Identitas Tersembunyi Sang Menantu

Identitas Tersembunyi Sang Menantu
Nur Menguncang Studio


__ADS_3

Dari sejak malam itu hubungan keduanya menjadi baik,  Bonar bekerja  semakin bersemangat di sela  mengurus  mengurus persiapan pesta adat yang akan diadakan bulan depan. Bonar dan Vani membuka satu yayasan kemanusiaan yang menampung orang- orang seperti Nur yang memiliki keterbelakangan mental dan  sering mereka lihat terlantar di jalanan. Yayasan itu  akhirnya berdiri hanya baru beberapa bulan saja sudah ada puluhan yang penghuni yayasan tersebut di mana diantaranya banyak wanita  muda yang depresi karena korban perceraian dan memilih jalan yang salah dengan cara menghirup lem dan membuat  mereka  kehilangan akal sehat dan terlantar di jalanan.


Setelah Vani dan Bonar mendirikan Yayasan,  mereka kerap membagikan kegiatan aksi sosial dan kegiatan Nur, di laman media sosial maing- masing , tidak lama kemudian beberapa  influence bergantian mendatangi  yayasan dan galeri  lukis milik Nur dan Nur terpilih jadi salah satu wanita inspiratif.



Tidak hanya di situ, kebahagian mereka masih berlanjut, seorang kolektor dari Paris memesan satu lukisan dari Nur dengan harga yang ditawarkan fantastis.


“Bou sangat  hebat,” puji Jonas memuji Nur, wanita  gagu itu hanya ikut tepuk tangan saat semua orang bertepuk tangan untuknya.


Jika orang lain memuji dan bergembira Nur akan semakin bertambah  bersemangat.


“Ada seorang seniman dari Paris meminta eda melukis danau Toba dan ingin diringa dan istrinya ditempatkan dalam lukisan tersbut … tapi dia minta  hanya beberapa hari, mau diambil  gak Bang?” tanya Vani.


“Hitungan hari itu terlalu cepat Ma, aku takut kak Nur kurang istirahat,” sahut Bonar ia duduk di samping  Bonar memeluk  dengan  sayang pundak putranya.


“Ya Ma, kasihan Bou,  menjelang acara show  aja dia sudah sering  tidur malam,” sahut Jonas.


“Baiklah tidak usah kita ambil.”


Tetai tiba-tiba Nur  mengulurkan tangannya.


“Eda … tidak apa - apa aku bisa, aku mau,” ucapnya dengan bahasa yang gagu.


Mereka semua saling menatap. “Tapi waktunya mepet Da, hanya  empat hari,  belum persiapan acara show nanti,” ucap Vani.


“Tidak apa -apa aku bisa,” ucapnya lagi, walau bahasa tidak jelas, tetapi untuk mereka yang sudah lama mengenal Nur, sangat mengerti apapun yang dikatakan Nur.


“Bagaimana Ma, eda mau ambil pesanan lukisannya?”


“Ya sudahlah kalau dia yang mau, yang penting bukan kita yang maksa,”ujar Bu Lisda.


Nur bukan tipe orang yang mau dipaksa, kalau dia tidak lagi mood ia bisa berhari-hari tdak masuk ke ruangannya,  ia hanya nonton, rebahan dan bermain dengan Jonas, tetapi kalau ia lagi bersemangat bisa - bisa tidak keluar dari  ruang melukis itu.  Kali ini itulah yang terjadi,  beberapa hari ini  ia sangat bersemngat karena ia melihat ada kegembiraan dan kebahagian terpancar di wajah adik laki - lakinya dan keponakannya ia ikut bahagia alhasil ia menghasilkan banyak lukisan yang sanga indah hanya beberapa hari saja.

__ADS_1


“Nanti eda sakit kalau telalu dipaksa,” ujar Vani.


“Tidak aku ingin membeli  mobil untuk Eda,” ujarnya, ia berlari ke kamar  dan menunjukkan gambar mobil mewah pada mereka semua.


“Astaga! dari mana dia tau ini,” ucap Vani kaget.


“Dari Bonar,” jawa Nur dengan polos.


“Jo, apa kamu minta dibelikan mobil untuk Mama?” tanya Vani kaget.


“Tidak Ma, waktu itu aku hanya bilang nanti kalau aku punya banyak uan akan aku belikan mobil keren ini untuk mama,” ujar Jona.


“Eda, aku kan sudah punya mobil, kita sudah punya tiga mobil jadi tidak usah lagi, grasinya tidak muat,” ujar Vani.


“Ini bagus untuk Eda sama Ito, tapi harganya mahal, kata Jonas, makanya aku bekerja keras untuk beli mobil,” ucap wanita itu dengan tulus, masih dengan bahasa gagu nya.


Vani sangat tersentuh, saat iparnya yang punya kekurangan itu, ingin membelikannya sebuah mobil, matanya berkaca- kaca.


“Jangan hanya membeli untuk mama, buat aku sama oppung, bapak. Mana?”tanya Jonas.


