In 30th.

In 30th.
10.


__ADS_3

Denting jam dinding terus berdenting, Mayang menyiapkan semua berkas yang akan di bawanya menuju ke ruang rapat. Seluruh karyawan hari ini di sibukkan dengan kunjungan CEO baru mereka.


Seorang CEO tampan yang menggantikan Sang Kakek tua yang ingin pensiun dari kesibukan dunia kerja dan lebih memilih bersantai menikmati hijau pemandangan dan sejuknya alam.


Tak pernah sekalipun si cucu ini menampilkan Batang hidungnya di perusahaan sang Kakek karena ya, dia sudah sibuk sendiri dengan perusahaan yang di milikinya yang bergerak dalam produksi olahan bahan makanan.


Pandai, tampan, dan cekatan serta perfectionist. Itulah sosok yang Mayang tahu dari para rekannya.


Karangan bunga dan sejumlah sambutan telah di persiapkan. Berhentilah mobil Alphard berwarna putih berhenti berjajar di depan lobi gedung.


Dan disinilah Mayang, berdiri di depan resepsionis dengan para rekan kerjanya.


Entah mengapa Mayang merasa sangat gugup saat ini. Tangannya sampai berkeringat dingin.


" Kenapa sih cuma mau menyambut CEO baru saja aku sampai segugup ini? Huft..!" Mayang bergumam seorang diri dan menghembuskan nafasnya gusar.


" Santailah, jangan gugup seperti itu. Lihat aku, Santai. Enjoy this moments." Kata Adrian sambil terkekeh menggoda Mayang.


" Ish, stop! Seneng banget liat aku gugup gini." Desis Mayang sambil melirik tajam Adrian yang masih mengulum senyumnya sambil melihat arloji yang tertempel di tangannya.


Terdengar derap langkah beriringan masuk semakin mendekati ke barisan para jajaran mananger yang masih berdiri menyambutnya dengan senyum yang di usahakan semanis mungkin.


" Di.. dia?" Mayang menelan ludahnya kasar dan kini menunduk tidak berani menatap wajah sang CEO.


Presdir memberikan sambutan dan menyambut hangat sang CEO yang juga tersenyum ramah kepada Presdir. Sepersekian menit, semuanya berjalan lancar.


Akbar terlihat biasa saja dan tidak mengenali Mayang. Pandangan yang di edarkannya pun sama selayaknya orang yang saling tidak mengenal.


Tetapi,


Setelah sambutan usai.


" Bu Mayang, Permisi. Anda di minta menuju ke ruangan Pak Akbar sekarang juga. Beliau meminta berkas kontrak iklan bulan ini." Kata sekretaris Jun.


"Iya, baik saya akan segera kesana." Ucap Mayang yang menyembunyikan kegugupannya dengan menelan ludahnya secara perlahan tetapi terasa sulit dan tercekat.


Mayang menarik nafas beberapa kali sebelum menghembuskannya kasar. Mayang masih teringat jelas bagimana mereka di pertemukan untuk pertama kali di atas ranjang, dan itu semua adalah kesalahannya. Murni kesalahan Mayang 100% yang mencoba menerobos masuk seorang pria.


Tok!


Tok!


Tok!


"Masuk!" Sahut Akbar yang kini sudah duduk dengan serius membaca lembar lembar berkas yang ada di meja kerjanya.


" Permisi Pak. Maaf ini berkas yang anda minta." Ucap Mayang gugup.

__ADS_1


" Taruh di meja dan silahkan duduk." Kata Akbar dingin.


" Baguslah, kamu benar-benar menuruti perintahku. Tetaplah seperti itu dan jangan ingkari janjimu. Untuk malam itu kita lupakan saja. Aku yakin kau juga sudah mengonsumsi kontrasepsi untuk mencegahnya." Kata Akbar santai dengan tangannya yang terus menggoreskan tinta pada berkas yang membutuhkan tanda tangannya.


"...."Mayang diam tak bergeming dan hanya menunduk.


Sial aku kira dia tidak mengenaliku tapi mengapa dia masih ingat sekali.


Tuhan,mengapa kau pertemukan aku lagi. Sudah cukup aku merasa malu akan kebodohanku.


Dan sekarang, Saat aku mulai sedikit bisa mengatur nafasku, Kau malah mempertemukan aku dengan kesalahan terbesar di dalam hidupku ini.


Aku memang janda. Tapi bukan tanpa alasan aku menjadi janda. Suamiku dan keluarganya mengecapku sebagai wanita mandul.


Dan,


Aku sendiri tidak pernah yakin akan tes itu. Arghhh! Harus memasang wajah apa aku disini??


Mayang merutuki nasib dab kebodohannya yang bersahabat.


"Jawablah, apa kamu sedang melakukan cosplay sebagai dinding saat ini?" Akbar dengan mata tajamnya mulai menatap Mayang.


" Jangan menunduk! Wajahku tidak di lantai!" Kata Akbar terdengar sarkastik.


" Ba, baik Pak."Mayang memberanikan diri menatap wajah Akbar.


Jantungnya berdesir hebat, kilasan akan kejadian malam itu kembali lagi. Tangan Mayang sampai berkeringat dingin, dia meremas ujung jas yang di kenakannya. Sesekali Mayang mengusap juga keringat dingin yang menyembul dari keningnya.


Arghh! Tubuh itu?


Kenapa aku tiba-tiba ingin mengeksplore seluruh bagian tubuhnya lagi?


Kemana kamu dua Minggu ini? Aku sudah mencarimu di tempat awal kita bertemu tapi nihil.


Ternyata disini kamu, di dalam kandang ku sendiri.


Akbar menyeringai licik di balik senyuman tipisnya yang tak terlihat oleh Mayang.


