Identitas Tersembunyi Sang Menantu

Identitas Tersembunyi Sang Menantu
Aku Tidak Butuh Keluarga Seperti Mereka


__ADS_3

Bonar tahu bagaimana cara mengambil hati bapak mertuanya, setelah  ia mendapat banyak kebaikan dari Bapak Sudung di masa lalu, kini, Bonar  seolah-olah membalas semua kebaikannya, rumah yang sempat ingin di jual Sudung  dan sempat kosong  beberapa bulan, Bonar ingin merapikannya kembali.


Setelah berkordinasi dengan Vani, Bonar  merapikan  rumah ayah  mertuanya, ia tidak mau menganti apapun dari bentuk aslinya , ia ingin tetap seperti bentuk saat Bu Luna masih hidup,  karena ia tahu karakter Pak Sudung tidak suka mengganti barang-barang miliknya termasuk perabotan peninggalan istrinya, maka itu, Bonar  hanya meminta tukang merapikan dan memperjelas cat rumahnya dan menambah tanaman hias di halaman depan, karena saat Luna istrinya masih hidup sangat senang merawat tanaman hias, terlebih bunga anggrek.


Saat lelaki itu tiba, ia terdiam rumah  saat itu persis seperti saat istrinya masih hidup, ia tersenyum melihat ke arah taman, seolah-olah ia melihat istrinya  di sana.


“Daddy lihat apa?” tanya Daren.


“Lihat  mommy lagi pegang  bunga anggrek, bunga kesukaannya.”


“Dih ... ngarang … mana ada,” ucap Daren ikut menoleh ke arah tanaman anggrek, di sana tidak siapa - apa,  hanya Sudung yang melihatnya  dan merasakannya wanita yang dicintainya ada di sana mengawasi mereka.


“Selamat datang  Pak,” sambut asisten rumah tangga , ia pengasuh  Vani saat  masih kecil, wanita tua itu datang ke Jakarta hanya ingin melihat Vani, setelah melihat berita televisi tentang kematian Bu Luna banyak yang menelepon Sudung dan Vani.


“Oh, makasih Mbok.” Sudung memeluk wanita yang sudah terlihat tua itu.


Pak Sudung kembali menoleh ke taman, saat memeluk  mantan pengasuh Vani.


“Apa Papah juga bikin hologram itu di sana?’ bisik Vani.


“Gak, kenapa?”


“Daddy katanya  melihat istrinya di sana, aku pikir kamu dan Jonas bikin di sini juga.”


“Aku tidak meletakkan di sini, hanya di rumah Iyos untuk menakut-nakutinya sampai gila,” ucap Bonar, “mungkin benar, ada ibu di situ,” tutur Bonar.


“Kalau benar ada … aku mau memperkenalkan suamiku secara resmi padanya,” ucap Vani, lalu ia mengajak Bonar ke arah bunga anggrek.,”mommy  ini suami Vani, mommy pasti sudah kenal di kan dia suami Vani sekarang,” ucap Vani tertawa.


“Kok kamu tertawa sih Ma?” tanya Bonar serius.


“Aku tidak percaya  dia ada di sini,” ucap Vani, kalau seandainya dia ada di sini, aku hanya mau bilang,  Mommy aku sudah bahagia … aku berharap dia juga bahagia di sana,” ucap Vani.


Ia menarik tangan Bonar ikut masuk ke dalam rumah , ternyata di sana  sudah ada keluarga abang sepupu Vani, keluarga Jonathan,  setelah   Pak Sudung datang, keluarga besar  Vani berunding   untuk acara adat Vani.


Saat semua keluarga Vani tahu kebenaranya tentang kematian mama Vani, mereka akhirnya  bersimpati tadinya mereka semua tidak suka dengan Pak Sudung setelah menikah dengan Rosa.

__ADS_1


“Kamu tidak pernah mau cerita sama kita, jadi kita tidak tahu bagaimana  untuk membantu kamu,” ucap Bapak Brayen bapa tua Vani.


“Ya, saat itu aku tanya, apa yang bisa aku bantu, kamu tidak mau terbuka, sekarang kami tahu kenyataannya seperti itu, terus terang kami sebagai keluarga merasa bersalah sama kamu,” ucap papi Jonathan.


“Tidak apa-apa Bang, aku hanya ingin  menghadapinya sendiri saat itu, aku memilih diam, demi melindungi anak-anak.”


“Lalu bagaimana dengan wanita itu?”


“Aku tidak mengurus dia lagi, karena Vani  pintar bisa menyingkirkan. Dia tidak mendapatkan apa yang  dia inginkan .”


“Kamu hebat, bisa hidup selama puluhan tahun dengan seorang monster,” puji papi Jonathan.


“ Sudahlah lupakan semua itu, aku  hanya ingin bilang Vani akan mengadakan pesta adat di kampung itu sudah jadi keputusan mereka, kalau ada keluarga kita yang ingin ikut tidak ada ongko biar aku yang bayar ongkosnya, aku ingin pesta adat Vani meriah,” ucap Sudung.


