaimana ini Bang, apa yang akan kita katakan sama Jo?” tanya Vani mengusap wajahnya dengan putus asa.


“Kita ceritkan hal yang sebenarnya , itu lebih baik dia dengar dari kita,  dari pada  dari orang lain,” ucap Bonar.


“Bagaimana kalau dia jadi kecewa sama kita, apa mentalnya sudah kuat?” tanya Vani sangat khawatir.


“Sudah, dia sangat pintar,”puji Bonar.


Vani mengajak sang suami untuk berdoa bersama sebelum memberitahukan  hal yang sebenarnya pada Jonas, ini pergumulan berat mereka  berdua, saat Jonas  sudah sayang dan percaya sepenuhnya sama Bonar, ternyata dalam berita  yang beredar mereka menyebutkan kalau Bonar menelantarkanan istrinya  saat masih hamil.


“Walau itu satu kebenaran … Namun, aku tidak ingin mengingat masa lalu Pah, tidak mudah bagi kami melewati masa-masa sulit itu, di saat kami sudah bisa melupakannya kenapa ada orang yang tega melakukannya,” ujar vani.


“Maafkan aku Ma, maafkan semua kesalahanku.” Bonar merasa sangat bersalah.


Sebelum  beritanya  semakin meluas, Bonar dan Vani memutuskan bicara hal yang sebenarnya sama Jonas, mereka berdua datang ke kamar Jonas.


Saat tiba di kamar, seperti biasa anak lelaki itu, sedang melakukan kreasi.


“Mama boleh bicara, Jo?”


“Mama sama bapak mau ngomong apa?” Anak lelaki genius itu meletakkan peralatan itu lantai, menatap mama dan bapa nya bergantian.


“Tentang berita yang  beredar.”


“Tentang lelaki yang mengaku sebagai bapakku?”


Dug … !


Jantung Vani berdetak  kuat, “ ya,” jawab Vani dengan suara bergetar.


“Tidak apa-apa, biarkan saja,” ucap Jonas tenang.

__ADS_1


“Ha? Kamu tidak marah sama mama?”


“Kamu sudah tau?” Bonar menatap dengan panik.


“Aku sudah tahu … sudah lama  aku tahu, saat kami di kampung”


“Ha?” Bonar sama Vani ,  sama -sama terkejut.


“Saat di kampung tetangga kita pernah bilang padaku , kalau bapak kandungku , bukan bapak, makanya tidak mau tinggal sama kami itu katanya. Tapi, oppung bilang  hubungan kasih lebih kuat dari hubungan darah, jadi aku percaya kalau  bapakku sesungguhnya ya bapak,” ucapnya lagi.


“Kamu tidak marah sama mama dan bapak karena tidak jujur?” tanya Vani suaranya sampai bergetar menahan gejolak perasaan,  hal yang paling mereka berdua takutan, tidak ingin Jonas kecewa sama mereka berdua.


“Tidak, mama melakukan itu untuk menjaga  perasaanku,” ujar anak pintar itu dengan tenang.


Vani dan Bonar memeluk Jonas dengan tangisan, Bonar minta maaf jika putranya harus mengalami hal seperti itu  karena dirinnya.


“Jika laki- laki itu ingin menuntut ke pengalina biarkan saja Ma, aku sudah besar dan bisa memilih dengan siapa aku tinggal,” ujar Jonas lagi.


“Bagaimana kalau  mereka  menang?”


“Tidak akan bisa  membawaku pergi, karena aku punya orang tua yang lengkap, bagiku bapakku hanya  Pak Bonar,” ujar Jonas.


“Terimakasih jagoan, aku  selalu ada untukku,” ucap Bonar dengan tulus.


 Tidak ingin keluarganya merasa tertekan, Bonar akhirnya  membeli rumah baru di kawasan elite PIK  rumah di pinggir pantai, pemandangan laut akan menjadikan Nur semakin bersemangat.


“Ruangan  untuk Kakakk Nur ada di lantai satu,” ujar  Bonar, setelah rumah baru itu sudah siap di huni.


“Untuk aku?” Jonas penasaran.


“Kamar  abang ada di lantai satu juga di samping kamar bou,” bocah lelaki berlari  ke kamar yang di sebutkan Vani, ia melompat kegirangan karna kamar impainya  akhir terwujud .


“Kamar oppung di bawah saja , biar gak capek naik ke atas,” ujar Bonar.


“Kamar bapak sama mama di sana.” Vani menunjuk kamar yang luas.


“Jadi abang sama boumu, sudah bebas main di sana,” ujar Bu Lisda menunjuk halaman   yang  berwerna hijau yang segar.


Saling percaya dan menguatkan itulah yang mereka butuhkan saat menghadapi berita yang menyudutkan Bonar dan keluarganya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2