Identitas Tersembunyi Sang Menantu

Identitas Tersembunyi Sang Menantu
Hampir Tertabrak


__ADS_3

Melihat Bonar tertawa bahagia dengan Jonas, Andre kepanasan ia menatap penuh dendam ke arah Bonar.


‘Kamu tidak akan bisa menggantikan posisiku, kamu  pasti akan mendapat pelajaran’ ucap Andre dalam hati, ia menatap semakin sinis pada Bonar yang berjalan menuju mobil, sembari bercanda dengan Jonas.


“Pa, guru meminta kami mengerjakan kerajinan, mainan jaman dulu , apa bapak  tau apa yang aku ingin aku bikin?”


“Ultop”


“Kok bapak tau!?”


“Kata oppung... dulu kamu sering bikin itu saat di kampung dan kamu jual sama teman-temanmu”


Jonas tertawa ,  tugas dari  sekolah mengerjakan satu kerajinan tangan tradisional, permainan anak -anak sebelum ponsel merajai dunia anak-anak


Ultop  sendiri mainan klasik yang terbuat dari bambu yang di gunakan alat tembak-tembakan jaman dulu dan  untuk pelurunya sendiri di gunakan dari kertas yang sudah dibasahi


“Mainan itu kan di marahin di sekolah, Bang takut kena mata, bagaimana kalau kita bikin tembakan kayu”


“Bapa bisa?”


“Bisa donk”


“Ok”


Saat membuka pintu mobil Vani terbangun.


“Eh … abang sudah pulang , kok gak bangunin aku sih Bang,” protes Vani  merapikan rambut.


“Tadi kamu tidurnya nyenyak bangat aku gak, tega bangunin”


Bonar menjalankan mobil  dan  meninggalkan   gedung sekolah meninggalkan Andre yang masih menatap  mobil itu sampai jauh, wajahnya di penuhi amarah dan dendam.


 Saat melewati taman menuju rumah.


“Pa beli es potong donk sudah lama tidak makan itu”


Jonas menunjuk gerobak abang -abang yang sedang berdiri di pinggir jalan.


“Ya sudah sana beli Bang.” Vani menyodorkan  menyodorkan uang.


“Papa mau gak?”



“Boleh”


“Mau rasa apa”


“Kacang hijau”


“Mama mau?” tanya Jonas lagi, tangannya masih  memegang pintu mobil.

__ADS_1


“Mama mau samain kayak abang saja,” ucap Vani menyandarkan kepalanya kembali ke jok


“Ok.” Jonas turun.


Bonar melihat kaca spion mobil di belakang ikut berhenti saat mereka berhenti, perasaannya mulai tidak enak, ia menatap Jonas yang berjalan ke depan kearah abang-abang, Bonar  melepaskan sabuk pengaman dan membuka pintu, berlari menuju Jonas.


Vani kaget, Ada apa Bang?”


Belum sempat di jawab Bonar sudah berlari menuju Jonas, dugaan Bonar benar, mobil yang belakang ingin menabrak mereka , untung Bonar  cepat memeluk tubuh  Jonas, mengangkat mundur, mereka berdua jatuh ke belakang, Jonas tidak apa-apa hanya lecet sedikit di siku tangan karena mereka berdua terhempas ke belakang, tubuh Jonas menindih Bonar.


Tetapi Bonar terluka, siku tangannya berdarah dan kepala samping terbentur batu. Mobil itu meninggal mereka


"Aaa …! tabrak lari! "


Teriak orang melihat kejadian tersebut, Vani berlari.


Vani memeluk Jonas dengan panik memeriksa semua bagian tubuhnya .



“Apa kamu terluka?”


“Aku tidak apa -apa Ma, Bapa …”


Vani melihat ke bawah, Bonar memegang kepalanya yang terluka.


“Da-darah, ka-kau berdarah.” Vani memegang kening Bonar sembari berteriak .”Panggilkan ambulan! Tolong panggilkan Ambulan suami saya terluka!”


“Vani tenanglah, telanglah.” Bonar memegang tangan Vani yang gemetaran


Seorang bapak membantu Bonar, membopong ke tempat teduh , memberinya minum dan memberinya pertolongan pertama, tangan Vani masih gemetar dan wajah pucat.