“Jangan khawatir bapa uda, biar aku nanti yang bayar, bila perlu kita booking satu pesawat  bapak mertua Arnita  untuk bawa kita pulang,” ucap Jonathan.


“Boleh, biar aku  nanti yang urus semuanya,” sambut Arjuna, suami Arnita, lelaki itu putra pemilik salah satu perusahaan penerbangan di tanah air.


“Tenang , untuk transportasi dari bandara ke kampung biar  kami, ini spesial untuk pesta ito Vani,” ucap Brayen sepupu Vani.


“Untuk menginap jangan khawatir, kita bisa tidur di hotel Bang Jonathan,” ucap Arnita.


Eva, Jonathan, Arnita  membangun satu hotel di pinggir Danau toba, jadi semua keluarga tidak usah khawatir untuk mereka tinggal, mereka semua sangat kompak.


                     *


Setelah suasana tenang, beberapa hari kemudian akhirnya acara pertemuan antara keluarga berjalan secara adat Batak, seperti yang di inginkan Pak Sudung, dari dulu ia punya mimpi, ada pria baik-baik datang meminta izin untuk  membawa putrinya untuk membangun rumah tangga, walau  bukan gadis lagi, tetapi Vani dan Bonar menghormati keinginan Pak Sudung, mereka mengumpulkan pihak Marga Sinaga yang akan menemani mereka


 datang membawa keluarganya dan memperkenalkan pada keluarga Vani.


Bonar dan Vani melakukanya, Pihak Bonar sebagai pihak mempelai laki-laki yang akan datang berkunjung ke rumah pihak perempuan, hari itu keluarga laki-laki datang secara resmi ke rumah Vani .


Acara begitu  tenang tidak ada keributan dan tidak ada drama, karena Bonar sengaja tidak mengundang keluarganya bapa udanya (paman adik bapak) ia minta keluarga jauh yang menemaninya ke rumah orang tua Vani.


Nur juga ikut dan ia juga melakukan ritualnya seperti biasa,  lari lompat,  teriak, selama lima menit, tapi keluarga Vani melihatnya dengan santai karena mereka sudah tahu.  Vani dan Bonar  beberapa kali membawa Nur ke arisan keluarga,  agar ia terbiasa melihat orang asing.

__ADS_1


Hari itu,  setelah melakukan ritualnya,   Nur duduk dengan diam,  beberapa  keluarga Vani justru mengajak foto, karena Nur sudah jadi bintang iklan di televisi, ia juga salah satu deretan seniman  terkenal dengan lukisannya yang memukau.


“Kalau  duduk tenang seperti , tidak terlihat seperti orang sakit ya,” ucap Arnita.


“Kan ada pawangnya itu si Jonas,” ucap Vani.


Semua acara berjalan dengan baik, acara kekeluargaan itu adem dan tenang, setelah acara selesai Vani kembali pulang ke rumah.


“Pah, apa kamu yakin tidak ada masalah, kerena kita tidak mengundang inang  mama Lina.”


“Pasti Ma, mungkin kabar itu sudah sampai  sama mereka,” ujar Bonar.


“Memang tidak seharusnya kita tidak mengundang mereka, tapi karena ulah mereka kan, kalau mereka menganggap kita keluarga , tidak seharusnya mengatakan ke media kalau Jonas bukan anakku, keluarga apaan yang seperti itu,” ujar Bonar.


“Biarkan saja, mereka tidak pantas jadi keluarga,” ketus Bu Lisda, tiba-tiba  ia datang dari dapur.



“Mama tidak marah kan kalau  kami tidak undang mereka,” ucap Vani.


“Tidak usah, mereka tidak pantas disebut jadi bapak, orang tua harus  menutupi kekurangan anak-anaknya, bukan menyebarkan keburukan,” ujar Bu Lisda dengan emosi.


‘Apa mama tahu apa yang mereka katakan di luar sana’ tanya Vani dalam hati.


“Memang mama tahu apa yang mereka katakan?” Bonar menatap Vani.


“Taulah.”


“Ha? Dari mana mama tahu?” tanya Vani sama Bonar serentak, padahal mereka sudah sepakat jangan memberitahukan apa yang dikatakan mama Lina dan namboru Bonar di media bahkan di arisan Sinaga, ternyata Bu Lisda tahu.


“Mama tau dari Rati, dian  bilang samaku ‘ jahat kali Pung  namborunya bapak, dia bilang Jonas bukan anak bapak di TV’ itu yang dikatakan Rati padaku, lalu dikasih lihat videonya,” ucap Bu Lisda.


Bonar tidak ingin melibatkan keluarganya dalam acarapun dalam  keluarga mereka, Bonar sangat membenci keluarga bapa udanya saat ikut menjelek- jelekkn mereka di berbagai media, Bonar lebih memilih marga Sinaga dari  kelurga jauh dari pada bapa udanya. Apa yang di lakukan Bonar dapat di mengerti karena ia marah.


Bersambung

__ADS_1


jangan lupa like dan vote ya.


__ADS_2