“Nanti,  kita  beli uang tabungan eda yang kita kumpulin hasil jual lukisan sudah banyak, sudah bisa beli apa saja  yang eda nginkan,” tutur Vani, Nur tetap menggeleng, ia ingin tetap melukis pesanan orang tersebut.


“Biarkan saja,” ucap Bu Lisda.


Nur, melukis sebuah lukisan  yang di pesan seorang seniman di dari Cina, ia meminta Nur, untuk melukis  seorang tokoh terkenal di negaranya,  harga yang ditawarkan  sangat tinggi setara dengan  tiga motor. Nur bekerja  sangat giat, padahal beberapa hari lagi nur di undang ke salah satu acara televisi swasta untuk mengisi satu acara dengan tema wanita  bertalenta yang menginspirasi.


                      *


Akhirnya acara itupun tiba, Bonar, baik Vani sudah sangat gugup  ini pertama kaliny Nur tampil di hadapan ribuan orang penonton.


“Aku sangat gugup, aku takut dia bertindak di luar  yang sudah di rencanakan,” ujar Vani.


__ADS_1


“Tenanglah Ma,  dia akan baik -baik saja.” Bonar mengusap pundak Vani, mereka berdua mendampingi Nur saat berada di ruang  makeup. Sementara Bu Lisda, Rati, Jonas duduk di bangku penonton, setelah tampil seorang artis papan atas membawakan sebuah lagu pembuka. Nur akan tampil mengisi urutan nomor tiga. Jantung Vani semakin ber detak  lebih kuat saat Mc nya memanggil nama Nur. Vani langsung berdiri ia menggenggam tangan nur, ia berdoa dalam hati agar iparnya tidak membuatnya malu.


 Tiba diatas panggung apa yang ia takutkan terjadi juga, saat melihat orang  banyak Nur melompat - lompat kegirangan  dan  terus bertepuk tangan lalu ia lari ujung panggung ke ujung panggung lain, Vani sudah pucat pasi karena malu.


Satu studio itu dibuat heboh bahkan beberapa kru TV ikut berlari untuk menenangkan Nur, namun tidak berhasil.


“Bang bagaimana ini?” ucap Vani menghampiri Bonar yang berdiri di balik panggung.


“Suruh saja kru TV itu menyeret keluar”


Studio jadi heboh, Vani  menghampiri kru untuk meminta mereka membawa Nur keluar,  tiba-tiba Jonas datang dari bangku penonton, bocah laki-laki itu adalah pawangnya. Jonas menghampiri bibinya memegang tangannya lalu  memeluknya sebentar dan mengusap belakang leher Nur, seolah - olah ada remote kontrol di sana,  Nur langsung tenang seisi ruangan itu  bernapas lega.


“Bou kerjakan saja, jadi kan nanti,  beli hadiah untuk mama, lakukan yang terbaik biar mereka senang,”  bisik Jonas, hanya  bisikin itu saja …  dia langsung diam.


Semua penonton yang hadir  memberi tepuk tangan, Vani menghampiri MC nya, “boleh saya mengucapkan sepatah dua kata untuk para hadirin?” MC lelaki itu melirik  wanita yang  berdiri di samping panggung, wanita berseragam itu  mengangguk dan menunjuk  jam di pergelangan tangannya.


“Boleh Kak, tapi jangan lama-lama ya.”


“Baik,” sahut Vani.


Lalu memegang mikrofon itu dan mengucapkan  ucapan permintaan maaf dan menjelaskan keadaan Nur.


Wajah mereka semua simpati, melihat Nur, lalu ia mulai mengerjakannya, diawali  dari lukisan menggunakan Pasir yang ditampilkan di layar di panggung hasil lukisannya sangat luar biasa Jonas masih berdiri di samping Nur, akhirnya dia yang mengampingi Nur saat tampil.


Rupanya aksi Nur di panggung tersebut mengundang perhatian semua orang yang menonton dan menjadi Viral, di balik  kekurangan yang di miliki,  ia memilik talenta yang luar biasa, ia mampu menggunakan dua  kuas sekaligus untuk menggambar satu objek menggunakan dua tangan dalam waktu bersamaan,  ia mampu menyelesaikan satu lukisan indah dalam jangka waktu hitungan  menit, hal itulah yang menghebohkan semua orang yang hadir dalam studi, kalau biasanya para pelukis menyelesaikan satu lukisan berhari-hari bahkan minggu, Nur hanya hitungan menit dan hasil yang indah  bukan lukisan yang asal-asalan.


“Bagaimana  otaknya  bisa memerintahkan  tangan itu melakukan  hal yang berbeda dalam waktu yang bersamaan?” tanya seorang lelaki di depan Bu Lisda.


“Wah … dia mah bukan idiot, mungkin terlalu pintar kali,” ujar seseorang yang tepat duduk di  belakang Bu Lisda.


Nur menghebohkan satu studio dengan  kepiawaian nya dalam memegang kuas.


 Bersambung

__ADS_1


bantu like, komen,  vote  kasih kopi juga biar gak mengantuk ya kakak. terimakasih


__ADS_2