
Perkelahian Bonar dan Andre, dilihat oleh Sudung, tetap ia tidak mengatakan apa-apa, hanya melihat dari jendela ruang kerja, seolah-olah ia sudah tahu , kalau Andre menyesal meninggalkan Vani.
“Pulang sana. Kamu tidak malu bertengkar di depan anak kecil,” ujar Vani.
“Apa bapa sakit?”Jonas memeluk kaki Bonar, ia ikut menangis ketakutan.
“Tidak apa-apa Bang, ini hanya luka kecil.” Bonar mengusap bibirnya yang terluka karena dibogem sama Andre.
“Lihat, kamu akan dapatkan akibatnya nanti, kamu sadar diri, kamu tidak pantas sama mereka, kamu hanya si miskin yang berharap jadi menantu orang kaya,” ujar Andre menunjuk-nunjuk Bonar.
“Pergilah, sebelum aku memecahkan kepalamu,” balas Bonar.
Saat ia ingin membalas memukul Bonar lagi, supir dan satpam memegangi Bonar, mengantar sampai ke mobil, Vani meminta supir mengambil kotak obat.
“Tidak usah, kita pulang saja, aku tidak enak sama Pak Sudung,” ucap Bonar mengusap bibirnya yang berdarah, bukan hanya bibir, keningnya juga ikut terluka terkena cincin Andre.
“Apa kamu yakin?”
“Ya, ayo kita pamit lalu pulang”
“Aku tidak ingin mama melihatmu seperti ini, nanti dia sedih, kita obati saja dulu lukamu. Jangan bilang kamu bertengkar, bilang saja kejedot pintu mobil atau kejedot pintu kamar mandi”
“Kamu yakin … aku mengatakan itu.” Bonar melirik Jonas, “ anak kecil tidak bisa dibohongi”
“Benar juga.” vani menggaruk batang lehernya, kalau ia minta Jonas berbohong, anak lelaki itu pasti tidak mau, tetapi kalau jujur takut ibu mertuanya shock.
“Tenang saja, jangan dipikirkan, biar aku yang mengatasinya sama mama, kita pamit pulang sama bapak”
Saat mereka minta izin pulang, “tunggulah sebentar lagi, mari duduk di sini.” ujar Sudung mengajak mereka kembali ke ruangannya.
Vani menolak, melihat wajah Rosa dan Winda, ia merasa sangat marah, harusnya ia dan adiknya yang tinggal di rumah itu. Namun yang terjadi mereka terusir dari rumah sendiri karena ulah ibu tiri dan saudara tirinya .
Vani ingin segera pulang ke rumahnya, bagi Vani rumah keluarganya saat itu, sudah seperti tempat asing.
“Kita tunggu bentar lagi Bonar membujuk Vani”
“Lain kali saja , Dad”
“Daddy, ingin bicara hal penting, Van,” ujar Sudung dengan suara lembut.
Vani akhirnya menurut, mereka bertiga duduk kembali saat ingin bicara, daddynya Vani menoleh ke pintu ada bayangan orang yang sedang menguping, ia tahu kalau Rosa istrinya menguping pembicaraan mereka.
Vani ikut mengarahkan mataya kearah pintu, benar saja ada bayangan orang terlihat dari bawah pintu, sadar mereka di awasi, Sudung tidak jadi menceritakan semuanya
“obati saja lukamu dulu.” Sudung mengeluarkan kotak obat.
__ADS_1
“Daddy mau bilang apa?” tanya Vani pelan.
“Dengan kalian mengungkap tentang pernikahan, mungkin akan banyak masalah, daddy berharap Bonar berhati-hati, Andre orang yang nekat”
“Baik Pak,” jawab Bonar.
Walau Sudung sudah berusaha membujuk mereka untuk menginap di sana, Vani tetap menolak, padahal kakek Jonas itu sudah mempersiapkan satu kamar untuk Jonas, ia berpikir kalau mereka akan tinggal di rumah itu ia bisa bermain dengan cucunya.
“Nanti kami akan datang sering-sering Pak, jangan khawatir,” ujar Bonar, ia sangat kasihan melihat Sudung, ia tahu bagaimana perasaan lelaki itu karena ia tahu apa yang terjadi, ia juga sering diajak setiap kali bepergian.
Vani keluar dari rumahnya setelah ia pamit, melihat Vani tidak tinggal di rumah itu, Rosa tersenyum licik, ia berpikir ia dan anak-anaknya yang berkuasa di rumah itu selamanya.
“Vani!” panggil Pak Sudung sebelum mereka pergi.
“Ya”
“Rumah ini, masih rumahmu, kamu dan suamimu, bisa datang kapanpun,”ujar Sudung.
“Ya Dad”
“Bang, pamit sama oppung kita akan pulang,” pinta Bonar sama Jonas, anak lelaki itu duduk di jok belakang.
