In 30th.

In 30th.
20


__ADS_3

" Akhirnya anak manja yang menye menye itu menikah juga. Ini saatnya aku memberikan banyak wejangan pada gadis manja itu." Gumam Mayang sambil terkekeh geli akan ucapanya sendiri.


" Akbar, mengapa tiba-tiba dia mendekatiku? Apa dia sengaja ingin melancarkan aksinya itu? Dia hanya ingin membuat Dery tersudut? Kamu salah Akbar, Dery sudah melupakanku semenjak kehadiran sekretarisnya itu. Kamu salah jika dengan menikahiku akan membuatnya kalang kabut. Dia tidak perduli padaku." Mayang bermonolog seraya menatap susu coklat buatan Akbar dan juga note pink yang di pegangnya.


" Ih, mengapa aku tiba-tiba memikirkan Akbar? Lelaki tua yang lebih pantas menjadi Om ku." Mayang bergidik geli membayangkan Akbar kembali.


Mayang menyesap susu buatan Akbar hingga tandas lalu memakan sandwich buatan Akbar. Tanpa sadar Mayang memujinya." Lumayan, enak juga. Pandai juga dia masak."


Mayang bersih bersih dan bersiap pergi ke butik untuk mengambil baju pesanannya sebelum nanti malam akan menghadiri acara pernikahan Dera yang mana dia sebagai saksi pernikahan.


Mayang kini sudah berada di basement dan dan mulai menyalakan mesin mobilnya. Mayang memang belum mengunci pintu mobilnya karena dia masih membersihkan bagian dalam mobil yang banyak tisu berserakan.


" Pagi!" Sapa Akbar yang tersenyum manis sambil melambaikan tangannya.


" Hehhh...!" Mayang menghela nafas berat seberat beban hidupnya.


Mayang segera masuk kedalam mobil dan menutup kasar pintunya dan,


KLETUK!!


Seperti suara tulang yang saling bersahutan saat peregangan dan di ikuti oleh jeritan seseorang yang mengerang kesakitan.


" Auh.....! Yang, sakit Yang." Rengek Akbar yang kesakitan karena jarinya terjepit di pintu mobil dan nampak membiru seketika.


" Eh... Eh... maaf sengaja." Celetuk Mayang yang kembali turun dari mobil sambil menutup hidungnya.


" Yang, jahat bener sih?" Keluh Akbar yang masih meringis kesakitan.


" Jahat Mana sama mulut kasarmu yang merendahkan harga diriku. Seumur hidup aku tidak akan pernah lupa." Celetuk Mayang yang kembali mengorek malam kelabu mereka berdua.


" Ok, Ok. Aku minta maaf Yang. Aku ingin kita berhubungan baik." Ujar Akbar.


" Berhubungan baik? Berhubungan seperti apa maksudmu?"


"Berhubungan untuk bekerjasama dalam menjatuhkan Dery? Cih! Aku tidak berminat bagiku dia hanyalah masa lalu. Silahkan pilih wanitanya yang lain jika niatmu untuk itu, karena aku, aku sudah tidak ada hubungannya lagi dengan dia." Kata Mayang.


Akbar tergelak mendengar perkataan Mayang. Lidahnya serasa Kelu untuk berbicara. Bagaimana Mayang bisa tau rencananya bersama Sulaiman? Akbar tak habis pikir dengan ucapan Mayang. Akbar hanya bisa menahan sakit di hatinya dan menelan ludahnya kasar.


" Awas minggir, aku mau jalan."Sarkas Mayang yang sangat cuek.


" Tapi jariku masih sakit. Apakah tidak ada obat di mobilmu?" Kata Akbar yang beralasan karena sebenarnya dia ingin mengulur waktu yang lebih lama dengan Mayang.

__ADS_1


" Tidak usah manja! Itu hanya luka kecil. Kalau mau obat beli sana sendiri. Aku sibuk!!" Seru Mayang yang menginjak gas dengan sengaja sampai mobilnya memggerang dan dia tersenyum menghina.


" Astaga baru kali ini aku di abaikan dan mengemis pada wanita bahkan hanya untuk sekedar bertegur sapa dengan baik." Lirih Akbar yang memegangi tangannya yang sakit.


Ya, memang dahulu. Akbar adalah pawangnya wanita. Semua bertekuk lutut padanya. Akbar tidak perlu pusing memikirkan perasaan wanita. Dia tinggal tunjuk yang mana yang dia suka dan memakainya tanpa mempedulikan apapun.


Tapi kali ini? Justru dia harus di buat mengemis pada wanita yang jelas-jelas pada malam itu menerobos masuk kedalam kamarnya.


Akbar sendiri menggeleng tak percaya saat memikirkannya.


" Atas dasar apa selalu ingin berada di dekatnya? Dia jelas-jelas menolakku. Tapi mengapa aku suka sekali mengemis padanya? Kemana harga diriku ini?" Gumam Akbar seorang diri di dalam mobilnya dan menuju ke rumah sakit untuk mengobati tangannya yang nyeri luar biasa.


