Identitas Tersembunyi Sang Menantu

Identitas Tersembunyi Sang Menantu
Vani Wanita Yang Cerdas


__ADS_3

Hari itu Bonar  tidak bersemangat saat masuk kantor, apa yang di katakan Vani padanya mematahkan semangatnya.


Sementara Vani, hari ini berjalan anggun menuju ruang kerja, jajaran pegawai Lonax hari ini akan mengadakan rapat, maka itu Vani hadir . Ini akan rapat perdana untuknya dan semua pegawai. Sebagai salah satu pemegang saham di sana ia perduli dengan nasip perusahaan.


Saat datang ke ruang rapat semua orang sudah   duduk rapi membentuk meja bundar. Rosa menatap Vani dengan wajah mendominasi antara benci, takut dan kagum. Ibu tirinya  kagum melihat penampilan Vani yang cantik dan sikapnya yang diam menunjukkan ia wanita yang tegas dan pintar.


Sebelum, rapat di mulai Vani sibuk mempelajari berkas laporan keuangan di depannya, alisnya beberapa kali mengkedut saat ia membaca data-data pengeluaran yang tidak masuk akal tersebut.


Andre, Bonar  selalu melihat kearah Vani, Sudung melihat wajah keduanya mecoba menimang tentang arti dari tatapan kedua lelaki tersebut.


Setelah semua memaparkan laporan mereka, kini giliran Vani yang  melakukan presentasi, ia menyerang Rosa di depan semua pegawai dan di depan suami sendiri.


“Setelah saya membaca laporan keuangan perusahaan  ini, bagi saya pribadi ini sangat mengecewakan sekaligus, mengkhawatirkan untuk saya pribadi selaku pemegang saham di Lonax. Kenapa?


Jawabannya sanga simpel”


Vani berdiri dan membagi-bagikan  kertas laporan yang sudah ia print ke setiap meja termasuk ke meja sang ayah.


Ia bertindak sebagai salah satu pekerja di lonax bukan sebagai anak.


“Sejauh  yang saya pelajari beberapa hari ini, ada banyak pengeluaran yang tidak bermanfaat dan harganya yang dikeluarkan sangat fantastis. Misalnya biaya untuk operasi hidung  Ibu Rossa ke Korea. Saya ngin bertanya>


Apa harus perusahaan yang menanggung biaya perawatan anggota keluarga pemilik perusahaan ini?”


Dug …


Mata semua orang langsung melotot panik dengan serangan yang di lakukan Vani, Bonar, Rosa, Winda, Andre mereka adalah keluarga. Mereka ber empat jauh lebih tegang dari sebuah orang dalam ruang rapat.


“Bisa dijelaskan, Bu direktur keuangan?” Vani menatap seorang wanita yang memakai baju biru, wanita langsung ketakutan.


Winda mengangkat tangan memberi instruksi.


“Ya, silahkan!”


“Mohon maaf Bu, mungkin ada satu kesalahan, untuk perawatan Bu Rosa, beliau menggunakan uang pribadi, bukan uang perusahaan,’ ujar Winda membela sang mama. Apa daya ia juga kena  terseret bahkan di permalukan.


“Baik Bu Winda,” ujar Vani melirik nama di depan meja rapat,

__ADS_1


“ Begini, Lonax perusahaan  terbuka , bukan milik perseorangan. Sebagai salah satu pemegang saham tersebar di perusahaan ini, wajar saya mengawasi keuangan di sini, biar saya dan teman-teman pemegang saham yang lain tau. Apakah uang yang kami investasikan ke sini menghasilkan atau tidak? Kalau ya berapa? Kalau tidak kenapa?  Jadi dan teman-teman yang lain ingin tau mengharapkan transparan”


Suasana semakin menegang saat semua pemegang saham  juga mendukung aksi Vani, mereka juga  mengharapkan transparan, sementara Bonar melotot panik, ia menatap


‘Vani apa yang kamu lakukan …? Apa kamu harus mempermalukan bapakmu sendiri di depan orang’ ucap Bonar dalam hati, ia menatap Vani dengan tataan tajam.


