In 30th.

In 30th.
6.


__ADS_3

Dera masih saja menggandeng tangan Tania saat memasuki Mall.


Ya, Dera adalah anak orang kaya pemilik 2 mall terbesar di kotanya. Mau ganti baju baju mahal, tinggal pilih, mau sepatu atau tas mahal dia juga tinggal pilih.


Orang tuanya sudah mewariskan dua Mall besar kepada Dera. Siapa sangka dera sangat pandai dalam mengembangkan bisnisnya. Hingga kini dia juga dalam dunia kosmetik dan busana. Hal itu di tunjukkan ya dengan brand busana dan juga kosmetik yang memiliki banyak peminat di pasaran.


Masuk ke area Mall, Dera langsung mengajak Tania menuju ke lantai paling atas yang di mana hanya ada kantor dari para Manager dan juga staff yang bertugas di bidangnya masing-masing.


" Ehem, cie yang semalem abis ih ah uh ah. Sampek mbekas gitu lehernya." Goda Dera yang terkekeh jahil menertawai Tania yang sudah salah tingkah dan berusaha menaikkan kerah bajunya untuk menutupi plester di lehernya.


" Apaan sih Ra." Tampik Tania yang sama sekali tidak tersipu.


" Mm, abis berapa ronde? Agaknya tuan Julian mainnya buas juga ya, sampai di tutup plester segala. Hihihi!"Dera masih saja cekikikan.


" Iya, dia buas seperti vampir." Tania ikut tertawa menutupi apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya.


Ting!


Lift terbuka dan Dera segera mengajak Tania keluar. Tania sangat takjub dengan bangunan super besar milik sahabatnya yang kini di pijaknya itu. Bergaya minimalis dan futuristik semuanya megah dan mewah, memanjakan Tania kala melihatnya.


" Biasa aja, ga usah melongok gitu!"Celetu Dera menyadarkan Tania dari ketakjubannya.


" Maklumlah Ra, kalau yang beginian aku ga tahan. Jiwa miskin ku meronta-ronta." Jawab Tania yang tersenyum simpul menatap Dera.


" Eh, bukannya sudah menjadi nyonya Julian ya? Julian kan super kaya juga. Dia pemilik beberapa dealer mobil yang terkenal loh." Celetuk Dera.


" Hemm, itukan dia bukan aku."Sahut Tania yang kini sudah berada di dalam kantor Dera.


"Eh Tan, kalau udah suami istri kan semuanya milik bersama. Malah uang suami itu uang istri juga. Tapi kalau uang istri ya uang istri."


Andai kamu tau Ra, jika pernikahanku tidak semanis itu.


Jangankan uang, setiap butir nasi yang aku makan pun aku harus membayarnya.


Setiap apa yang aku pakai di rumah itu, aku pun harus membayarnya.


" Hust! malah ngelamun. Ini minum dulu." Dera memberikan soft drink untuk Tania.


Tok!


Tok!


Tok!


" Masuk!" Sahut Dera.


" Selamat pagi Bu, Maaf ada keadaan darurat." Ucap karyawan dera dari bagian periklanan busananya.

__ADS_1


" Darurat apa? Jangan banyak basa basi cepat bilang." Ucap Dera tegas yang membuat Tania hanya bisa tertegun menelan ludah melihat sisi galak seorang dera yang biasanya centil dan manja.


"Model baju kita tidak bisa melakukan pemotretan. Bu." Ucapnya.


" Apa?!" Dera menggebrak meja.


"Bagaimana bisa, waktunya hari ini. minggu ini sudah harus di iklankan. Alasan apa dia tidak bisa datang?" Tanya Dera dengan emosi.


" Anu Bu. Dia kecelakaan saat menuju kemari. Lengannya patah. Jadi..."


"Hussttt! Sudah sudah. Saya tidak mau tahu, pokoknya kamu harus berusaha bagaimana caranya kita dapat model hari ini." Ucap Dera tegas lalu mengibaskan tangannya pertanda menyuruh si karyawan untuk keluar.


" Baik Bu."Ucap karyawan yang kemudian pergi dan menutup pintu dengan sopan.


" Haduh!! Pagi pagi udah di buat pusing aja." Keluh Dera yang kemudian menempatkan bokongnya di sebelah Tania.


" Lagian kamu sih Tan, dari dulu aku tawari kamu untuk jadi model baju dan kosmetik ku nolak terus. Alasan inilah, itulah."Dengus dera yang kesal.