*


*


*


" Hai, sayangku..." Sapa Mayang kepada dera yang sedang duduk di rias.


" Hai sayang!" Sambut Dera sambil tersenyum bahagia.


" Ih, Apaan sih. Lagian siapa juga yang mau jadi perawan tua. Kamu sih 3nak sudah menikah. Aku sudah 30 tahun Mae sudah seharusnya menikah."


" Iya, Usia seperti Kita bukan usia yang teapt untuk main main. Inilah usia perjuangan." Kata Mayang yang kemudian duduk di sebelah Tante Elvi.


" Kamu benar Mayang, Seharusnya kalian sudah berkeluarga dan hidup bahagia." Ucap Tante Elvi.


" Tapi Tante, Pernikahan bukan jaminan kebahagiaan kan? Tante lihat aku yang menikah tetapi akhirnya gagal?" Celetuk Mayang yang bercermin kepada kegagalannya sendiri.


" Hust, sudah. Tante doakan semoga kelak kamu bisa mendapat jodoh terbaikmu." Ucap Tante Elvi sambil mengusap punggung Mayang.


" Makasih Tante, tapi sepertinya aku sudah tidak ingin menikah lagi. Laki-laki mana yang mau menikahi wanita mandul sepertiku.?"


" Eits, Jangan mendahului takdir. Kita sebagai manusia tidak pernah tau kejutan apa yang Tuhan siapkan untuk kita di masa depan. Seperti Dera, berkali-kali Tante mendambakan menantu yang lebih dewasa secara umur dengan Dera. Ya supaya bisa membimbing Dera. Tapi nyatanya? Tuhan memberikan yang lebih muda tapi bisa menjaganya." Ucap Tante Elvi sambil tersenyum.


" Kalau boleh memilih dan ada kapsul yang bisa membuatku hamil tanpa harus berhubungan, maka aku mau Tan. Aku ingin punya anak tanpa harus menikah. Aku tidak mau berbagi anakku dengan Ayahnya." Celetuk Mayang ngawur.


" Wuh! bocah sinting! Kalau ada kapsul seperti itu, lalu apa gunanya lelaki? untuk apa gumpalan ototnya? Ngulek?" Ucap Tante Elvi.


" Hahahaha, Bukan Bun, tapi buat mecahin es batu." Celetuk Dera yang sudah tidak tahan menahan tawanya kala mendengar fungsi dari benda keramat seorang pria sebagai ulekan.

__ADS_1


" Hahaha, Ya lebih pasnya buat pentungan pos ronda." Mayang menimpali dan ikut tertawa bersama.


" Eh, bagaima Tania?"Tanya Mayang.


" Dia masih sakit. Aku sedih sebenarnya dia tidak bisa hadir, tapi bagaimana lagi?" Ujar Dera dengan raut kesedihannya.


" Besok kita jenguk dia sama-sama Ya."Kata Mayang.


" Tante ikut. Tante juga rindu sama anak yang manis itu."Ucap Tante Elvi.


Bagi Tante Elvi, Tania adalah sosok yang bijaksana yang bisa di amanahi untuk selalu menasehati Dera. Selama Dera berdikari menjalani bisnisnya, tidak lepas dari segala pantauan Tante Elvi dan nasihat-nasihat Tania.


Hanya saja Dera tidak pernah bercerita perihal nasib Tania yang malang yang harus menikah dengan pria tak berperasaan Julian.


*


*


*


*


" Bagaimana saksi? Sah?" Tanya penghulu kepada saksi yang hadir dan juga keluarga besar yang hadir.


" Sah!" sahut mereka secara serempak.


Penghulu memimpin doa dan memberikan banyak wejangan kepada kedua mempelai. Acar ijab kabul di lakukan terlebih dahulu karena akal bulus dera yang ingin segera halal bersama Al.


Dua orang wanita saling berbincang dan bergosip ria di taman belakang rumah Selepas acara ijab Qabul. Itu adalah kedua adik dari Ayah Dera.


" Laki laki berondong, nikah dengan wanita yang jauh lebih tua, kalau bukan karena harta ya tidak ada lagi." Celetuk si A.


" Iyalah, tentu itu. Sudah jelas, Mana aku dengar mereka juga belum lama kenal. Jangan-jangan dia main pelet." Kata si B


" Halah, atau tidak Dia hanya sebagai korban tubruk. Jangan-jangan Dera sudah hamil bersama pria lain dan si pria tidak mau bertanggungjawab jadi dia membayar laki-laki bodoh itu untuk menjadi ayah pura-pura bagi jabang bayinya?" Kata si A lagi.


" Oh, bisa jadi. Tapi sungguh memalukan jika itu nyata."Sahut Di B sambil menggidikkan bahunya.


Kenapa aku tidak berfikir sejauh itu?


Jangan-jangan apa yang mereka ucapkan benar adanya? Batin Al yang tidak sengaja menguping pembicaraan kerabat dari ayah mertuanya.

__ADS_1


__ADS_2