
Masih di Bali.
Vani dan keluarganya masih menikmati liburan di sana membuang semua beban pikiran, menikmati keindahan pantai Bali dan tempat wisata .
“Harusnya rumah kita seperti ini Ma, di pinggir pantai, pasti bou dapat inspirasi banyak,” ujar Jonas.
“Iaaa auuut, au sua.”
(Ya laut, aku suka,” ujar Nur merentangkan tangannya dan menikmati angin pantai.
“Nanti kita akan beli satu Villa di sini mau gak Ma.” Bonar melirik Vani.
“Gak usa beli Pah, kalau kita liburan ke sini, tinggal bilang sama ito Jonathan,” ujar Vani terkekeh.
“Benar juga, kalu ada yang gratis kenapa harus beli,” timbal Bonar ikut tertawa.
Saat lagi duduk bersantai, Bonar mengungkapkan tentang pembatalan pesta mereka sama Bu Lisda, awalnya wanita itu kaget, karena mereka sudah merencakan dengan matang -matang, hanya tinggal sebar udangan yang belum.
“Bukannya kalian bilang sudah DP gedung?” tanya Bu Lisda menatap mereka berdua dengan tatapan serius serius.
“Sudah, tidak apa - apa, biarkan saja, Aku sudah meminta sekretarisku untuk mengurus semuanya,” ujar Bonar.
“Bapak Jonas, sayang uang kalian Mang, mama sudah merasakan bagaimana susahnya mencari uang.”
“Ini bukan masalah membuang uang Mak, setelah kami pikirkan pesta di kampung akan lebih berkesan, nanti tulang-”
“Maksudnya pestanya di kampung kita?” potong wanita itu bersemangat.
“I-iya,” jawab Bonar kaget dengan reaksi Bu Lisda, tadinya mereka pikir Bu Lisda tidak sejutu, ternyata ia yang paling bersemangat.
“Mama senang?” tanya Vani tertawa.
“Senanglah Nang, mama bisa tunjukin pada orang sekampung kalau anak -anak dan menantu saya sudah berhasil, jadi mereka yang suka omongin kamu dulu pasti jadi malu,” ucap wanita tertawa ceria.
“Astaga Ma, kenapa tidak memberi usul waktu itu sama kami, kalau mama ingin kita pesta di kampung,” ujar Vani sedih ia memeluk ibu mertuanya.
“Kalian bersatu saja, mama sudah senang Nak, tidak ingin minta muluk-muluk.”
“Itu artinya kita pulang ke kekampung Pak?” Tanya Jonas, ia bersemangat saat mendengar kata pulang kampung.
__ADS_1
“Ya kita akan pesta di kampung Bapak akan urus dulu semuanya baru kita Pulkam,” tuturnya lagi.
Setelah berlibur selama seminggu di Bali mereka kembali ke Jakarta.
Karena maraknya pemberitaan buruk yang menyerang keluarga Bonar, tidak ada lagi ketenangan bahkan tidak ada lagi kebebesan untuk keluarga mereka, kalau biasanya Jonas setiap sering pergi ke rumah Adelio. Namun , beberapa hari yang lalu, setelah muncul berita baru lagi tentang dirinya ia tidak mau keluar dari rumah, berita kali ini benar- benar menguji kehidupan mereka. Ketenaran dan keharmonisan rumah tangga Vani dan Bonar, sepertinya membuat Andre dan keluarganya kepanasan, setelah sempat reda tentang berita itu, kini, tanpa merasa malu kelurga Andre membuat pengakuan kalau Jonas anak mereka, aib keluarga kembali dibongkar.
Sebuah berita menyebutkan kalau Jonas bukan anak kandung Bonar, itu ujian yang paling berat untuk Vani dan Bonar, padahal mereka berdua saudah berusaha agar hal itu tidak terjadi.
“Bagaimana ini Bang, apa yang akan kita katakan sama Jo?” tanya Vani mengusap wajahnya dengan putus asa.
“Kita ceritkan hal yang sebenarnya , itu lebih baik dia dengar dari kita, dari pada dari orang lain,” ucap Bonar.
“Bagaimana kalau dia jadi kecewa sama kita, apa mentalnya sudah kuat?” tanya Vani sangat khawatir.
“Sudah, dia sangat pintar,”puji Bonar.