"Ya, aku kan seorang guru Ra. Aku pakai baju biasa dan sopan aja muridku banyak yang godain. Apalagi kalau pakai baju brandmu. Entahlah, mereka bakal ajak aku kencan kali." Celetuk Tania setengah memuji dirinya sendiri.


" Iya juga sih, belum lagi si Julian yang bakal terus terusan cemburu sama kamu."Decih Dera semakin kesal dan menenggak lagi soft drink miliknya.


Bukan cemburu Ra. Tapi tidak mau namanya tercemar dengan istrinya yang hanya guru ini terlibat skandal dengan pria lain.


" Eh, iya baju. Sebentar ya." Dera berdiri lalu memilihkan bajunya yang paling sopan dan memberikannya kepada Tania.


Dera memberikan sebuah setelan baju kerja yang berwarna merah menyala dengan bawahan berupa rok ketat sebatas diatas lutut di padukan dengan blazer yang berwarna hitam.


" Tidak ada yang lebih panjang dari ini Ra?" Protes Tania yang tidak pernah memakai rok pendek.


" Tenang itu udah ada ********** kok. Ada sih yang celananya panjang tapi atasannya pusarnya terlihat kamu mau?"


" Ih, ogah apa kata muridku nanti?"


"Lagian kamu aneh Tan, suami kaya bukannya foya foya malah berhemat ria. Sebenarnya kamu di kasih uang sama suamimu ga sih, kok aku lihat kamu jarang belanja baju kalau ga tanggal gajian. Itupun kamu kejarnya baju obralan yang sudah ktinggalan jaman." Celetuk Dera tanpa menyaring kata katanya.


Itulah Dera yang suka berkata jujur tanpa melihat orang lain tersinggung atau tidak.


" Ya, kan aku istri Solehah." Ucap Tania membela diri dan tak mau keburukan rumah tangganya terbongkar.


Tania masuk dan berganti baju. Sesaat kemudian Tania keluar dan dera sampai melongo di buatnya.


" Astoge!!"


"Oh, Waooow!Amajing! Who are you?" Dera bersiul siul memutari Tania yang tampak tak percaya diri berdiri di hadapan Dera dengan rok mini.


" Cantik banget!" Ucap Dera terkesima sampai mulutnya menganga.

__ADS_1


" Ra, aku ganti yang lain aja ya. Pahaku dingin pakai ini." Ucap Tania yang risih dengan rok pendek selutut.


" Sini, sini aku poles dikit." Dera menarik tangan Tania untuk duduk lalu memoleskan kosmetik yang di buatnya sendiri.


" Ihh, sumpah kamu cantik banget Tan, kulitmu wauw!! mulus. Mau ya jadi brand ambassador untuk produk-produk aku. Ayolah Tan."


" Lihat, kalau kamu yang pakai. Oh megot!!!" Lagi-lagi Dera memuji habis habisan Tania yang kini mulai terkesima dengan wajahnya sendiri di cermin.


Tok!


Tok!


Tok!


"Masuk!" Seru Dera.


"Maaf Bu, kita belum dapat modelnya dan para tim sudah siap menunggu. Apa kita batalkan saja ya?" Ucap Karyawan yang sebenarnya ketakutan untuk menyampaikan.


" Husttt! diam."Dera menyuruh karyawannya untuk diam.


" Mau Ya Tan. Mau Ya, ya, ya!" Dera menekuk lututnya dan mengatupkan tangannya memohon bantuan pada Tania sahabatnya.


"Baiklah aku mau."


"Tapi...." Tania seolah ragu.


" Tapi apa?" Dera kini berdiri dengan wajah yang berbinar.


" Boleh aku tahu berapa bayarannya?"


" Dasar mata duitan." Ucap Dera yang berdecih kemudian menuliskan di kalkulator ponselnya.


" Nih!" Dera menyodorkan ponselnya.


" Serius Ra?" Tania melongo tidak percaya.


" Iya, karena pemula, aku bayar segini dulu ya untuk foto majalah online juga sekalian iklan 35juta." Ucap Dera dengan santainya.


" Banyak banget!!" Tania terkagum-kagum sambil tersenyum senang.


" Iya iya aku mau Ra. Mana yang harus aku tandatangani?"Ucap Tania yang bersemangat.


Persetan dengan Julian yang akan marah padaku.


Bukankah sudah biasa dia marah-marah?


Aku harus kuat, aku harus bangkit.

__ADS_1


Aku harus membuktikan jika tanpa dia pun aku masih bisa hidup.


__ADS_2