
Hari itu juga, Vani dan Bonar didampingi Jonathan abang sepupu Vani, mereka bertiga ke kantor polisi.
Jonathan membawa mereka ke ruangan seorang petinggi polisi teman Jonathan namanya Beny.
Jonathan
Setelah menjelaskan semuanya, Beny berjanji akan membantu menyelidiki.
“Tapi, apa di sana ada cctv?” tanya Beny menatap Bonar.
“Masalahnya, biasanya cctv jalan arah ke rumah kami ada, tiba-tiba saat kami ingin melihat, sudah tidak ada lagi”
“Karena itu Ben, kuat denganku kalau memang malam itu sudah direncanakan,” ujar Jonathan.
“Apa ada petunjuk yang lain, maksudnya apa tidak ada cctv di rumah”
“Tidak ada Pak, kami belum memasang,” ujar Vani, wajahnya tegang menatap serius pada polisi.
“Tenanglah Ito, nanti kita bantu jangan takut seperti itu, kita akan berusaha,” ujar Beny, ia menyadari kecemasan yang rasakan Vani.
“Kalau menyangkut soal anak, saya tidak bisa tenang Pak, kalau pelakunya belum ketahuan,” ujar Vani meremas jemari tangan.
“Tenanglah Dek, polisi pasti akan membantu, dia salah satu polisi terbaik di kota ini” Jonathan melirik Beny.
“Ya, tenangkan dirimu, kalau kamu sudah panik begitu, kasihan Jonas jadi ikut bingung,” tutur Bonar, ia menggenggam telapak tangan Vani dengan erat.
“Baiklah, aku akan berusaha,”ujar Vani dengan suara pelan.
Setelah membuat laporan ke polisi, Jonathan mengajak mereka berdua untuk duduk di salah satu restoran cepat saji tidak jauh dari kantor polisi.
“Kalian berdua masuk saja ke arisan marga Situmorang, kalau ada masalah seperti ini ada keluarga yang mendukung”
Vani merasa malu, karena semua keluarga pasti sudah tau tentang masa lalunya.
“Aku malu Bang”
“Malu apa … kamu ada suami, semua orang punya masa lalu, intinya, asal mau berubah lebih baik, aku dulu jauh lebih buruk bukan hanya buruk di masa lalu, aku sampah masyarakat , kamu tau itu kan ,” ujar Jonathan.
Apa yang dikatakan Jonathan kalau bicara masa lalu yang buruk, bapak dua anak itu yang lebih parah, pemakai jadi gembel jalanan sudah Jonathan rasakan, pada akhirnya karena cinta ia berubah, ia juga beruntung karena istrinya dr. Nettania wanita yang luar biasa.
“Aku kadang kalau bertemu sama keluarga, selalu tanya itu lagi, itu lagi malas bahas itu lagi, aku hanya ingin menatap ke depan Bang, bukan ke belakang”
“Itu tergantung bagaimana kamu menyikapinya Van, kalau kamu sudah berdamai dengan masa lalu dan bisa melupakannya. Bagaimanapun orang mengungkit dan membicarakannya, pasti santai”
“Sayangnya, dengan ada keadaan seperti saat ini, aku jadinya belum bisa berdamai dangan masa lalu Bang, tidak sekarang mungkin nanti kalau semua sudah lebih tenang,” ujar Vani, ia menolak ikut arisan dari satu marganya .
Setiap orang itu berbeda-beda, bagi Jonathan dan istrinya berkumpul bersama keluarga hal yang menyenangkan karena bisa saling bertukar cerita. Tetapi bagi seorang Vani, jika berkumpul dengan semua keluarga ia tidak terlalu menyukainya, ia lebih suka bekerja di kamarnya dari pada mengumpul dan tertawa bersenang-senang. Tetapi, demi ibu mertuanya ia mau berubah, ia sudah membawa mama mertuanya ke perkumpulan salah satunya arisan Sinaga, arisan dari marga ibu mertuanya Silaban, tujuannya agar ibu mertuanya tidak jenuh di rumah.
“Baiklah, mungkin bukan sekarang kalian ikut, setidaknya ikuti satu saja, dari marga suamimu dengan begitu kalian kuat , aku dengar orang tua Andre pejabat juga”
__ADS_1
“Kami sudah ikut Bang,” ujar Vani.
“Baguslah, kalian tetap hati-hati, kita tidak tahu yang mana yang jadi musuh kalian. Apakah Andre, andre itu, apa mama tirimu atau adik tirimu”
‘Ya benar juga, winda juga tidak suka denganku’
“Ya Bang,” jawab Vani lemah.
Setelah selesai membuat laporan mereka keluar, tiba-tiba sebuah panggilan masuk ke ponsel Bonar, ia menatap Vani dengan tatapan panik.
