
" Tidak, untuk apa aku menyimpan amarah dan dendam?" Jawab Tania yang balik bertanya dengan tangan yang terus mengusap lembut punggung Julian dan satu tangannya lagi mencoba menghubungi Dokter Rusli dokter pribadi keluarga Julian.
Angel dan Dokter Rusli tak lama juga datang. Kini Julian beralih manja pada Angel mereka berpelukan erat di kamar Julian dan Tania setelah Dokter Rusli pergi. Tania sendiri yang menghubungi Angel dari ponsel Julian. Tania tak ingin dirinya di anggap sebagai menganggu diantara keduanya karena faktanya Tania lah orang ketiga diantara Julian dan Angel.
Tania beralih tidur di kamar tamu. Seperti sang ratu yang terasingkan dan tak di anggap di istananya sendiri.
Sakit Ayah, hatiku sakit melihat suamiku berada di dalam kamarku dan bermesraan. Aku hancur Ayah.... Hiks hiks hiks! Tania menangis pilu seorang diri.
Dokter Rusli menyatakan jika demam yang di alami Julian tidak lai adalah karena hemoglobin yang menurun. Julian terkena demam berdarah.
Masih dengan sabarnya Tania merawat laki-laki yang berstatuskan Suami baginya. Ibu Yuli yang datang lantaran mengkhawatirkan keadaan putranya, sedikit demi sedikit bisa memberikan angin segar bagi Tania. Setidaknya jika di dekat mertuanya Julian tidak lagi bersikap kasar dan Angel pun, tak bisa menjangkau Julian.
" Tania, kamu makanlah. Perhatikan juga kesehatanmu." Ucap Ibu Yuli yang memperhatikan Tania yang lebih memprioritaskan suaminya ketimbang dirinya sendiri.
" Iya Bu, setelah selesai menyuapi Mas Julian Tania akan makan di Kantin bawah." Tukas Tania dengan lembut.
Kini Tania tengah duduk di tepi ranjang sambil menyuapi Julian. Perhatiannya layaknya istri yang sangat mencintai suaminya. Ada rasa senang dan puas di hati Julian manakala mendapatkan perhatian dan juga pelayanan terbaik dari Tania.
Dia sangat sabar dan lemah lembut. Betapa jahatnya aku selama ini yang terus memandang buruk dia.
Tapi uang uang itu, dan juga kartu kredit yang ku berikan selalu di pakainya secara boros.
Aku membenci satu sisi lain di dalam sifat borosnya.
Aku yakin jika dia mencintaiku hanya karena uang.
Pikir dengan Julian tatkala mata mereka saling beradu dan Tania tersenyum Manis kepadanya.
" Ini Mas, diminum obatnya. Supaya Mas cepat sembuh. Nanti Angel akan datang Mas ada berkas yang harus Mas tandatangani."Ucap Tania dengan senyum getir.
Hatinya luka saat berkata Angel yang mana adalah selingkuhan suaminya akan datang menemui Julian. Bukan tanpa sebab Tania melakukan itu. Tania tau bagaimana Julian menahan rindu selama satu Minggu tidak bertemu wanita yang sering memuaskannya itu.
" Kemarilah." Kata Julian dengan senyuman yang sulit di artikan.
__ADS_1
Julian menepuk-nepuk tepi ranjang dengan tangannya yang masih terhubung dengan selang infusnya. Tania bingung dengan sikap Julian, tidak biasanya Julian bersikap manis padanya. Tania hanya menurut saja, baginya ini hanyalah skenario baru yang di susun Julian.
Ibu Yuli duduk di sofa dekat dengan Julian dan masih menikmati makan siangnya. Julian tidak mengerti mengapa Tania berbicara tentang Angel di hadapan Ibu mertuanya.
" Kamu kenapa menyebut nama Angel di hadapan ibu? Kamu sengaja ingin mencari muka?" Desis Julian berbisik di telinga Tania saat Tania sudah duduk di tepi ranjang.
" Tidak seperti itu suamiku. Jangan selalu berfikir buruk tentangku. Aku hanya tidak mau kamu melupakan pekerjaan yang sudah menantimu. Ibu tidak akan marah untuk urusan pekerjaan sayang. Tenanglah." Bisik Tania di telinga Julian dengan menekankan kata sayang di setiap ucapanya.
" Kalian ini, romantis terus tapi kapan Ibu dapat cucu? Apa kamu belum isi juga Nia?" Tanya Bu Yuli serius. Sebenarnya Bu Yuli tau akan setiap drama pilu yang di lalui oleh Tania. Tetapi Bu Yuli punya cara tersendiri untuk membuat anaknya jera dan menghargai istri yang baik.