Vani mengajak sang suami untuk berdoa bersama sebelum memberitahukan hal yang sebenarnya pada Jonas, ini pergumulan berat mereka berdua, saat Jonas sudah sayang dan percaya sepenuhnya sama Bonar, ternyata dalam berita yang beredar mereka menyebutkan kalau Bonar menelantarkanan istrinya saat masih hamil.
“Walau itu satu kebenaran … Namun, aku tidak ingin mengingat masa lalu Pah, tidak mudah bagi kami melewati masa-masa sulit itu, di saat kami sudah bisa melupakannya kenapa ada orang yang tega melakukannya,” ujar vani.
“Maafkan aku Ma, maafkan semua kesalahanku.” Bonar merasa sangat bersalah.
Sebelum beritanya semakin meluas, Bonar dan Vani memutuskan bicara hal yang sebenarnya sama Jonas, mereka berdua datang ke kamar Jonas.
Saat tiba di kamar, seperti biasa anak lelaki itu, sedang melakukan kreasi.
“Mama boleh bicara, Jo?”
“Mama sama bapak mau ngomong apa?” Anak lelaki genius itu meletakkan peralatan itu lantai, menatap mama dan bapa nya bergantian.
“Tentang berita yang beredar.”
“Tentang lelaki yang mengaku sebagai bapakku?”
Dug … !
Jantung Vani berdetak kuat, “ ya,” jawab Vani dengan suara bergetar.
“Tidak apa-apa, biarkan saja,” ucap Jonas tenang.
__ADS_1
“Ha? Kamu tidak marah sama mama?”
“Kamu sudah tau?” Bonar menatap dengan panik.
“Aku sudah tahu … sudah lama aku tahu, saat kami di kampung”
“Ha?” Bonar sama Vani , sama -sama terkejut.
“Saat di kampung tetangga kita pernah bilang padaku , kalau bapak kandungku , bukan bapak, makanya tidak mau tinggal sama kami itu katanya. Tapi, oppung bilang hubungan kasih lebih kuat dari hubungan darah, jadi aku percaya kalau bapakku sesungguhnya ya bapak,” ucapnya lagi.
“Kamu tidak marah sama mama dan bapak karena tidak jujur?” tanya Vani suaranya sampai bergetar menahan gejolak perasaan, hal yang paling mereka berdua takutan, tidak ingin Jonas kecewa sama mereka berdua.
“Tidak, mama melakukan itu untuk menjaga perasaanku,” ujar anak pintar itu dengan tenang.
Vani dan Bonar memeluk Jonas dengan tangisan, Bonar minta maaf jika putranya harus mengalami hal seperti itu karena dirinnya.
“Jika laki- laki itu ingin menuntut ke pengalina biarkan saja Ma, aku sudah besar dan bisa memilih dengan siapa aku tinggal,” ujar Jonas lagi.
“Bagaimana kalau mereka menang?”
“Tidak akan bisa membawaku pergi, karena aku punya orang tua yang lengkap, bagiku bapakku hanya Pak Bonar,” ujar Jonas.
“Terimakasih jagoan, aku selalu ada untukku,” ucap Bonar dengan tulus.
Tidak ingin keluarganya merasa tertekan, Bonar akhirnya membeli rumah baru di kawasan elite PIK rumah di pinggir pantai, pemandangan laut akan menjadikan Nur semakin bersemangat.
“Ruangan untuk Kakakk Nur ada di lantai satu,” ujar Bonar, setelah rumah baru itu sudah siap di huni.
“Untuk aku?” Jonas penasaran.
“Kamar abang ada di lantai satu juga di samping kamar bou,” bocah lelaki berlari ke kamar yang di sebutkan Vani, ia melompat kegirangan karna kamar impainya akhir terwujud .
“Kamar oppung di bawah saja , biar gak capek naik ke atas,” ujar Bonar.
“Kamar bapak sama mama di sana.” Vani menunjuk kamar yang luas.
“Jadi abang sama boumu, sudah bebas main di sana,” ujar Bu Lisda menunjuk halaman yang berwerna hijau yang segar.
Saling percaya dan menguatkan itulah yang mereka butuhkan saat menghadapi berita yang menyudutkan Bonar dan keluarganya.
__ADS_1
Bersambung