“Begini, saya memberi statement, bukan tanpa bukti. Karena sebelum rapat ini di mulai, saya sudah meminta laporan dan mempelajarinya ; Misalkan biaya sedot lemak untuk Bu Winda, pembelian motor jenis paling mahal untuk pak Andre dan masih banyak lagi, laporan pengeluaran yang menurut saya tidak seharusnya, menurut saya, uang perusahaan biarkan untuk biaya operasi perusahaan. Kalau  uang di perusahaan untuk biaya pemborosan pribadi, lalu yang  kami dapat berapa persen?” tanya Vani, semua orang langsung  seperti cacing kepanasan karena Vani menjabarkan semua deretan dan harga yang fantastis.


Sudung juga membaca rincian yang di berikan Vani, wajah lelaki itu langsung menegang saat Vani membeberkan semuanya.


“Maaf … Bu, ini peralatan untuk keperluan kantor,” ujar bendahara kantor.


“Saya tahu,   saya seorang ibu rumah tangga, belanja keperluan rumah tangga itu saya belanjakan sendiri, jadi, paham harga barang pasar di mall dan harga lokal dan luar negeri. Jika peralatan kantor kalian beli seharga itu lalu untung perusahaan apa. Saya baru dengar ada harga satu seratus lima ribu … sapu apa seratus lima pulu ribu, saya kalau belanja sapu di pasar itu hanya tiga puluh lima ribu, di mall mungkin kisaran empat pulu. Lalu Sampean beli sapu kantor di mana? Luar negeri?”


Semua pegawai langsung menunduk dan gemetaran, Vani benar-benar mempermalukan  mereka semua, tetapi ia melakukannya karena memang mereka salah.


“Saya  berharap tidak ada kejadian seperti ini, di perusaan ini, agar kami tidak merasa khawatir untuk  ber investasi di sini. Tolong untuk perbaiki ke depannya dan lebih transparan lagi,” ujar Vani


“Baik Bu, kami akan memperbaiki sistim perusaan kami,” ujar  Iyus sebagai wakil direktur.


Saat rapat bubar, Vani bergegas pulang, sebagai komisaris di Lonax ia tidak terikat kontrak atau tiap hari ke kantor, jadi waktu wanita itu bebas.



Andre


“Tunggu! Boleh kita bicara”


‘Lagi-lagi kamu keparat’ Vani memaki dalam hati.


“Baiklah, mari kita bicara,” ujar Vani, ia bersikap bodoh amat melihat tatapan Winda dan Bonar.


“Biarkan saja, tenangkan dirimu,” bisik Rosa memegang tangan Winda saat ia ingin mengejar Andre.


“Tapi Mi, dia menemui Vani”


“Lihat, di sini banyak orang bersikaplah seolah-olah kamu putri dari pemilik perusahaan ini,” bisik wanita  bermuka dua itu dengan senyuman penuh dusta.

__ADS_1


Vani berjalan menuju taman, sementara Bonar menatap jari jauh.


“Ada apa?”


“Apa kamu harus melakukan yang tadi?”


“Ya. Memang seharusnya, saya melakukan itu, karena saya salah satu pemegang saham di sana”


“Bukan hanya pemegang saham Vani, kamu putri pemilik perusahaan, kenapa mempermalukan perusahaan sendiri”


“Jika ingin ada perbaikan maka harus ada dobrakan besar seperti yang tadi. Kenapa bapak takut, karena ikut terlibat dengan ibu mertua dan istrimu?”


“Vani, kamu masih marah  karena masa lalu ya-”



“Lupakan masa lalu, aku tidak ingin membahasnya, aku bahagia sekarang.”


“Apa anak itua-”


“Anakku  sehat, suamiku selalu mengirim nafkah untuk keluarganya”


“Apa kamu sudah menikah?” Tanya Andre terkejut.


“Sudah, maka itu Pak Andre, lupakan masa lalu, kamu sudah menikah dan aku juga sudah menikah, mari kita jalani hidup kita masing-masing.” Vani ingin pergi.


“Anak itu anakku!”


Vani tertawa gali mendengar ucapan mantan kekasihnya yang mengaku sebagai ayah Jonas.


“Benar kan?”


“Tidak, dia anakku dan anak dari suamiku, dia marga Sinaga, sementara kamu tidak ada marga kan?”


“Vani .. tap-”


“Sttt … jangan permalukan dirimu di sini, lihat istrimu sudah datang, aku tidak ingin ada kehebohan di sini, itu akan memalukan,” ujar Vani meninggalkan Andre. Ia sengaja memilih jalan yang lain agar tidak ketemu Winda, ia tidak mau wanita gila itu berteriak padanya.

__ADS_1


 Bersambung


__ADS_2