Identitas Tersembunyi Sang Menantu

Identitas Tersembunyi Sang Menantu
Keluarga yang Menginspirasi


__ADS_3

Masih dalam studio, semua orang terpukau saat Nur mampu menyelesaikan tantangan yang di berikan, dia mampu menghasilkan sepuluh lukisan yang sangat indah hanya dalam waktu  tiga puluh menit.


Nur melakukan hal yang  memukau dalam pertunjukkan tersebut, padahal objek yang di lukis juga   bukan hal yang mudah  dan membutuhkan ketelitian  dalam setiap goresan kuas, tetapi Nur bisa mengatasinya, ia seperti seorang Dewi pelukis, ia menjiwai setiap lukisan yang ia buat, seolah- oleh ia ikut dalam lukisan tersebut, begitu indah dan hidup, mata semua orang begitu terpesona melihatnya, akhirnya ia berhasil.


“Oh luar biasa! Kakak  ini, mampu menyelesaikan  seperti yang kita  targetkan, bahkan waktunya masih tersisa  satu menit lagi, tepuk tangan untuk kakak Mesnur Sinaga,” seru MC bersemangat.


Mendengar suara tepuk tangan dan teriakan Nur kembali  melompat- lompat kegirangan seperti anak kecil yang berhasil  menyelesaikan sebuah permainan.


Jonas memegang tangan bibi nya agar tidak melakukan kekacauan lagi,  dengan adanya Jonas di atas panggung mendampingi , Wanita  ber usia empat puluh tahun itu bisa dikendalikan.


Semua kekacauan tadi bisa terjadi karena obat  Nur ketinggalan di rumah, kalau  mereka ingin membawa Nur bepergian, dokter  yang menanggani Nur selalu memberi resep, setelah minum obat ia akan lebih tenang , tetapi kalau tidak dikasih minum obat ia akan  melakukan  seperti biasa; melompat, berlari, berteriak selama  limat, setelah itu baru ia akan tenang. Tetapi  untuk saat ini tidak sampai lima menit karena ada pawangnya  datang menjinakkan.


Tadinya wajah Bonar sampai menghitam menahan emosi saat Nur,  berlari tidak terkendali, tetapi setelah Nur berhasil melakukan tantangan tersebut, Bonar mengusap  ujung matanya menyingkirkan butiran kristal yang  jatuh dari sana.


“Terimakasih Tuhan,” bisik Vani, ia menggenggam tangan Bonar, mereka berdua saling menguatkan.


Lalu host, acara itu meminta Vani duduk bersama mereka bergabung dengan beberapa orang yang menginspirasi.


“Apa kakak ingin mengatakan sesuatu?” tanya sang pembawa cara sama Nur, wanita itu hanya  bertepuk tangan dan membesarkan bola matanya.


Lalu diberi kesempatan untuk Vani bicara .


“Terimakasih … untuk semuanya mohon maaf  atas ketidak nyamanan tadi,  kakak ipar saya memiliki sedikit kekurangan, dia akan bersikap seperti itu kalau bertemu banyak orang dan berada di tempat yang baru, dia akan melompat, berteriak , berlari selama lima menit setelah itu barulah di tenang. Untungnya ada pawangnya langsung datang,” ujar Vani di sambut tawa dari penonton.



“Apa dia akan seperti  di rumah?” tanya MC lelaki itu dengan tatapan penasaran.


“Tidak, di rumah kami dia  seperti orang normal jika bersama anak saya dan  mama saya”


“Maksudnya mama Kakak,sama mama dia sama?”


“OH maaf …  bukan, ibu mertuaku biasa aku panggil mama ,” ucap Vani meralat ucapnya.


“Itu artinya nilai lukisannya sudah banyak, Kak?"


"Ya Sudah dipesan dari luar negeri juga," tutur Vani lagi.


"Sudah bernilai tinggi?” tanya lelaki itu kaget.

__ADS_1


“Ya, bahkan satu lukisan pernah kami jual ratusan juta yang kami sumbangkan ke yayasan kami. Aku dan suami saya membangun satu yayasan atas nama dia, untuk membantu orang-orang yang punya kekurangan atau memiliki keistimewaan seperti Nur."


“Wow … luar biasa,” puji lelaki itu dengan takjub.


“Jadi  kebanyakan hasil penjualan dari galeri seni milik dia, di sumbangan ke yayasan itu," tutur Vani lagi.


“Lalu, untuk yayasannya sendiri ... sudah berapa  penghuni?” tanya lagi.


“Sekitar dua puluh lima orang, padahal baru buka dua bulan dan mungkin akan bertambah lagi, karena kami bekerja sama dengan beberapa orang yang bekerja sebagai youtuber yang sering menjadikan kegiatan  menemukan orang - orang   gangguan mental di jalanan,” ujar Vani.


“Oh … ya, saya pernah menonton acaranya, setelah mereka di bersihkan lalu diantar ke Dinas Sosial.”


“Ya, ada yang diantar ke Dinas Sosial, ada juga yang diantar ke  yayasan kami,"s sahut Vani.


“Mulia sekali tujuan kalian, Kenapa? untuk apa?"


“Ya, kami ngin menjadi berkat bagi orang lain dan mengulurkan tangan pada orang yang benar- benar membutuhkannya, bukan hanya sekedar omongan, tetapi perlu tindakan. Mereka juga tidak ingin seperti itu, tetapi sering sekali di jalan- jalan sana kita sering menemukan mereka berkeliaran, tidur  emperan toko dan makan dari tempat sampah, sebagian masyarakat terkesan acuh dan tidak perduli … seolah- olah tidak punya rasa empati," ucap Vani.


