
Satu minggu dikampung halaman, banyak yang mereka lakukan keliling danau toba menggunakan kapal, ternyata Vani ngidam ingin makan mangga Toba, lalu mereka berburu mangga di desa Bakkara, mangga Toba di kenal sangat manis dan enak.
Tadinya Vani berpikir kalau Bu Lisda tidak mau lagi kembali ke Jakarta, karena di kampung lebih nyaman. Udara yang sejuk suasana yang tenang tidak ada kebisingan, di depan rumah Bonar Danau Toba, buka pintu disuguhkan pemandangan yang indah, airnya yang jernih, udaranya dingin dan sejuk, ingin makan ikan mas tinggal lempar jala, dapat ikan mas.
Saat diajak pulang kembali ke Jakarta, ibu mertuanya masih mau.
Bu Lisda ingin melihat cucu keduanya lahir, makanya ia mau kembali ke Jakarta. Vani sangat senang saat ibu mertuanya mau ikut pulang. Besok harinya mereka kembali ke Jakarta membawa cerita dan keseruan selama pulang kampung.
*
Tiba di Jakarta.
“Aku berharap opung sehat terus biar bisa kita pulang kampung lagi,” ucap Jonas.
“Baiklah, semoga kita sehat semua Mang, bukan hanya oppung,” balas Bu Lisda, ia sibuk membuka oleh-oleh yang mereka bawa dari kampung , ia akan bagi-bagi sama keluarga yang datang ke rumah mereka.
Baru juga mereka tiba Nur sudah masuk ke ruangannya.
“Ah, bou mana?” tanya Bonar saat mereka ngumpul.
“Tangannya pasti sudah gatal, ingin pegang kuas,” ujar Bu Lisda.
“Ya, apalagi habis jalan-jalan , nanti lukisan Bou semua tempat yang kita jalani,” ucap Jonas.
“Benar Bu, tadi saat aku antar air minum ke kamar, bou Nur lukis saat kita pesta di kampung,” ucap Rati.
Mereka semua tertawa karena tebakan Jonas benar, Nur akan menuangkan semua apa yang ada dalam otaknya dalam lukisan, sebuah akan terpampang dengan detail, Nur sama seperti Jonas ingatannya kuat .
Saat lagi bersantai, William datang bertamu, lelaki itu yang mengendalikan Jonas Karya selama Vani pulang kampung.
“Mana oleh-oleh untukku Pung,” ucap William bercanda, lalu ia duduk.
“Sini lah Nak, aku sudah siapkan sama kau yang banyak,” ucap Bu Lisda.
William sudah seperti keluarga untuk Vani, maka setiap kali ia datang ia tidak pernah sungkan lagi di rumah mereka.
“Tunggu ya Om, biar aku ambil … Jonas datang membawa potongan bolu meranti dan bika ambon, oleh-oleh khas dari Medan.
Bolu meranti dengan ciri khasnya, bolunya digulung di dalamnya ada cream beberapa varian rasa tekstur bolu lembut, Bika Ambon, namanya saja bika ambon, tapi dikenal oleh -oleh dari Medan.
“Apa Pak Sudung sudah kasih tau?” tanya William sembari menikmati oleh -oleh yang disuguhkan padanya.
__ADS_1
“Tau apa?” menatap dengan serius.
“Mantan ibu tiri mu sudah di tangkap polisi,” ujar William.
“Kapan? Kok kami tidak tau.” Vani duduk kembali.
“Saat kalian pulang kampung,” jawab William.
“Lalu …?” Bonar dan Vani sama-sama menunggu jawaban.
“Dia di penjara.”
‘Pak Sudung akhirnya memberi mereka pelajaran, benar katanya dulu dia bilang, dia hanya menunggu waktu yang tepat’ ucap Bonar dalam hati.
“Kok daddy gak pernah bilang.”
“Dia tidak ingin kamu banyak pikiran Ma, bapak hanya ingin melakukan pekerjaannya sendiri.” ucap Bonar.
“Lalu bagaimana dengan Winda? Apa dia juga ikut ke penjara?” tanya Vani, ia penasaran mendengar kabar adik tirinya, setelah scandal dengan bapak mertuanya dulu ia menghilang.
“Tidak, aku dengar Andre melaporkan Winda mantan istrinya dengan tuduhan pemerasan dan penipuan dia melarikan diri ke luar negeri, sekarang dia jadi buronan,"ucap William.
Rosa mencuri saat rumah itu kosong selama beberapa bulan, perhiasan itu di jual untuk biaya perawatan tubuhnya, Rosa sudah ketagihan melakukan operasi di bagian setiap tubuhnya, ia tidak pernah merasa puas.
