
Mayang kini sudah beralih dan berada di sebuah vila yang dekat dengan pemandangan danau dan perbukitan. Vila ini milik keluarganya, lebih tepatnya sudah menjadi hal miliknya.
Vila yang tidak terlalu megah dan mewah. Vila sederhana yang bernilai fantastis untuk di sewa permalamnya. Mayang mendapatkan warisan Vila dari kakeknya yang ternyata lelaki tua yang kaya yang dulunya lebih memilih harta daripada harus bertanggungjawab atas buah cintanya kepada sang Nenek.
Mayang cucu satu satunya dari sang kakek. Sebenarnya vila itu diberikan untuk Ayah Mayang, tetapi Ayah Mayang yang masih menyimpan kebencian menolaknya dengan seketika. Dan Nenek masih menyimpannya dan memberikannya kepada Mayang tanpa sepengetahuan ayah Mayang.
" Hai!" Sapa seseorang yang baru saja datang.
" Hai...!" Sahut Mayang melambaikan tangannya dan tersenyum riang.
" Ada apa? Kenapa mengajak aku kesini? ini tempat mahal loh."Ujar Robby yang sudah mengamati keindahan pemandangan dan juga bangunan vila yang bertema pedesaan namun dari batuan alam yang tertempel dan jenis kayu yang di pahat sudah dapat di pastikan jika harga satu bangunan vila bisa mencapai ratusan juta.
" Hehehe, santai aja By. Kata Nenek ini buat aku." Celetuk Mayang dengan kejujuran.
" Apa? Kira-kira dong Yang kalau mau bercanda. Mana mungkin kan vila model begini Nenek yang kasih? Aku juga tau kali kalau Nenek itu..." Perkataan Robby terhenti saat Mayang menyelanya.
" Cih, tidak percaya?"Mayang mendelik seolah menindas Robby dan memaksanya untuk percaya.
" Dih, ngapain gitu-gitu? Ga takut aku." Sahut Robby mengerutkan keningnya.
" Eh, By." Panggil Mayang.
Kini suasana berubah menjadi lebih serius dari sebelumnya setelah keduanya terdiam setelah perdebatan kecil.
"Hmm?" Sahut Robby santai menikmati indah pemandangan tepi danau.
" Nikah yuk!" Celetuk Mayang tanpa basa-basi.
Inilah Mayang yang tidak suka bertele-tele. Mayang langsung bicara pada intinya. Kedekatannya dengan Robby yang sudah terjalin lama semenjak bangku SMA karena mereka berasal dari sekolah dan desa yang sama membuat keduanya saling dekat dan terbuka.
" Eh, gila!" Sahut Robby di iringi dengan dirinya yang terbatuk-batuk mendengar ucapan Mayang.
" Kamu kena sawan?atau kamu ketempelan? Yang bener heh Yang kalau ngomong." Robby tak percaya.
" Aku serius By. Aku minta tolong sama kamu. Kita menikah ya."Pinta Mayang dengan wajah memelas dan membulatkan matanya.
" Sini kita duduk dulu." Robby menarik tangan Mayang dengan perlahan untuk duduk di kursi yang berada di bawah pohon.
" By, kita menikah ya. Aku tau kamu tidak punya pacar kan? Kita teman juga sudah lama."
" Hustt! Jelaskan dulu ceritakan semuanya. Aku berhak tau apa yang terjadi sebenarnya Yang." Robby terus mendesak meminta penjelasan dan kejujuran Mayang.
" Baiklah, tapi kamu janji tidak akan menghindari ku atau menjauhiku setelah aku menceritakan hal ini ya?" Mayang berubah sendu dan suaranya mulai bergetar.
" Ok, aku janji. Ceritakanlah." Kata Robby dengan lembut, tangannya mengusap lembut punggung Mayang seperti memberi kekuatan untuk Mayang menceritakan semuanya.
Mayang menceritakan semuanya dari awal sampai akhirnya sekarang dia berada dibawah pohon bersama dengan dirinya.
Robby memeluk Mayang dengan sayang, Mayang pun menerima perlakuan baik Robby. Mayang masih menangis dalam dekapan hangat Robby.
" Tapi Yang, biar bagaimanapun anakmu ini punya Ayah biologis. Aku tidak bisa begitu saja menikahimu demi semata-mata memberi pengakuan jika dia anakku.Yang, semua yang kita lakukan di dunia ini nantinya akan di mintai pertanggungjawaban di akhirat." Kata Robby dengan lembut, dia tidak mau jika Mayang salah paham dengan ucapannya.
" By, kau tidak kasihan padaku?" Mayang mengurai pelukan mereka dan mengusap air matanya kasar.