" Entah lah Bu, Tapi aku juga menantikannya. Aku juga sudah tidak sabar untuk segera memiliki pesaing untuk berebut dia." Julian menepuk lembut perut Tania dan mengusapnya lalu mencium kening Tania di akhir kalimatnya dengan seulas senyuman.
" Perbanyaklah waktu bersama istrimu, jangan selalu keluyuran di akhir pekan." Cetus Ibu Yuli yang seketika membuat Julian meremas tangan Tania dengan kuatnya.
Tania menggeleng pelan mengisyaratkan jika bukan dia yang mengadukan apa yang di ketahui oleh Ibu Yuli.
" Iya Bu." Jawab Julian dengan lembut.
" Bu, Mas Julian itu lelah Bu. Dia bekerja terus terusan, belum lagi jika ada rapat di luar kota dan mengurus cabangnya. Jadi aku tidak apa-apa Bu jika dia memanfaatkan waktu liburnya untuk berkumpul bersama teman temannya." Kata Tania yang tersenyum manis.
" Kamu dengar itu Julian. Betapa baik hatinya istrimu. Dia mau memahami waktu dan juga pekerjaanmu." Kata Ibu Yuli yang membuat Julian sedikit termenung akan sikap lemah lembut Tania yang selalu baik padanya.
" Masuk!" Seru Ibu Yuli mempersilahkan.
" Pak, Julian. Bu Yuli," Sapa Angel yang baru datang membawa buah dan juga dokumen yang ada di dekapannya.
" Hmm!" sahut Bu Yuli malas.
" Kamu Tidak melihat keberadaan istri dari CEO mu? Kenapa tidak menyapanya Angel?" Tegur Bu Yuli yang sengaja ingin menyadarkan angel akan posisinya yang salah, karena telah menganggu rumah tangga putranya.
" Oh, Bu Nia. Siang Bu!" Sapa Angel berbasa basi.
" Iya, siang." Sahut Tania yang kemudian ingin beranjak namun di cegah oleh Ibu Yuli. Sementara Julian jangan ditanya lagi saat ini wajahnya sudah merah padam dengan jantung yang gemetaran. Bahkan Tania sampai bisa merasakan degup jantung Julian.
__ADS_1
" Kamu duduk Saja Nia. Tetaplah di sana. Suamimu tidak bisa jauh jauh darimu." Ucap Ibu Yuli dengan sengaja.
Tania pun hanya bisa kembali duduk. Dia diam tak berkutik dan hanya menuruti instruksi dari Ibu mertuanya. Angel yang geram hanya bisa mengepalkan tangannya. Sungguh sangat marah tetapi tidak ada hak. Angel seperti di jatuhkan dari gedung yang tinggi, begitulah cara Ibu Yuli mengajarkan kepada Tania untuk mempertahankan hak dan miliknya.
" Mana yang harus ku tanda tangani?" Julian memberanikan diri memulai pembicaraan meskipun hatinya sudah tidak karuan.
Kini Julian seperti di apit diantara kedua pilihan. Antara istri atau selingkuhan. Sementara Tania hanya merasa seperti boneka yang hanya bisa bergerak jika di gerakkan. Tania merasa tak ada hak untuk memaksakan perasaan Julian meskipun mereka telah sah menjadi suami istri.
"I... ini Pak." Angel memberikan berkas yang di bawanya.
Tak butuh waktu lama, Julian selesai menggoreskan tintanya. Ibu Yuli tersenyum puas setelah melihat gurat kekecewaan di wajah angel dan Julian. Mereka seperti di sadarkan oleh posisi masing masing yang telah berbuat kesalahan.
" Sudah, kamu boleh pergi." Julian menutup berkas dan memberikan kepada Angel tanpa senyuman sama sekali.
" Baiklah, Pak, Bu, saya permisi dulu. Lekas sehat ya pak." Ucap Angel berpamitan dengan senyum keterpaksaan.
*
*
*
Malam Hari.
Dokter sudah mengijinkan Julian untuk pulang. Keadaan sudah jauh membaik. Hanya saja di wajibkan jaga pola makan dan juga istirahat yang cukup.
Selesai membersihkan diri, kini Tania tengah bersiap untuk tidur di kasur lantainya. Sedangkan Julian masih fokus berkutat dengan Laptopnya.
" Malam."Ucap Tania seraya menarik selimut dan tak berselang lama terlelap.
Julian turun perlahan dari ranjangnya. Dia duduk dan mengamati wajah Tania yang masih terlelap.
Sebenarnya kamu itu baik, cantik dan perhatian padaku.
__ADS_1
Sikap lemah lembutmu sejujurnya selalu membuatku ingin bersamamu.
Tapi mengapa, kamu hanya memandangku atas dasar harta?