Identitas Tersembunyi Sang Menantu

Identitas Tersembunyi Sang Menantu
Bukan Lelaki yang Lemah


__ADS_3

Bonar tidak ingin kedatangan sia- sia ke rumah bapa udanya , ia akhirnya mengungkap rencana mereka yang akan mengadakan pesta adat.


“Sebenarnya gini bapa Uda, Inang uda, kami rencana  akan mengadakan  pesta adat”


“Wah, bagus itu,” ujar bapa Lina.


“Kapan …? Soalnya bapa Uda mu sibuk bulan ini, ada banyak kasus yang akan ditangani,” ujar  mama Lina.


“Tidak  sibuk,” bantah Simon, ia merasa tidak enak melihat Bonar.


‘Ih … si papa, bagaimana sih diam saja kek’  ia menggerutu dalam hati menatap sinis suaminya.


“Gak maksudku, waktu adalah uang,” ujar Mama Lina lagi.


Bonar dan Vani sudah paham kemana arah pembicaraan wanita itu, Maksudnya kalau Bonar ingin mereka  yang mengurus pesta adat itu, Bonar harus memberi mereka uang dulu sebagai  upah, kira-kira seperti itu yang ingin dikatakan mama Lina, sayang  otak matrenya tidak sejalan dengan sang suami.


“Jangan khawatir Inang uda aku sama mama dan mama Jonas , sudah mengurus semuanya, jadi Inang Uda sama bapa Uda tinggal duduk manis saja,” potong Bonar.


Di duku dengan anggukan Vani, “ya Inang kami akan mengurus semuanya,” sambung vani  lagi.


“Memang kenal kamu rupanya, sama semua sama marga di sini?” tanya Simon merasa kurang senang karena ia berpikir Bonar bertindak  tidak iku dirinya.


‘Kalau ada uang apa saja bisa dilakukan bahkan di beli bapa uda’ balas Bonar dalam hati, tetapi sebagai anak yang baik dan sopan, Bonar menjaga sikapnya di hadapan  keluarga itu, ia tidak mau bersikap sok jago atau merasa mampu.


Walau sebenarnya ia bisa  melakukannya, tetapi Vani bukan wanita yang suka pamer harta pada orang lain, ia akan bersikap elegan dan berkelas.


“Oh … laeku Pak Jonathan, dia kenal sama ketua marga Sinaga Jabotabek, jadi, dia mengenalkan dan mengajariku  nanti,” balas Bonar.


Belajar dari pengalaman hidup yang sudah di lalui Bonar di rumah keluarganya, jadi ia bertekad tidak akan meminta bantuan keluarga untuk mengurus pesta adat nanti. Seperti halnya adat Batak banyak yang akan ia siapkan nanti.


“Harusnya kamu libatkan ah bapa udamu ini, kami ada keluargamu di sini kenapa tidak bertanya dan konsultasi dulu sama kami. Kami ini bapakmu juga, kami adik bapak kamu,’ ujarnya seolah-olah mencari kesalahan, saat diminta untuk membantu, istrinya menyebut Sudung sibuk banyak klien yang membutuhkan jasanya sebagai pengacara. Tapi  tiba-tiba bapa udah bersikap seolah-olah  ia sangat perduli sama Bonar dan mereka harus dilibatkan dalam pesta Bonar.


“Kan, barusan Inang uda bilang kalau bapa udah sangat sibuk dan banyak klien”


“Dia tahu apa, dia hanya asal  bicara saja,” ujar Simon  marah.


“Aku bisa melakukan sendiri Bapa uda, tidak ingin merepotkan  kelurga”


“Baiklah, kalau memang begitu mau,” ujar Simon, wajahnya tampak datar.


Suana suana menegang seperti itu Vani mengirim pesan ke ponsel Bonar.


[Bang, kita pulang saja, suasananya semakin panas] Isi pesan Vani.

__ADS_1


[Baiklah, ayo kita minggat] balas Bonar.


Mereka duduk   berdampingan, tapi saling berkirim pesan.


“Baiklah, bapa uda inang uda, kami mau pulang dulu, mau jemput Jonas pulang , tadi sudah janji”


“Baiklah … baiklah,” sahut lelaki yang sudah mulai ber uban itu dengan cara mengangguk-angguk.


Sementara mama Desmon inang uda Bonar yang dari Bogor, masih tampak marah  karena putranya tidak mau kerja.  Ia duduk di teras dan terus mengomel marah-marah sama Desmon. Tetapi yang  dilakukan lelaki  itu hanya   bermain di ponselnya dan sesekali memaki ke layar ponsel. Ia tidak menggubris ocehan dan nasihat orang tuanya.


Vani berdiri, kali ini, ia tidak mau  terlalu banyak bicara, ia tahu kalau Bonar bis mengatasi semuanya, karena sebelum mereka  datang ke rumah, ia sudah menasihati Bonar agar jangan terbawa emosi lebih dewasa untuk menghadapi sikap  keluarganya.


Mereka berdua pulang, saat tiba dalam mobil Vani menarik napas panjang, lalu ia  memuji sikap suaminya.