Setelah Rosa dan Winda menghabiskan uang Iyos, lelaki itu akan terlilit hutang yang banyak, setelah tahu kejahatan Rosa selama ini Andre kahirnya memihak pada Sudung dan ia membongkar semua kejahatan Rosa termasuk mencuri perhiasan mama Vani. Pak Sudung membayar orang untuk menangkap Rosa dan akhirnya ia ditemukan di surabaya. Tujuannya ke sana untuk mencari mangsa baru lelaki yang mau membiayai hidupnya.
Mendengar Rosa ditangkap dan Winda jadi DPO, Vani diam, bayangan kematian ibunya kembali terlintas di benaknya.
‘Mommy tenanglah di sana ya, semua orang yang jahat padamu waktu itu, sudah mendekam di penjara bahkan Tante dicoret dari kartu keluarga’ bisik Vani dalam hati.
“Van, nanti tidak usah tanya pak Sudung, biarkan saja dia melakukannya semuanya, kamu fokus ke kehamilan kamu saja,” ujar William menasihati sahabatnya.
“Ya Ma, jangan pikirkan lagi tentang mereka, serahkan semuanya sama bapak,” tutur Bonar juga.
“Walau berat hati aku akan melakukannya.”
“Aku sih berharap dia satu sel sama Iyos, biar mereka membina hubungan lagi di sana,” ucap William tertawa.
“Itu tidak mungkin sel wanita dan laki-laki pisah, saat Iyos ke penjara aku sempat menemuinya aku ingin melihat wajah sombongnya saat berada dalam sel.”
“Lalu … ada yang berubah?” gantian, kini, William yang dibuat penasaran dengan cerita Bonar.
__ADS_1
Bonar tertawa mendengus saat mengingat saat ia datang berkunjung ke penjara, “dia masih tetap angkuh, dia balik menantang ku, dia bilang, tidak akan lama dipenjara, aku langsung menelepon lae Jonathan, dia, banyak teman polisi, rupanya bapak mertua juga membantu, Iyos akan lama di penjara,” ucap Bonar yakin.
Saat lagi mengobrol dengan William Jonathan dan keluarganya datang berkunjung ke rumah Vani.
“Eh ito sama bapa tua, eh si cantik Adelia tumben mau ikut ke rumah Bou,” ucap Vani membelai rambut Adelia, anak cantik berusia dua belas tahun itu tumbuh tinggi mengikuti sang bapaknya.
“Jo, ada Adelia sama Adelia ni sini Bang,” panggil Bonar pada putra sulungnya.
Jonas keluar dari kamar dengan setengah mengantuk, saat itu dia sedang tidur siang, saat melihat Adelia tersenyum , baterai Jonas seakan-akan di cas full ia tersadar.
“Eh .. tulang datang,” ucapnya menyelami tangan Jonathan dan istrinya dan semua keluarga yang datang.
Tingkah Jonas yang bersikap malu-malu membuatnya jadi bahan candaan, Jonas di usianya yang memasuki tiga belas tahun , ia tumbuh tinggi seperti Bonar hobi yang suka main basket.
“Eh, salam paribanmu dulu.” Daren tiba-tiba datang dari pintu.
Kalau Daren selalu meledek Jonas, alhasil anak lelaki itu semakin malu.
“Apa sih Tulang.” Jonas memeluk pinggang Daren.
“Ajaklah main,” ledek Daren lagi.
“Ayo ke kamarku mau lihat robot buatanku?” ajak Jonas.
“Boleh.” Adelio berdiri, tapi si cantik Adelia tidak mau ikut ke kamar Jonas, layaknya anak remaja ia masih malu-malu kucing jika diledekin.
Tidak ada pembicaraan yang serius yang mereka bahas untuk menjurus perjodohan, hanyalah sekedar candaan seperti kebiasaan orang Batak, kebiasaan dalam orang Batak jika, ada yang marpariban biasanya akan selalu ada candaan, tetapi tidak menutup kemungkinan dari candaan bisa jadi kenyataan. Vani dan Jonathan bahkan mendukung jika mereka mereka berjodoh kelak.
*
Beberapa bulan kemudian Vani melahirkan bayi perempuan adik Jonas, semua doa dan harapan terjawab, karena Daddy nya dan ibu mertuanya semakin sehat dan bisa menggendong cucu mereka.
Nur hidupnya semakin diberkati, yayasan Rumah Nur di dukung berbagai pihak dan sudah membuka cabang di Medan.
Kebahagiaan dan kegembiraan menjadi milik keluarganya, air matanya yang dulu dibayar dengan kebahagiaan.
Tamat
Terimakasih banyak atas dukungan Kakak semua Vani, Jonas, Bonar, Nur, Inang Lisda pamit TAMAT sampai bertemu di karyaku selanjutnya.
Terimakasih GBU untuk kalian semua.
__ADS_1