“Tenanglah, aku tidak apa-apa,” ucap Bonar menenangkan Vani yang ketakutan, “Bang,  tolong pegangin mama”


“Tidak apa-apa Ma, jangan takut aku sama Bapa hanya luka kecil,” bisik Jonas memeluk Vani, tangis wanita cantik itu akhirnya pecah, ia menangis ketakutan memeluk Jonas.


Melihat Vani yang shock Bonar terpaksa meminta bantuan  Jonathan, membawa mereka ke rumah sakit.


                   *


Kabar Bonar terluka sampai  juga ke telinga Sudung, ia datang ke rumah sakit, melihat Bonar berbaring di rumah sakit dengan kepala di balut perban, sementara Vani tidur di samping  Bonar meletakkan kepalanya di sisi ranjang Jonas, mungkin karena takut Jonas mengalami  demam, terpaksa ia juga ikut dirawat.


Saat Vani dan Jonas tertidur Sudung datang, Bonar ingin duduk tetapi Sudung meminta tetap tidur, ia bicara degan Jonathan. Lelaki itu hanya diam dengan raut wajah serius saat Jonathan menceritakan semuanya termasuk kejadian  di perumahan.


“Apa tidak ada ccty di sana?” tanya Sudung.


“Aku tidak tau  Uda, tapi aku sudah minta   bantuan teman seorang polisi , mereka sudah menyelidiki”


“Baiklah tolong bantu   mereka, Nak satu lagi pindahkan saja ke kamar VIP, nanti biayanya semuanya  biar uda yang tanggung”


“Baik Uda, tapi aku butuh bantuan Bapa Uda,” ucap Bonar dengan ragu.

__ADS_1


“Apa, katakan saja”


“Untuk mengawasi Bu Rosa”


“Baiklah”


Setelah menjenguk Vani, ia kembali ke kantor dan ia meminta orang menyelidiki istrinya, sementara Bonar menolak untuk di pindahkan ke kamar seperti yang diminta ayah mertuanya.


“Aku  tidak  terluka  parah Lae, hanya luka ringan sebentar lagi kami pulang, dari tadi mama sudah telepon dari rumah nanyain Jonas”


“Tapi mertua Lae yang minta”


“Tidak usahlah lebih baik kami pulang ke rumah, dari tidak bisa istirahat, aku tidak tenang di sini, lebih baik kami rumah ”


“Lae yakin?” Tanya Jonathan lagi.


“Ya, tolong bantu urus, biar kami pulang”



Vani mendengar semuanya tetapi ia pura-pura tidur,  mendengar  bapa Sudung datang menjenguk, ia juga ikut takut, takut seseorang mengikuti  bapa nya ke rumah sakit.


“Ya Bang Bonar benar, kami plang saja ito, inang pasti sudah,  bingung karena Jonas  belum pulang”


Saat Vani mengecek ponsel miliknya , “kan … ada sepulu panggilan tak terjawab dari Rati”


Tidak ingin Bu Lisda panik, karena cucu kesayangannya  belum pulang sekolah, sampai sore. Vani menelepon ke rumah.


“Bu,  aku telepon dari tadi kenapa tidak dijawab, oppung  sudah panik dari tadi, kami pergi ke rumah Adelio untuk cari Jonas”


“Tidak apa-apa Ti, tadi ponsel ibu ketinggalan di mobil, bilang sama oppung sebentar lagi kami pulang”


“Baik Bu,” jawab Ratih bernapas lega.


“Aduh aku lupa ngabarin ibu tadi.” Vani memijit keningnya, ia sudah membayangkan  betapa paniknya  ibu mertuanya saat cucu kesayangannya tidak pulang ke rumah.


“Tidak apa-apa, nanti kita jelaskan sama ibu, ayo kamu beres-beres kita pulang saja”


“Abang yakin kuat, tidak pusing?”


“Tidak, bagaimana dengan Jo, apa dia masih panas?” Bonar turun dari ranjang ia mendekati ranjang Jonas menempelkan tangannya ke  dahi anak tampan itu,


“kasihan dia pasti sangat terkejut tadi,  beruntung dia tidak kenapa-napa,” ujar Bonar mengusap kepala Jonas.


Saat mereka bersiap ingin pulang ke rumah, Jonathan dan Beny datang ke  kamar, lelaki itu membawa  hasil rekaman Cctv di tempat kejadian


Siapakah Pelaku sebenarnya?


Bersambung


JANGAN LUPA VOTE , LIKE YA KAKAK GRATIS KOK GAK BAYAR

__ADS_1


__ADS_2