“Abang  hebat …  akhirnya bisa mengontrol diri, tidak emosi lagi,” ujar Vani.


“Itu karena kamu yang mendampingi di sana tadi Dek,  kalau saja kamu tidak ada , mungkin aku sudah menampar muka si Desmon itu tadi”


“Pokoknya abang keren … tidak mudah goyah, tadinya aku pikir setelah inang itu yang meminta pekerjaan abang langsung mau”


“Gak lah Dek, tidak mungkin aku merugikan perusahaan , hanya dia saudara, kalau dia punya kemampuan bekerja, barulah aku bawa,  dia sudah gak punya kemampuan apa -apa minta jabatan yang tinggi pula, di kira perusahaan  nenek moyangnya,” ujar Bonar kesal.


“Dari tatapan inang mama Lina sama abang tadi, sebenarnya dia ingin minta uang dari abang”


Setelah Bonar dan Vani pergi, terjadi perdebatan antara mama Lina dan suaminya.


"Mama harus jangan terlalu banyak permintaan"


"Memangnya Mama minta apa, kan aku bilang kamu sibuk," balas wanita itu dengan mata melotot.


"Aku sudah tau dan mereka juga tau kalau mama itu minta bayaran,"ujar Simon.


"Ya wajar dong, dia banyak uang."


"Ma, tidak semua harus di bayar dengan uang, membantu orang lain itu adalah ibadah apalagi keluarga sendiri." Simon menatap istrinya dengan wajah putus asa.


"Kan, waktu adalah uang, jika ingin dia kita mengerjakan harusnya uang dulu dong, setidaknya beli bensin"


"Astaga Mama, Bonar itu anak abangku, anakku , dari dulu mama selalu bersikap tidak adil dengannya dan aku mengalah karena tidak ingin keributan di rumah tangga kita, tapi aku tahu apa yang mama lakukan sama dia selama ini, aku capek seperti ini"


Semua orang dalam rumah jadi diam, bahkan anak -anaknya tidak mau membantah, sebenarnya Simon dari dulu ingin membantu Bonar, tapi karena menjaga rumah tangga tetap damai ia menahan diri, ia juga sadar kalau Bonar di perlakukan buruk sama istrinya, Bonar kerja tapi tidak diberi upah


"Berubalah Ma, biar hidup anak -anak kita di berkati," ujar Simon menasehati istri.

__ADS_1


"Memang apa rupanya yang aku lakukan?"


"Mengumpulkan uang memang bagus, tapi jangan sampai pelit begitu, bawalah inang ke dokter, belikan dia kursi roda, lihat istrinya Bonar ibu mertuanya disayang. Ini mamamu sendiri, minta kursi roda gak kamu belikan," ujar Simon


"Jangan banding -dibandingkan sama dia, istrinya Bonar di bawah levelku,"ujar wanita dengan sombongnya.


Lina dan Jony, hanya bisa diam saat melihat kedua orang berdebat sengit, tetapi apa yang dikatakan bapa mereka memang kebenaran, Oppunya Lina dari mamanya, beberapa hari terakhir tinggal dengan mereka, tetapi wanita seolah - seolah tidak perduli.


Mam


Mama Lina bahkan meminta uang pada saudara-saudaranya, biaya kebutuhan mama mereka, padahal ia mampu. Simon sudah melarang melakukan itu, ia malu sama lae - laenya sendiri karena kelakuan istrinya.Hari itu Simon mengungkapkan semua kemarahan yang disimpan dalam hati.


Sementara di sisi lain.


Hubungan Vani dan Bonar semakin akrap, perhatian dan sikap romantis Bonar akhirnya bisa membuat Vani tersenyum bahagia, saat menunggu Jonas latihan basket, Vani tidur di mobil, Bonar turun ia melihat pertandingan Jonas, setelah selesai ia mengajak putra membeli buket bunga untuk mamanya.


"Bunga untuk apa Pak?" tanya Jona memandangi bunga mawar berwarna merah tersebut.


"Untuk mama biar dia senang."


Saat tiba di dalam mobil, "ini untuk Mama," ujar Jonas menyodorkan bunga cantik tersebut.


Benar saja Vani terkejut, "oh terimakasih anakku sayang," mengecup pipi Bonar.


Lalu ia melirik Bonar yang duduk di kursi setir, "terimakasih sayang." Vani mendaratkan bibirnya di pipi Bonar.


Wajah lelaki itu langsung terasa panas saat Vani mencium pipinya.


'Astaga .... senang hatiku' ujar Bonar dalam hati, ia pura- pura tenang, hanya tersenyum kecil, padahal dalam hati ingin meloncat kegirangan.


"Mama senang?"


"Senang sekali sudah lama mama tidak dapat hadiah. Hadiah untuk papa entar malam bisik Vani," berbisik manja.


"Benarkah?" Bonar terhenyak.


Lalu Bonar menggelitik pinggang Vani, wanita itu tertawa menggeliat kegelian.


Hadiah apa yang kira - kira yang ingin diberikan Vani?


Bersambung


12

__ADS_1


__ADS_2