
Bonar tahu bagaimana cara mengambil hati bapak mertuanya, setelah ia mendapat banyak kebaikan dari Bapak Sudung di masa lalu, kini, Bonar seolah-olah membalas semua kebaikannya, rumah yang sempat ingin di jual Sudung dan sempat kosong beberapa bulan, Bonar ingin merapikannya kembali.
Setelah berkordinasi dengan Vani, Bonar merapikan rumah ayah mertuanya, ia tidak mau menganti apapun dari bentuk aslinya , ia ingin tetap seperti bentuk saat Bu Luna masih hidup, karena ia tahu karakter Pak Sudung tidak suka mengganti barang-barang miliknya termasuk perabotan peninggalan istrinya, maka itu, Bonar hanya meminta tukang merapikan dan memperjelas cat rumahnya dan menambah tanaman hias di halaman depan, karena saat Luna istrinya masih hidup sangat senang merawat tanaman hias, terlebih bunga anggrek.
Saat lelaki itu tiba, ia terdiam rumah saat itu persis seperti saat istrinya masih hidup, ia tersenyum melihat ke arah taman, seolah-olah ia melihat istrinya di sana.
“Daddy lihat apa?” tanya Daren.
“Lihat mommy lagi pegang bunga anggrek, bunga kesukaannya.”
“Dih ... ngarang … mana ada,” ucap Daren ikut menoleh ke arah tanaman anggrek, di sana tidak siapa - apa, hanya Sudung yang melihatnya dan merasakannya wanita yang dicintainya ada di sana mengawasi mereka.
“Selamat datang Pak,” sambut asisten rumah tangga , ia pengasuh Vani saat masih kecil, wanita tua itu datang ke Jakarta hanya ingin melihat Vani, setelah melihat berita televisi tentang kematian Bu Luna banyak yang menelepon Sudung dan Vani.
“Oh, makasih Mbok.” Sudung memeluk wanita yang sudah terlihat tua itu.
Pak Sudung kembali menoleh ke taman, saat memeluk mantan pengasuh Vani.
“Apa Papah juga bikin hologram itu di sana?’ bisik Vani.
“Gak, kenapa?”
“Daddy katanya melihat istrinya di sana, aku pikir kamu dan Jonas bikin di sini juga.”
“Aku tidak meletakkan di sini, hanya di rumah Iyos untuk menakut-nakutinya sampai gila,” ucap Bonar, “mungkin benar, ada ibu di situ,” tutur Bonar.
“Kalau benar ada … aku mau memperkenalkan suamiku secara resmi padanya,” ucap Vani, lalu ia mengajak Bonar ke arah bunga anggrek.,”mommy ini suami Vani, mommy pasti sudah kenal di kan dia suami Vani sekarang,” ucap Vani tertawa.
“Kok kamu tertawa sih Ma?” tanya Bonar serius.
“Aku tidak percaya dia ada di sini,” ucap Vani, kalau seandainya dia ada di sini, aku hanya mau bilang, Mommy aku sudah bahagia … aku berharap dia juga bahagia di sana,” ucap Vani.
Ia menarik tangan Bonar ikut masuk ke dalam rumah , ternyata di sana sudah ada keluarga abang sepupu Vani, keluarga Jonathan, setelah Pak Sudung datang, keluarga besar Vani berunding untuk acara adat Vani.
Saat semua keluarga Vani tahu kebenaranya tentang kematian mama Vani, mereka akhirnya bersimpati tadinya mereka semua tidak suka dengan Pak Sudung setelah menikah dengan Rosa.
__ADS_1
“Kamu tidak pernah mau cerita sama kita, jadi kita tidak tahu bagaimana untuk membantu kamu,” ucap Bapak Brayen bapa tua Vani.
“Ya, saat itu aku tanya, apa yang bisa aku bantu, kamu tidak mau terbuka, sekarang kami tahu kenyataannya seperti itu, terus terang kami sebagai keluarga merasa bersalah sama kamu,” ucap papi Jonathan.
“Tidak apa-apa Bang, aku hanya ingin menghadapinya sendiri saat itu, aku memilih diam, demi melindungi anak-anak.”
“Lalu bagaimana dengan wanita itu?”
“Aku tidak mengurus dia lagi, karena Vani pintar bisa menyingkirkan. Dia tidak mendapatkan apa yang dia inginkan .”
“Kamu hebat, bisa hidup selama puluhan tahun dengan seorang monster,” puji papi Jonathan.
“ Sudahlah lupakan semua itu, aku hanya ingin bilang Vani akan mengadakan pesta adat di kampung itu sudah jadi keputusan mereka, kalau ada keluarga kita yang ingin ikut tidak ada ongko biar aku yang bayar ongkosnya, aku ingin pesta adat Vani meriah,” ucap Sudung.