“Kami pulang ya Pung, jaga kesehatan, kalau oppung bosan di sini, datang saja ke rumah kami, di sana sangat enak, kita bisa panen sayuran tiap hari, oppung dari Papa nanam sayur banyak,” ujar Jonas.
“Boleh Pung, aku akan membuatkan lukisan yang sangat bagus sama oppung”
“Baiklah”
“Da,da Pung
Mendengar cucunya sopan dan baik, Pak Sudung sangat bahagia dan bangga, ia tersenyum kembali, padahal sudah lama ia tidak tersenyum sejak anak-anaknya tidak bersamanya, Ia sangat mendukung Bonar yang menjadi menantunya, sebenarnya Sudung sudah lama ingin memberikan satu jabatan yang tinggi untuk Bonar, tetapi ia ragu karena lelaki itu, tidak mau serius dengan putrinya. Namun, melihat sikap Bonar pada Jonas. Pak Sudung mempertimbangkan kembali.
“Apa kamu baik -baik saja?” Tanya Bonar melirik Vani yang diam sepanjang perjalanan.
“Tidak, aku tidak baik”
“Apa masalahnya?”
Vani melirik ke belakang jonas sudah tidur, melihat anak itu sudah tidur barulah dia bicara. “Andre, ingin merebut Jonas”
“Jadi karena itu dia menceraikan istrinya”
“Mungkin, tapi aku tidak ingin terlibat dalam permasalahan mereka”
“Jangan takut, dia tidak bisa berbuat apa-apa , karena kita menikah secara sah. Selagi kita tetap bersama, si keparat itu tidak akan berhasil, percaya padaku”
__ADS_1
Vani mengingat pesan pengacaranya, wanita itu meminta Vani agar tinggal satu rumah dengan Bonar,” kami butuh abang untuk mendampingi kami di sini, aku takut dia tiba-tiba datang”
“Kalau begitu aku akan pindah ke rumah,” ujar Bonar.
Vani diam, sebenarnya ia masih sangat marah pada Bonar, tetapi demi anaknya ia akan mengalah lagi.
‘Baiklah Vani, ini demi anakmu, semua akan baik-baik saja
“Bagaimana kalau mama sama Nur pulang saja tinggal di kampung”
Mendengar hal itu Vani jadi marah.
“Abang malu lagi?”
“Bukan aku takut mereka jadi beban pikiranmu, soalnya kamu lagi banyak masalah”
“Mereka penyemangat hidupku, karena Inanglah aku kuat selama ini, abang malu kalau tinggal satu rumah dengan Nur? Eda, wanita yang hebat, abang tidak tahu kalau dia sudah seniman sekarang”
“Seniman apa?”
Bonar tidak percaya saat Vani cerita kalau Nur sudah jadi pelukis terkenal, ia malah meminta ibunya dan Nur pulang lagi ke kampung, tetapi Vani menolak dengan tegas.
Vani juga yakin kalau hidup Bonar akan mendapat banyak kesulitan karena menikah dengannya. Vani yakin kalau Rosa tidak akan membiarkannya tenang.
“Tapi ngomong-ngomong apa benar wanita itu tidak tahu kalau kita dulu menikah? Apa dia tidak tahu kalau daddy memintamu menikahi ku”?
“Tidak sama sekali, justru dia memnta ku melenyapkan mu, dia menawariku uang seratus juta”
“Apa?”
Vani kaget, saat Bonar memberitahukan keinginan busuk ibu tirinya, lalu kamu … bagaimana mengatasinya?”
“Tentu saja aku menolak Vani, kalau aku menerima kalian berdua tidak ada sampai sekarang”
“Tapi kenapa, apa salahku, kenapa mereka semua bekerja sama menjebakku, lalu mempermainkan hidupku? kalau misalkan Winda suka Andre ya sudah ambil. Tidak usah membuang ku dan memintamu melenyapkan ku”
“Sebenarnya karena ibu mewariskan semua harta atas namamu, lalu saat itu Pak Sudung juga ingin mewariskan semuanya atas namamu. Lalu Bu Rosa tahu dan merencanakan hal itu, ia membuat skenario untuk mengusir mu dari rumah, jika kamu hamil pak Sudung akan menikahkan mu dengan Andre. Namun, rencana itu gagal karena Winda dan Andre berselingkuh dan Winda tidak mau Andre menikahi mu”
“Ternyata karena harta,”lirih Vani dengan sedih.
“Van, apa yang di lakukan Pak sudung untuk kebaikanmu, dia ingin melindungi kamu dengan adikmu. Karena sebenarnya ayah andre dan Bu Rosa bekerja sama ingin menguasai perusahaan, karena itulah dia menyembunyikan mu di kampung , dia bukan membuang mu. Aku juga baru tahu kalau beliau meminta seseorang selama ini mengawasi kamu dan aku,” ujar Bonar.
Akhirnya pertanyaan dalam hati Vani selama ini terjawab, dalang semua itu Rosa dan ayahnya Andre
Bersambung...
__ADS_1