" Yang, lebih dari kasihan. Aku menyayangimu. Tapi bagaimana jika Akbar datang dan mengetakan semuanya kepada anakmu nantinya? Tidakkah itu akan melukai hati anakmu? Ayahnya ingin bertanggung jawab tapi ibunya menolaknya." Ucap Robby masih dengan nada bicara yang lembut agar tak melukai perasaan Mayang.
" Lalu aku harus bagaimana? Aku hamil By, aku hamil.... Tidakkah kamu mau menikahiku?" Kata Mayang lagi sambil menangis tersedu seolah Robby lah yang telah menghamilinya.
" Kalian harus segera menikah!" Kata Nenek Widia yang rupanya sudah tiba sejak satu jam yang lalu dan sedang berjalan santai melihat pemandangan tepi danau.
Tak sengaja Nenek Widia mendengarkan ucapan Mayang yang seolah sedang meminta pertanggungjawaban dari kekasih yang menghamilinya.
__ADS_1
" Robby! Kamu harus bertanggung jawab atas cucuku!" Kata Nenek Widia dengan tegas.
Terlihat sekali kemarahan di wajah nenek Widia. Robby dan Mayang tidak bisa berkata-kata. Keduanya hanya terdiam setelah tertangkap basah membicarakan tentang kehamilan Mayang.
Robby menatap lekat kedua manik Mayang saat tangan Mayang menggenggam kuat tangan Robby seolah memberikan isyarat untuk tetap diam tanpa mengulas cerita tentang Akbar sama sekali.
Permohonan Mayang teramat dalam tersirat dari tatapan matanya dan air mata yang mengalir dari kedua sudutnya. Tidak tega, tentu tidak tega kini kondisi Robby sudah terhimpit.
Jika dia mengatakan yang sejujurnya, ada banyak orang yang tersakiti. Mayang,calon anak Mayang, dan juga nenek Widia yang bisa terkena serangan jantung.
Robby tau nenek Widia adalah orang yang patuh terhadap segala macam perintah agama. Sebab itu Robby kini hanya bisa terdiam, kemungkinannya untuk lari dari situasinya ini hanyalah angan-angan.
" Nek, aku memang akan menikahi Mayang. Kami minta maaf nek sudah melakukan sesuatu yang membuat malu keluarga. Kami juga sudah melanggar aturan agama. Maafkan kami Nek." Robby berucap dengan lembut dan sopan meski kini tatapan mata nenek Widia seolah ingin membunuhnya.
" Sudah aku tidak mau mendengar banyak alasan dari kalian, sekarang juga aku ingin kalian segera menikah secara agama dulu. Setelah itu aku akan mengurus semua berkas pernikahan kalian. Aku tidak mau ikut terkena dosa yang kalian lakukan dengan enak-enak." Cetus nenek Widia dengan kemarahan yang tersirat nyata.
" Nek, maafkan aku!" Mayang menagis tersedu dan bersimpuh di kaki nenek Widia namun Nenek Widia mengibaskan kakinya dan pergi begitu saja.
Nenek Widia kecewa, hatinya sakit seperti di hantam ribuan batu dengan bertubi-tubi. Bagaimana bisa kisah masa lalunya kini terjadi lagi kepada cucunya?
Maka dari itu Nenek Widia tidak ingin Mayang seperti dirinya yang menanggung kesendirian selama sisa hidupnya dan membesarkan anaknya seorang diri tanpa kerabat dan keluarga juga sosok Ayah biologisnya.
" Sudahlah, bangun. Jangan seperti ini. Baiklah aku akan menikahimu. Tapi aku punya satu permintaan." Kata Robby yang kemudian membantu Mayang untuk berdiri.
" Apa itu By?" Tanya Mayang penuh harap dengan mata yang berkaca-kaca.
" Kita menikah sungguhan, tanpa kontrak dan perjanjian. Kita jalani dengan apa adanya." cicitnya dengan sesak di dada. Bagaimana bisa dia menikahi wanita yang dicintainya sedari SMA dengan cara yang seperti ini?
Sungguh jalanya takdir yang tidak bisa di tebak. Bahagia bercampur sedih menumpuk di hati Robby. Dia ingin tersenyum bahagia dikala hatinya teriris pedih.
" Baiklah. Terimakasih By, kamu memang teman yang baik." Ucap Mayang sembari mengusap air matanya yang bersisa.
Maafkan aku By.
Maafkan aku yang hanya memperalat dirimu.
Mayang melihat kedua manik Robby dengan dalam.
Banyak ketulusan yang bersandingkan dengan keterpaksaan disana.
...🍃🍃🍃🍃🍃 ...
" Bagaimana saksi? sah?" Tanya penghulu kepada para saksi yang hadir.
" Sah!" Sahut mereka dengan lantang.
Pernikahan terjadi dengan khidmat. Orang tua Robby yang awalnya sangat terkejut perlahan bisa menerima meski masih terlalu cepat bagi mereka. Begitupun kedua orang tua Mayang yang hari ini semua datang menghadiri pernikahan dadakan itu.