“Siapa?” Tanya Vani.
“Pak Sudung”
“Angkat saja,” ujar Vani, ia meminta kunci dan masuk duluan ke mobil sementara Bonar menerima panggilan.
“Pagi Pak”jawab Bonar dengan gugup
“Kenapa tidak masuk kantor hari ini, apa ada masalah?”
“Ya Pak, sebenarnya tadi malam rumah Vani di datangi orang jahat, tangan saya terluka”
“Apa mereka juga terluka? Jonas, Vani bagaimana?”
“Tidak Pak, saya menahan mereka di pagar agar tidak masuk, salah seorang melukai tanganku dengan pisau”
“Kami tidak tau siapa yang melakukannya Pak, Vani sudah bawa ke dokter pak, kami baru keluar dari kantor polisi membuat laporan ke polisi. Maaf saya belum bisa kerja tangan saya masih diperban,” ujar Bonar, seolah-olah keadaannya parah.
Mendengar tangan menantunya terluka demi melindungi cucunya, Sudung merasa simpati dengan Bonar.
“Baiklah istirahatlah di rumah sampai kamu sembuh, nanti kalau tangannya sudah sembuh baru datang ke kantor. Biar nanti saya yang bicara sama Desta untuk menggantikan pekerjaanmu”
‘Iye! Yes’ Bonar kegirangan dalam hati
“Baik Pak”
“Ya sudah jaga mereka baik-baik, kalau ada apa-apa kabarin sama saya”
“Baik pak”
“Bonar!”
“Ya Pak.
Suara hening, Sudung menghela napas panjang, ia ingin mengatakan sesuatu tetapi terasa berat.
“Terimakasih”
“Baik pak”
__ADS_1
Pa Sudung mematikan panggilan telepon, beberapa saat Bonar diam, ia tidak tahu arti kata terimakasih yang diucapkan bapak mertuanya tersebut, melirik mobil dari kaca depan terlihat Vani menyandarkan kepalanya di jok.
‘Terimakasih untuk apa? Aku tidak melakukan hal baik’
Lalu berjalan ke dalam mobil, saat ia masuk Vani sudah tertidur lelap, bahkan tidak menyadari kalau Bonar membuka pintu mobil, setelah pintu di tutup barulah ia terbangun kaget.
“Apa ngantuk bangat?”
“Hm”
“Tidurlah kita akan jemput Jonas ke sekolah”
“Ya, terimakasih.” Vani kembali tidur.
Menyetir ke sekolah Jonas, saat tiba di sana, mata Bonar melotot tajam, ia melihat mobil Andre.
‘Kurang ajar apa lagi yang di lakukan orang ini di sini’
Memarkirkan mobil, ia sengaja tidak membangunkan Vani, Bonar turun dengan hati-hati, agar Vani tidak melihat Andre yang datang kembali mengusik hidup anaknya.
Bonar berjalan menuju gerbang, tidak ingin ada keributan di sekolah Jonas, ia pura-pura tidak melihat Jonas dan mamanya, ia menunggu anak-anak keluar dari kelas.
“Apa yang kamu lakukan disini?” Andre berdiri di samping Bonar, ia menatap Bonar dengan tajam.
“Oh, kamu, saya nunggu anakku”
“Berhenti menyebut dia anak, lu tidak pantas, jadi bapaknya, lu hanya babu di rumah Vani, jangan mimpi jadi menantu di sana,” ujar Andre menghina dan merendahkan Bonar.
Bonar mengepal tangan dengan kuat , ia ingin menonjok Andre.
“Pa!”
Mereka berdua menoleh ke halaman sekolah, ternyata Jonas, ia berlari Andre sempat berpikir kalau dia yang di panggil, tenyata bocah tampan itu memeluk pinggang Bonar.
“Bapa jemput aku! Mama mana?” Wajahnya tersenyum bahagia saat melihat Bonar menunggunya di gerbang sekolah.
“Kok keluar duluan Nak?” tanya mengelus kepala Jonas.
“Aku yang jawab pertanyaan duluan, jadi, siapa yang dulu jawab boleh pulang lebih awal. Mama mana Pa?”
“Mama tidur di mobil, ayo pulang,” ucap Bonar dengan bangga
Sementara Andre mengepal tangan dengan marah, tetapi ia menahan diri, tidak mau marah di depan Jonas.
Bonar menang banyak dari Andre, walau lelaki itu kaya, tetapi dukungan semuanya untuk Bonar.
Bersambung.
KAKAK YANG BAIK JANGAN LUPA TEKAN TANDA LOVE, LIKE, KOMEN JUGA DI SETIAP BAB DAN KASIH HADIAH JUGA BILA BERKENAN AGAR KARYA INI BISA NAIK RANK.
__ADS_1
TERIMAKASIH