
Dalam perjalanan Bonar sudah sangat senang, ia tidak sabar ingin menceritakan rencana pesta itu sama Bu Lisda, ia yakin wanita akan sangat senang, karena selama ini, mama Bonar ingin sekali mengadakan pesta besar untuk anak, karena hanya Bonarlah yang bisa ia harapkan untuk menikah, karena Nur tidak akan menikah dengan keadaanya yang seperti itu. Makanya saat di kampung dulu, Bu Lisda sudah mempersiapkan satu ekor kerbau untuk biaya pernikahan Bonar.
Tiba di rumah, Bonar masih terlihat sangat senang, sayang, Ibu Lisda sudah tidur, karena di hadang macet saat ingin pulang ke rumah, Bonar memutuskan makan malam di luar, tiba di rumah, sudah malam. Jadi ia tidak bisa memberitahukan kabar gembira itu pada mamanya, melihat Bu Lisda sudah tidur ia ke kamar Jonas.
“Jon, kamu gosok gigi saja , tidak usah mandi ya, sudah malam,” ujar Bonar mengingatkan bocah laki-laki itu.
“Bapak mau tidur samaku, gak?”
“Gak, kamu tidur sendiri saja, bapak belum tidur, masih mengecek kerjaan. Kamu tidur cepat besok sekolah,” pintah Bonar, ia mengantikan tugas Vani mengawasi Jonas, kalau tidak di cek terkadang ia main ponsel sampai larut malam. Setelah Jonas tidur barulah Bonar masuk ke kamar Vani.
“Abang mau mandi gak?” Tanya Vani ia baru keluar dari kamar mandi dengan piyama mandi, Bonar lagi-lagi hanya bisa menelan air liaurnya saat melihat Vani dengan pakaian tidur yang memperlihatkan keindahan tubuhnya dan menggoda iman seperti itu.
‘Sabar Bonar, kamu pasti bisa … sedikit lagi, jangan rusak kepercayaan istrimu’ ucap lelaki itu mengingatkn diri sendiri.
Ia menggelengkan kepalanya untuk menyadarkan otaknya yang bergentayangan ke dunia halusinasinya, pikiran mesumnya sempat mengisi setiap saraf di dalam otak Bonar.
“Ya, aku gerah, aku juga mandilah,” ujar Bonar, melepaskan kemeja yang ia pakai.
Ia masuk ke sana, baru sepuluh menit ia sudah keluar dari kamar mandi melilitkan handuk di pinggang, saat ia keluar, pakain untuk ia pakai sudah disiapkan Vani diatas ranjang.
“Ini pakain abang, sudah aku siapkan,” ujar Vani.
‘Eh … tumben biasany cuek bebek, walaupun aku teriak dari kamar mandi’ ucap Bona dalam hati.
“Makasih Dek.”
“Abang sudah mau tidur?”
“Kenapa?” Bonar balik bertanya.
“Lampunya jangan dimatikan dulu, ya bang, aku masih kerja sebentar.”
__ADS_1
“Aku juga sebenarnya masih ada berkas kantor yang ingin aku cek, tapi aku sudah capek,”keluh Bonar.
“Abang memang capek ngapain tadi, aku saja yang bolak diminta bikin kopi tidak mengeluh capek,” ujar Vani.
“Menyetir juga capek juga tau Dek”
“Ya sudah, sini saja tidur kalau abang capek,” ujar Vani menepuk ranjang di sampingnya.
Bonar dibuat terkejut lagi dengan sikap sanga istri yang tiba-tiba mau memperbolehkannya untuk tidur di ranjang yang sama dengannya.
“Benaran?” tanya Bonar menatap Vani dengan bola mata membesar.
“Ya, tidur di sini.”
“Terimakasih, Dek.”
Bonar mengambil selimut yang biasa ia gunakan, walau ia di minta tidur satu ranjang ia berpikir tidak akan mau bertindak gegabah, atau meminta lebih, tidur satu ranjang baginya itu satu kemajuan , tidak mau berpikir macam-macam atau mengharapkan lebih dari itu.
“Abang tidur duluan, aku masih memeriksa email masuk dari klienku,” ujar Vani.