" Kamu mengonsumsi kontrasepsi kan malam itu? dari waktu itu kamu tidak menjawabku." Desak Akbar yang kini duduk di tepi meja tepat di hadapan Mayang.


Ingin rasanya Mayang lari dan melesat hilang dari pandangan Akbar saat ini juga. Tapi siapa dia? Dia bukan Naruto yang bisa menghilang dengan jurus bayangan. Mayang kembali tertunduk lesu.


Ingin sebenarnya Mayang berkata kasar. Untuk apa dia mengkonsumsi pil kontrasepsi sedang dia tidak memiliki pacar atau suami. Akbar berpikir dengan cara Mayang yang menerobos masuk kedalam kamarnya itu menandakan jika Mayang mungkin juga bisa melakukan hal seperti itu dengan banyak lelaki lain.


" A.... Aku,"Mayang menggigit bibir bawahnya ragu untuk berucap.


"Melihat caramu menerobos masuk kedalam Kamar apartemen milikku, aku rasa kamu sudah sangat ahli dalam melakukannya. Sudah berapa pria yang kamu jerat?" Kata Akbar yang sangat merendahkan harga diri Mayang.

__ADS_1


" Pak, dengar ya. Benar waktu itu aku yang menerobos masuk. Tapi itu bukan kesengajaan. Pengaruh alkohol membuatku berpikir jika itu kamarku. Dan kita juga melakukan itu karena sama-sama terpengaruh alkohol." Mayang menarik nafasnya untuk melanjutkan ucapannya.


"Maaf aku tidak secantik mereka, tapi aku juga tidak semurah mereka. Baiklah malam itu memang keslahanku aku yang menerobos masuk ke kamarmu. Tapi ingatlah, aku tidak akan memanfaatkan kejadian itu untuk meraih keuntungan darimu. Akan aku buktikan!" Kata Mayang yang sudah berapi-api membela harga dirinya.


Pantas saja dia sedari tadi dia menatapku seperti itu. Terlihat sekali dia merendahkanku.


Aku bukan wanita murahan. Malam itu murni kesalahan dan kebodohan. Aku tidak akan mengulangi kebodohanku lagi untuk terus di rendahkan dan berada di perusahaanmu in .Batin Mayang yang bersedih setelah harga dirinya tercabik-cabik.


" Tentu, tentu kau bicara seperti ini. Karena mungkin selama dua Minggu ini, kamu sudah mendapat keuntungan dari pria lain yang kau jebak dengan trik kotormu itu." Akbar terkekeh setelah menghina Mayang dengan puasnya.


" Berhenti merendahkanku!" Seru Mayang yang kini sudah berdiri dengan kilat tajam matanya yang tidak lagi ketakutan di hadapan Akbar.


" Cih, seekor kucing kecil yang ingin menjelma menjadi singa."Akbar berdecih meremehkan Mayang.


Sosok lembutnya lenyap sudah dan menjadi iblis seketika kala harga dirinya di injak-injak.


" Hahaha, kamu itu sama saja. Setelah ini akan merengek dan meminta pertanggungjawaban dariku. Padahal jika benar kamu hamil, entah anak siapa yang kamu kandung. Dasar penjerat!" Akbar mengumpat Mayang habis-habisan.


" Cih, baiklah akan aku buktikan. Jikapun nanti sungguh aku hamil, aku tidak akan pernah menemui atau mencarimu. Aku bukan wanita penjerat! Ingatlah apapun yang terjadi, apapun itu!!" Kata Mayang yang sudah habis kesabaran dan tak memikirkan kemungkinan yang bisa terjadi di masa depannya.


"Hahaha! Syukurlah. Buktikan, buktikan sekarang juga. Entahlah dari perusahaan ini sekarang!" Kata Akbar yang memaksa Mayang untuk segera hengkang.


Pasti Dia akan merengek.


Jangan pak, jangan, aku sangat membutuhkan pekerjaan ini.


Aku akan lakukan apapun yang bapak minta asal tidak memecatku. Batin Akbar bersorak-sorai dalam hatinya. Banyak dari karyawatinya dulu yang rela bersujud dan menyembah kakinya agar tidak di pecat.


Atau dari mereka malah ada yang sampai rela di jadikan pemuas nafsu hanya demi uang dan jabatan.


Tapi Akbar, author kasih tau aja nih ya. Kamu jangan samakan Mayang dengan mereka. Siap siaplah terluka karena senjatamu sendiri.


PLAK!


Mayang menampar Akbar dengan kerasnya.


Akbar terkejut dengan serangan mendadak dari Mayang dan hanya bisa dia memegangi pipinya yang panas bercap lima jari.


" Sekarang pecatlah aku, baik secara terhormat atau tidak sama sekali aku tidak perduli." Kata Mayang berapi-api.


" Berani sekali kau menamparku, Tidak tahu kamu siapa aku. kamu akan menebus kesalahanmu ini!" Seru Akbar yang kini juga berdiri dengan mata tajamnya.


" Aku pastikan kamu tidak akan bisa bekerja di perusahaan manapun! Camkan itu!"


" Oh ya? Dan aku pastikan kamu juga akan menyesali perbuatanmu ini. Berhentilah merendahkan dan menghina orang lain!" Kata Mayang yang berlalu pergi meninggalkan Akbar yang masih membeku di tempatnya.


Pertama kalinya dia di perlakukan seperti ini di dalam hidupnya. Tidak pernah sama sekali ada seorang wanita yang menamparnya dan melawannya. Semuanya merengek dan menyembah kakinya meminta sesuatu yang di sebut uang, uang, dan uang alih-alih kata menghargai.

__ADS_1


Besar sekali nyaliku kucing kecil! Kita lihat saja siapa yang akan menyesal. Aku ikuti permainanmu.


Akan aku balas sakit hatiku ini.


__ADS_2