Pernikahan berlangsung di kampung Mayang. Mereka meninggalkan vila setelah Nenek memutuskan mereka untuk segera menikah.
Banyak wejangan yang di sampaikan oleh kedua orang tua Mayang dan juga mertuanya. Mereka terlihat dekat dan akrab, bagaimana tidak mereka adalah tetangga satu kampung bahkan ayah Mayang adalah sahabat karib Ayah Robby.
*
*
*
" Maaf pak, tapi vila ini kosong sejak sehari lalu." Kata Resepsionis yang mengurus para tamu vila.
" Baiklah terimakasih." Kata Dekta yang kemudian undur diri dan kembali ke mobil.
__ADS_1
" Bagaimana?" Tanya Nyonya Nilam.
" Tidak ada madam. Mayang sudah pergi dari sehari yang lalu. Sepertinya dia tidak berbohong, mengingat tadi aku tidak melihat kebohongan di matanya." Jawab Delta yang juga pandai dalam mengenali arti mimik wajah dan gerak tubuh.
" Argghh!!! Aku harus bagaimana Mam?" Akbar frustasi dan meninju jok di depannya berkali-kali.
*
*
*
" Sampai kamu melahirkan, jangan pernah pergi dari sini. Jaga nama baik keluarga besar kita. Nanti Nenek yang akan mengatur semuanya di Indonesia." Kata Nenek Widia dengan datar yang mana masih memendam kemarahan terhadap Mayang.
" Tapi Nek, pekerjaanku?" Protes Mayang.
" Patuhi Nenek, atau nyawa calon cicitku yang akan menjadi taruhannya."Ucap Nenek Widia dengan tegas sambil menatap tajam Mayang.
" Sudah, patuhi saja apa kata Nenek Yang." Robby membujuk Mayang untuk tidak banyak memprotes.
" Tapi By.." Sanggah Mayang meminta kelonggaran.
Yang dan By.
Panggilan itu di telinga Nenek Widia seperti sepasang kekasih yang sangat saling mencintai dengan setulus hati.
Padahal keduanya hanya saling memanggil nama saja tidak lebih.
Mayang seperti kehabisan cara dan kini hanya bisa diam dan pasrah menerima. Dia masih tidak tau kenapa semuanya menjadi semakin rumit semenjak Akbar berada di sekitarnya?
Mayang menunduk menatap perutnya yang rata menguspnya penuh kasih.
Sampailah mereka di sebuah apartemen di negara Xxxx. Fasilitas yang lengkap sudah menunggu untuk mereka gunakan. Nenek juga sudah menyiapkan pekerjaan untuk Robby di perusahaan yang di tunjuk oleh Nenek Widia.
" Ini kunci rumah kalian. Nenek akan kembali lagi ke Indonesia. Kabari nenek kalau cicit nenek lahir." Kata Nenek Widia dengan dinginnya.
" Nenek tidak pernah semarah itu sebelumnya." Gumam Mayang yang terdengar di telinga Robby yang sudah berdiri menenteng koper koper mereka.
" Wajar dia marah. Nenek mana yang akan senang mendengar Cucunya di hamili oleh lekai yang tak mau menikahinya?" Sahut Robby dengan sekenanya.
" By, maafkan aku sudah memaksamu untuk menikah denganku." Kata Mayang penuh penyesalan.
" Sini." Robby menarik tangan Mayang sampai tubuh mereka berdekatan tanpa jarak sama sekali.
Mayang hanya terdiam, kepalanya kembali teringat bagaimana Robby berkata jika ingin menjalani pernikahan yang apa adanya tanpa suatu syarat tertentu.
" Mungkin ini garis jodoh kita? Ini kejutan untuk kita." Robby tersenyum manis menatap lekat wajah Mayang.
" hum?" Mayang menatap Robby dengan banyak tanya.
" Sudah ayo bantu aku bawa ini. Kamu hamil bukan berarti menjadi tidak berguna kan?" Celetuk Robby dengan santainya.
" Cih, perhitungan sekali kamu ya. Derita pengantin baru, atau balada rumah tangga?" Mayang mengeluh dengan mengutarakan banyak makna kiasan dalam kata-katanya.
" Hahahaha, iya iya sini. Istriku ngambek nih." Robby terkekeh dan kemudian merebut koper yang di bawa Mayang meninggalkan Mayang yang masih tertegun membeku mendengar ata istri dari mulut Robby.
Istri?
Ah, iya benar kami sudah resmi menikah. Hanya tinggal menunggu buku nikah selesai di proses saja.
Tapi, apakah aku sudah benar dalam mengambil keputusan ini?
__ADS_1
Bagaimana jika dia datang dan menuntut haknya sebagai ayah biologis anakku?