“Ya Dek,” ujar Bonar menarik selimut
Tidak lama kemudian ia tertidur pulas, terdengar dengkuran halus dari mulut suaminya, Vani menoleh Bonar, menatap wajahnya begitu dalam, baru kali ini mereka tidur bersama setelah menikah selama sepuluh tahun lebih setelah menikah.
‘Kamu berhasil Bang, kamu mampu melewati ujian yang aku berikan padamu, terimakasih sudah mau berubah dan bertahan denganku’ ucap Vani dalam hati.
Ia juga meletakkan ponselnya di atas nakas dan merebahkan tubuhnya di sampin Bonar, awalnya ia tidur miring menatap wajah suaminya yang tertidur pulas, menit kemudian matanya mulai meredup dan ikut tidur, tanpa sadar tanganya ia letakkan di atas dada sang suami.
Saat tengah malam Bonar terbangun karena panggilan alam, ia ingin ke kamar mandi, karena pendingin di kamar itu hampir saja membekukan tubuhnya, saat ingin bangun, ia terkejut ada tangan yang melingkar di atas dadanya. Bonar diam beberapa detik, ia memulihkan kesadaran, lalu ingat kalau Vani yang meminta dirinya tidur di sana, dengan tenang ia menghela napas panjang, dengan cara pelan-pelan meletakkan tangan Vani lalu ia ke kamar mandi.
Keluar dari sana, bagian tubuhnya berreaksi lain saat melihat pakaian tidur Vani tersingkap mempelihatkan kakinya yang mulus , sebagai lelaki yang normal itu hal wajar bagi Bonar, tetapi ia akan melawan keinginan tubuhnya , hanya menyelimuti Vani dan kembali merebahkan tubuhnya di atas ranjang tersebut.
__ADS_1
Vani tidur membelakangi Bonar, ia tersenyum kecil saat Bonar hanya menyelimuti tubuhnya, tanpa ada niat macam- macam, Vani rupanya hanya ingin menes Bonar, tidak lama kemudian Vani merasakan tangan kekar melingkar di pinggangnya memeluk tubuhnya dengan hangat, awalnya tubuh Vani menegang karena sudah lama tidak disentuh laki-laki, ia menunggu reaksi Bonar berikutnya. Tetapi Bonar hanya memeluknya dengan hangat dan tidak melakukan tindakan lain. Vani akhirnya tidur dengan perasaan damai di pelukan sang suami.
Saat pagi datang menyapa dan suara beker di atas nakan membangunkannya dirinya pagi itu, ia bangun tetapi Bonar tidak ada lagi di sampingnya, padahal biasanya, Vani yang selalu bangun lebih awal, saat ia mengintip dari gorden Bonar sedang melakukan olah raga pagi.
“Tumben olah raga biasanya malas kalau di bangunkan untuk olah raga pagi,” gumam Vani pelan.
Ia turun dari kamar dan menghampiri Bonar yang sedang sedang angkat barbel yang timbangannya yang masih ringan.
“Selamat pagi,” sapa Vani.
“Selamat pagi Istriku,” balas Bonar dengan senyuman manis penuh kebahagian.
‘Eh ada apa dengan bang Bonar, tadi malam tidak ngapa - ngapain kok. Tapi, kenapa wajahnya terlihat bahagia bangat pagi ini, seolah - olah dapat jatah ranjang’ ucap Vani dalam hati.
“Tumben abang olah raga bisanya malas,” ledek Vani.
“Ya, mulai dari hari ini aku akan bangun cepat biar selalu Vit.”
“Untuk apa?”
“Untuk apa?” Tanya vani.
“Saat pesta kita nanti, tubuhku sehat dan bugar,” jawab Bonar.
“Ya, kita harus rencana Bang, gak bisa langsung tiba-tiba mungkin masih lama,” ujar Vani.
“Aku tau Dek, kita harus bicara kan sama bapak dan keluarga yang lain.”
Baru tidur satu ranjang saja Bonar sudah begitu bahagia, ia merasa kalau usahany dan kerja kerasnya akan berhasil.
Bersambung.
__ADS_1