“Lalu apa yang harus dilakukan  masyarakat jika menemukan  tau melihat seperti itu?” tanya lelaki lagi.


“Lakukan satu tindakan yang nyata … kalau memang masyarakat takut, bisa hubungi dinas sosial ,” ujar Vani lagi.


“ Begini … di balik kekurangan ipar saya, di punya seribu keistimewaan, ya salah satunya melukis, karya lukisannya sudah  tembus ke Eropa, dan beberapa negara di Asia bahkan baru-baru ini kami dapat pesanan dari negara Timur. Nur juga orang baik yang berhati mulia dia tidak pernah mau menyakiti orang lain, justru orang lain yang sering menyakiti secara verbal karena melihat penampilan fisiknya yang kurang sempurna,” ujar Vani.


“Apa  dia mengerti kalau saya bicara dengannya?” tanya  host dengan wajah takut- takut.


“Terkadang dia bisa menyimak dengan baik apa yang kita katakan, saat kita menatap wajahnya  atau otaknya terfokus ke kita, tetapi terkadang  jawab tidak nyambung dan  dia  juga gagu."


“Boleh saya coba kasih pertanyaan, apa dia tidak mengamuk?”


“Tidak coba saja, tapi mungkin saya akan bantu terjemahkan,” ucap Vani.


”Halo Kak Nur,  apa kabar?”


“Ao, au aik”


(Halo, aku baik)  jawab Nur dengan bahasa yang gagu, tapi di bantu diterjemahkan sama Vani, ia masih tenang karena Jonas masih menggenggam tangannya.


“Apa makanan yang di sukai Kak Nur?” Lelaki itu bertanya lagi.

__ADS_1


“Eskrim stoberi, otakku langsung  cerah, seperti bola lampu,” ucapnya lagi sembari tertawa. Vani  yang menerjemahkannya ikut tersenyum.


“Memang harus ya?” tanya lelaki itu menatap Vani dengan penasaran.


“ Ya, karena memang di rumah kami,  kulkas tidak boleh kosong eskrim stroberi, kalau kosong  dia akan pergi keluar dari rumah dan mencari warung menjual eskrim, lalu saat pulang dia lupa jalan pulang ke rumah, hanya rapotnya,” ujar Vani.


“Wah ini sangat menarik. Tapi boleh gak kak saya panggil suaminya, kami semua dan pemirsa dalam studio pasti ingin tahu, seperti apa sosok Pak Bonar Sinaga, saya dengan dia juga seorang  CEO baru di Lonax, berarti bukan orang sembarang dong."


Bonar datang dengan tampilan yang keren, dia tinggi tegap dan terlihat  berwibawa, mereka semua sempat kaget karena fisik kedua saudara itu sangat berbeda bagai langit dan bumi, jika Bonar tinggi besar dan badannya  tegap juga tampan, tetapi sang kakak fisiknya sangat berbeda mungkin yang baru pertama melihat Nur mungkin akan takut fisik Nur tidak sempurna.


Bonar dipanggil salah satu kru ke belakang panggung, lalu ia datang, melihat Bonar datang Nur  kembali bertingkah seperti anak kecil yang melihat bapa nya datang,  ia berdiri  dan berlari ke arah Bonar.


“Oar …!” Lalu menarik tangan Bonar meminta duduk.


“Ya ayolah, Kakak duduk di sana,” ucap Bonar dengan sopan dan lembut.


Pemandangan itu sukses membuat seisi studio  terharu, di balik wajah lelaki bertubuh tinggi itu ada hati yang lembut.


“Maaf ya Bang, tadinya saya pikir kalau abang itu  fisik  sama … karena saudara kandung, ternyata … dugaan ku salah," ujar host itu.


“Tidak apa - apa,” ujar Bonar tersenyum ramah.


“Kita lanjut lagi … kali ini aku bertanya sama abang dulu. Lalu bagaimana Bang, kalau sama tetangga?”



“Awalnya  tetangga takut, karena kakak itu sering kabur, kalau tidak ada eskrim di rumah.


Maka itu istri saya, sudah memesan pada warung  dan super market di  komplek rumah, jika  kakak Nur sudah datang ke sana  mereka akan mengabari  ke rumah, kalau tidak , dia akan diantar pulang  sama pegawai supermarket , bahkan  tukang  ojek keluar komplek juga sudah mengenalnya, maka setiap kali  lengang gerbang tidak dikunci   dia akan keluar,  awalnya  orang- orang dalam komplek itu takut, tapi setelah Vani dan laeku  Jonathan menjelaskan kalau Kak Nur tidak berbahaya mereka  tidak takut lagi. Justru terkadang malah perduli,” pungkas Bonar.


“Eda tidak bisa melihat sampah berserakan kalau dia melihat ada sampah di jalan, maupun tempat sampah orang berserakakn   dia akan memungutnya dan merapikannya sampai bersih, itulah kelebihannya  satu lagi dan dia juga tidak pernah pelit sama orang,” lanjut Vani.


Vani dan keluarga menjadi keluarga menginspirasi banyak orang karena membangun yayasan sosial gratis, untuk penderita gangguan mental dan depresi


Bersambung.


Jangan lupa dukungannya ya kakak, agar karya ini tetap berlanjut sampai tamat.


Karena itu kasih vote, like, komen agar view-nya tetap naik, kalau berkenan bisa kasih 💐 dan ☕ biar author semangat update tiap hari terimakasih.

__ADS_1


__ADS_2