“Jangan khawatir bapa uda, biar aku nanti yang bayar, bila perlu kita booking satu pesawat bapak mertua Arnita untuk bawa kita pulang,” ucap Jonathan.
“Boleh, biar aku nanti yang urus semuanya,” sambut Arjuna, suami Arnita, lelaki itu putra pemilik salah satu perusahaan penerbangan di tanah air.
“Tenang , untuk transportasi dari bandara ke kampung biar kami, ini spesial untuk pesta ito Vani,” ucap Brayen sepupu Vani.
“Untuk menginap jangan khawatir, kita bisa tidur di hotel Bang Jonathan,” ucap Arnita.
Eva, Jonathan, Arnita membangun satu hotel di pinggir Danau toba, jadi semua keluarga tidak usah khawatir untuk mereka tinggal, mereka semua sangat kompak.
*
Setelah suasana tenang, beberapa hari kemudian akhirnya acara pertemuan antara keluarga berjalan secara adat Batak, seperti yang di inginkan Pak Sudung, dari dulu ia punya mimpi, ada pria baik-baik datang meminta izin untuk membawa putrinya untuk membangun rumah tangga, walau bukan gadis lagi, tetapi Vani dan Bonar menghormati keinginan Pak Sudung, mereka mengumpulkan pihak Marga Sinaga yang akan menemani mereka
datang membawa keluarganya dan memperkenalkan pada keluarga Vani.
Bonar dan Vani melakukanya, Pihak Bonar sebagai pihak mempelai laki-laki yang akan datang berkunjung ke rumah pihak perempuan, hari itu keluarga laki-laki datang secara resmi ke rumah Vani .
Acara begitu tenang tidak ada keributan dan tidak ada drama, karena Bonar sengaja tidak mengundang keluarganya bapa udanya (paman adik bapak) ia minta keluarga jauh yang menemaninya ke rumah orang tua Vani.
Nur juga ikut dan ia juga melakukan ritualnya seperti biasa, lari lompat, teriak, selama lima menit, tapi keluarga Vani melihatnya dengan santai karena mereka sudah tahu. Vani dan Bonar beberapa kali membawa Nur ke arisan keluarga, agar ia terbiasa melihat orang asing.
__ADS_1
Hari itu, setelah melakukan ritualnya, Nur duduk dengan diam, beberapa keluarga Vani justru mengajak foto, karena Nur sudah jadi bintang iklan di televisi, ia juga salah satu deretan seniman terkenal dengan lukisannya yang memukau.
“Kalau duduk tenang seperti , tidak terlihat seperti orang sakit ya,” ucap Arnita.
“Kan ada pawangnya itu si Jonas,” ucap Vani.
Semua acara berjalan dengan baik, acara kekeluargaan itu adem dan tenang, setelah acara selesai Vani kembali pulang ke rumah.
“Pah, apa kamu yakin tidak ada masalah, kerena kita tidak mengundang inang mama Lina.”
“Pasti Ma, mungkin kabar itu sudah sampai sama mereka,” ujar Bonar.
“Memang tidak seharusnya kita tidak mengundang mereka, tapi karena ulah mereka kan, kalau mereka menganggap kita keluarga , tidak seharusnya mengatakan ke media kalau Jonas bukan anakku, keluarga apaan yang seperti itu,” ujar Bonar.
“Biarkan saja, mereka tidak pantas jadi keluarga,” ketus Bu Lisda, tiba-tiba ia datang dari dapur.
“Mama tidak marah kan kalau kami tidak undang mereka,” ucap Vani.
“Tidak usah, mereka tidak pantas disebut jadi bapak, orang tua harus menutupi kekurangan anak-anaknya, bukan menyebarkan keburukan,” ujar Bu Lisda dengan emosi.
‘Apa mama tahu apa yang mereka katakan di luar sana’ tanya Vani dalam hati.
“Memang mama tahu apa yang mereka katakan?” Bonar menatap Vani.
“Taulah.”
“Ha? Dari mana mama tahu?” tanya Vani sama Bonar serentak, padahal mereka sudah sepakat jangan memberitahukan apa yang dikatakan mama Lina dan namboru Bonar di media bahkan di arisan Sinaga, ternyata Bu Lisda tahu.
“Mama tau dari Rati, dian bilang samaku ‘ jahat kali Pung namborunya bapak, dia bilang Jonas bukan anak bapak di TV’ itu yang dikatakan Rati padaku, lalu dikasih lihat videonya,” ucap Bu Lisda.
Bonar tidak ingin melibatkan keluarganya dalam acarapun dalam keluarga mereka, Bonar sangat membenci keluarga bapa udanya saat ikut menjelek- jelekkn mereka di berbagai media, Bonar lebih memilih marga Sinaga dari kelurga jauh dari pada bapa udanya. Apa yang di lakukan Bonar dapat di mengerti karena ia marah.
Bersambung
__ADS_1
jangan lupa like dan vote ya.